
Setelah semua ke luar dari kamar Pak Ferdi, Ibu Marisa mendekati lelaki yang sudah menjadi suaminya selama ini. Walaupun hanya suami di atas kertas. Ibu Marisa duduk di samping ranjang. Dia melihat Pak Ferdi yang menatap ke arahnya. Tatapan itu berbeda tak seperti tatapannya selama ini.
"Ferdi jangan bersandiwara, kau pura-pura baik supaya bebas dari penjarakan?" tanya Ibu Marisa.
"Tak bisakah kau berpikir positif tentangku," jawab Pak Ferdi.
"Berpikir positif? Kau pikir aku bodoh," ujar Ibu Marisa.
Pak Ferdi mengambil tangan kanan Ibu Marisa. Mencium tangan itu. Namun Ibu Marisa segera menariknya kembali.
"Ferdi jangan sok romantis, aku tahu betapa bejatnya dirimu," ujar Ibu Marisa.
"Aku memang bejat, tapi aku ingin memulai hidup baru, menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluargaku," ucap Pak Ferdi.
"Gak mungkin? Kau pasti bohong," sanggah Ibu Marisa.
"Aku tidak bohong, Marisa ayo kita mulai semuanya dari awal," ujar Pak Ferdi.
Ibu Marisa menggeleng. Dia tidak setuju dengan keinginan Pak Ferdi.
"Bukankah dari awal kita sudah sama-sama tahu, pernikahan ini hanya keuntungan untuk kita bersama," jelas Ibu Marisa.
"Iya aku tahu, tapi sekarang aku ingin kau dan aku menjadi suami istri sesungguhnya, dan menjadi orangtua yang utuh untuk anak-anak," ujar Pak Ferdi. Selama ini dia sudah kehilangan banyak hal dan momen yang seharusnya dilalui dengan bahagia bersama anak dan istrinya. Pak Ferdi ingin menebus semua itu. Memulainya dari awal. Memberikan keluarga yang utuh pada anak-anaknya.
"Tidak, aku tidak mencintaimu, kau tau itukan," tolak Ibu Marisa.
"Beri aku kesempatan Marisa, aku janji aku akan berubah, jadi suami yang baik untukmu," pinta Pak Ferdi.
Ibu Marisa langsung berdiri. Namun Pak Ferdi memegang tangan kanannya. Menghentikannya pergi.
"Marisa aku tahu kau mencintai oranglain," ujar Pak Ferdi.
"Kalau kau sudah tahu untuk apa kau bersikeras?" tanya Ibu Marisa sambil melepas tangan Pak Ferdi dari tangannya.
"Marisa beri aku kesempatan, aku yakin kita bisa saling mencintai satu sama lain," ucap Pak Ferdi.
"Tidak, aku tidak mencintaimu, jangan bodoh Ferdi," sahut Ibu Marisa kemudian berjalan ke luar dari kamarnya. Dia masih kesal dengan ucapan Pak Ferdi. Berjalan menuju ke atap rumahnya. Dia berdiri di dekat pembatas atap. Melihat pemandangaan perkotaan di depan matanya, sambil bernafas dengan leluasa. Melepas penat di dadanya.
"Aku hanya mencintaimu, kenapa kita semakin jauh?" ucap Ibu Marisa sambil menangis.
Dalam ingatannya terlintas masa lalu yang pernah terjadi padanya. Masa kelam yang membuatnya harus berpisah dengan orang yang dicintainya.
"Tinggalkan anakku!"
"Tidak, aku sangat mencintai anak anda," jawab Ibu Marisa.
Wanita kaya itu bertepuk tangan. Seketika bodyguard-nya membawa masuk orangtua Ibu Marisa. Mereka mendudukkan kedua orangtua Ibu Marisa di bawah kaki wanita kaya itu.
"Lihat orangtuamu! Kau ingin hidup mereka semakin sulit? Aku akan mempersulit semuanya, sampai ke akar-akarnya."
"Ampun Nyonya, ampuni anak kami."
"Orangtuamu saja takut padaku, kau masih bersikeras? Kau tanggung akibatnya jika tetap bersama anakku!"
"Aku mencintai anak anda, aku tidak akan meninggalkannya," ujar Ibu Marisa.
"Benarkah? Asal kau tahu orangtuamu punya hutang padaku, mereka tak sanggup membayarnya, aku akan menjebloskan mereka ke penjara jika kau tetap bersama anakku."
Ibu Marisa tertunduk. Dia tak bisa membantah dan melawan.
"Orang miskin jangan mimpi jadi orang kaya dengan menggait putraku ke ranjangmu."
"Nak sudahlah, tinggalkan putra dari Nyonya besar."
"Iya Nak, kita hanya orang miskin."
"Bawa mereka masuk!"
"Baik Nyonya besar." Kedua bodyguard itu membawa kembali kedua orangtua Ibu Marisa meninggalkan tempat itu. Tinggal wanita kaya itu dengan Ibu Marisa yang ada di dalam ruangan itu.
"Kau tetap bersikeras, aku akan memberimu pilihan lain untuk membayar hutang orangtuamu, dengan cara ini kau akan tahu serendah apa dirimu."
