
"Jangan bilang kalau Sophia meninggal Dok!" kata Tuan Matteo menebak. Dia tidak bisa menerima kalau Sophia meninggal. Bayinya membutuhkan kehadiran Sophia. Belum lagi jika Alex kembali, dia pasti akan terpukul.
Dokter Leon langsung terdiam. Wajahnya tampak sendu. Seolah itu benar adanya.
"Dok! Apa benar Sophia meninggal?" tanya Tuan Matteo kesal. Dia ingin segera tahu apa yang terjadi pada Sophia. Ini membuatnya semakin tak sabaran.
Dokter Leon membuang nafas gusarnya.
"Tidak, Sophia tidak meninggal," jawab Dokter Leon. Menatap Tuan Matteo dengan tatapan dingin.
"Alhamdulillah," sahut Tuan Matteo sambil memegang dadanya. Bersyukur karena Sophia tidak meninggal.
"Tapi Sophia ....," kata Dokter Leon. Dia berat untuk menyampaikan apa yang diingin dikatakan olehnya.
"Sophia kenapa Dokter Leon? Katakan! Jangan membuatku bingung!" sahut Tuan Matteo. Baru saja dia senang mendengar Sophia tidak meninggal tapi sepertinya Dokter Leon memiliki kabar yang tidak baik.
"Tadi Sophia sempat meninggal beberapa menit. Kami tim Dokter sempat menulis waktu kematiannya. Tapi tiba-tiba dia bernafas kembali. Tapi sayang tubuhnya tidak memungkinkan untuk sadar," ujar Dokter Leon. Matanya berkaca-kaca. Dia mengenal Sophia. Sudah menanganinya sejak ayahnya meninggal. Dia tahu banyak hal tentang Sophia. Bagaimana Sophia berusaha tegar dan sabar menjalani semua pengobatan dari obat-obatan sampai kemoterapi yang tak mudah dijalaninya.
"Maksud Dokter, Sophia koma?" tanya Tuan Matteo menebak. Walaupun dia takut mengatakan itu. Dia khawatir apa yang dikatakannya benar atau lebih buruk lagi.
"Iya, Sophia koma," jawab Dokter Leon. Dia terlihat murung saat menyampaikannya.
Tuan Matteo langsung terdiam. Tangannya mengepal. Rasanya dia ingin marah. Tapi tak tahu harus marah pada siapa. Dia tak tega mendengar apa yang sudah terjadi pada Sophia.
"Padahal tubuhnya sangat lemah, mungkin tanpa alat bantu hidup dia tak mungkin bertahan. Namun tubuh Sophia seakan berusaha tetap bertahan. Seperti ada sesuatu yang belum selesai," kata Dokter Leon. Dia yakin ada sesuatu yang Sophia ingin selesaikan.
"Alex, Sophia pasti menunggunya," jawab Tuan Matteo. Matanya berkaca-kaca. Dia yang tak pernah cengeng, selalu tampil maco dan tampak sangar. Kini melankolis.
"Aku juga berpikir sama dengan Anda, Sophia menunggu Alex," sahut Dokter Leon. Dia tahu Sophia begitu mencintai Alex. Dia berjanji akan menunggunya sampai Alex kembali.
Pembicaraan itu diakhiri. Tuan Matteo ke luar dari ruangan itu. Dia berjalan perlahan sambil memikirkan semua yang dikatakan Dokter Leon. Seakan semua itu terngiang-ngiang di telinganya dan terbayang di pikirannya.
"Kakak ipar kembalilah! Sophia menunggumu," batin Tuan Matteo. Seandainya bisa dia akan pergi ke seluruh dunia mencari keberadaan Alex yang entah ada di mana.
Tuan Matteo kembali berkumpul dengan yang lainnya. Dia duduk di kursi tunggu. Terdiam.
"Matteo, apa yang dikatakan Dokter Leon padamu?" tanya Kakek David. Dia ingin tahu keadaan Sophia pasca operasi. Kakek David mencium gelagat tidak baik dari kabar yang akan disampaikan Tuan Matteo.
"Iya Matteo, katakan! Kita semua mengkhawatirkan Sophia," tambah Pak Ferdi. Sama dengan Kakek David dan yang lainnya dia mengkhawatirkan Sophia.
"Sayang, Kak Sophia gimana?" tanya Claudya yang matanya sudah sembab. Air matanya masih menetes di pipi kemerahannya.
"Matteo, jangan buat ibu takut, katakan sesuatu," tambah Ibu Marisa yang menangis tersedu-sedu.
"Sophia koma," ujar Tuan Matteo dengan datar. Matanya kosong melihat ke depan.
"Apa?" Semua orang terkejut. Para wanita menangis sedangkan para laki-laki terdiam. Hanya Gavin yang memukul dinding di sampingnya.
"Sudah Bang, tanganmu terluka hik hik hik ...," kata Maria. Dia berusaha menghentikan Gavin yang memukul dinding.
