Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tes DNA Ezar



"Assalamu'alaikum," sapa Alex dan yang lainnya saat masuk ke dalam ruang keluarga.


"Wa'alaikumsallam," sahut Sophia dan yang lainnya.


"Lagi ngapain?" tanya Alex. Melihat ayah dan semua orang di ruangan itu sedang duduk lesehan.


"Rujakan Lex, seger nih, masih banyak," jawab Pak Ferdi.


"Iya Kak, sambel rujaknya mantep, bikinan Kak Sophia," tambah Claudya.


"Buruan masuk semuanya! rujakan dulu biar seger, mumpung panas cuacanya," ujar Ibu Claudya.


"Jadi pengen," sahut Humaira.


"Sini Humaira! Duduk deketku," ajak Claudya.


Alex dan yang lainnya pun duduk lesehan. Sedangkan Sora memilih bermain dengan Ezar dan Arfan. Dia memperhatikan anak-anak itu.


"Kak baru datang udah kaya vacum cleaner aja," ujar Claudya melihat Alex makan rujak udah kaya penyed0t debu.


"Seger banget, kurang malah," sahut Alex.


"Kalau dipikir-pikir bukan cuma Sophia yang lagi doyan makan rujak, tapi Alex juga ya?" ucap Ibu Marisa yang memperhatikan Alex yang sering makan rujak akhir-akhir ini.


"Iya sih, Kak Alex pagi-pagi aja sarapannya rujak," sahut Claudya membenarkan.


"Wah bener ini, Sophia pasti hamil," ujar Pak Ferdi.


"Kamu hamil sayang?" tanya Alex menatap wajah cantik pemilik mata emerald itu.


"Insya Allah, belum tes pack Mas," sahut Sophia.


Alex langsung mengelus perut datar Sophia.


"Semoga ya sayang, biar tambah rame, dan cinta kita tambah kuat dan semakin tumbuh subur," kata Alex.


"Taneman kali yang subur Kak," ledek Claudya. Sudah biasa kalau ada Alex gatel bibirnya kalau tak berdebat dengannya. Meski kalau jauh rindu.


"Suka-suka dong, ini yang dinamakan kata-kata romantis dan puitis," sahut Alex.


"Astaga gue enek Kak, gara-gara nenek-nenek, sekarang kata-kata romantis," ujar Gavin.


"Udah-udah keburu abis rujaknya sama Ayahmu," sahut Ibu Marisa.


"Pak Harry gak ditawarin Bu?" tanya Claudya.


Deg


Ibu Marisa terperanjat mendengar pernyataan Claudya. Dia masih belum bisa leluasa bicara dengan Pak Harry meski tak ada rasa cinta lagi dan Alex sudah berdamai dengan ayahnya. Hanya saja Ibu Marisa masih canggung untuk menjalin kedekatan lagi dengannya.


"Harry makanlah rujaknya, dulu kau suka rujak jugakan?" ujar Ibu Marisa memberanikan diri. Berusaha melupakan masa lalu demi anak dan cucunya.


"Iya Harry, kau paling suka mangga muda, apalagi daun muda," ledek Pak Ferdi.


Ibu Marisa langsung memasukkan tiga buah cabai ke mulut Pak Harry.


"Ehmm ..." Pak Ferdi tertutup cabai mulutnya.


"Harry jangan diambil hati, efek kebanyakan makan cabai jadi bicaranya Ferdi ngawur," ujar Ibu Marisa.


"Gak masalah, itu benar. Aku memang suka daun muda," jawab Pak Harry.


Gubrak


Claudya dan yang lainya tepok jidat. Tak disangka Pak Harry tua-tua keladi. Makin tua makin jadi.


"Pa, Humaira ambilin piring kecil ya," ujar Humaira.


"Iya Nak," jawab Pak Harry.


Humaira mengambilkan piring kecil untuk wadah rujaknya Pak Harry. Mengisi piring itu dengan rujak dan memberikan pada ayahnya.


"Makasih Nak," ujar Pak Harry.


"Iya Pa," jawab Humaira.


Mereka semua menikamati rujak bersama-sama. Hal kecil yang mampu mempererat keharmonisan keluarga.


Setelah rujakan mereka semua berkumpul. Duduk di sofa yang berjejer.


"Semuanya, ada yang ingin aku sampaikan," ujar Alex. Sudah saatnya bicara mumpung suasana sudah tenang.


Semua orang di ruangan itu mengangguk.


Alex mulai menceritakan apa yang sudah terjadi pada Pak Harry dan Sora begitupun hubungannya dengan Ezar. Biar masalah ini lebih mudah diselesaikan.


"Kemungkinan, tapi biar lebih jelas lagi kita harus tes DNA," jawab Alex. Tak bisa menduga-duga, tes DNA tetap harus dilakukan.


"Iya, Ayah setuju, tes DNA lebih akurat," sahut Pak Ferdi. Dari pada hanya sebuah dugaan lebih baik dibuktikan.


