
Dodo dan Nesa berada di dalam gudang besar. Di sana banyak anak kecil ditawan. Sebagian dari anak-anak itu terlihat lemas dan tak berdaya. Dodo dan Nesa dimasukkan ke dalam sel. Di setiap sel itu terdapat puluhan anak. Mereka terlihat diam. Namun tak bisa dipungkiri gurat kesedihan dan ketakutan tampak jelas. Dodo dan Nesa duduk bersama mereka.
"Assalamu'alaikum," sapa Dodo dan Nesa.
Tak ada tanggapan dari anak-anak itu. Mentalnya sudah turun. Mereka sudah sedikit lingkung karena tekanan selama berada di tempat itu. Anak-anak itu bahkan sudah lupa siapa orangtua dan identitasnya.
"Do mereka kenapa?" tanya Nesa bingung dengan teman-temannya itu. Umumnya anak kecil ceria dan banyak tanya. Apalagi ketika menjumpai hal baru. Tapi kali ini mereka hanya diam membisu.
"Iya Dodo juga merasa aneh," jawab Dodo.
"Apa karena nahan pup ya, kan gak ada toilet di dalam sini?" tanya Nesa.
"Tapi mukanya gak keringetan, gak ada bau juga," jawab Dodo.
Mereka berdua mulai merasa aneh dengan anak-anak seusianya.
"Mental mereka sudah rusak." Kata seorang anak laki-laki yang duduk di sudut sel itu.
Mendengar seseorang bicara pada keduanya, mereka berbalik menengok anak kecil di sudut sel.
"Rusak kenapa?" tanya Dodo.
"Semua anak kecil yang ada di sini hanya binatang yang akan diperjual belikan kapan saja, mereka yang masih di sel, mereka yang putus asa."
"Memang kita dijual untuk apa? Kitakan bukan makanan yang dijual di pasar," kata Nesa.
"Di jual organ tubuhnya."
Dodo langsung menutup telinga Nesa saat anak lelaki itu bicara. Dia tidak ingin Nesa ketakutan.
"Dodo apaan sih?" ujar Nesa berusaha membuka tangan Dodo yang menutup telinganya.
"Gak papa, biar gak dingin," jawab Dodo lalu melepas tangannya dari telinga Nesa.
"Tadi ngomong apa?" tanya Nesa ulang.
Dodo memberi kode kedipan mata agar anak lelaki itu tidak memberi tahu.
"Tidak, mereka hanya lelah," jawabnya.
"Oh lelah, emang kita di sini kerja ya?" ujar Nesa.
"Udah Nesa tidur aja ya, Dodo jagain," kata Dodo.
Nesa mengangguk. Tidur dipangkuan Dodo. Tak lama anak lelaki itu mendekati Dodo. Hanya dia yang masih terlihat ceria dan bersemangat. Yang lainnya hanya terdiam.
"Bocah gendut, kau baru masuk?"
"Iya, para penculik itu membawaku ke sini," jawab Dodo.
"Setelah kau masuk sini, kau takkan pernah bertemu orangtuamu lagi, kita hanya menunggu giliran."
"Giliran?" Dodo penasaran dengan apa yang dikatakan anak kecil itu.
"Giliran dikemas ke dalam kardus, dijual pada pemesan."
"Apa? Kitakan manusia bukan barang," jawab Dodo.
"Di tempat ini kita diperlakukan seperti barang bukan manusia lagi."
Dodo terdiam. Mulai memahami situasi itu.
"Oya seperti apa dunia saat ini?"
"Dunia? Maksudnya?" Dodo tak paham dengan apa yang dibicarakan anak laki-laki itu.
"Aku sudah di tempat ini selama dua tahun, aku tidak pernah melihat matahari lagi, seperti apa indahnya dunia luar. Terkurung di tempat ini."
Dodo terkejut. Memegang dadanya. Dua tahun terkurung. Tak melihat matahari bahkan seperti apa indahnya dunia ini.
"Jangan kaget, kau akan mengalaminya, mungkin singkat jika kau terpilih."
