
"Pokoknya ibu tak setuju, kau baru mengenalnya Gavin, apa kau tahu seperti apa dia dan keluarganya?" tanya Ibu Marisa. Dia mengkhawatirkan putranya yang baru saja mengenal Maria dan ingin menikahinya.
"Bu biar ku jelaskan dulu," sahut Gavin.
"Biar aku saja Gavin, mungkin ibu ingin tahu seluk beluk keluargaku," ujar Maria.
Semua orang terlihat tegang karena Ibu Marisa menolak.
"Saya Maria Selena, ibu saya Rosmalia seorang penjual jengkol di pasar, adik saya Vera Bianka bekerja di Asuransi Sejahtera. Sedangkan ayah saya Bagus Hamdani seorang tentara yang gugur di medan perang," ujar Maria.
"Masya Allah, mulia sekali," ucap Sophia mendengar ayahnya Maria gugur di medan perang.
"Iya, semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT," tambah Alex.
"Amin," jawab Maria.
"Apa lagi yang ingin ibu tanyakan?" tanya Gavin pada ibunya.
"Iya Marisa, sudahlah. Gavin sudah yakin kenapa kita harus mempersulitnya," jawab Kakek David.
"Iya sayang, dari pada berzina lebih baik menikahkan? Jangan ditunda," ujar Pak Ferdi.
"Bu berpikir positif, mana mungkin Kak Gavin mau menikah kalau tidak yakin bahagia dengan orang yang akan dinikahinya," tambah Claudya.
"Ibu ingin bicara empat mata dengan Maria," jawab Ibu Marisa.
Semua orang terkejut mendengar permintaan Ibu Soraya.
"Tapi Bu?" keluh Gavin. Dia mengkhawatirkan Maria. Mungkin saja ibunya bicara yang akan menyakiti hatinya nanti.
"Baik," jawab Maria.
"Maria," ucap Gavin kelirik ke samping.
"Tidak apa-apa," sahut Maria menyakinkan Gavin.
Ibu Marisa pun mengajak Maria ke ruangan kerja suaminya. Dia menutup pintunya saat Maria masuk ke dalam. Maria terlihat tenang. Berdiri menatap Ibu Marisa yang duduk di kursi.
"Duduk!" titah Ibu Marisa.
Maria duduk di kursi yang berada di depan meja.
"Maria apa tujuanmu mendekati Gavin untuk uang?" tanya Ibu Marisa.
Maria menggeleng.
Ibu Marisa mengeluarkan sebuah Cek kosong. Menyodorkannya pada Maria.
"Isilah jumlahnya sesuai yang kau mau, lalu pergilah dari hidup anakku!" titah Ibu Marisa.
Maria melihat Cek kosong di atas meja. Mata hazel itu menatap Cek kemudian menatap wanita paruh baya di depannya.
"Kenapa? Kau bisa isi semaumu, 100 juta, 1 Milyar, atau 10 Milyar, terserah, asal tinggalkan anakku!" titah Ibu Marisa.
Maria menyodorkan Cek itu kembali ke depan Ibu Marisa.
"Tujuan saya bukan untuk uang, jika ibu tetap memaksa saya akan menyobek Ceknya," jawab Maria.
"Ha ha ha ..., tidak untuk uang? Maria dulu aku miskin sepertimu, dan yang ada di pikiranku menikahi suamiku hanya untuk uang," ujar Ibu Marisa.
"Tidak terbersit sedikitpun ke arah situ, jika kami harus tinggal di gubuk reyot sekalipun aku bersedia," jawab Maria.
"Benarkah? Orang miskin menikahi orang kaya untuk tujuan apa? Jangan naif Maria, aku berkata seperti ini karena aku tak ingin anakku terjebak pernikahan palsu," ujar Ibu Marisa. Apa yang dialaminya dengan Pak Ferdi, membuat Ibu Marisa jauh lebih hati-hati menerima menantu. Dia tak ingin Gavin mengalami hal yang sama.
"Aku hanya ingin jadi istri Gavin, itu saja" jawab Maria.
"Jika aku bilang kalian akan ke luar dari rumah ini dan semua fasilitas ditarik setelah menikah, masihkah kau ingin menikahi putraku?" tanya Ibu Marisa.
"Masih," jawab Maria.
"Heh ..., kuat juga mentalmu," sahut Ibu Marisa sinis.
"Di manapun Gavin tinggal aku akan ikut bersamanya, apapun keadaannya," tambah Maria.
"Apa yang bisa membuatku yakin kalau kau tidak menikahi anakku demi uang?" tanya Ibu Marisa.
