
Nampan berisi susu hangat untuk Sora di tangan Humaira jatuh ke bawah
Praaang ...
Humaira terperanjat mendengar apa yang dikatakan Sora pada ayahnya. Dia tak menyangka ayahnya melakukan hal serendah itu pada wanita.
"Humaira!" Pak Harry langsung menatap Humaira. Dia tidak tahu kalau Humaira mendengar apa yang dikatakannya tadi.
Air mata menetes di pipi Humaira. Dia tidak menyangka ayahnya tega menodai Sora.
Tiba-tiba Sora langsung pingsan. Bergegas Pak Harry membopong Sora masuk ke dalam diikuti Humaira yang berjalan di belakangnya.
Pak Harry membawa Sora masuk ke kamarnya. Dia membaringkan Sora di ranjang dan menyelimuti setengah tubuhnya sedangkan Humaira berdiri di belakang Pak Harry.
"Pa, kita bicara di luar!" ajak Humaira. Dia ingin tahu apa yang sudah terjadi antara ayahnya dan Sora.
Pak Harry menoleh ke arah Humaira dan mengangguk.
Keduanya duduk di ruang keluarga yang ada di lantai atas. Pak Harry terlihat bersalah. Dia tidak berani menatap wajah Humaira.
"Pa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Humaira.
Pak Harry membuang nafas gusarnya. Sebenarnya dia tidak ingin memberitahu Humaira, apalagi Humaira sedang hamil. Pak Harry khawatir Humaira akan stress saat mendengar kebenaran yang akan disampaikan olehnya. Namun Pak Harry tidak bisa menutupi semua masalah ini.
"Sora bilang Papa telah memperkosanya. Tapi Papa tidak ingat apapun. Hanya Papa merasa pernah bertemu Sora, tapi entah di mana," ujar Pak Harry.
Humaira terdiam sejenak. Beristighfar. Mengatur nafasnya. Dia tidak boleh stress demi bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Apa mungkin karena Papa mabuk? Jadi Papa tidak ingat apa yang sudah Papa lakukan pada Sora," sahut Humaira. Dia tahu Pak Harry jarang mabuk tapi sekalinya minum alkohol dia akan mabuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya. Itu sebabnya Humaira sangat melarang ayahnya mabuk.
"Papa juga berpikir ke arah situ, mungkin karena Papa mabuk jadi tidak ingat apa yang sudah Papa lakukan," jawab Pak Harry.
"Pa, Papa harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Papa sudah menghancurkan hidup Sora. Sebagai perempuan dia bisa merasakan apa yang dirasakan Sora saat ini. Pasti Sora sangat terpukul dengan apa yang sudah dilakukan Pak Harry padanya. Apalagi Sora harus bertemu kembali dengan orang yang sudah menyakitinya.
"Iya, Papa memang salah. Pasti Sora sangat terpukul," jawab Pak Harry. Dia terlihat sangat menyesal.
"Semua sudah terjadi, Papa harus bertaubat, apa yang Papa lakukan dosa besar. Dan pertanggungjawabkan perbuatan Papa pada Sora, nikahi Sora Pa!" ujar Humaira.
"Iya, kalau soal nikah Papa mau banget. Mumpung Papa kesepian," jawab Pak Harry.
"Astagfirullah Papa, disaat seperti ini masih saja inget itu," sahut Humaira sambil mengelus dada. Bukannya sedih karena harus bertanggungjawab justru malah kesenengan.
"Tapi kau harus bicara pada Sora, dia belum tentu mau menikah dengan Papa yang tua ini," ujar Pak Harry. Dia merasa sudah tua, apa Sora mau menikah dengannya.
"Tumben Papa nyadar diri. Biasanya gak mau dibilang tua," sindir Humaira.
"Habis Papa gak laku-laku," jawab Pak Harry.
Humaira menggeleng. Benar juga kata Pak Harry, ayahnya itu sudah lama menjomblo. Tak pernah dekat dengan wanita manapun.
"Sora!" sapa Humaira.
Sora menoleh ke arah Humaira. Matanya sembab menatap wanita bercadar itu.
"Humaira," sahut Sora. Dia langsung memeluk Humaira. Wanita bercadar itu tempat mengadunya saat ini. Dia merasa nyaman bisa dekat dengannya.
"Menangislah dan katakan yang kau rasakan! Aku siap mendengarkan," kata Humaira. Dia ingin Sora meluapkan semua kesedihannya agar perasaannya jauh lebih lega.
"Humaira, lelaki itu ... lelaki itu sudah merenggut kehormatanku." Sora berbicara sambil menangis tersedu-sedu.
"Iya aku tahu," sahut Humaira sambil mengelus punggung Sora.
"Dia menghancurkan masa depanku, aku hamil. Semua orang menghinaku karena aku hamil tanpa suami." Sora meluapkan sesak di dadanya selama ini. Dia tak pernah mengatakan itu pada ibunya. Karena Sora tidak ingin membuat ibunya bersedih.
"Apa? Sora hamil?" batin Humaira. Dia baru tahu kalau Sora sampai hamil akibat perbuatan ayahnya.
Humaira membiarkan Sora menangis dan mengatakan semuanya sampai dia tenang. Setelah Sora merasa tenang, Humaira memberi Sora segelas teh hangat.
"Humaira, makasih ya," ucap Sora.
Humaira mengangguk. Dia senang melihat Sora sudah lebih tenang dari sebelumnya. Dia juga sudah mulai tersenyum.
Sora meneguk teh hangat itu sampai habis. Kemudian kembali terdiam.
"Sora, di mana anakmu sekarang?" tanya Humaira. Dia ingin tahu keberadaan anaknya Sora dan ayahnya.
"Anakku hilang," jawab Sora.
"Hilang?" Humaira terperanjat mendengar anak Sora hilang.
"Ibu-ibuku ..." Sora bingung bagaimana menjelaskan semuanya pada Humaira.
"Apa yang terjadi Sora?" tanya Humaira.
"Ibuku sudah membuang anakku. Semua itu demi masa depanku," jawab Sora. Dia tahu ibunya membuang putranya demi menyelamatkan masa depannya. Agar Sora tetap mengejar mimpinya sebagai pengacara.
"Astagfirullah." Humaira mengelus dadanya mendengar pernyataan Sora. Dia tidak menyangka seorang nenek tega membuang cucunya.
"Aku tidak tahu di mana anakku berada," ujar Sora. Dia belum tahu pasti apa Ezar anaknya atau bukan. Karena yang memiliki tanda lahir itu banyak.
Humaira menepuk bahu Sora. Memberinya semangat dan dukungan. Dia tahu saat ini Sora membutuhkan support dan dukungan dari orang-orang terdekatnya.
"Papa akan bertanggung jawab atas semua kesalahannya dan mencari keberadaan putramu," ujar Humaira.
"Terimakasih Humaira," sahut Sora. Dia senang bisa bertemu dengan Humaira.
"Sora, seandainya Papa melamarmu, apa kau mau menikah dengannya?" tanya Humaira. Dia berusaha menyampaikan niatan ayahnya untuk menikahi Sora. Tapi Humaira tidak bisa memaksa Sora. Mungkin saja Sora sudah memiliki seorang kekasih.