
Supir itu masuk ke dalam mobil lagi.
"Tuan ... Tuan ...!" Suara panggilan itu terdengar dua kali.
"Iya ada apa?" tanya Jack dengan suara pelan.
"Mobil kita menabrak orang Bos, dia masih di depan mobil."
"Tolong dia dan beri uang, bereskan!" ujar Jack yang masih malas. Dia masing tidur tengkurep di kursi belakang.
"Dia tidak mau ditolong, maunya bertemu dengan Bos."
"Heh, manusia sekarang serakah, tabrak lagi aja Pak!" titah Jack. Dia bukan orang yang mau bersabar. Tak peduli orang suka atau tidak. Jack sudah bekerja di dunia hitam cukup lama. Bisnis klub malam dan pelayanan wanita malam secara on line sudah digelutinya hingga menjadi orang sukses seperti sekarang. Dia bukanlah orang yang baik.
"Saya gak tega Bos, dia seorang wanita."
"Apa wanita?" Jack langsung terbangun saat mendengar orang yang ditabrak mobilnya seorang wanita.
"Iya Bos."
"Apa dia cantik?" tanya Jack penasaran. Otak bisnisnya mulai merajai kepalanya.
"Cantik Bos."
Jack langsung tersenyum licik. Dia senang sekali mendapatkan buruan baru. Setidaknya bisa untuk dicicipi dan setelah bosan dijual seperti biasanya.
Tanpa berpikir panjang Jack ke luar dari mobil. Dia merapikan pakaiannya, dari jas, dasi sampai rambutnya. Jack tersenyum, wajah tampannya akan menghipnotis wanita itu untuk jatuh ke dalam pelukannya.
"Wanita cantik, aku datang, siap-siap jadi mangsaku," batin Jack. Dia berjalan menghampiri seorang wanita yang masih terduduk di depan mobilnya.
"Nona mobil saya mengenai anda?" tanya Jack berbasa-basi dengan sopan dan ramai. Seolah dia seorang malaikat baik hati.
Wanita itu masih memegang kakinya, menoleh ke arah Jack. Seketika Jack tercengang dengan wajah cantik wanita di depannya. Rambutnya merah, dadanya di atas rata-rata, body-nya montok dan mulus. Membuat pikiran kotor Jack melayang ke mana-mana. Dia menelan ludah berkali-kali.
"Mangsa empuk," batin Jack. Menatap wanita cantik itu tanpa berkedip.
"Oh kau pemilik mobilnya? Kau lihat kakiku tak bisa jalan gara-gara mobilmu," jawab Vera.
Jack tersenyum tipis. Mendekati Vera, berjongkok di depannya.
"Biar ku obati ya, kebetulan rumahku tak jauh dari sini," ujar Jack dengan tipu muslihatnya.
"Oke, kau memang harus bertanggung jawab," jawab Vera.
"Bodoh, aku akan memangsamu sampai ketulang-tulangmu," batin Jack. Tak ada belas kasih untuk wanita di depannya. Hanya sebuah keuntungan yang ada di otaknya.
"Baik cantik, mari," jawab Jack. Dia membantu Vera bangun. Memapahnya masuk ke dalam mobilnya. Duduk di kursi belakang bersamanya. Wanita di sampingnya itu begitu menggoda. Sepanjang perjalanan, Jack terus melihat ke arahnya.
"Cepat Pak!" titah Jack.
"Baik Bos."
Mobil itu terus melaju dengan cepat. Sampai di rumah besar yang berada jauh dari area perumahan penduduk. Kanan dan kiri rumah itu lahan terbengkalai. Mobil itu masuk ke dalam parkiran. Jack dan Vera turun dari dalam mobil. Masuk ke dalam rumah. Jack masih memapah Vera sampai ke kamar tamu. Membantunya duduk di ranjang.
"Aku ambil obatnya dulu, kau ingin minum teh hangat atau air putih?" tanya Jack.
"Apa saja asal membuatmu senang," jawab Vera.
"Oke, sebentar ya cantik," sahut Jack.
Vera mengangguk.
Jack ke luar dari kamar. Mengambil obat dan segelas teh hangat untuk Vera. Kemudian kembali ke kamar itu. Menghampiri Vera dan duduk di sampingnya.
"Biar ku obati kakimu," ujar Jack.
"Baiklah, lakukan sesukamu," jawab Vera.
Jack mengnangguk. Mengambil kaki Vera sebelah kiri. Dia melipat celana Vera. Lalu membersihkan luka dan mengoleskan dengan obat luka.
"Sepertinya kakimu juga terkilir," kata Jack.
"Berarti aku takkan bisa jalan, gimana aku bisa pulang?" ungkap Vera.
"Sudah malam tidak baik wanita cantik berkeliaran di luar," jawab Jack.
Vera tersenyum tipis.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Vera.
"Menginaplah di sini!" ujar Jack. Bagaimana dia bisa mendapatkan apa yang dimau jika Vera meninggalkan rumahnya.
"Kau baik sekali, tapi aku tidak ingin merepotkanmu," jawab Vera.
"Kau tidak merepotkanku," sahut Jack. Dia masih merapikan celana Vera. Menatap wajah cantiknya.
"Baiklah, terimakasih," jawab Vera.
"Oke, sekarang minumlah teh dulu biar tubuhmu hangat," ujar Jack.
Vera mengangguk. Jack mengambil teh hangat itu. Memberikan pada Vera. Dia tersenyum melihat Vera meneguk teh hangat itu.
"Sebentar lagi kau akan jadi mangsaku," batin Jack.
