Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Aku Ayahmu



Ibu Marisa berusaha tenang. Mengatur nafasnya. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Dia harus mendengar penjelasan dari gadis muda itu.


"Erisa, kenapa kau mengakui Ferdi ayahmu." tanya Kakek David. Dia ingin tahu kenapa gadis muda itu dengan mudahnya mengakui Pak Ferdi sebagai ayahnya.


"Karena aku anaknya Tiara," jawab Erisa.


"Tiara?" Semua orang terperanjat. Khususnya Pak Harry. Dia sangat mengenal Tiara. Wanita yan begitu dicintainya.


"Kau putrinya Tiara?" Pak Harry langsung bertanya. Dia harus memastikan apa benar erisa adalah putri dari Tiara istri pertamanya.


"Iya, aku memang putrinya Tiara," jawab Erisa. Menatap lelaki tua yang tampan dan keren itu.


"Aku-akulah Papamu Erisa," sahut Pak Harry. Dialah ayah kandung Erisa bukan Pak Ferdi.


"Anda Papa saya? Tapi Papaku ayahnya Alex Sebastian," sanggah Erisa. Dia merasa ayahnya adalah ayahnya Alex karena muka ayahnya saat muda mirip Alex Sebastian.


"Aku adalah ayah kandung Alex Sebastian. Dan Ferdi ayah tirinya, jadi kau pasti salahfaham," ujar Pak Harry. Dia sudah menduga pasti Erisa salahfaham karena secara hukum Pak Ferdi memang ayahnya Alex meski kenyataannya Pak Harry adalah ayah biologisnya.


"Iya Harry ayah kandung Alex Sebastian. Dan Ferdi ayah tirinya. Memang agak rumit tapi itu kebenarannya," tambah Kakek David. Dia ikut menjelaskan hubungan Pak Ferdi, Alex dan Pak Harry.


"Oh, jadi ayahku ..." Erisa menatap lelaki tua tampan dan keren itu.


"Akulah Papamu Nak, kau mirip dengan Tiara. Aku yakin kau anakku," sahut Pak Harry. Wajah Erisa yang mirip Tiara membuat Pak Harry yakin kalau Erisa anaknya tak perlu melakukan tes apapun.


"Papa." Mata Erisa berkaca-kaca. Ini pertama kalinya dia bertemu ayahnya. Selama ini hanya mendengar cerita tentang ayah. Dia tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang ayah dan merasakan kasih sayangnya.


"Iya aku Papamu." Pak Harry bangun dari sofa. Menghampiri Erisa kemudian memeluknya. Begitu pun dengan Erisa yang membalas pelukan Pak Harry. Mereka saling meluapkan kerinduan masing-masing.


Sophia dan yang lainnya senang melihat pertemuan ayah dan anak itu. Pak Ferdi juga merangkul Ibu Marisa yang tak jadi marah besar bahkan hampir perang panci jika Pak Ferdi ketahuan selingkuh.


"Tuhkan Bu, Ayah setia," ujar Claudya.


"Iya, Ibu jadi malu udah ngomel duluan," sahut Ibu Marisa.


"Itu karena kau sudah cinta berat padaku sayang," ujar Pak Ferdi.


"Tapi soal pesan obat kuat itu aku masih marah ya Mas. Ayo kita selesaikan di atas." Ibu Marisa menarik baju Pak Ferdi mengajak suaminya meninggalkan ruang tamu.


"Hm. Habis kau ayah," ujar Claudya. Menggeleng melihat ayahnya akan disidang ibunya.


Sophia hanya tersenyum begitupun Sora melihat Pak Ferdi kena omel Ibu Marisa season kedua.


"Untung kakek aman," ucap Kakek David sambil mengelus dada.


"Siapa bilang? Ayo Kek kita selesaikan masalah yang tadi. Udah tau umur udah tua masih keganjenan kaya Gavin." Nenek Carroline juga marah menarik tangan Kakek David meninggalkan tempat itu.


"Akhirnya kakek kena omel juga, sekarang giliran suamiku. Aku harus sidang dia sampai tervonis takkan bisa melakukan pembelaan lagi," ujar Claudya. Bangun meninggalkan ruang tamu. Siap mendakwa Tuan Matteo karena ikut-ikutan Gavin.


Sophia dan Sora tersenyum. Gara-gara Gavin semua kena imbasnya.


"Sora mau makan puding? Aku membuat puding coklat dan strawberry," kata Sophia. Perutnya sudah lapar lagi dia ingin makan camilan untuk mengganjal perutnya.


"Boleh, kalau tidak merepotkan," jawab Sora.


"Tidak, dengan senang hati," sahut Sophia sambil tersenyum. Dia bangun menghampiri Sora dan mendorong kursi rodanya meninggalkan ruang tamu. Tinggal Pak Harry dan Erisa di ruangan itu.


