
"Kak kita mau ke mana?" tanya Sophia.
"Pergi ke lapas, untuk membesuk Hanan untuk yang terakhir," jawab Nada.
Sophia mengangguk. Dia tahu semenjak Hanan di penjara, Nada pernah membesuknya beberapa kali demi Nesa anaknya.
Mobil pun melaju ke lapas yang dituju. Setengah jam perjalanan sampai juga di Lapas Teratai tempat Hanan di penjara. Sophia dan Nada turun dari mobil. Masuk ke dalam lapas. Hanya saja Sophia tidak ikut masuk ke dalam. Dia duduk di kursi tunggu yang ada di teras lapas itu.
Nada masuk ke ruang besuk. Dia duduk di kursi menunggu Hanan. Nada membawa kotak makan beserta buah-buahan dan camilan yang diletakkan di atas meja.
Tak lama Hanan masuk. Sekilas menatap Nada dari kejauhan. Kemudian dia kembali berjalan. Duduk satu meja dengan Nada.
"Terimakasih kau sudah mau menjengukku Nada," ucap Hanan.
"Iya, tapi mungkin ini yang terakhir," jawab Nada.
"Terakhir?" Hanan penasaran.
"Besok aku menikah, paling hanya Nesa dan Bibi Fatimah yang akan datang membesukmu ke depannya," jawab Nada. Ekspresi di wajahnya tampak datar.
"Menikah? Dengan siapa?" Hanan terkejut saat mendengar Nada mau menikah.
Nada menarik nafas panjang. Membuangnya perlahan.
"Kenan," kata Nada. Dengan tatapan dingin. Terlihat menjaga jarak dari Hanan. Berbanding 180° dari Nada yang dulu saat jadi istrinya Hanan.
"Sekretarisnya Alex?" tanya Hanan.
"Iya," jawab Nada. Dia tak peduli tanggapan Hanan akan seperti apa. Yang penting dia sudah mengatakannya.
"Nada, dia cuma sekretaris. Gak selevel sama kamu yang seorang keturunan Keluarga Wijaksana," sanggah Hanan tak setuju Nada menikah dengan Kenan.
"Memang dulu aku menikah denganmu selevel? Dulu kau hanya hanya seorang pengangguran yang sulit mendapatkan pekerjaan. Akulah yang membiayai semuanya," jawab Nada. Dia terpaksa menjelaskan semuanya karena Hanan sudah merendahkan Kenan.
Hanan langsung terdiam. Tak bisa melawan ucapan Nada.
"Mau dia orang kaya atau miskin, tidak menjamin dia setia. Tapi waktu yang akan membuktikannya," tambah Nada.
Hanan teringat kesalahannya pada Nada. Kesetiaan tidak bisa diukur oleh harta. Mau kaya atau miskin. Selingkuh bisa dilakukan siapa saja. Tergantung pribadi masing-masing.
"Maafkan aku Nada," ucap Hanan.
"Aku sudah memaafkanmu, jangan lakukan ini pada pasanganmu nanti, cukup aku saja," sahut Nada.
Hanan menunduk. Malu dengan kesalahannya. Menyesal harus kehilangan Nada karena keserakahannya.
"Terimakasih atas waktu yang sudah berlalu. Semoga semua yang terjadi ada hikmahnya untuk kita semua," ujar Nada.
"Amin," jawab Hanan.
"Jangan lupa dimakan bekal yang ku bawa, assalamu'alaikum," ucap Nada.
"Wa'alaikumsallam," sahut Hanan dengan suara sendu dan pelan. Sakit rasanya harus melepas Nada untuk orang lain. Dia tidak bisa bersama Nada lagi. Kehilangannya untuk selamanya.
Nada berdiri. Berjalan meninggalkan tempat itu. Dia berjalan dengan percaya diri. Takkan menoleh ke belakang lagi. Masa depannya sudah ada di depan sana. Senyuman pun ke luar dari bibir merahnya.
"Selamat tinggal masa lalu, Hanan," batin Nada. Takkan ada air mata lagi untuk Hanan. Sudah cukup sampai di sini. Dia akan memulai hidup barunya bersama Kenan.
"Sophia," sapa Nada menghampiri Sophia yang duduk di teras.
Sophia menoleh ke arah Nada.
"Udah Kak?" tanya Sophia.
"Iya, kita langsung ke butik ya?" ujar Nada.
Sophia mengangguk.
Mereka berdua meningalkan tempat itu. Menuju butik untuk fitting baju pengantin.
