Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Kambing Hitam



Malam itu Gavin memutuskan pulang bersama Dodo. Dia tak tega Dodo tidur di rumah sakit. Besok Gavin akan mengantar Dodo ke pemakaman ibunya. Sekalian bertemu wanita bercadar itu. Tinggal Alex dan Sophia menemani Pak Ferdi. Alex tidur di sofa sedangkan Sophia tidur di ranjang. Pak Ferdi terbangun. Melihat sekeliling. Dia baru ingat kalau dia ada di rumah sakit setelah kecelakaan.


"Kakiku, sekarang aku tidak bisa jalan," ucap Pak Ferdi. Dia berusaha menggerakkan kakinya tapi kesakitan.


"Aw ...," ucap Pak Ferdi. Dia ingin bangun. Mengambil minum di atas laci dekat ranjangnya. Namun kakinya sulit digerakkan. Rasanya sangat sakit. Pak Ferdi berusaha bangun memaksakan dirinya, hingga hampir terjatuh ke bawah, untung Alex segera menangkap tubuhnya.


"Ayah mau ngapain?" tanya Alex.


"Lepas! Aku bukan ayahmu, untuk apa kau baik padaku?" tanya Pak Ferdi sambil menangkis tangan Alex dari tubuhnya.


"Mungkin ayah bukan ayahku, tapi dari kecil aku mengenalmu sebagai ayahku, aku tetap akan menganggapmu ayahku," jawab Alex tetap memegang tubuh Pak Ferdi yang hampir terjatuh itu.


Pak Ferdi terdiam. Selama ini tak pernah memperdulikan Alex, dia bahkan tak pernah menyayanginya sebagai anaknya. Pak Ferdi hanya menganggap Alex alat penghasil uang dari Kakek David.


"Aku selalu jahat padamu, tak pernah jadi ayah yang baik, untuk apa kau peduli?" ucap Pak Ferdi.


"Bagiku ayah tetap ayah, baik kita punya hubungan darah atau tidak," ujar Alex.


Pak Ferdi kembali terdiam. Ternyata kebenaran tentang Pak Ferdi bukan ayahnya Alex tidak merubah sikap Alex padanya. Dia tetap menganggapnya sebagai ayahnya meskipun tidak memiliki hubungan darah sekalipun.


"Ayah mau minum ya?" tanya Alex.


Pak Ferdi mengangguk.


"Ya sudah, ayah kembali berbaring ya, Alex akan mengambilkan minum untuk ayah," ucap Alex.


Pak Ferdi mengangguk. Alex membantu Pak Ferdi berbaring dengan nyaman. Kemudian mengambil air minum di atas laci. Memberikannya pada Pak Ferdi. Alex juga


membantu Pak Ferdi makan.


"Yah, abisin nih dikit lagi," ucap Alex sambil menyuapi Pak Ferdi makan.


"Gak enak, gak ada yang lain?" tanya Pak Ferdi.


"Ayah belum boleh makan yang lain, makan ini dulu," jawab Alex.


Sophia yang mendengar percakapan Alex dan Pak Ferdi terbangun. Dia bangun, berjalan menghampiri Alex dan Pak Ferdi.


"Ayah mau dikupasin buah?" tanya Sophia.


"Buah apa aja?" tanya Pak Ferdi.


"Buah jeruk, apel atau anggur?" tanya Sophia.


"Jeruk aja," jawab Pak Ferdi.


Alex dan Sophia melayani Pak Ferdi makan. Meskipun mereka tahu Pak Ferdi sudah membuat masalah namun dia tetaplah anggota keluarga.


Pak Ferdi melihat Alex dan Sophia begitu peduli padanya. Padahal dia sudah berbuat jahat pada mereka. Pak Ferdi jadi merasa tidak enak.


"Lex, maafin ayah ya, tadi kau menolongku, padahal aku ini sudah membuatmu kesulitan," ucap Pak Ferdi.


"Iya Yah, kitakan keluarga, sampai kapanpun harus saling menjaga dan menyayangi," ucap Alex.


"Kau sudah banyak berubah, Sophia sudah membuatmu jauh lebih baik," ucap Pak Ferdi.


Alex melihat ke arah Sophia yang duduk di sofa mengupas jeruk untuk Pak Ferdi. Ayahnya benar, Sophia memang sudah merubahnya jadi lebih baik. Bahkan kini Alex sangat bahagia ada Sophia di sisinya.


"Iya Yah, dengan cinta dan ketulusannya, Sophia sudah merubahku seperti ini," jawab Alex.