"Aku juga merindukanmu Nak, Papa sudah berusaha mencarimu tapi belum ada hasilnya. Akhirnya Allah mempertemukan kita sekarang Nak," sahut Pak Harry. Dia tidak diam saja. Sejak Pak Ferdi memberi tahu kalau Tiara melahirkan anak perempuan sejak saat itu dia mencari keberadaan putrinya.


"Iya Pa, aku juga selalu ingin bertemu Papa, entah kapan," jawab Erisa. Dia juga ingin bertemu ayahnya meski saat itu tidak tahu siapa ayahnya.


"Sekarang kita sudah bertemu, tidak akan terpisahkan lagi," ujar Pak Harry. Pertemuan itu akan jadi awal untuk mereka menjalin hubungan ke depannya. Antara ayah dan anak.


Setelah puas berpelukan mereka duduk di sofa mulai membicarakan hal lainnya.


"Sekarang kau tinggal di mana Nak?" tanya Pak Harry. Dia ingin tahu Erisa tinggal di mana. Sampai dia sulit untuk menemukan keberadaan putrinya.


"Aku tinggal di mana saja. Asal bisa tidur," jawab Erisa. Demi membiayai biaya rumah sakit kakeknya, Erisa tinggal di mana pun. Dia sudah terbiasa hidup susah.


"Maafkan Papa ya Nak, semua ini salah Papa," ujar Pak Harry. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada anaknya.


"Tidak apa-apa. Yang lalu biar berlalu. Sekarangkan aku sudah bertemu Papa," sahut Erisa. Dia tidak ingin menengok ke belakang. Masa lalu biarlah tetap jadi masa lalu. Yang penting adalah masa depan yang indah.


"Iya Nak. Mulai hari ini namamu Erisa Harold. Putri Harry Harold. Kau akan tinggal bersama Papa dan Keluarga Harold," ucap Pak Harry.


Erisa mengangguk dan tersenyum. Ini hari pertamanya jadi anggota Keluarga Harold.


"Papa punya empat anak dari ibu yang berbeda. Kau harus mengenal mereka semua. Memang sedikit rumit jika Papa terangkan masing-masing. Yang penting kau ingat Papa sayang kalian semua," ujar Pak Harry. Meski anaknya terlahir dari ibu yang berbeda-beda tapi Pak Harry menyayangi semua anaknya.


"Iya Pa," jawab Erisa. Tidak peduli masa lalu ayahnya. Yang terpenting sudah bisa bertemu dan bersama ayahnya.


Setelah pembicaraan itu, Pak Harry mengenalkan Erisa pada seluruh anggota Keluarga Sebastian. Begitupun dengan seluruh anggota Keluarga Sebastian yang memperkenalkan diri pada Erisa. Kesan pertama yang menyenangkan dan begitu kompak dilihat Erisa dari Keluarga Sebastian. Terutama Sophia yang selalu membawa aura positif.


***


Sore harinya Erisa naik bus. Dia berdiri di lorong bus. Mengamati semua penumpang. Berharap bertemu Dokter Leon. Dia sudah janji akan bertemu kembali di dalam bus dengannya. Namun Erisa tidak menemukan keberadaannya. Dia duduk di kursi yang ada di tengah yang kebetulan kursi itu kosong. Erisa membuang muka ke arah kaca. Menatap jalanan yang mulai ramai.


"Mau es krim Nona?" Suara seseorang menawarkan es krim.


"Saya gak pengen beli es krim Bang," sahut Erisa yang masih fokus ke kaca bus.


"Tapi es krimnya gratis, bayar pakai cinta aja." Seketika Erisa menoleh ke samping. Ternyata Dokter Leon membawa dua es krim di tangannya.


Erisa hanya mengerucutkan bibirnya.


"Mau gak? Kalau nanti bayar pakai mas kawin nih," ujar Dokter Leon.


Erisa tertawa kecil dengan ulah lelaki yang masih mengenakan jas putih. Khas jas Dokter.


"Kenapa?" tanya Dokter Leon.


"Kau imut banget sih. Seragammu masih kau pakai tapi gombal terus dari tadi, gak malu kalau ada pasienmu di sini?" tanya Erisa.


"Dokterkan manusia cantik, ingin punya seseorang yang selalu ada di hati," sahut Dokter Leon.


"Kalau begitu, kau harus mengejarnya, seperti kemarin," kata Erisa.


"Pasti, makanya aku pulang cepet nih," sahut Dokter Leon.


Mereka berdua tersenyum. Sama-sama sedang kasmaran. Dokter Leon juga tidak jaim lagi. Takut keduluan orang seperti dulu saat menyukai Sophia.