Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Bonus Chapter



Pagi itu Cala sedang berdandan cantik di depan cermin. Dia ingin bertemu Raiyan. Sudah beberapa hari Raiyan sulit dihubungi dan tidak pernah membalas chat darinya. Untuk pertama kalinya Raiyan mau membalas chat darinya dan mengajak Cala bertemu.


"Senangnya bisa bertemu dengan Raiyan," ucap Cala kegirangan. Dia senang sekali bisa bertemu Raiyan. Apalagi selama ini mereka selalu bersama kemanapun. Sekolah di tempat yang sama, belajar bersama dan main bersama. Mereka hampir tak pernah terpisahkan kecuali malam.


"Raiyan pasti senang deh melihat baju pemberiannya aku pakai," ucap Cala. Dia bangun berdiri di depan cermin sambil memperhatikan gaunnya yang begitu cantik.


Tak lama Maria masuk ke dalam kamar Cala. Dia memperhatikan putrinya yang begitu cantik tak bidadari yang turun dari langit.


"Aduh anak Mami cantik banget mau ke mana?" Tanya Maria sambil menghampiri Cala. Dia berdiri tepat di samping putrinya.


"Aku mau bertemu Raiyan Mami," jawab Cala.


Maria langsung terdiam. Dia baru menyadari cara pandang putrinya pada Raiyan berbeda, bukan menganggapnya sebagai saudara tetapi sebagai seorang kekasih. Dia merasa semua ini harus dihentikan sebelum terlampau jauh.


"Cala, Mami mau bicara," kata Maria. Hal ini harus dibicarakan dengan baik agar Cala tidak terluka hatinya.


"Bicara apa Mi?" tanya Cala. Dia masih sibuk memperhatikan dress yang dikenakannya.


"Mami rasa sudah saatnya kau memiliki seorang yang akan menjadi suamimu nantinya, kalau kau dekat-dekat Raiyan terus semua laki-laki akan menjaga jarak denganmu," ujar Maria pada putrinya itu. Selama ini banyak yang ingin mendekati anaknya tapi mereka minder ketika Cala selalu berduaan dengan Raiyan. Hal ini harus dihentikan jika tiga putrinya tidak akan pernah dipinang oleh orang lain. Dia akan hanyut dalam imajinasinya dan terus menempel pada Raiyan, yang jelas-jelas adalah saudaranya.


"Nggak mau Mi, nggak ada yang kaya Raiyan," jawab Cala. Dia merasa hanya Raiyan yang bisa mengerti dirinya dan membuatnya bahagia. Tak ada laki-laki lain yang bisa seperti Raiyan dalam segala hal.


"Tapi Raiyan itu saudaramu nak, kau dan dia tidak akan pernah bisa bersama karena kalian memiliki ikatan darah," kata Maria. Dia tahu betul Raiyan dan Cala memiliki ikatan darah tidak mungkin bisa bersama apalagi sampai menikah.


"Kalau gitu aku ingin seperti ini saja, yang penting bisa terus bersama Raiyan," jawab Cala. Dia tidak peduli dengan sebuah ikatan yang penting bisa bersama Raiyan.


"Nggak bisa begitu nak, kalian harus memiliki keluarga dan masa depan nantinya. Bahkan dalam Islam pun menikah itu ibadah," sahut Maria berusaha menerangkan apa yang seharusnya dilakukan anaknya. Dia tidak sependapat dengan putrinya yang tetap berpikir kekanak-kanakan. Cala tidak ingin berpisah dengan Raiyan sementara mereka harus memiliki kehidupan yang akan dilanjutkan ke depannya.


"Pokoknya aku maunya sama Raiyan," kekek Cala. Dia terlanjur jatuh cinta pada anak Luki dan Humaira. Padahal jelas-jelas mereka memiliki hubungan kekerabatan. Tapi faktor kedekatan dari kecil hingga dewasa membuat dirinya susah move on dan dekat dengan laki-laki lain.


"Nanti kamu akan sakit hati dan terluka Cala, Mau dibawa kemanapun hubungan kalian itu terlarang, kau paham!" Maria mulai marah dia tidak bisa menghentikan keinginan putrinya itu. Bagaimana merubah cara pandang putrinya pada pasangan hidupnya nanti.


"Udah ah Mi, Cala malas berdebat. Keburu siang Raiyan pasti menungguku," kata Cala. Dia tidak peduli dengan ucapan Maria. Lebih memilih segera pergi dari kamarnya agar bisa bertemu dengan Raiyan. Cala mengambil tas cangklong miliknya lalu mengucapkan salam keluar dari kamarnya begitu saja.