"Aku akan bebas?" tanya Dodo penasaran.
"Bukan, tapi dijual organ tubuhmu, kau takkan pernah melihat apapun lagi, kembali pada sang pencipta."
Dodo mengelus dadanya. Tak menyangka seperti itu efeknya jika dia tidak meminta izin orangtua saat ke luar dari rumah tanpa pengawasan mereka. Apalagi dia masih kecil.
"Saat itu aku main layang-layang, usiaku masih 7 tahun, padahal hari itu ibuku melarangku main, tapi aku ngeyel, ke luar dari jendela. Main layang-layang di jalan raya yang jauh dari komplek rumahku, sekarang aku berakhir di tempat ini, aku kangen ibu dan ayah."
Dodo merangkul anak lelaki itu. Dia terlihat merindukan ayah dan ibunya. Dodo bisa merasakan apa yang dia rasakan.
"Sabar ya, kita berdoa semoga Allah menyelamatkan kita semua," ujar Dodo.
"Amin."
"Oya, kenapa kau masih di sini? Katamu kita akan dikemas, tapi kau masih bisa bertahan sampai dua tahun," kata Dodo.
"Itu karena aku sakit."
"Sakit apa?" tanya Dodo.
"Mereka yang memeriksaku bilang aku terkena Leoukimia, jadi organku tidak dibutuhkan."
"Jadi itu sebabnya kau masih di sini?" tanya Dodo berspekulasi.
"Iya, kalau aku sehat tentu aku sudah mati dari kemarin."
"Astagfirullah, menakutkan sekali tempat ini," gumam Dodo.
Anak kecil itu memberikan Dodo sebuah kertas dari sakunya.
"Ini apa?" tanya Dodo sambil menegang kertas itu.
"Kalau kau berhasil ke luar dari tempat ini, tolong berikan surat ini untuk ayah dan ibuku, bilang padanya aku rindu."
Dodo langsung menangis di depan anak kecil yang tiga tahun di atasnya itu. Dia jadi teringat ibunya yang sudah meninggal. Pasti anak itu sangat merindukan ayah dan ibunya. Terkurung di tempat yang gelap dan pengap. Tak manusiawi.
"Jangan menangis, kau harus kuat sebagai laki-laki, aku sudah ikhlas."
Dodo mengangguk. Melihat anak lelaki itu tampak tegar padahal dia sakit dan jauh dari orangtuanya.
"Namamu siapa? Aku Azril."
"Aku Dodo," jawab Dodo.
"Kau harus terbiasa dengan apapun di dalam sini, kalau tidak nasibmu seperti anak-anak itu."
Dodo melihat ke sekeliling. Anak-anak yang terdiam seperti linglung.
"Iya," jawab Dodo.
"Semoga Allah menyelamatkan kita semua."
"Amin," jawab Dodo.
Tempat itu menakutkan. Banyak anak kecil disekap. Siap kapan saja dikemas untuk pemesan. Mereka diperjualbelikan layaknya barang dan binatang.
***
Alex dan Tuan Matteo naik ke atas jembatan yang ada di tepi pantai. Penjagaan di sana lebih longgar. Para penjaga tidak membawa senjata. Mereka berdua menghampirinya dari dua arah.
"Siapa kalian?"
Alex dan Tuan Matteo tak berkata apapun. Menghajar dua orang itu. Mereka baku hantam di atas jembatan kayu itu.
Dug ... dug ... dug ...
Mereka memukul dan menendang silih berganti. Baik Tuan Matteo dan Alex melawan satu orang.
Mereka berdua bahkan kolaborasi memukul dan menendang bersamaan dan bergantian.
Alex melepas sabuk dicelananya. Dia gunakan untuk sebuah senjata. Dengan sekali dua kali cambukan dan lompatan mereka langsung tepar.
Bruuug ...
"Keren, ternyata Bos Alex jago juga," puji Tuan Matteo.
"Adik ipar juga jago," sahut Alex.