***
Masjid Al Malik
Sophia mendampingi Nada yang duduk di barisan wanita. Seluruh anggota Keluarga Wijaksana, Keluarga Sebastian, dan Keluarga Harold hadir di akad nikah itu. Nada terlihat gugup. Tangannya begitu dingin. Dahinya berkeringat.
"Kak," sapa Sophia.
"Iya Sophia," sahut Nada.
"Kakak baik-baik sajakan?" tanya Sophia. Melihat kakaknya yang terlihat gugup.
"Iya, aku sedikit gugup Sophia," jawab Nada.
Sophia langsung memegang tangan Nada. Tersenyum padanya.
"Amin," jawab Nada.
"Semangat Kak Nada!" kata Humaira, Claudya dan Maria. Mereka juga memberi dukungan pada Nada.
"Makasih," ucap Nada pada semuanya.
Mereka semua mengangguk.
Di sisi lain Kenan sudah rapi mengenakan baju pengantin putih senada dengan baju pengantin yang dikenakan Nada. Alex dan Tuan Matteo sudah siap jadi saksi ijab qobul itu. Luki dan Gavin jadi tim suporter. Memberi dukungan dan semangat untuk Kenan.
Di tenda Kenan masih menunggu penghulu datang. Dia duduk sambil bolak balik menyeka keringat di mukanya dengan beberapa tisu.
"Aduh grogi, make up luntur disapu keringat," ujar Kenan.
"Tenang kita siap membantu sebagai tim supporter," kata Gavin berdiri di samping Kenan.
"Iya, kita akan membantu masalahmu," tambah Luki.
Mereka berdua membantu merapikan dandanan Kenan yang terhapus keringat.
"Udah belum?" tanya Kenan pada Gavin yang mendandaninya dan Luki menyeka keringat segede jagung yang terus bercucuran karena gugup.
"Aku pengantin pria kenapa pakai lipstik?" tanya Kenan.
"Bibirmu pucet takut dikira kurang gizi, atau lagi sakit tar gak jadi ijab qobul," sahut Gavin.
"Iya sih, tapi ngapain pakai blush on segala?" seru Kenan.
"Iya Vin, kaya habis ditonjokin loh," sahut Luki melihat wajah Kenan merah penuh blush on.
"Biar kaya Oppa Korea yang ganteng," ujar Gavin.
"Cowok Korea putih pantes pakai blush on, gue item pakai blush on kaya lebam jatuhnya," sahut Kenan.
"Udah percaya ini ketampanan hakiki," ujar Gavin.
"Untung pas nikah yang dandanin gue make up artis, kalau Gavin pasti kaya ondel-ondel," kata Luki.
Akhirnya setelah polesan terakhir selesai juga. Oppa Korea muncul.
"Vin kaku banget wajahku," kata Kenan.
"Lo kebanyakan ngasih alas bedak dan bb cream Vin," ujar Luki.
"Iya sih, sewadah kecil ku abisin," jawab Gavin.
"Kaya boneka manekin jadinya Vin," ujar Kenan.
"Gaklah, kaya boneka Ken tepatnya," sahut Gavin.
"Kok lebih mirip tuyul yang di film-film horor Vin," sanggah Luki.
"Udah ganti lagi, guekan mau tampil perpect," kata Kenan. Mau tak mau mereka mengganti dandanan Kenan.
Setelah setengah jam. Penghulu datang. Kenan duduk satu meja dengan penghulu. Karena ayah Nada sudah meninggal dan adik ayahnya Nada adalah Bibi Fatimah. Jadi wali nikahnya Nada digantikan penghulu.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Kenan Anggoro bin Samsudin Anggoro dengan ananda Nada Rahmuna binti Arsetya Wijaksana dengan mas kawin cincin berlian putih seberat 5 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Nada Rahmuna binti Arsetya Wijaksana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Kenan.
"Sah?"
"Sah."
"Alhamdulillah."
Rasa syukur dan tepuk tangan terdengar riuh sahut menyahut. Semua orang ikut bahagia di pernikahan itu.
Penghulu langsung membacakan doa untuk mempelai pengantin. Semua orang ikut mengaminkan setiap lantunan doa untuk mempelai pengantin itu.
Kenan dan Nada bersyukur karena mereka berdua bisa mengakhiri masa duda dan janda. Memulai hidup baru dengan keyakinan yang baru.
.
.
.
.
Untuk pembaca satu bab lagi akan menuju ke awal mula episode.