"Kami akan meninggalkan rumah ini, tinggal bersama di rumah hasil kerja keras kami, tanpa fasilitas Keluarga Sebastian," jawab Maria.
"Oke, untuk saat ini ku pegang kata-katamu, buktikan padaku cintamu itu tulus pada anakku," ujar Ibu Marisa. Demi membuktikan Maria tak seperti dirinya dulu. Ibu Marisa setuju dengan ucapan Maria.
Di ruang tamu Gavin terlihat cemas. Dia takut ibunya akan mengancam ini itu atau mengatakan hal yang kasar.
"Sabar Gavin, jika kalian berjodoh, akan tetap bersama, contohnya kakek dan Nenek Carroline," jawab Kakek David.
"Udah ketuaan Kek, dicium dah gak enak," jawab Gavin nyeplos.
"Ya elah, ternyata otakmu mesum toh mau nikahin Maria, pantes dadakan," sindir Claudya.
"Sama Gavin kita satu frekuensi," jawab Alex.
"Ayah juga sama, suka yang cantik tur semok," tambah Pak Ferdi.
"Nenek Carroline masih aduhai juga kok," jawab Kakek David yang tak mau kalah dengan anak dan cucunya.
"Pantes dari atasnya udah mesum, ke bawahnya nyetrum semua," sindir Claudya.
Semuanya tertawa. Termasuk Sophia. Tak bisa dipungkiri Alex memang mesum setiap berdua dengannya. Makanya perutnya langsung blendung.
Tak lama Maria kembali masuk ke ruang tamu bersama Ibu Marisa. Mereka kembali duduk bersama semua anggota keluarga.
"Gimana Bu?" tanya Gavin antusias.
"Ibu setuju," jawab Ibu Marisa.
"Alhamdulillah," sahut semua orang.
Gavin begitu bahagia. Akhirnya kesampean juga mau nikahin anak orang. Masa keduluan sama adik bungsungya. Berasa tak laku kaya kanebo kering di sudut ruangan. Sendirian dan kesepian. Entah kapan digunakan.
Setelah selesai bertemu keluarganya, Gavin mengantar kembali Maria ke rumahnya. Sepanjang jalan wajahnya berseri-seri. Senangnya meski baru patah hati.
"Maria," panggil Gavin melihat Maria dari spion depan. Maria sedang duduk dan terdiam. Meskipun sesekali menunduk malu.
"Iya," jawab Maria.
"Malam pertamanya mau di mana?" tanya Gavin.
Maria menunduk malu. Bingung mau jawab apa.
"Di mana saja asal Gavin suka," jawab Maria.
Maria mengangguk. Pipinya kemerahan. Rasa malu memenuhi wajahnya.
"Maria sebenarnya aku sudah punya anak," ujar Gavin.
"Apa kau duda?" tanya Maria.
"Tidak, aku diamanahi seorang anak kecil yang ditinggal ibunya meninggal, dia tak punya keluarga lagi, tidak apa-apakan kalau statusku sudah seorang bapak?" tanya Gavin.
"Masya Allah, mulia sekali hatimu Gavin," jawab Maria.
"Iya dong, jadi kau jatuh cinta beratkan padaku?" tanya Gavin.
Maria tersenyum malu ke samping. Sedangkan Gavin tampak kegirangan.
Sampai di rumah Mak Ros. Gavin turun dari mobil bersama Maria. Mereka berdua berjalan menuju rumah Mak Ros. Baru di teras rumahnya, terdengar suara lelaki yang marah-marah pada Mak Ros.
"Aku sudah lama menunggu Maria, masa ditikung orang lagi, Mak gimana sih?"
"Nak Dendi, Mak tidak bisa memaksa Maria, terserah Maria mau nikah dengan siapapun," jawab Mak Ros.
"Aku ini anak Juragan Karso, orang paling kaya di kampung ini, Mak tahukan?"
"Tahu Nak, tapi cinta tak bisa dipaksakan," jawab Mak Ros.
"Dendi yang sopan lo ya sama Mamak gue," sahut Vera kesal.
Mendengar suara ramai itu. Gavin dan Maria bergegas masuk ke dalam rumah. Melihat Mak Ros sedang kedatangan tamu seorang lelaki yang terlihat emosi.
"Assalamu'alaikum," sapa Gavin dan Maria.
"Wa'alaikumsallam," sahut Mak Ros dan Vera.
"Ada apa Mak?" tanya Gavin.
Maria langsung mendekati Vera dan Mak Ros. Sedangkan Gavin masih berdiri di depan pintu.