Mereka berdua kembali berjalan ke sebuah markas di dalam pulau itu.
Di tempat yang berbeda Luki dan Gavin sudah masuk ke dalam pulau. Terlihat markas yang di kelilingi pepohonan. Markas itu berada di tengah. Di kelilingi pagar tinggi. Luki dan Gavin berdiri di dekat pohon.
"Vin gimana masuk?" tanya Luki.
"Kak Alex dan Tuan Matteo kemungkinan menyerang dari depan, kita naik pagar samping," jawab Gavin.
"Tunggu apa kita lapor polisi?" tanya Luki.
"Tadi Kak Alex sudah berpesan pada Sekretaris Kenan untuk telpon polisi, tempat ini memang harus diciduk," jawab Gavin.
"Berarti kita menyerang dulu?" tanya Luki.
Luki mengeluarkan knuckle miliknya dari dalam jasnya. Memberikannya pada Gavin satu.
"Kau bawa ginian?" tanya Gavin.
"Tiap hari," jawab Luki.
"Jangan bilang profesi lo tukang pukul?" tanya Gavin.
"Jagal daging sapi," jawab Luki.
Gavin tertawa kecil menutup mulutnya.
"Aku juga bawa rantai mungkin berguna," kata Luki.
"Pantes lo berenang kaya keberatan, rantai segala dibawa," sahut Gavin.
"Emang lo bawa apa?" tanya Luki.
"Bubuk cabe sama bom mainan buat kaget-kagetan gitu," jawab Gavin.
"Bermutu tuh? Gak basah kena air tadi?" tanya Luki.
"Eh iya, bunyinya tar bencong lagi gak pakem," jawab Gavin.
"Tunggu itu bukannya Kak Alex dan Tuan Matteo," ujar Luki melihat keduanya mau masuk ke pintu depan tapi penjagaan ketat.
"Kita bantu mereka aja dari pada manjat, tuh ada aliran listrik bertegangan tinggi yang dipasang," ujar Luki sambil menunjuk ke atas pagar.
"Berakhir jadi bebek panggang kalau gitu," jawab Gavin.
Mereka berdua akhirnya gabung bersama Alex dan Tuan Matteo. Menyerang penjaga di pintu gerbang. Baku hantam tak terelakkan. Saling menyerang tak ada yang bertahan. Pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan dilayangkan.
"Bos Alex, Tuan Matteo, biar kami yang di sini," kata Luki.
Alex dan Tuan Matteo mengangguk. Mereka masuk ke dalam. Membawa tongkat yang didapat di pos penjagaan.
"Siapa mereka?"
"Penyusup."
Mereka langsung baku hantam dengan orang-orang yang ada di dalam markas. Jumlah mereka cukup banyak. Membuat Tuan Matteo dan Alex kualahan. Untung Gavin dan Luki datang. Mereka membawa senjata masing-masing. Gavin melempar bom palsunya. Membuat orang-orang itu terkejut. Saat itu mereka dihajar Alex dan Tuan Matteo yang menggunakan tongkat. Mereka tumbang.
Bruuug ...
Gavin kembali mengeluarkan senjata keduanya, bubuk cabe kering. Menebarnya ke depan orang-orang itu.
"Aw ... perih mataku."
"Iya gak bisa ngelihat."
Saat itu dimanfaatkan mereka untuk menyerang.
Dug ... dug ... dug ...
Luki juga menggunakan knuckle miliknya untuk memukul dan rantainya untuk mencambuk beberapa orang sekaligus sampai terjatuh.
Bruuug ...
Alex dan Tuan Matteo juga menggunakan tongkat untuk menghajar mereka sampai babak belur. Tak ada yang dilewatkan.
Bruuug ...
Mereka semua tumbang di lantai. Babak belur.
Namun tiba-tiba beberapa orang menggunakan senjata api muncul. Mereka mengepung keempatnya. Satu orang pemilik markas itu ke luar. Berdiri di depan mereka.
"Kalian terlalu ikut campur bisnis ilegalku."