"Aku juga setuju, Ezar berhak mengetahui siapa ayah dan ibunya," tambah Tuan Matteo. Meski dia sudah menyayangi Ezar seperti anaknya sendiri, tetaplah Ezar berhak tahu siapa keluarganya.


"Semua orang mengangguk.


"Bagaimana kalau siang ini tes DNA itu dilakukan?" tanya Pak Harry. Dia sudah tak sabar ingin tahu Ezar anaknya atau bukan.


Semua orang setuju. Mereka tahu Pak Harry dan Sora pasti ingin segera mengetahui apakah Ezar anak mereka atau bukan.


"Ya sudah, aku akan mengantar Papa ke rumah sakit," ujar Alex.


"Aku juga," tambah Tuan Matteo. Dia merasa bertanggung jawab sebagai ayah angkat Ezar.


"Baiklah, kita semua akan menunggu," jawab Pak Ferdi.


Sebelum berangkat Pak Harry dan Sora menghampiri Ezar. Pak Harry berlutut. Menatap wajah Ezar. Anak kecil itu memang mirip dengan Alex dan Arfan. Pak Harry membelai wajahnya.


"Ezar," sapa Pak Harry.


"Kakek ganteng," sahut Ezar. Dia berpikir Pak Harry kakeknya.


Pak Harry hanya tersenyum. Matanya berkaca-kaca melihat Ezar. Dia tidak bisa membayangkan saat ibunya Sora membuang Ezar ke tempat sampah. Pak Harry langsung memeluk Ezar.


"Rasanya nyaman, dia memang anakku," batin Pak Harry. Dia merasa Ezar memang anaknya.


Ezar begitu nyaman dipelukan Pak Harry. Sora yang berada di belakang Pak Harry tersenyum. Dia senang melihat Ezar bertemu Pak Harry.


"Tante cantik," sapa Ezar memanggil Sora.


"Iya sayang," sahut Sora.


Pertemuan itu begitu haru. Alex dan Sophia bisa merasakan apa yang dirasakan ayah dan anak. Itupun pernah dirasakan Alex dan Pak Harry. Mereka juga pernah berpisah dan bertemu kembali.


"Sayang ikutlah sekalian periksa soal kehamilanmu itu," ajak Alex.


"Iya Mas," jawab Sophia.


Alex dan Sophia beserta Pak Harry, Tuan Matteo,Sora dan Ezar pergi ke rumah sakit. Demi membuktikan hubungan Pak Harry dan Ezar.


***


Sampai di rumah sakit, Pak Harry dan Ezar melakukan tes DNA. Sedangkan Alex dan Sophia pergi ke poli kandungan. Alex ingin tahu apakah Sophia benar-benar hamil. Mereka sangat mendambakan hadirnya anak kedua sebagai buah cinta mereka.


Alex dan Sophia masuk ke ruang Dokter Kebidanan setelah mengantri cukup panjang.


"Assalamu'alaikum," sapa Sophia dan Alex masuk ke dalam.


"Wa'alaikumsallam," sahut Dokter dan suster.


Sophia dan Alex duduk setelah dipersilahkan duduk oleh Dokter.


"Ada keluhan apa Bu?" tanya Dokter.


Sophia langsung mengatakan apa yang dirasakannya beberapa hari ini dan haidnya yang sudah telat.


"Kalau gitu di USG dulu ya biar jelas," ujar Dokter.


Alex dan Sophia mengangguk.


Suster segera memandu Sophia untuk berbaring di ranjang. Dia juga menyiapkan semua keperluan untuk USG. Setelah itu barulah Dokter duduk di samping ranjang tempat Sophia berbaring. Dia mulai melakukan proses USG pada Sophia. Di layar monitor terlihat gumpalan darah 3D yang menunjukkan adanya tanda kehidupan di rahim Sophia.


"Alhamdulillah, sudah empat minggu Bu." Dokter memberitahu Sophia tentang usia kehamilannya. Dia juga menjelaskan semua hal yang dilihatnya dari kondisi janin yang ada di dalam rahim Sophia.


Hanya beberapa menit proses USG itu selesai. Sophia kembali duduk bersama Alex.


"Selamat ya Pak Alex, Ibu Sophia sedang hamil empat minggu. Janinnya sehat. Sejauh ini semuanya baik."


"Alhamdulillah," sahut Alex. Dia senang sekali saat mengetahui Sophia benar-benar hamil.


"Saya akan meresepkan obat mual, vitamin dan obat-obatan lainnya."


"Iya Dok," sahut Alex dan Sophia.


Dokter pun meresepkan semua obat yang dibutuhkan Sophia selama kehamilannya di bulan pertamanya.


"Jaga kesehatan, pola makan, dan istirahat yang cukup. Kurangi stress itu penting untuk ibu hamil," ujar Dokter.


"Iya Dok," jawab Alex dan Sophia.


Usai dari Dokter Kandungan, Alex dan Sophia kembali ke laboratorium untuk menemui Pak Harry dan yang lainnya.