
"Baiklah karena kau tak mau menikahi putriku, maka aku akan melaporkanmu ke polisi!" ujar Ibu Nita. Dia kesal lelaki yang sudah menabrak putrinya tidak mau bertanggung jawab menikahinya.
"Silahkan! Kalau perlu telpon sekarang juga!" tantang Tuan Matteo. Dia mengeluarkan handphone di dalam sakunya. Mengacungkan handphone-nya ke udara. Agar Ibu Nita mengambilnya.
Ibu Nita terdiam. Melihat handphone di depannya.
"Kenapa diam? Ambil dan telpon polisi!" titah Tuan Matteo. Dia sudah tidak takut lagi dengan apapun yang akan terjadi selama ada Claudya di sisinya.
"Bu jangan! Ku mohon!" pinta Sora yang duduk di ranjang. Dia tidak ingin ibunya melaporkan Tuan Matteo yang tidak sepenuhnya salah.
"Ayo! Telpon polisi! Katakan aku menabrak putrimu!" ujar Tuan Matteo. Dia malah menantang Ibu Nita untuk melaporkannya ke polisi.
Ibu Nita menatap Tuan Matteo kemudian beralih ke handphone di tangannya.
"Bu sudahlah, jangan memperpanjang masalah ini ku mohon!" pinta Sora. Memohon agar Ibu Nita
tidak memperpanjang masalahnya. Dia sudah ikhlas menerima semuanya.
"Kenapa? Ayo laporkan aku ke polisi Bu!" titah Tuan Matteo. Lebih baik di penjara dari pada memenuhi keinginan wanita tua itu yang tak masuk akal.
"Heh. Aku akan melaporkanmu ke polisi. Pasti. Lihat saja nanti!" Ibu Nita berjalan meninggalkan ruangan itu usai bicara.
Tuan Matteo membuang nafas gusarnya. Masalah yang dihadapinya memang tak mudah. Dia harus banyak bersabar dan ikhlas dengan semua takdir yang sudah digariskan.
"Sayang, aku mencintaimu," bisik Claudya. Menatap Tuan Matteo yang gigih mempertahankan cintanya.
"Aku lebih mencintaimu, kau harus ingat itu," balas Tuan Matteo.
Mereka kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Sora yang sempat tertunda karena kehadiran wanita tua itu.
"Maafkan ibuku, beliau masih emosi," ucap Sora.
"Iya aku bisa mengerti, ibumu pasti masih marah dengan kesalahanku," sahut Tuan Matteo.
Claudya hanya tersenyum sembari memeluk Ezar yang ketakutan.
"Soal apa yang dikatakan ibuku, aku akan berusaha membujuknya untuk tidak melaporkan anda ke polisi," ujar Sora.
"Jika memang dilaporkan ke polisi pun saya akan menghadapinya," sahut Tuan Matteo. Tidak masalah untuknya menghadapi masalah itu hingga ke kantor polisi, toh memang dia melakukan kesalahan. Dari pada menikahi Sora, itu akan sangat menyakiti hatinya dan Claudya.
"Tidak, jika bisa diselesaikan secara baik-baik, untuk apa ke polisi. Lagi pula tidak sepenuhnya anda bersalah," ujar Sora.
Tuan Matteo dan Claudya mengangguk. Sora dan ibunya dua orang yang berbeda. Sora sangat baik. Sedangkan ibunya tampak tamak dan egois.
"Ezar, maafkan Tante ya, kau takut ya," ujar Sora.
Mendengar suara Sora memanggilnya Ezar langsung melepas pelukan Claudya. Menghampiri Sora. Dia memegang tangan Sora.
"Tante baik, Ezar suka," ucap Ezar. Menatap Sora dengan wajah polosnya.
"Tante juga suka Ezar," sahut Sora. Air mata kembali menetes di pipinya. Sora jadi merindukan anaknya saat melihat Ezar.
Ezar langsung minta dipeluk Sora saat melihatnya menangis. Seketika Sora memeluk Ezar dengan erat. Dia merasa memeluk putranya sendiri.
"Aku merindukanmu Nak, apakah kau anakku?" batin Sora terus berbicara.
"Tapi aku yakin kau anakku yang hilang, perasaanku tak mungkin salah," batin Sora. Dia yakin Ezar memang putranya yang hilang. Ikatan batin tak mungkin salah. Dia bisa merasakan Ezar itu putranya yang hilang.
Sora melepas pelukannya mengelus kepalanya. Rambut yang ikal agak panjang dan pipinya yang cabi membuat Ezar terlihat lucu.
"Gantengnya Ezar, Tante pasti rindu," ucap Sora.
"Nanti Ezar ke sini lagi," sahut Ezar.
Air mata Sora kembali menetes di pipinya. Melihat tingkah polos Ezar di depannya.
"Kalau begitu kami pamit dulu, soal biaya berobat hingga sembuh, saya dan istri akan bertanggung jawab sampai Nona Sora bisa berjalan lagi dan mengejar mimpi anda," ujar Tuan Matteo.
"Terimakasih Tuan Matteo dan Nona Claudya, sekali lagi saya minta maaf atas apa yang terjadi tadi," sahut Sora.
"Sama-sama," jawab Tuan Matteo dan Claudya.
Sora mengangguk. Tersenyum pada dua orang di depannya.
"Ezar pulang dulu Tante!" pamit Ezar pada Sora.
"Iya sayang," jawab Sora.
Tuan Matteo, Claudya, dan Ezar pun meninggalkan tempat itu. Mereka kembali pulang ke rumah Keluarga Sebastian.