"Bisnismu ini haram, kau kejam menjual anak-anak tak berdosa," kata Alex.
"Terserah, yang penting bagiku uang, apalagi?"
"Serakah, tak berperikemanusiaan," jawab Tuan Matteo.
"Sudah dibutakan harta jadi begitu," kata Luki.
"Kena adzab baru tahu rasa," tambah Gavin.
Orang itu tertawa renyah. Dia senang melihat keempat orang berkumpul tinggal melenyapkan mereka bersamaan.
"Tembak!" titah orang itu.
Dor ....
Polisi memasuki tempat itu. Markas itu dikepung polisi. Semua anggotanya menyebar di semua sudut. Lebih banyak dari anggota penculik yang mengepung keempatnya. Mereka angkat tangan membuang senjata. Sedangkan pemilik markas itu kabur. Melihat itu Alex melempar tongkatnya hingga mengenai kaki belakangnya.
Bruuug ...
Orang itu terjatuh. Polisi langsung menangkapnya. Tempat itu pun disterilkan. Semua anak dikeluarkan. Dibawa ke kapal. Alex dan yang lainnya menjemput Dodo dan Nesa yang ke luar dari dalam gudang.
"Om Gavin!" teriak Dodo.
"Gendut Om kangen," jawab Gavin.
Dodo berlari ke arah Gavin. Memeluknya selayaknya anak pada ayahnya. Begitupun dengan Nesa yang berlari ke arah Alex.
"Om Alex!" teriak Nesa.
"Nesa," sahut Alex. Langsung menggendong Nesa di depan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alex.
"Iya Om, ada Dodo jagain Nesa," jawab Nesa.
"Alhamdulillah," jawab Alex.
Melihat Nesa digendong Dodo merengek digendong.
"Om Gavin gendong," pinta Dodo.
"Mana kuat Dut, berat," sahut Gavin.
"Sekali-kali gendong Vin," kata Luki.
"Astaga Luki, kau pikir si gendut ringan, kau sajalah duluan," jawab Gavin.
Luki akhirnya mencoba menggendong Dodo. Benar saja. Dia tak mampu mengangkatnya.
"Om kok diem aja, angkat," pinta Dodo.
"Turunin dulu timbangannya Do, diet," jawab Luki.
"Rasain, sok-sokan sih," sindir Gavin.
Tuan Matteo dan Alex tertawa.
"Dodo!" panggil Azril.
"Azril," sahut Dodo. Dia menghampiri temannya tadi. Begitupun dengan Dodo. Mereka bertemu di satu titik.
"Nih suratnya berikan pada ayah dan ibumu, kau akan bertemu mereka, cepat sembuh ya," ujar Dodo sambil memberi kertas itu pada temannya.
"Iya, makasih, semoga kita bertemu lagi," jawab Azril.
"Semangat! Kau pasti sembuh," ujar Dodo.
Azril mengangguk. Kemudian mengikuti polisi pergi ke kapal yang sudah disediakan. Begitupun Dodo dan Nesa pergi ke kapal yang Alex sewa.
Mereka semua naik kapal bersama Kenan dan kedua penculik itu.
"Tinggal mereka berdua, kita laporkan saja ke polisi sekalian," ujar Tuan Matteo.
"Iya meresahkan," jawab Gavin.
"Mumpung polisi ada di sini," tambah Luki.
Kedua penculik kelas teri itu berlutut. Meminta maaf.
"Ampun Bos, kita gak niat menculik kami hanya butuh duit, maafkan kami."
"Iya Bos, kami minta maaf, kasihani kami."
"Di mana-mana menculik itu memang butuh duit," sahut Luki.
"Mana ada penculik cuma konten doang," kata Gavin.
"Ya udah biar ku telpon polisi," ujar Alex mengambil handphone di sakunya.
"Tunggu Om, jangan," ujar Dodo.
Akhirnya Dodo menceritakan semuanya pada Alex dan yang lainnya. Kedua penculik itu tampak menangis. Apalagi saat mengingat Emboknya yang ada di kampung halaman.