Tiba-tiba muncul dua lelaki bertubuh kekar. Menghampiri Ibu Marisa. Mereka menangkap Ibu Marisa dan bersikap senonoh padanya.
"Lepas!" ucap Ibu Marisa.
"Lakukan sesuka kalian! Dia sudah menjual dirinya padaku," ucap wanita kaya itu kemudian ke luar dari ruangan itu.
Ibu Marisa ketakutan. Kedua lelaki itu hendak memperkosanya. Ibu Marisa berusaha melawan dan melepaskan dirinya.
"Lepas!" ucap Ibu Marisa sambil menggerakkan tangannya ke luar dari cengkraman dua lelaki hidung belang yang haus akan kehangatan.
"Puaskan kami, setelah itu kau bisa lepas."
"Iya sayang, sebentar aja."
"Tidak!" ucap Ibu Marisa sambil melawan. Dia berusaha mendorong salah satu lelaki di depannya dan menendang lelaki di belakangnya. Lalu Ibu Marisa berusaha kabur. Mereka terus mengejar Ibu Marisa. Memburunya seperti binatang buruan. Saat itu malam hari, Ibu Marisa berlari di jalanan dikejar kedua lelaki kekar yang mengejarnya. Dia terus berlari tanpa arah dan tujuan. Nafasnya tersengal-sengal, jantungnya berdebar. Dia ketakutan setengah mati. Kedua lelaki itu terap mengejarnya tanpa lelah. Ibu Marisa terus berlari sekuat tenaga, menggerakkan kakinya secepat mungkin hingga menyeberangi jalan dan hampir tertabrak mobil. Untung saja mobil langsung mengerem.
Ibu Marisa yang posisinya sedang terjepit berusaha mengetuk kaca mobil. Tak lama kaca mobil itu diturunkan. Seorang lelaki mengenakan jaket hitam dan kaca mata hitam duduk di kursi kemudi. Dia adalah Pak Ferdi. Itu pertemuan pertama mereka berdua.
"Mas tolong aku! Aku dikejar orang jahat," ucap Ibu Marisa.
Pak Ferdi terdiam. Dia melihat dua lelaki kekar berlari ke arahnya.
"Naik!" perintah Pak Ferdi.
Ibu Marisa langsung naik ke mobil Pak Ferdi. Segera mobil itu melaju meninggalkan tempat itu. Sejak saat itu Ibu Marisa bersama Pak Fedi dan sepakat menjalani pernikahan di atas kertas demi keuntungan bersama. Mereka harus bersandiwara selayaknya keluarga di depan umum padahal hidup mereka masing-masing.
"Sejak saat itu aku memutuskan menikah denganmu demi uang dan kedudukan," ucap Ibu Marisa.
"Tapi aku tetap kesepian," kata Ibu Marisa.
Di lain tempat Alex sedang menunggu Sophia membuatkan kopi untuknya. Alex teringat hasil test DNA yang tadi diambilnya sekalian menjemput ayahnya pulang dari rumah sakit. Dia penasaran dengan hasil test DNA antara dia dan Pak Ferdi. Segera Alex mengambil hasil test DNA itu dari tas miliknya. Meskipun ragu namun Alex harus tahu kebenarannya. Perlahan Alex membuka hasil test DNA itu. Membaca keterangan yang ada di kertas dari dalam amplop putih yang diambil dari laboratorium.
"Apa? Aku dan ayah, bukan ayah dan anak kandung?" Alex terkejut. Apa yang dilihatnya membuatnya benar-benar terkejut. Dia berpikir mungkin Pak Ferdi kandungnya tapi kenyataannya berbeda.
Alex terdiam. Dia memikirkan hasil pemeriksaan tes darah sebelumnya. Alex dan Pak Fedi memiliki golongan darah yang langka, hanya beberapa orang di dunia ini memiliki golongan darah itu.
"Kenapa aku dan ayah memiliki golongan darah yang langka? Padahal kami bukan ayah dan anak? Semua ini membuatku bingung, apa aku harus mencari tahu dari ibu?" ucap Alex. Dia memasukkan kembali kertas itu ke dalam amplop putih. Meletakkannya di dalam laci. Kemudian ke luar dari kamarnya. Dia ingin menemui Ibu Marisa untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya. Alex berjalan di lorong lantai dua, tiba-tiba suara lembut terdengar di telinganya.
"Mas," panggil Sophia membawa secangkir kopi untuk Alex.
"Sayang," ucap Alex menoleh ke arah Sophia.
"Mau ke mana?" tanya Sophia.
"Nanti ku ceritakan, tunggu aku di kamar ya," ujar Alex.
Sophia mengangguk.
Alex kembali melangkah. Mencari keberadaan ibunya ke seluruh ruangan. Namun tak menemukannya. Hingga dia menemukan ibunya sedang berdiri di atap rumah.
"Alex," ucap Ibu Marisa melihat Alex berjalan menghampirinya.
"Aku ingin ibu menceritakan semuanya," ucap Alex.
"Menceritakan apa?" tanya Ibu Marisa yang belum tahu maksud perkataan Alex.