***
"Gol!" Aku menang, siap-siap ayah dan kakek merangkak keliling kursi," ujar Alex kegirangan. Negara yang didukungnya menang.
"Jangan senang dulu Lex baru satu gol, pertandingan juga baru berlangsung tiga puluh menit, lihat saja kakek pasti menang," sanggah Kakek David.
"Pa, encok kita kalau kalah," keluh Pak Ferdi.
"Pasti menang, kemarin udah tanya Gavin," sahut Kakek David.
"Ya elah Kek, tanya Gavin. Ngerti bola aja kagak dia, mandi bola dia baru ngerti," balas Alex. Dia tahu betul Gavin tak pernah suka pertandingan bola. Beda kalau mandi bola dia suka. Sampai udah gede juga masih pengen kalau liat anak kecil mandi bola.
"Salah pilih guru spiritual Kek, nasehat Gavin tak bisa diandalkan," ucap Tuan Matteo.
"Astaga, ku kira dia tahu pertandingan bola, ternyata mandi bola toh yang dia ngerti?" sahut Kakek David.
"Aku udah ikut Papa, gak tahunya tersesat," ujar Pak Ferdi. Nyesel gak ngikut tim Alex. Kirain Kakek David udah mendapatkan wejangan dari suhu ternyata dari Gavin yang gak ngerti bola.
"Udah Kek,Yah, siapin lutut biar gak encok," ucap Alex kegirangan. Dia yakin menang telak.
Namun nasib berkata lain. Malam itu Kakek David dan Pak Ferdi menang. Negara yang didukungnya menang di babak kedua di menit ke dua puluh.
"Gol! Gol lagi!" teriak Pak Ferdi dan Kakek David kompak.
Alex dan Tuan Matteo mulai resah.
"Kita bisa encok kalau kalah," ujar Alex.
"Tadi kakak ipar bilang yakin menang," sahut Tuan Matteo.
"Aku cuma katanya Kenan," sahut Alex. Dia bertanya pada Kenan terlebih dahulu sebelum menentukan negara mana yang lebih unggul.
"Memang Kenan suka nonton pertandingan bola?" tanya Tuan Matteo.
"Sering nonton pertandingan basket," jawab Alex.
"Pantes kita nyasar, basket dan sepak bola kembar tapi tidak identik," sahut Tuan Matteo.
"Ya udahlah, terima kekalahan," sahut Alex.
Benar saja Alex dan Tuan Matteo yang harus memutari sofa yang berjejer di ruang keluarga dengan merangkak. Di tambah beban anak-anak mereka. Arfan dan Ezar yang keasyikan naik di atasnya.
"Papa cepet! kalahkan Om!" titah Arfan.
"Daddy cepet! Nanti disusul Arfan!" titah Ezar.
"Ayo cepetan jangan males!" ujar Kakek David melihat Alex dan Tuan Matteo jadi kuda untuk anak-anaknya.
"Enaknya bisa bersantai, apalagi ditemani kopi hangat," ucap Pak Ferdi.
"Nasib-nasib, lihat saja besok ku jitak kau Kenan!" ujar Alex. Mau tak mau memutari sofa itu demi menyelesaikan taruhannya bersama kakek dan ayahnya. Begitupun Tuan Matteo.
Setelah selesai, Tuan Matteo duduk bersama mereka. Dia menceritakan apa yang terjadi padanya dan Sora. Alex dan yang lainnya mendengarkan apa yang disampaikan Tuan Matteo.
"Menurut kakek, kau tetap akan disalahkan secara hukum. Meski kesaksian Sora sangat penting untuk meringankan kasus ini, tanpa kesaksian Sora bisa jadi kau akan di penjara," ujar Kakek David.
"Aku sependapat dengan kakek, Sora saksi kunci di sini, jika ibunya memang melaporkanmu ke polisi," kata Alex.
"Ibunya matre, dia ingin meminta lebih dari apa yang ingin kau berikan, aku tahu betul tipe wanita seperti itu," ucap Pak Ferdi.
Tuan Matteo mengangguk.
"Tenang Matteo, kalau wanita tua itu bersikeras melaporkanmu, kita semua akan mendukungmu," ujar Kakek David.
"Kau tak usah khawatir, kalau Sora sendiri yang menjadi korban tidak mempermasalahkan hal ini, berarti ibunya harus berpikir dua kali untuk melaporkanmu," ujar Alex.
"Suruh Harry turun tangan menjinakkan wanita ular itu, diakan jomblo," usul Pak Ferdi.
"Astaga Ayah kau membuka biro jodoh?" sahut Alex.
"Ini hanya solusi instant, dia ingin kayakan, Harry kaya dan jomblo. Untuk apa memaksa Matteo menikahi putrinya," ujar Pak Ferdi.
"Benar juga ucapan ngawur mu itu, solusi gila dikala sulit," sahut Kakek David.
"Ya, aku kasihan saja Harry selalu jomblo, kali aja berjodoh dengan nenek sihir," sahut Pak Ferdi. Dari pada jomblo terus berjodoh dengan nenek sihir gak masalah.
"Parah lo Yah, dia bokap biologisku," sahut Alex.
"Biarlah dia tak sendirian menjalani masa tuanya yang sulit," kata Pak Ferdi.
Tuan Matteo hanya tertawa kecil dengan obrolan-obrolan kecil Kakek David, Alex dan Pak Ferdi. Dia merasa tak sendirian melewati semua masalah ini.