Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Milikku Bidadari Surgaku



Pintu toilet itu pun didobrak Alex dengan sekuat tenaga. Alex harus segera menyelamatkan Sophia. Dia khawatir sang istri kenapa-kenapa.


Braaak ...


Pintu terbuka paksa. Alex terkejut saat mendapati Sophia berdiri di atas WC duduk. Sambil ketakutan.


"Sayang ada apa?" tanya Alex.


"Itu, di bawah ada kecoak Mas," jawab Sophia.


Alex tertawa. Ternyata Sophia takut kecoak. Tapi ternyata Alex juga takut kecoak. Dia ikut naik ke atas WC duduk.


"Loh Mas, kok malah ikut naik?" tanya Sophia.


Alex justru malah memeluk Sophia. Menyandarkan kepalanya ke dadanya. Sambil ketakutan. Bukannya jadi pahlawan kesiangan malah nambah beban. Untung WC duduknya berkualitas tinggi jadi mampu menahan beban dua orang yang lagi dempetan udah kaya perangko.


"Aku juga takut sayang," jawab Alex.


"Eh ..., Mas takut juga, kirain cuma aku yang geli sama kecoak," ujar Sophia. Dia tak menyangka sang casanova bertubuh atlentis, dada bidang dan maco itu ciut nyalinya saat bertemu hewan cantik yang satu ini, banyak orang menyebutnya kecoak.


"Aku pernah jatuh ke kubangan kecoak saat main petak umpet, waktu kecil, geli deh," ungkap Alex menceritakan awal mula takut kecoak. Dia sampai merinding saat mengingat masa itu.


Sophia tertawa. Dia membayangkan Alex kecil masuk ke kubangan kecoak. Sophia merasa itu lucu bukan menakutkan.


"Sayang lucu ya? Bukan menakutkan?" tanya Alex.


Sophia mengangguk.


"Sayang kita di sini aja, sampai kecoaknya pergi," ucap Alex.


"Memangnya gak papa kita di sini?" tanya Sophia.


"Asal meluk kamu terus sayang," kata Alex yang ketakutan. Merinding kalau ternyata kecoak masih punya kerabat, family dan koloninya di toilet itu.


Sophia tersenyum. Melihat Alex manja padanya. Sang casanova ternyata tak bisa diharapkan sebagai pangeran berkuda putih saat ini.


"Yaudah deh Mas kita tidur di sini aja," ujar Sophia.


Alex langsung terbangun dari kenyamanannya. Dia baru inget akan malam pertama yang jangan dilewatkan. Masa gara-gara kecoak kehilangan kesempatan untuk menjadikan Sophia miliknya.


"Gak, kita kan mau itu sayang," tegas Alex. Rugi dong kalau mundur. Alex mencari cara. Kalau perlu panggil pemadam kebakaran atau polisi. Segitunya Alex berpikir untuk menghempaskan tuh kecoak agar insaf dan kembali ke alamnya.


"Terus gimana kecoaknya?" tanya Sophia. Sambil memandang suaminya yang terlihat meringis melihat kecoak lagi holiday di toilet.


"Geli banget tuh kecoak. Kalau ada Kenan pasti ku korbankan dia, tapi masalahnya malam pertamaku bisa gagal nanti," batin Alex.


Tak ada pilihan hadapi rasa takut demi malam pertama yang sukses. Alex harus berani meski ngilu melihat kecoak yang betah dan gak mau out juga malah jalan-jalan manja seolah rumahnya sendiri padahal diundang aja enggak tuh kecoak.


Alex menurunkan kakinya ke lantai toilet. Sedikit membungkuk.


"Sayang naik!" pinta Alex.


"Mas gak takut?" tanya Sophia.


"Aku lebih takut kalau kita gak jadi itu," jawab Alex.


Sophia tersenyum. Dia menjatuhkan tubuhnya dipunggung Alex. Mengalungkan tangannya dilehernya. Namun Alex masih terdiam. Bulu kuduknya merinding, mengeluarkan keringat dingin.


"Kok belum jalan Mas?" tanya Sophia.


"Takut sayang, kecoak suka meraba-raba, kamu aja belum meraba, masa kecoak duluan," jawab Alex.


Cup


Sophia mencium pipi Alex. Membisikkan kata semangat di telinganya.


"Kalau gini gak semangat gimana?" ujar Alex.


Mendapat ciuman dari Sophia rasa takutnya berkurang. Dia siap lari maraton dengan memejamkan mata seakan tak melihat kecoak. Padahal tuh kecoak keinjek. Lagi enak-enak hollyday kok malah nyawa melayang. Alex berlari dengan memejamkan mata. Meski menabrak dinding. Benjol dikit wajar dari pada diraba kecoak lebih rugi. Dengan perjuangan panjang ke luar dari toilet. Sophia senang sekali akhirnya bisa ke luar dari toilet. Masih dalam gendongan suaminya.


"Kamu seneng sayang?" tanya Alex.


"Seru ya?" ucap Alex. Dia kembali berlari mengelilingi ruang kamar dengan menggendong Sophia.


"Mas ... Mas ..., pelan-pelan," ujar Sophia.


"Ini baru seru sayang," kata Alex.


"Oh gitu ya, nih baru seru," ujar Alex sambil menggelitik dada Alex.


"Geli sayang, jatuh nih kita tar," kata Alex yang masih menggendong Sophia sambil berlari.


Bruuug ...


Mereka berdua terjatuh ke ranjang. Alex membalikkan tubuhnya menghadap Sophia. Meraba pipi kemerahannya. Kemudian mencium bibir merah delima yang begitu mengggodanya.


