
Dua puluh tahun kemudian
Setelah lulus kuliah Arfan memutuskan tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Dia ingin mandiri tidak ingin larut dalam kekayaan dan nama besar keluarganya. Awalnya Alex tidak menyetujui keinginan Arfan tapi karena Sophia, dia memberi waktu pada Arfan selama dua tahun. Jika dalam dua tahun belum sukses, Arfan harus kembali ke rumah. Arfan tinggal terpisah agar tidak sering bertemu dengan keluarganya. Dia tidak ingin terus-menerus disangkut pautkan dengan keluarganya yang merupakan keluarga terpandang di Jakarta. Tentunya akan banyak yang mengenal Arfan.
Arfan tinggal di sebuah kontrakkan kecil hanya tiga petak. Dia bekerja serabutan meski memiliki ijazah S1. Sudah satu tahun Arfan menganggur, mencari kerja sana sini belum juga ada yang menerimanya. Dia tidak ingin menepuh jalur suap menyuap meski Arfan mampu untuk melakukan itu. Dia ingin diterima kerja karena kemampuannya bukan karena uang. Terpaksa Arfan kerja serabutan. Apa saja yang penting halal. Pagi itu Arfan mendapat telpon dari Sophia.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
"Wa'alaikumsallam," sahut Arfan.
"Arfan, besok ke Jakarta ya Nak," pinta Sophia.
"Memangnya ada apa Ma?" tanya Arfan. Dia tidak tahu untuk apa Sophia meminta Arfan ke Jakarta.
"Papa dan Mama berencana menjodohkanmu dengan Annisa," jawab Sophia. Annisa Nadhira wanita idaman Arfan. Dia begitu sholeha sama seperti Sophia. Dari dulu Arfan sudah menyukainya. Dia memendam cintanya sampai nanti Arfan merasa pantas memilikinya. Namun Alex dan Sophia mengetahui hal itu. Mereka ingin Arfan segera mempersunting Annisa sebelum Annisa dipersuntingnya orang lain. Apalagi Alex dan Sophia mengenal pribadi Annisa luar dan dalam beserta seluk beluk keluarganya. Ayahnya Annisa seorang ustad terpandang di Jakarta dan ibunya seorang guru di SMA IT. Itu sebabnya Alex dan Sophia sudah sreg dengan Annisa.
Arfan terdiam. Itu memang mimpinya bisa bersanding dengan Annisa. Wanita sholeha yang cantik dan baik hati. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Yang membuat Arfan bimbang dan kebingungan.
"Arfan!" Sophia memanggil saat tak tanggapan dari anak sulungnya itu.
"I-iya Ma," jawab Arfan terbata-bata.
"Gimana?" tanya Sophia.
"Ee ... iya Ma," jawab Arfan. Dia terpaksa bilang iya. Entah bagaimana nanti menghadapi kenyataan yang ada.
"Ya udah, Mama tunggu besok ya, jangan lupa sholat, makan yang teratur dan beristirahat yang cukup," kata Sophia.
"Iya Ma," jawab Arfan.
Pembicaraan itu pun diakhiri. Arfan terdiam. Dia memikirkan rencana perjodohan itu. Seharusnya hal ini menjadi hal terindah dalam hidupnya tapi semua itu justru menjadi hal yang paling menyedihkan dalam hidupnya.
"Arfan!" teriak seorang wanita dari dapur.
"Ya!" jawab Arfan. Wajahnya tampak masam mendengar suara cempreng yang memanggilnya. Dia bergegas masuk ke dalam dapur.
"Ada apa?" tanya Arfan. Melihat sesosok wanita seksi hanya mengenakan tangtop dan celana pendek ketat. Body-nya mulus, putih dan cantik. Rambut panjang kemerahan dan bola matanya berwarna hazel. Nama wanita itu Emily Haseena. Dia istri Arfan. Mereka menikah dadakan karena dituduh mesum di rumah temannya.
"Kok gak ada makanan, aku laper," keluh Emily dengan manja.
"Kau nyadar gak sih seharusnya kaulah yang memasak untukku. Karena aku suamimu. Sudah seharusnya kau melayaniku," sahut Arfan. Dia lelah menghadapi sikap manja Emily yang tidak bisa melakukan apapun. Selalu mengeluh dan cengeng.
"Aku bukan pembantu, di rumah Papa aku tinggal makan, aku gak bisa masak," sahut Emily.
"Terserah, kalau mau makan masak, jangan manja," kata Arfan.
Tiba-tiba Emily menempel. Memegang lengan Arfan dan mengedipkan matanya.
"Arfan, aku takut nyalain api, tar tanganku ke bakar gimana? Kulitku bisa melepuh, sakit," keluh Emily. Seperti biasa bermanja-manja pada Arfan.
