
Vera mengangguk.
Jack tersenyum bahagia melihat anggukan Vera. Ada kesempatan untuknya memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya di masa lalu.
"Terimakasih Vera," ujar Jack.
"Iya," sahut Vera.
Dengan persetujuan Vera, Jack menemui Mak Ros yang duduk di kursi. Dia berlutut di kaki Mak Ros untuk menyampaikan tujuannya.
"Mak aku tahu kesalahanku membuat Mak tidak bisa memaafkanku, tapi izinkanlah aku menikahi putrimu untuk menebus semua kesalahanku pada Vera," ujar Jack.
Mak Ros terdiam. Di belakang Maria dan Gavin melihat ke arah keduanya. Gavin hendak maju ke depan karena permintaan Jack sudah keterlaluan tapi Maria menghentikannya.
"Jangan," ujar Maria.
"Kenapa?" tanya Gavin.
"Biarkan dia menebus semua kesalahannya," jawab Maria.
Gavin terdiam. Mungkin benar kata Maria, Jack harus menebus semua kesalahannya pada Vera. Dia tidak boleh lepas tanggungjawab seenaknya. Apa yang sudah diperbuatnya membuat hidup Vera hancur.
"Mak!" panggil Jack.
"Jangan pernah sakiti Vera lagi, sudah cukup penderitaan untuknya," ujar Mak Ros. Matanya berkaca-kaca. Penuh harapan agar putri bungsunya bahagia.
"Iya, aku akan menjaga dan merawatnya, membuat hidupnya bahagia," ujar Jack.
Mak Ros mengangguk.
"Setelah Vera sembuh aku akan menikahinya Mak," ujar Jack.
Mak Ros mengangguk.
Jack tersenyum. Dia akan melakukan yang terbaik untuk Vera dan menunggunya sampai dia benar-benar sembuh sambil memperbaiki dirinya sendiri. Jack ingin saat Vera sembuh nanti dirinya juga sudah jadi orang yang terbaik untuk Vera.
***
Siang itu acara empat bulanan Sophia. Di rumah Keluarga Sebastian tampak ramai. Keluarga, sahabat, kenalan dan tetangga datang ke acara empat bulanan itu. Meski sedang bulan ramadhan Sophia dan keluarga menyiapkan sedemikian rupa agar pengajian itu tetap berjalan dengan baik dan tidak menghalangi orang yang beribadah puasa. Semua snack dan makanan di masukkan ke dalam goodie bag cantik. Sophia juga menyediakan sovenir berupa mukena untuk wanita dan sarung untuk laki-laki.
Seluruh anggota keluarga berkumpul di halaman depan yang dipasang tenda. Semua orang duduk lesehan di karpet yang digelar di lantai. Sophia masih duduk di kamarnya merapikan hijabnya. Tak lama Alex masuk ke dalam. Dia melihat istrinya begitu cantik dengan balutan gamis berwarna putih. Karena semua keluarga berseragam putih begitupun tamu undangan.
"Sayang," sapa Alex.
"Mas," jawab Sophia.
Alex langsung mendekat. Berlutut di depan Sophia. Mencium perut buncitnya. Buah cintanya tumbuh di rahim Sophia. Sebagai pengikat cinta dan pernikahan keduanya.
"Dede anak baik, hari ini acara pengajian empat bulanan Dede, semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan keselamatan untuk Dede dan Mama ya," ujar Alex sambil menyelipkan doa untuk anak dan istrinya.
"Amin, makasih Mas," sahut Sophia.
Alex bangun. Berdiri di depan Sophia. Mencium keningnya.
"Bidadariku memang selalu cantik dan bersinar," puji Alex.
"Mas, tiap hari jadi gak beli gula," kata Sophia.
"Kenapa?" tanya Alex.
"Habis Mas terlalu manis," sahut Sophia.
Alex menyolek hidung Sophia karena gemas.
"Sekarang bidadariku ini pinter gombal," ujar Alex.
"Belajar dari Mas," sahut Sophia.
Alex memeluk Sophia. Bahagianya saat Sophia hadir dalam hidupnya. Dia merasa sempurna sebagai seorang laki-laki. Sophia membalut semua kekurangan dan meredam hasratnya yang senantiasa membara. Menjadikannya imam yang menerangi jalan menuju surganya Allah SWT.
"Ayo turun sayang, acaranya mau dimulai," ajak Alex.
Sophia mengangguk.
Mereka berdua ke luar dari kamar. Berkumpul di halaman depan. Sophia duduk di barisan ibu-ibu sedangkan Alex berada di tenda yang dibatasi tirai berada di barisan bapak-bapak. Biasanya empat bulanan hanya ibu-ibu yang hadir di acara itu tapi kali ini Alex dan Sophia mengundang keduanya dengan tempat yang berbeda. Ibu-ibu di tenda sebelah kiri sedangkan bapak-bapak di tenda sebelah kanan dibatasi tirai.
"Kak Sophia perutmu semakin besar, aku jadi pengen cepet-cepet isi," ujar Claudya sambil mengelus perut Sophia.
"Semoga secepatnya diberi momongan ya," sahut Sophia.
"Amin," jawab Claudya.
Sophia duduk di samping Claudya, Humaira, Nada dan Maria. Mereka mengobrol santai sebelum acara dimulai.
"Humaira aku diundangkan nanti kalau kau menikah?" tanya Claudya.
"Insya Allah," jawab Humaira.
"Luki makin tampan dan sholeh, pasti karena dirimu," ujar Claudya.