"Sophia aku ingin memilikimu, menjadikanmu surga untukku, menjadikanmu ibu dari anak-anakku, dan bersama di akhirat nantinya," ujar Alex.


Sophia mengangguk. Air matanya jatuh dari mata emerald itu. Waktu yang dulu berlalu. Kenangan masa kecil yang tak terlupakan menjadi hutang yang dibayarnya sebelum sang waktu mengakhirinya. Sophia akan berada di sisi Alex. Apapun yang terjadi. Dia akan menerangi jalan itu mengajaknya menuju cahaya surga.


Alex mencium dahi Sophia. Namun terhenti saat mengingat sesuatu yang dilupakannya.


"Sayang memang kalau mau berhubungan harus baca doa?" tanya Alex.


Sophia tersenyum. Tak disangka biasanya Sophia yang mengingatkan tapi kini Alexlah yang mengingatkan.


"Aku gak hafal, kalau ngapalin kelamaan, udah gak tahan," ujar Alex jujur. Menghafal doa sholat saja masih belum fasih dan hafal semuanya. Apalagi ini doa untuk berhubungan antara suami istri.


"Kita baca sama-sama ya Mas," ujar Sophia.


Alex mengangguk.


Akhirnya mereka berdua membaca doa bersama-sama. Mata Alex terus memandang mata emerald yang meneduhkan hatinya. Sophia bak pohon rindang di padang pasir, meneduhkannnya dari panasnya terik.


Alex mulai menyentuh istrinya menjalankan kewajibannya memberikan Sophia nafkah batin. Kali ini Alex sangat berhati-hati dan pelan-pelan. Sesuatu yang berharga dan mahal harus dinikmati sedikit demi sedikit penuh kesabaran. Jangan merusak, tapi membuatnya tetap indah dan terjaga.


Sophia yang pertama kalinya disentuh lelaki terus mengepal tangannya. Menutup matanya, sedikit merinding dan grogi. Tubuhnya bergetar. Terasa meriang dan panas dingin. Alex menyadari apa yang dirasakan istrinya. Wanita seperti Sophia, hal seperti ini tentu hal pertama untuknya.


"Sayang, jangan takut, semuanya akan indah dan menyenangkan," bisik Alex ditelinga Sophia.


Mendengar ucapan Alex. Sophia langsung membuka mata. Dia tahu seorang istri harus berusaha memberikan yang terbaik, khususnya di atas ranjang. Karena kebutuhan utama suami berawal dari ranjang. Matanya terbuka, mata emerald itu berbinar. Indah dan cantik. Alex begitu puas memandangnya dari dekat. Menciumnya. Memberikan sentuhan cinta yang begitu lembut untuknya.


Tangan keduanya saling memegang. Menyatukan setiap rasa dan cinta. Menghapus setiap keraguaan. Mengukir cinta yang hanya dimiliki berdua.


Perlahan tapi pasti. Berawal dari tahapan demi tahapan. Sophia berusaha menuruti kemauan Alex. Walaupun dia sendiri begitu menikmati indahnya asmara yang memabukkan.


Pemanasan demi pemanasan yang biasa dilakukan kedua pasangan. Satu persatu menambah suasana semakin hangat. Suara nyanyian dan syair merdu menggema. Kenikmataan yang dirasakan ketika melakukannya secara sah sangat berbeda dengan yang tidak. Mereka bebas melakukannya tanpa takut dosa ataupun hal menyimpang lainnya.


Dari satu pucuk ke pucuk lainnya. Mengukir rasa dan cinta. Meluapkan nafsu yang memenuhi jiwa. Sophia begitu nyaman dalam pelukan cinta Alex. Sang casanova menunjukkan kelasnya. Keahliannya memanjakan wanita. Tak ada satu pun yang tak membuat Sophia suka. Alex memang mahir. Semua rasa melebur jadi satu. Hingga saat rintihan Sophia terdengar, Alex mampu segera meredamnya. Kehormatan yang dari dulu dijaga kini menjadi milik sang pemilik kehormatan.


"Terimakasih sayang, kau memberikannya padaku sebagai suamimu," bisik Alex di telinga Sophia.


Hanya anggukan yang dapat Sophia katakan di saat rintihan itu mulai merendah.


Alex begitu senang. Tak perlu diragukan. Bidadari yang bersama dengannya dijamin masih suci dan Alexlah yang mengambil kehormatan itu.


"Sophia kau luar biasa, nafsuku teredam dalam ketulusan cintamu," batin Alex.


Air mata Alex menetes. Dia tak pernah menangis tapi malam penuh cinta itu. Seakan menyadarkannya pada sesuatu. Tak ada yang jauh lebih berharga selain memiliki seorang bidadari surga dunia yang tulus mencintainya dan selalu ada di sisinya baik dikala senang maupun susah.


Sophia meraba pipi Alex. Menyeka air matanya.


"Aku mencintaimu Sophia, bidadari surgaku," ujar Alex.


Sophia tersenyum. Ketika cinta hadir di saat akhir hidupnya. Sophia tak berharap banyak. Hanya sebuah pengabdian dan janji yang akan ditepatinya.


"Aku juga mencintaimu Mas sampai akhir hayatku," jawab Sophia.


Keduanya mengutarakan isi hati mereka. Cinta telah membuat dua insan bersatu dalam perbedaan yang membentang. Bagai lautan dan daratan. Namun semua tak menjadi batasan untuk memisahkan. Cinta sejati akan tetap ada dalam hati meski raga tak mampu bertahan. Menunggu sang waktu mempertemukan dalam keabadiaan sejati.