Vera menghabiskan teh hangat itu. Tak lama dia mengantuk. Sangat mengantuk. Sampai terjatuh ke ranjang dan tertidur begitu saja.
"Kau salah datang padaku wanita, malam ini juga akan ku buat kau tak bisa jalan," ujar Jack. Dia membaringkan Vera.
"Lepaskan aku! Ku mohon! Kalian jahat!"
"Ayo Jack buruan ke buru ada yang datang."
"Sabar ini pertama kali gue gugup."
"Huh Jack belum berpengalaman." Seru siswa putri yang ikut membulli.
"Jangan, lepaskan aku!"
"Ayo Jack!"
"Aw ... sakit!"
Suara-suara itu terngiang di telinga Jack kembali. Dia sampai gemetaran mengingat apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Dia gadis itu?" Jack langsung beranjak dari ranjang. Meninggalkan Vera yang masih berbaring di ranjang kamar itu.
***
Pagi itu Sophia dan Alex membagikan sembako gratis di alun-alun yang sudah disewanya selama satu hari. Alun-alun itu tertutup tenda seluas alun-alun. Semua itu agar orang yang datang tidak kepanasan, apalagi di bulan puasa. Keduanya juga menyewa tim pembagi sembako dan keamanan supaya tertib. Tak ada kericuhan dan kerusuhan. Semuanya berjalan dengan benar. Ada nomor antrian biar tidak berebut atau mendahului. Ribuan paket sembako gratis disediakan Alex dan Sophia untuk semua orang yang membutuhkan. Mereka juga menyediakan akomodasi berupa bus dan angkot yang akan mengantar para penerima sembako. Kenan dan Aiko juga hadir membantu kelancaran acara itu.
Alex menemani Sophia berdiri mengawasi prosesnya. Mereka berdiri melihat orang-orang berjejer dan menyapa dengan ramah dan sopan.
"Sayang capek tidak?" tanya Alex.
"Tidak Mas, justru menyenangkan," jawab Sophia.
"Dede gak laper ikut puasa?" tanya Alex sambil mengelus perut Sophia yang mulai buncit.
"Tidak Mas, sudah niat," jawab Sophia.
"Makin pinter deh Dede, tau aja Mama puasa ya," sahut Alex.
"Sayang kita duduk di sana, sepertinya adem," ujar Alex mengajak Sophia duduk di bawah pohon yang berada di tepi alun-alun.
Sophia mengangguk.
Mereka berdua duduk di bawah pohon. Lesehan sambil berjemur.
"Nanti acara empat bulanannya kita undang semua keluarga biar rame," ujar Alex.
"Iya Mas, sekalian bersilaturahmi," jawab Sophia. Silaturrahim bisa memerpanjang umur selain itu mempererat hubungan kekerabatan, persahabatan dan lainnya. Itu sebabnya Sophia dan Alex ingin acara empat bulanannya mengundang keluarga, sahabat, dan kenalannya.
"Alhamdulillah banyak juga yang datang ya sayang," ujar Alex melihat orang-orang berjejer menerima sembako gratis.
"Iya Mas, semoga berkah," sahut Sophia.
"Selama ini aku tak pernah berbagi, tapi ternyata rasanya ada sesuatu yang gak bisa dijelaskan dengan kata-kata di dalam sini," ujar Alex sambil menunjuk dadanya.
"Itu kenikmatan orang yang bersedekah Mas," jawab Sophia.
"Benarkah?" tanya Alex.
Sophia mengangguk.
"Kalau rasanya seperti ini, aku ingin lebih rajin lagi bersedekah," ujar Alex.
"Iya, semoga Allah menerima amal ibadah kita Mas," sahut Sophia.
"Amin," jawab Alex.
Sophia bersandar di bahu Alex. Berjemur di bawah pohon. Menikmati hangatnya matahari pagi yang menyapa.
"Sayang aku ingin membeli lahan lagi untuk perumahan baru," ujar Alex.
"Di mana?" tanya Sophia.
"Di Jalan Pegangang," jawab Alex.
"Lahan itu bukannya tidak dijual ya Mas, setahuku tidak ada yang bisa bertemu dengan pemiliknya," sahut Sophia.
"Iya menurut rumor begitu, katanya ada yang pernah bertemu itupun harus dibatas tirai ketika bicara dengannya," jawab Alex.
"Aneh juga, biasanya orang bertemu pasti bertatap mukakan Mas," ujar Sophia.
"Entahlah, mana Bos Harry juga mengincar lahan itu," kata Alex.
"Mengalahlah untuk kali ini, kakek dan nenek akan menikah, jauhi masalah dengannya," ujar Sophia. Dia tidak ingin Alex bermasalah lagi dengan Pak Harry. Apalagi Nenek Carroline dan Kakek David akan menikah dalam waktu dekat.
"Iya sayang, kau memang penasehat terbaikku," sahut Alex.
Sophia tersenyum. Alex akan mendengarkan nasehatnya. Jika tidak dia akan tetap bersitegang dengan Pak Harry.
Waktu berputar begitu cepat. Alun-alun sudah mulai kosong. Tapi sembako masih sisa beberapa plastik lagi. Tiba-tiba datang seorang wanita menggendong anaknya. Dia mendatangi panitia untuk meminta sembako gratis itu
"Ibu bukannya tadi udah mengantri juga ya?"
"Saya baru datang Mas, tadi anak saya rewel jadi baru dateng."
"Tadi udah deh, aku inget."
Mendengar suara ricuh itu Kenan yang sedang duduk di bawah meja, berdiri. Menghampiri mereka. Kenan terkejut saat melihat ibu yang menggendong anaknya itu.