
"Ada apa ya Mas?" tanya Sophia yang ikut penasaran.
"Aku angkat dulu ya sayang," jawab Alex.
Sophia mengangguk. Dia yakin panggilan itu pasti penting.
Alex menekan tombol hijau yang dari tadi terus menunggunya. Dia mengangkat telpon dari sekuriti di kantornya.
"Hallo Bos."
"Hallo, ada apa?" tanya Alex.
"Pak Ferdi melarikan diri Bos."
"Apa?" Alex terkejut.
"Tadi saat kami hendak membawa ke dalam mobil dia melawan dan menyakiti anggota kami."
"Sekarang dia ke mana?" tanya Alex.
"Anggota kami sedang mengejarnya, dia melarikan diri naik mobilnya."
"Cari dia sampai dapat, kabari aku kalau sudah tertangkap," ujar Alex.
"Iya Bos."
Alex menutup panggilan telponnya. Dia terlihat panik,membuat Sophia penasaran.
"Mas ada apa?" tanya Sophia.
"Ayah melarikan diri, sekuriti sedang mengejarnya," jawab Alex.
"Astagfirullah," sahut Sophia.
"Sayang, tunggu aku di rumah. Aku akan mencarinya," ujar Alex.
"Iya Mas, hati-hati di jalan," sahut Sophia.
Alex bangun. Berdiri. Membalikkan tubuhnya menghadap Sophia. Dia mencium kening pemilik mata emerald itu. Turun ke bawah, mencium bibir merah delima yang selalu membuatnya candu dan tak ingin melepasnya. Menikmati sesaat kemudian melepasnya.
"Aku akan kembali, beri aku hadiah penyemangat nanti ya," ucap Alex sambil memegang pipi kemerahan itu.
Sophia mengangguk dan tersenyum manis. Semanis madu alam yang terkenal begitu manis tanpa pemanis buatan.
Alex berjalan ke luar meninggalkan ruangan meeting. Dia berjalan menuju lift ke lantai bawah. Alex ke luar dari lobi mengendarai mobil miliknya tanpa supir. Mobil itu melaju ke luar dari area perusahaan. Melaju di lintasan jalan yang terlihat lenggang meskipun tetap padat sesekali. Alex mengendarai mobilnya ke sharelock yang diberikan sekuriti padanya. Mobilnya terus melaju ke tempat tujuan. Ketika sampai di jalan yang ingin ditujunya, kerumunan orang memadati jalanan. Mobil Alex tak bisa lewat. Alex bingung dengan kemacetan yang terjadi dadakan. Dia memutuskan turun, berjalan menuju kerumunan di depannya. Alex melihat salah seorang sekuritinya ada di antara kerumunan itu.
"Pak Joni," panggil Alex.
Pak Jodi menengok ke arah Alex. Dia menghampiri Bosnya.
"Ada apa?" tanya Alex. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa semua orang memadati jalannya hingga mobil-mobil jadi mengalami kemacetan.
"Bos, ayah anda kecelakaan," jawab Pak Joni.
"Apa? Kecelakaan?" Alex terkejut. Dia tak menyangka ayahnya akan mengalami kecelakaan. Meskipun Pak Ferdi bukan ayahnya tapi Alex sudah hidup bersamanya selama ini.
"Iya Bos, tadi saat kami mengejarnya, mobilnya menabrak pembatas jalan," jawab Pak Joni.
"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," ucap Alex. Dia langsung berjalan masuk ke dalam kerumunan. Melihat kondisi ayahnya. Mobil penyok, untung saja Pak Ferdi selamat hanya kakinya tertindih body mobil. Segera Alex menghampiri Pak Ferdi.
"Ayah, kau tak apa-apa?" tanya Alex panik melihat kaki Pak Ferdi tertindih body mobil yang penyok.
"Kenapa kau peduli? Kau bukan anakku," ketus Pak Ferdi.
"Mungkin aku bukan anakmu, tapi selama ini aku mengenalmu sebagai ayahku," sahut Alex.
"Ha ha ha. Aku ini tak pernah memperdulikanmu, untuk apa kau menganggapku ayahmu," ujar Pak Ferdi.
Alex tak menggubris ucapan Pak Ferdi. Berdiri. Berusaha mengangkat body mobil dari kaki Pak Ferdi.
"Aw ...," ucap Pak Ferdi kesakitan.
"Tahan sebentar, aku akan mengangkatnya," kata Alex.
Alex tetap berusaha mengangkat body mobil, tiba-tiba Pak Joni, sekuriti lain datang membantu, ditambah beberapa orang yang turut membantu mengangkat body mobil. Setelah perjuangan panjang, akhirnya body mobil bisa disingkirkan dari kaki Pak Ferdi. Hanya saja kakinya sudah berlumur darah. Alex mengangkat ayahnya. Menggendong di punggungnya.
"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Pak Ferdi.
"Ke rumah sakit, kau harus segera diobati," jawab Alex.
Pak Ferdi terdiam. Seumur hidupnya tak pernah baik pada Alex namun anak itu justru baik padanya hari ini. Terdiam. Dia tak mampu berkata-kata.
"Bos biar kami saja," ucap Pak Joni.