"Kau beruntung menemukan mutiara yang berharga, jaga dia dengan baik," ujar Pak Ferdi.


"Pasti," jawab Alex.


Suara adzan magrib berkumandang. Setelah makan Alex dan Sholat di dalam ruangan. Mereka sholat berjamaah bersama. Pak Ferdi memperhatikan pemandangan itu. Selama menikah dengan Ibu Marisa, dia tak pernah menyaksikan pemandangan romantis dan harmonis seperti Alex dan Sophia. Pak Ferdi sadar, dia tak pernah ada di rumah. Mabuk, judi dan main perempuan. Keluarganya hanya sebuah formalitas tak ada kebahagiaan di dalamnya.


"Kenapa dulu aku tak pernah seperti itu dengan Marisa, aku justru hanya menganggap Marisa istri di atas kertas," batin Pak Ferdi.


Usai sholat Alex menghampiri Pak Ferdi. Duduk di dekatnya. Sedangkan Sophia ke luar dari ruangan itu untuk menerima telpon dari bibinya.


"Lex, ajari ayah sholat sepertimu," pinta Pak Ferdi.


"Beneran Yah?" tanya Alex antusias.


Pak Ferdi mengangguk. Segera Alex mengajari Pak Ferdi tayamum. Kemudian mengajarinya sholat. Dia terlihat bersungguh-sungguh mengikuti apa yang diajarkan Alex padanya.


Tak lama Sophia masuk ke dalam bersama Harun dan Fatimah. Mereka menjenguk Pak Ferdi. Beberapa perbincangan menghangatkan ruangan itu. Pak Ferdi juga bersikap ramah menyambut besannya. Dia tak ingin seperti dulu lagi, Sophia adalah menantu terbaik yang sudah membuat Alex jadi seperti sekarang ini.


***


Pagi itu Alex turun ke lantai bawah. Dia berjalan menuju laboratorium. Meminta untuk test DNA untuknya dan Pak Ferdi. Dengan begitu Alex akan tahu apakah hubungan dengan Pak Ferdi, ayah dan anak atau bukan.


"Semoga hasilnya cepat," batin Alex. Dia berjalan di lorong. Tak sengaja bertemu Kenan yang baru masuk ke dalam rumah sakit. Dia membawa keranjang buah, menghampiri Alex.


"Assalamu'alaikum Bos," sapa Kenan.


"Wa'alaikumsallam, tumben bawa buah, boleh ngutang?" tanya Alex.


"Salah Bos, boleh ngredit di tukang buah sekalian minta digratisin makan bakso sama teh," jawab Kenan.


"Pembeli kurang ajar ya," ucap Alex.


Alex geleng-geleng. Sekretaris tak dirindukan ini kenapa juga datang ke rumah sakit. Tak ada yang mengundangnya.


"Bos sebenarnya saya ke sini untuk memberitahu soal para pemegang saham Bos," ujar Kenan.


Alex langsung terdiam. Pasti ada hubungannya dengan saham perusahaannya yang sedang anjlok.


"Kita bicara di sana," ucap Alex mengajak Kenan bicara di kafe rumah sakit. Mereka masuk ke dalam. Duduk di kursi kemudian mulai membicarakan masalah perusahaan.


"Ada apa dengan para pemegang saham?" tanya Alex.


"Mereka mundur, ingin menarik sahamnya," jawab Kenan.


"Bukannya itu menyalahi kontrak kerjasama perusahaan dengan mereka?" tanya Alex.


"Iya, mereka tak peduli bayar denda dari pada merugi, mereka bersikeras ingin menarik saham mereka," jawab Kenan.


"Kalau mereka menarik sahamnya, kita akan semakin bangkrut, perusahaan membutuhkan penanam saham baru," ujar Alex.


"Itu dia Bos, aku dengar mereka ingin menanamkan sahamnya ke Perusahaan Harold Group, perusahaan pesaing kita," jelas Kenan.


Alex mengingat Perusahaan Harold Group. Perusahaan yang dipimpin lelaki dingin tak terjamah. Misterius dan tertutup. Dia takkan membiarkan siapapun berani melawannya.


"Harry Harold bukan orang biasa, akan berbahaya jika kita bermasalah dengannya. Kalau para pemegang memang ingin menanamkan sahamnya di Perusahaan Harold Group, biarkan saja," ujar Alex.


"Tapi Bos, perusahaan kita akan mengalami krisis modal," sanggah Kenan.


Alex terdiam. Benar juga kata Kenan. Jika semua penanam saham kabur. Perusahaannya akan mengalami krisis modal. Keuangan perusahaan tak mencukupi untuk berdiri tanpa penanam saham.


