Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Saya Tahu Siapa Luki



"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting, Bos Harry pasti akan terkejut mendengarnya," jawab Dokter Randi. Tersenyum licik. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Sesuatu yang akan membuat tujuannya tercapai.


"Apa?" tanya Pak Harry penasaran. Dari wajah Dokter Harry tampak serius. Pasti dia benar-benar ingin menyampaikan hal yang penting.


"Ini ada hubungannya dengan calon suami Humaira," kata Dokter Randi berbasa basi. Dia sengaja membuat sedikit lama agar hasilnya sesuai yang diinginkannya.


"Maksud anda Arfan?" tanya Pak Harry. Menebak orang yang dimaksud Dokter Randi.


"Iya, siapa lagi, Anda ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Dokter Randi.


"Kau sedang bicara apa Dokter? Aku tidak mengerti," jawab Pak Harry yang belum tahu arah pembicaraan lelaki muda di depannya itu.


"Arfan Edward itu nama aslinya Luki Andara sekretaris Tuan Matteo, dia sengaja mendekati Keluarga Harold untuk balas dendam pada Bos Harry," kata Dokter Randi.


"Apa? Anda bercanda Dokter?" Pak Harry terkejut. Luki yang selama ini dikenalnya sosok yang baik. Bahkan Pak Harry menjodohkannya dengan putri semata wayangnya Humaira.


"Untuk apa aku bercanda? Aku punya bukti siapa calon menantu Anda," kata Dokter Randi. Terlihat santai seolah permainan ada di tangannya. Tinggal memainkannya sesuai kemauannya.


"Bukti apa? Jika Dokter berbohong, aku tak segan membuat perhitungan dengan anda," sahut Pak Harry mengancam. Dia tidak suka Dokter Randi menjelekkan calon menantunya tanpa bukti.


Dokter Randi mengeluarkan sebuah amplop. Memberikannya pada Pak Harry. Amplop berukuran sedang berwarna coklat di dalamnya ada foto-foto masa kecil Luki, keluarganya dan foto Luki bersama Tuan Matteo.


"Hajun Andara? Dulu aku pernah membuat perusahaannya bangkrut, aku menyabotase proyek bangunannya," batin Pak Harry. Dia teringat kesalahannya di masa lalu.


"Tujuan Arfan atau Luki meminang Humaira untuk balas dendam pada Bos Harry," kata Dokter Randi. Dia memprovokasi Pak Harry agar membenci Luki. Dan membatalkan pernikahannya dengan Humaira.


Pak Harry terdiam. Memandangi foto-foto itu kemudian meletakkannya di atas meja. Dia membuang nafas gusarnya. Menenangkan hati dan pikirannya.


"Huh ..." Pak Harry coba untuk tak terpancing emosi yang mulai memprovokasi dirinya sendiri.


"Aku bisa pastikan Humaira akan menderita jadi pelampiasan Luki untuk balas dendam pada anda," ujar Dokter Randi. Dia sengaja menambah panas telinga Pak Harry. Ini kesempatannya untuk menyingkirkan Luki dari Humaira selama-lamanya.


"Kau benar putriku mungkin jadi pelampiasan Luki untuk membalaskan semua dendamnya padaku," sahut Pak Harry.


"Ya memang seperti itu Bos Harry. Kasihan Humaira jika pernikahan ini tetap dilaksanakan," ujar Dokter Randi. Senang sekali Pak Harry sudah masuk ke dalam rencana liciknya.


Pak Harry mengangguk. Pernikahan Humaira dan Luki akan dilaksanakan besok pagi. Dia masih bisa membatalkan pernikahan itu. Mumpung akad nikah belum dilaksanakan.


"Pernikahan ini akan menjadi penjara untuk putriku, dia pasti menderita," kata Pak Harry.


"Seperti yang aku katakan tadi. Jika pernikahan itu tetap dilaksanakan, Humaira akan jadi korbannya," sahut Dokter Randi. Dia hanya bisa tertawa di dalam hatinya. Humaira akan jadi miliknya tinggal hitungan menit.


Pak Harry kembali terdiam. Mencerna perkataan Dokter Harry. Humaira gadis yang baik hati dan sholeha. Orang yang akan jadi suaminya haruslah orang yang baik dan sholeh. Mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Agar hidupnya bahagia.