Humaira menunduk malu. Akhir-akhir ini Luki memang memperdalam agama pada seorang ustad. Dia ingin jadi imam yang terbaik untuk Humaira.
Tak hanya dengan Humaira, Claudya juga mengobrol dengan Maria calon kakak iparnya. Mereka terlihat akrab. Apalagi sama-sama kuliah di Universitas Indonesia.
Tak lama acara empat bulanan itu dimulai. Di awali sambutan dari pihak keluarga, kemudian pengajian bersama dengan melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Setelah itu ceramah dari Ustad dan Ustadzah yang hadir.
Di dekat gerbang, Dodo, Tara, dan Nesa meniup balon sabun. Mereka asyik melihat balon-balon sabun itu berterbangan.
"Do di sini sempit, kita ke luar yuk, biar balonnya bisa terbang jauh," ujar Tara.
"Tapi di luar banyak motor dan mobil," sahut Dodo.
"Kitakan punya Dodo, super hero Hulk yang kuat," jawab Nesa.
"Tapi Dodo gak bisa sekuat Hulk, bahaya kalau ada mobil mau nabrak kalian," jawab Dodo.
"Nanti deh habis buka Dodo makan yang banyak," jawab Dodo.
"Makan rumput Do biar hijau kaya Hulk," kata Nesa yang mengira Hulk hijau karena makan rumput.
"Bukan makan rumput tapi tubuhmu dicat hijau," sahut Tara yang masih polos.
"Dodo gak mau makan rumput atau dicat hijau, tar dikira gendruwo gimana?" tanya Dodo.
"Tapi kalau gak hijau bukan super hero Hulk," jawab Nesa.
"Dodokan botak, tar dikira tuyul, habis deh digebukin warga," sahut Dodo.
"Tapi Nesa mau ke luar, pasti seru," ujar Nesa.
"Yaudah kalau super hero Hulk gak mau, kita putus, ayo Nesa berdua aja," ujar Tara.
"Iya," jawab Nesa. Mereka berdua ke luar gerbang ngumpet-ngumpet saat sekuriti asyik ngobrol. Sedangkan Dodo masih galau.
"Aduh repot kalau sama cewek, bentar-bentar ngambek," ujar Dodo.
Akhirnya mau tak mau Dodo ke luar dari gerbang. Mencari Nesa dan Tara. Dodo melihat keduanya meniup balon sabun itu di tepi jalan. Dodo menghampiri keduanya.
"Aduh Dodo capek, padahal baru setengah hari," ujar Dodo.
"Puasa gak boleh ngeluh," ujar Nesa.
"Iya, aku juga gak ngeluh paling buka setengah hari," jawab Tara.
"Kau buka tengah hari? Puasa apaan?" tanya Dodo.
"Puasa setengah hari, aku belum kuat sehari, terlalu banyak godaan," jawab Tara.
"Kalau aku minum doang tiap haus terus puasa lagi, sahut Nesa.
"Kalau kamu Do?" tanya Tara dan Nesa penasaran..
"Kalau Dodo plaster mulut dan ikat perut, biar aman," jawab Dodo.
"Miris, kaya korban penculikan," ujar Nesa.
"Wajar sih kamukan gendut," jawab Tara.
Mereka bertiga asyik meniup balon udara. Tiba-tiba motor butut berhenti di dekat ketiganya. Dua orang lelaki turun dari motor. Yang satu kurus ceking berambut keriting dan yang satu gendut botak kaya Dodo.
"Itu pasti anak orang kaya Dung."
"Yang gendut itu?"
"Jangan yang gendut makannya banyak, modal kita nyulikkan terbatas."
"Tapi gendut itu tanda kemakmuran Din."
"Benar juga, cukup gak utang kita sama Mpok Odah buat nyulik si gendut itu?"
"Kita aja makan ikan asin masih ngutang, nyulik si gendut itu kita kasih makan apa?"
"Udah pikirin nanti, kalau gak sanggup kasih rumput aja."
"Berarti mesti ngarit dulu, stok rumput yang banyak."
Kedua penculik kere itu mengangguk. Kemudian menghampiri ketiga bocah yang asyik main balon sabun. Mereka menangkap Dodo,.
"Om apa-apaan ini?" tanya Dodo.
"Lepaskan Dodo," ujar Nesa.
"Bawa aja tapi jangan kami, Dodo dagingnya banyak," kata Tara.
"Kita bukan penculik hewan kurban bocah."
"Udah Dung, bawa satu lagi biar double THR kita."
"Siap Din."
Dudung menangkap Nesa. Sedangkan Tara berlari ke menjauh disuruh Nesa dan Dodo.
"Lari Tara!" ujar Dodo dan Nesa sekali lagi.
"Dodo, Nesa," sahut Tara dari kejauhan.
"Udah bawa Dung."
"Siap Din."
Dudung dan Udin membawa kedua bocah itu naik ke motor butut keduanya.
"Dung munduran sempit nih."
"Din bokongku aja setengah melayang."
"Ku rasa kita salah nyulik si gendut ini, ngangkutnya aja susah."
Dodo dan Nesa di tutup perekat kemudian ditutup masker agar mulutnya tak berteriak.
"Ayo cabut keburu ada orang Din."
"Motornya masih bisa jalan gak ya."
"Emang bensinnya abis?"
"Enggak tapikan motornya dah tua."
Kedua penculik itu akhirnya membawa Dodo dan Nesa. Meski motor mereka sekarat. Apalagi yang diculik bikin ban makin menderita. Benar-benar penculik kelas teri. Malu-maluin kredibilitas penculik sedunia.