"Oh ini orang yang menikungku," ujar Dendi.
"Menikung? Kau bicara apa?" tanya Gavin.
"Maria itu calon istriku, Mak Ros punya hutang pada ayahku, jadi berikan Maria padaku!" titah Dendi.
"Hutang?" Maria terkejut. Meraih tangan Mak Ros dan menatapnya.
"Hutang apa Mak?" tanya Maria.
"Hutang untuk acara nikahanmu yang gagal berkali-kali Nak," jawab Mak Ros.
Maria terdiam. Dia tahu pernikahannya batal satu hari sebelum menikah. Tentu sudah banyak yang dikeluarkan Maknya. Baik biasa katering, dekorasi tenda, baju pengantin dan yang lainnya.
"Maafkan aku Mak," ucap Maria. Mak Ros membelai pipi Maria.
"Kau tidak salah Nak, Mak hanya melakukan apa yang Mak bisa untuk anak Mak," jawab Mak Ros.
Sementara itu Gavin masih bersitegang dengan Dendi.
"Saya akan membayar hutang Mak Ros, berapa?" tanya Gavin.
"Tiga ratus juta," jawab Dendi.
"Tunggu aku ambil Cek dulu," sahut Gavin.
Dendi hanya diam menatap tajam Gavin yang pergi meninggalkannya ke luar. Gavin mengambil Cek di tas miliknya di dalam mobil. Kemudian kembali ke dalam rumah. Dia menuliskan angka tiga ratus juta di Cek itu kemudian memberikannya pada Dendi.
"Cukup! Atau masih kurang?" tanya Gavin.
Dendi hanya memasukkan Cek itu ke dalam saku kemejanya. Dia berjalan menghampiri Gavin. Berdiri di sampingnya. Dengan posisi yang berseberangan. Dia menepuk bahu Gavin.
"Kau akan mati seperti calon pengantin lainnya. Berani menikahi Maria pembawa sial," ucap Dendi kemudian pergi meninggalkan Gavin.
"Gavin kau tak apa-apa?" tanya Vera menghampirinya.
Gavin menggeleng.
"Dendi itu memang begitu, suka sama Kak Maria padahal sudah ditolak berkali-kali," ujar Vera.
"Nekad juga," jawab Gavin.
"Nak Gavin terimakasih, maaf jadi membawamu dalam masalah Mak," ucap Mak Ros.
"Tidak apa-apa, kan sebentar lagi aku mantu Mak, jadi masalah Mak, masalahku juga," sahut Gavin.
Setelah semua itu Gavin mengobrol sebentar mengenai rencana pernikahannya dengan Maria pada Vera dan Mak Ros. Mereka duduk bersama di ruang tamu.
"Mak, Gavin ikut ke toilet dan sholat ashar ya," ujar Gavin.
"Iya Nak silahkan!" jawab Mak Ros.
"Aku juga mau sholat ashar dulu Mak," kata Maria.
"Ya udah sana!" titah Mak Ros.
Gavin dan Maria meninggalkan ruang tamu. Mereka sholat sedangkan Mak Ros dan Vera pergi ke kamarnya masing-masing.
Pukul 4 sore Gavin memutuskan pulang. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran. Ketika ingin mengambik kunci mobil di saku celananya, ternyata kunci mobil itu tak ada.
"Loh kok kunci mobilnya gak ada," ujar Gavin.
"Nak Gavin!" panggil Mak Ros.
Mendengar suara Mak Ros, Gavin berbalik. Menatap wanita tua di depannya.
"Mak ada apa?" tanya Gavin.
"Ini kunci mobilnya, tertinggal di meja ruang tamu," jawab Mak Ros sambil memberikan kunci mobil itu pada Gavin.
"Makasih Mak," sahut Gavin menerima kunci mobil itu. Kemudian pamit pada Mak Ros. Dia mengendarai mobilnya meninggalkan tempat itu. Mobil melaju di jalan raya, Gavin melihat spion di depan untuk melihat dahinya yang gatal.
"Oh rambutnya dah kepanjangan," ujar Gavin.
"Itu apa?" Gavin terkejut saat melihat di spion depan ada kain putih di kursi belakang.
Gavin menengok ke belakang sesaat. Sebuah pocong berukuran kecil di kursi belakang membuat Gavin terkejut. Hingga lepas kendali, dia banting stir sampai menabrak pohon untung mampu mengerem dengan cepat jadi tak terjadi hantaman keras.
"Astagfirullah," ucap Gavin.
"Huh ... huh ... huh ..." Nafas Gavin tersengal-sengal. Dia coba mengatur nafasnya.