"Cala, bagaimana caranya Mami menjelaskan padamu dan kamu ngerti," ucap Maria. Dia sudah lelah menasehati Cala agar tidak terus-menerus dekat dengan Raiyan. Jika terus dibiarkan dia takut putrinya akan terluka.


"Aku harus bicara dengan Abang, semua ini tidak bisa dibiarkan," ucap Maria. Dia berpikir untuk bicara dengan suaminya agar ada solusi untuk masalah ini. Putrinya tidak bisa terus-menerus dibiarkan dekat dengan Raiyan sebelum semuanya terlambat.


Maria keluar dari kamar anaknya. Dia turun ke lantai bawah dan masuk ke ruang tamu menghampiri suaminya yang sedang duduk sambil memainkan handphone miliknya.


"Bicara aja Neng, Abang tetap dengerin meski mata Abang sedang berselingkuh dengan permainan game ini," jawab Gavin. Meski matanya sedang berselingkuh mesra dengan game online miliknya tapi telinganya siap mendengarkan dengan setia apapun ocehan dan kemarahan istrinya.


"Abang mau nggak? Abang," ucap Maria dengan suara menggoda dan seksi. Biar Gavin melepas tangannya dari handphone yang sudah menjadi pelakor dalam hubungan mereka.


Mendengar suara menggoda dan seksi dari istrinya telinga Gavin membesar dan matanya yang tadi tertuju pada layar handphone langsung berbalik arah menatap istrinya yang seksi dan montok itu.


"Ayo Neng mumpung sepi Emak nggak ada, anak kabur," jawab Gavin. Langsung semangat saat istrinya mulai menggodanya. Handphone tak lagi bisa menjadi pelakor di antara mereka jika Maria sudah dalam mode on. Gavin langsung melempar handphonenya ke sofa. Terpaksa meregangkan hubungannya dengan handphone untuk sementara.


Baru mau nyosor Maria langsung menutup menahan bibir suaminya.


"Abang giliran kayak gini aja mau dengerin, Neng mau bicara masalah penting aja selingkuh mulu sama handphone," kata Maria. Dia kesal selama ini selalu diduakan dengan handphone padahal jelas-jelas Maria jauh lebih menggoda daripada handphone.


"Sorry sayang, yang penting aku nggak selingkuh sama orang selingkuhnya sama handphone," jawab Gavin sambil meringis seolah dia tidak merasa bersalah.


"Ya udah kalau gitu Abang tidurnya sama handphone aja ya malam ini," sahut Maria.


"Jangan dong Sayang," kata Gavin. Bisa berabe kalau harus tidur dengan handphone.


"Ya udah sekarang dengerin aku ngomong," sahut Maria mengancam agar Gavin mau mendengarkan apa yang diucapkannya.


"Oke," jawab Gavin.


Maria pun menceritakan apa yang sekarang terjadi pada putri mereka. Termasuk hubungan Cala dan Raiyan yang menurutnya sudah tidak wajar dan harus dihentikan.


"Mami terlalu serius menanggapi ini," ujar Gavin yang menganggap enteng permasalahan itu.


"Kok Papi malah tanggapannya begitu sih, kalau terus dibiarin begini gimana kalau mereka melakukan hal yang tidak tidak. Papi kan tahu mereka punya hubungan darah jangan sampai sesuatu yang terlarang terjadi Pi," sahut Maria. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat mereka akan menyesal karena hubungan anaknya dan keponakannya yang terlalu dekat.


"Kalau gitu nikahkan Cala saja dengan orang lain kan beres," jawab Gavin dengan enteng.


"Apa mau? Cala itu udah terlanjur jatuh cinta dengan Raiyan, Mami sudah pernah membujuknya tapi Cala tidak mau meninggalkannya," sahut Maria. Sebelumnya Maria juga sempat menjodohkan Cala dengan anak temannya Tapi semua itu gagal karena Cala tidak datang di pertemuan mereka.


"Ya udah nanti kita nikahin paksa saja, enggak usah banyak rencana nanti kabur lagi anaknya," jawab Gavin. Dia memiliki rencana untuk menikahkan Cala secara dadakan agar tidak terlalu banyak rencana yang ujung-ujungnya malah membuat Cala kabur.


"Terserah Papi deh. Yang penting kalah tidak lagi dekat dengan Raiyan," sahut Maria yang sudah putus asa untuk memisahkan anaknya dengan sepupunya itu.