"Aku gagal menjaga Kak Sophia, Kak Alex pasti marah padaku," ujar Gavin. Dia menangis. Sebagai lelaki pengganti Alex di rumah Keluarga Sebastian dia bertanggung jawab pada Sophia dan bayinya.
"Aku tahu, kita semua juga merasakan apa yang kau rasakan," sahut Maria. Menangis tersedu-sedu.
Gavin menghentikan pukulannya. Memeluk Maria. Dia menangis di pundak istrinya. Bagi Gavin, Sophia bukan hanya kakak ipar tapi magnet yang membuat semua anggota keluarganya bisa berkumpul kembali menjadi kesatuan yang utuh.
Tak hanya Gavin, Ibu Marisa juga menangis tersedu-sedu. Tubuhnya yang lemas langsung pingsan.
Bluuug ....
Ibu Marisa terjatuh di lantai. Segera Pak Harry membopongnya karena Pak Ferdi tidak bisa membopongnya. Dia membawa Ibu Marisa ke ruang UGD bersama Pak Ferdi.
"Kek, kau kenapa? Apa jantungmu sakit?" tanya Nenek Carroline sambil memegang dada Kakek David.
"Kek!" Claudya mendekat. Dia melihat Kakek David pucat sambil memegang dadanya.
"Jangan-jangan kakek?" ujar Luki yang ikut mendekat.
"Ayo bawa kakek ke UGD!" usul Humaira. Dia mengkhawatirkan keadaan Kakek David yang memang menderita sakit jantung. Kabar Sophia koma pasti membuatnya terkejut.
Nenek Carroline, Claudya, Tuan Matteo dan Luki mengangguk.
"Tunggu harus ada yang berjaga di sini," kata Luki.
"Biar kami yang di sini," sahut Paman Harun.
"Iya, kami yang akan di sini," tambah Bibi Fatimah.
Mereka semua mengangguk. Membawa Kakek David pergi meninggalkan tempat itu pergi ke UGD. Tinggal Nada, Kenan, Paman Harun dan Bibi Fatimah yang ada di ruang tunggu operasi. Nada terlihat menangis di sudut ruangan. Kenan bangun menghampirinya.
"Mi, jangan nangis terus, lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Sophia," kata Kenan. Dia bukannya tidak sedih tapi dia ingin menenangkan Nada yang dari tadi menangis.
"Apa salah Sophia? Kenapa semua ini terjadi pada wanita sholeha sepertinya?" keluh Nada menangis.
"Tidak ada yang pernah tahu takdir dan jalan hidup seseorang, kita hanya manusia berencana tapi Allah SWT yang menentukan," jawab Kenan terlampau bijak sampai debu pada kabur. Lukisan pada kusem dan kursi cicak buang air besar.
"Tapi kasihan Sophia dan anaknya hik hik hik ...," kata Nada. Dia tak tega jika mengingat apa yang harus dialami Sophia.
Kenan langsung memeluk Nada. Dia mengelus kepalanya.
"Aku, kamu, dan semuanya kasihan sama Sophia dan anaknya. Kita semua sayang pada Sophia," ujar Kenan.
Nada mengangguk. Menangis dipelukan Kenan. Dia berharap Sophia akan sembuh dan Alex kembali. Agar mereka bisa berkumpul dan membesarkan anak mereka.
Di ruang rawat inap Super VIP Kakek David sudah stabil. Dia berbaring di ranjang. Tuan Matteo, Claudya, Luki, Humaira dan Nenek Carroline ada di ruangan itu menemaninya.
"Matteo, tolong adzani putranya Sophia!" pinta Kakek David dengan suara pelan.
"Iya Kek, aku akan mengadzaninya," sahut Tuan Matteo.
"Biar kakek di sini dengan nenekmu, urus semua admistrasi, atau apapun yang dibutuhkan Sophia dan anaknya," kata Kakek David berpesan. Dia tidak bisa melakukan tugasnya karena kondisinya lemah. Dia meminta Tuan Matteo untuk mengurus semuanya.
"Iya Kek," jawab Tuan Matteo.
"Aku juga ikut Kak," ujar Luki. Sekarang dia memanggil Tuan Matteo kakak karena Humaira masih saudaraan dengan Claudya.
"Iya Luki, temani Matteo mengurus semuanya," sahut Kakek David.
"Siap Kek!" jawab Luki. Dia ingin membantu sebisa mungkin. Kalau bisa yang meringankan beban Sophia.
"Ya udah, ayo!" ajak Tuan Matteo.
Luki mengangguk.
"Kita tinggal dulu ya Kek," ucap Tuan Matteo pamit untuk ke luar.
"Iya," jawab Kakek David.
Tuan Matteo-Claudya dan Luki-Humaira ke luar dari ruangan itu. Mereka harus menjalankan apa yang tadi dikatakan Kakek David.