"Bos, apa kita nyari penanam saham baru?" tanya Kenan.


"Siapa yang akan menanam saham di perusahaan yang sedang bermasalah seperti perusahaan kita?" ujar Alex.


"Kalau gitu kita minta tuyul muter aja Bos, kali aja semalam dapet duit banyak, tuyul bisa menanam saham di perusahaan kita," canda Kenan.


"Ide bagus, kenapa gak sekalian minta pocong menanam saham, pasti lebih menghebohkan," balas Alex.


Kenan tertawa. Dia sengaja menghibur Bosnya yang lagi suntuk dengan masalah perusahaan.


"Bos, ada seorang konglomerat, namanya Tuan Matteo Renaldi, beliau terkenal memiliki kekayaan yang tak terbatas, apa kita tawari kerjasama?" tanya Kenan.


"Tuan Matteo? Dia sulit diajak bertemu, tak sembarangan orang bisa menemuinya meskipun kita pejabat sekalipun," jawab Alex.


"Tapi kita membutuhkan penanam saham yang bisa berpengaruh juga pada bisnis kita Bos, Tuan Matteo sangat berpengaruh di Jakarta. Tentu daya tariknya akan memulihkan kembali nama baik perusahaan," ujar Kenan.


"Tumben otakmu encer, tadi kejedot tembok?" tanya Alex.


"Tadi diculik alien Bos, setelah penyetruman selama satu jam, otak saya mulai waras dan mendadak bijaksana," sahut Kenan.


"Sering-sering diculik alien, kalau perlu gak usah kembali, aku sudah mengikhlaskanmu bersama mereka," canda Alex.


Kenan tertawa. Dibalik pembicaraan serius perlu sedikit bercanda agar permasalahan tak membuat otak kita berat memikirkannya.


"Atur pertemuanku dengan Tuan Matteo," ucap Alex.


"Siap Bos," sahut Kenan.


Alex harus mencari penanam saham baru untuk kelangsungan perusahaannya. Dia tak ingin ribuan karyawannya di PHK. Alex harus berjuang agar perusahaannya pulih kembali.


"Bos, Pak Hendri, Pak Sofyan dan Yuda sudah di penjara, tinggal ...," ucap Kenan ragu mengucapkan nama Pak Ferdi.


"Aku tahu, sekarang ayahku sedang sakit, aku sedang memikirkan jalan ke luarnya," ujar Alex.


"Apa kita cabut laporannya? Itu berarti semua bebas," kata Kenan.


Alex terdiam. Dia tak tega ayahnya harus di penjara saat dia sedang tak berdaya. Lagi pula ayahnya juga sudah minta maaf.


"Nanti aku pikirkan lagi," jawab Alex. Memang sulit diposisinya. Alex tak mungkin memenjarakan Pak Ferdi. Sekarang dia butuh perawatan. Apalagi sekarang Pak Ferdi sudah mau bertobat, tak adil rasanya jika Alex memasukkannya ke penjara.


***


Seorang lelaki paruh baya mengenakan setelan jas hitam. Terlihat berkuasa dikawal kedua anak buahnya. Berjalan di lorong lapas. Dia masuk ke ruang besuk. Duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untuknya. Kedua bodyguard berdiri di belakangnya. Lelaki paruh baya itu terlihat menunggu seseorang. Tak lama masuklah Yuda ke dalam ruang besuk. Duduk di kursi menghadap lelaki itu.


"Aku sudah menjalankan tugasku, Pak Ferdi sudah jadi kambing hitam dari semua masalah ini," ucap Yuda.


"Kau pintar, bekerja untuk Ferdi dan untukku, tapi kau hanya menyalahkan Ferdi sesuai permintaanku, aku akan memberimu bonus yang besar."


"Anda memanfaatkan kelicikan Ferdi untuk kepentingan anda pribadi, sangat genius," puji Yuda.


"Ferdi memang harus membusuk di penjara."


"Tapi Alex anaknya, mana mungkin memenjarakan ayahnya," ujar Yuda.


"Itu urusanku, tugasmu sudah selesai."


Lelaki paruh baya itu mengeluarkan Cek. Memberikannya pada Yuda. Kemudian dia berjalan ke luar ruangan besuk di temani kedua bodyguard-nya.


"Ferdi, aku akan membalasmu karena kau telah mengambil seseorang yang berharga untukku."


Lelaki paruh baya itu terus berjalan. Senyuman liciknya tampak terlihat di bibirnya.