Arfan memalingkan wajahnya. Dia lelah dengan sikap Emily yang selalu manja dan tidak mandiri.
"Arfan, masakin ya, please!" pinta Emily sambil mepet-mepet. Kalau sudah kena pepetan maut Arfan risih. Mana dada Emily besar membuat Arfan traveling ke mana-mana.
"Iya ya," jawab Arfan malas. Emily bukan tipe wanita yang diinginkannya. Arfan ingin sekali menceraikan Emily tapi mereka baru menikah, apalagi Emily baru saja meninggalkan rumahnya. Dia tak tega menceraikan istri manjanya itu.
"Makasih Arfan baik deh," sahut Emily sambil tersenyum.
"Hm." Arfan malas menjawab.
Seketika Emily melepas tangannya dari tangan Arfan. Kembali berbaring di karpet depan sambil rebahan memainkan handphone miliknya.
"Astagfirullah, kenapa aku harus menikah dengan Emily? manjanya minta ampun. Gak kaya Mama," ucap Arfan. Dia mengelus dada memiliki istri seperti Emily yang tidak seperti Sophia yang sholeha, mandiri, pinter masak, cerdas dan baik hati.
Arfan memasak di dapur. Dia menumis kangkung, menggoreng tempe dan telur. Meski Arfan seorang lelaki tapi dia pandai memasak semenjak berpisah dengan keluarganya. Dia sangat mandiri untuk semua hal. Semua itu dilakukan Arfan agar bisa hidup tanpa kekayaan orangtuanya.
"Katanya mau makan!" seru Arfan.
Emily mematikan layar handphone-nya dan meletakkan handphone di bawah. Matanya tertuju pada makanan yang ada di depannya.
"Arfan, kok makannya itu lagi? Aku gak suka," keluh Emily.
"Berhentilah mengeluh!" sahut Arfan.
"Tapi di rumah aku gak pernah makan ini, rasanya gak enak," ujar Emily.
"Oke, gak usah makan ya, biar ku habiskan sendiri," sahut Arfan kesal. Udah susah payah masak gak dihargain. Dia memakan makanan yang dimasaknya sendiri. Menikah dengan Emily musibah untuknya. Seandainya bisa kabur dia akan meninggalkan Emily tapi Arfan tak tega.
"Kalau aku laper nanti aku sakit, kau tega membiarkan istrimu kelaparan," keluh Emily.
Arfan diam saja. Dia tetap makan tanpa menggubris keluhan Emily.
"Arfan, aku laper," tambah Emily sambil memegang perutnya.
Arfan mengambil piring meletakkan kangkung, tempe dan telur kemudian memberikannya pada Emily.
"Makan!" titah Arfan.
"Gak mau! Gak enak!" sahut Emily.
Arfan menarik nafas panjangnya. Berusaha untuk tenang agar tidak terbawa emosi.
"Kalau kau sakit kau akan menyusahkanku, makanlah!" titah Arfan. Menatap dingin wanita cantik dan seksi itu.
"Suapin!" pinta Emily.
"Huh!" Arfan mendengus. Memiliki Emily hampir sama seperti merawat seorang bayi. Dia stress berat bisa terjebak pernikahan dadakan dengannya.
"Arfan! Suapin!" pinta Emily kembali.
"Oke," jawab Arfan. Dia menyendokkan makanan itu ke mulut Emily seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya.
"Telurnya yang banyak!" pinta Emily.
"Katanya gak enak," sahut Arfan.
"Kan disuapin sama Arfan jadi enak," sahut Emily sambil tersenyum.
Arfan hanya menaikkan bola matanya ke atas. Malas mendengar ucapan Emily.
Setelah makan Arfan membereskan pakaiannya, dia memasukkan pakaiannya ke dalam ransel. Melihat itu Emily menghampiri Arfan. Duduk di sampingnya.
"Arfan, sedang apa?" tanya Emily.
"Bukan urusanmu," jawab Arfan dengan datar. Dia tetap membereskan pakaiannya ke dalam ransel. Mengacuhkan ucapan Emily.
"Aku gak diajak?" tanya Emily manja seperti biasanya.
"Gak," jawab Arfan.
"Kenapa? Kau mau pergi meninggalkanku?" tanya Emily.
Arfan meletakkan ranselnya. Dia berbalik menatap Emily.
"Emily, ada yang ingin ku katakan padamu," kata Arfan.
"Apa?" tanya Emily.
"Aku akan menceraikanmu dalam waktu dekat, jadi kau bisa kembali ke rumahmu," jawab Arfan. Dia ingin menceraikan Emily. Dan mengejar cinta sejatinya Annisa. Wanita sholeha dan baik hati seperti Sophia.