"Betul sekali Bos Harry pilihan Anda benar, semua ini demi kebahagiaan Humaira," sahut Dokter Randi.


"Tapi aku ingin membayar semua kesalahanku di masa lalu dengan putriku yang akan menjadi istri yang sholeha untuk Luki," ujar Pak Harry. Dia yakin dengan hadirnya Humaira yang baik hati dan sholeha akan merubah dendam menjadi cinta. Apalagi selama bersama Humaira, Luki tak pernah menyakitinya. Dia selalu menjaga dan perhatian pada putrinya.


"Apa? Anda tidak salah? Mengirim putri anda ke kandang singa lapar?" Dokter Randi terkejut. Dia berpikir Pak Harry sudah terhasud oleh semua yang dikatakannya. Ternyata yang terjadi tidak sesuai yang direncanakannya, justru sebaliknya.


"Putriku bukan wanita yang lemah. Lagi pula tak ada salahnya aku membayar kesalahanku dengan putriku, toh mereka saling mencintai," jawab Pak Harry menjelaskan.


Braaak ...


Dokter Randi menggebrak meja dengan keras. Dia tidak setuju dengan keputusan Pak Harry yang tetap membiarkan pernikahan itu berlangsung besok pagi.


"Dokter Randi bersikaplah yang sopan! Anda ada di rumahku," tegas Pak Harry. Menatap tajam Dokter Randi.


"Aku tahu ini rumah anda Bos Harry, maksud kedatanganku untuk memperingatkan anda agar tidak termakan rencana licik Luki, justru anda malah mendukungnya," sahut Dokter Randi kecewa berat. Harapannya luntur. Bayangan di pelaminan bersama Humaira menghilang.


"Terimakasih atas niat baik anda Dokter, tapi aku masih bisa menyelesaikan masalah ini sendiri," sahut Pak Harry. Tampak percaya diri. Dia tak meragukan Luki sedikitpun. Meski dia sempat terkejut dengan identitas asli Luki.


"Pak Harry, aku lebih cocok menjadi suami Humaira dari pada Luki. Aku punya segalanya. Humaira akan bahagia menjadi istriku," ujar Dokter Randi. Mau tak mau dia to the point dari pada berbelit-belit. Sudah jelas dia memang menginginkan Humaira jadi istrinya.


"Anda mungkin lebih baik dari Luki. Tapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku pada Humaira. Dia sudah memilih Luki untuk jadi suaminya," jawab Pak Harry. Bagi Pak Harry perasaan putrinya jauh lebih utama. Apalagi selama ini Humaira tak pernah meminta apapun padanya.


Tangan Dokter Randi mengepal. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun. Jantungnya berdebar tak karuan, nafasnya berpacu dengan emosinya yang semakin meninggi.


"Bos Harry, satu hal lagi yang harus kau tahu tentang Luki!" pekik Dokter Randi yang dipenuhi emosi yang tak mampu dipadamkan lagi olehnya. Membara, membakar semua kesabarannya.


Pak Harry hanya diam. Menatap dingin lelaki muda yang mulai tak sopan dan berani padanya.


"Luki itu lelaki penyuka sesama jenis!" seru Dokter Randi. Kartu AS terakhir yang dia keluarkan. Akan menjadi kartu penentu untuk rencana liciknya. Apakah Pak Harry masih akan membiarkan putrinya menikah dengan Luki atau justru sesuai prediksinya.


Deg


Pak Harry terkejut dengan pernyataan Dokter Randi yang spontan dan meyakinkan. Jantungnya berdebar kencang. Tangannya gemetaran. Lelaki penyuka sesama jenis tentu hal lain yang di luar dugaannya.


Tuaaar ....


Cangkir kopi dan nampan terjatuh ke lantai. Jatuh tak beraturan. Berserakan di lantai. Pecah jadi beberapa bagian. Tangan Humaira masih mematung. Begitupun dengan dirinya yang diam membisu. Mendengar apa yang dikatakan Dokter Randi. Tiba-tiba tubuhnya lemas tak berdaya. Seolah semua tenaga menghilang dari tubuhnya.


"Humaira!" Pak Harry dan Dokter Randi menoleh ke arah Humaira yang berdiri tak jauh dari mereka duduk.