"Bantu aku buka pintu mobil, sekuriti lain atur lalu lintas biar mobilku bisa lewat!" perintah Alex pada sekuritinya.
"Baik Bos!" sahut semua sekuriti.
Alex menggendong Pak Ferdi menuju mobilnya. Dia berlari sekuat tenaga agar ayahnya dapat segera ditangani. Pak Joni segera membuka pintu mobil, Alex membawa ayahnya masuk ke dalam mobilnya. Dia mendudukkan ayahnya. Kemudian meminta Pak Joni menyetir. Mengantarnya ke rumah sakit.
Mobil melaju. Sepanjang jalan Alex terus memegang tangan ayahnya, lelaki paruh baya itu terlihat kesakitan karena kakinya terluka. Lima belas menit perjalanan, sampai juga di rumah sakit. Pak Ferdi dibawa masuk ke dalam rumah sakit menuju UGD. Di dalam UGD Pak Ferdi ditangani. Sedangkan Alex dan Pak Joni menunggu di luar. Alex terlihat cemas.
"Bos, ayah anda pasti akan baik-baik saja," ucap Pak Joni memberi semangat pada Alex.
"Terimakasih Pak Joni," sahut Alex.
Di sela-sela waktu menunggu Alex menghubungi ibu dan adik-adiknya. Termasuk Sophia istri tercintanya.
"Assalamu'alaikum," ucap Alex.
"Wa'alaikumsallam Mas," sahut Sophia.
"Ayahku kecelakaan sayang," ucap Alex.
"Innalilahi wa innailaihi roj'iun," sahut Sophia.
"Sekarang dia masih di UGD," ujar Alex.
"Aku akan ke sana, sharelock rumah sakitnya ya Mas," ucap Shopia.
"Iya sayang, hati-hati di jalan," sahut Alex.
"Iya Mas," jawab Sophia.
Setelah menghubungi Sophia. Alex duduk di kursi tunggu. Dia memikirkan semua rangkaian kejadian yang sudah terjadi. Memang ayahnya bersalah namun dia tetap lelaki yang selama ini jadi ayahnya. Alex tetap memiliki rasa cemas padanya di saat seperti ini.
"Ya Allah aku memaafkannya, selamatkan dan sembuhkan dia," batin Alex mendoakan Pak Ferdi. Tak peduli dia bukan ayahnya.
Tak lama Sophia datang. Dia menghampiri Alex. Sebuah pelukan dinantikan Alex kini memeluknya. Memberi kekuatan untuknya. Sophia memeluk erat suaminya. Membiarkan suaminya membagi duka yang dia rasakan padanya. Melihat itu Pak Joni menjauh. Meninggalkan mereka berdua.
"Sabar ya Mas, kita berdoa sama Allah agar ayah baik-baik saja," ujar Sophia.
"Iya sayang, semoga ayah baik-baik saja," sahut Alex. Tiga hal yang terjadi bersamaan di hari itu. Mengubah hidupnya. Satu, pelaku perusahaan ternyata Pak Ferdi yang merupakan sosok ayahnya. Kedua, ternyata Pak Ferdi bukan ayah kandungnya. Dan ketiga, kecelakaan yang terjadi pada Pak Ferdi. Membuat Alex tahu seberapa bejat kelakuannya, ada rasa sayang dan mencemaskan keadaannya.
Alex duduk bersandar di bahu Sophia. Bahu itu itu terasa nyaman untuk tempat bersandar dari penatnya masalah yang menjejal seharian ini. Alex merasa memiliki kekuatan saat pemilik mata emerald itu ada di sisinya. Dia memegang tangan hangat penuh kelembutan, yang selalu membagikan kasih sayang dan perhatian pada siapapun itu.
Tak lama Kakek David, Ibu Marisa, Claudya dan Gavin datang. Mereka menghampiri Alex dan Sophia. Menanyakan keadaan Pak Ferdi. Alex yang tadi bersandar di bahu Sophia terbangun. Menatap keluarganya yang ada di depannya.
"Gimana keadaan ayahmu Alex?" tanya Ibu Marisa sambil menangis bombay padahal dia tak peduli meskipun Pak Ferdi mati sekalipun. Justru dia senang jika Pak Ferdi mati. Rahasia akan tersimpan selamanya sampai membusuk bersama Pak Ferdi.
"Ayah sedang ditangani Dokter Bu," jawab Alex.
"Syukurlah kalau sudah ditangani Dokter, semoga dia baik-baik saja," ucap Kakek David. Dia terlihat bijak dan santai. Sedangkan Claudya menangis. Berbeda dengan Gavin yang hanya diam tak terlihat sedih ataupun senang.
Tiba-tiba pintu UGD terbuka. Suster memanggil Alex untuk masuk.
"Papamu kenapa? Jangan-jangan mati lagi," ucap Ibu Marisa. Berharap Pak Ferdi memang benar-benar mati.
"Marisa diamlah! Berdoa saja biar Ferdi baik-baik saja," celetuk Kakek David.
"Papa mati?" tanya Claudya sambil menangis.
Deg
Jantung Alex berdebar. Rasanya baru saja tadi dia mendengar suaranya saat menggendongnya. Apa benar ayahnya mati.