
"Tidak Kek," jawab Gavin. Dia tidak ingin hari bahagia kakeknya jadi duka. Selama ini kakeknya pasti sangat kesepian.
"Apa kau tidak suka dengan calon kakek?" tanya Kakek David. Dia ingin tahu apakah cucunya benar-benar menyetujui pernikahannya dengan Nenek Carroline.
"Suka Kek, yang penting bagi Gavin kakek bahagia," jawab Gavin. Tak tega jika memisahkan dua sejoli yang sudah jatuh cinta sejak lama. Bahkan sempat terpisah. Di penghujung waktu adalah kesempatan terakhir mereka. Tak ada waktu lagi. Sedangkan Gavin mungkin masih punya banyak waktu.
"Kakek punya anak dari Carroline," ujar Kakek David.
"Apa? Kakek punya anak dari Nenek Carroline?" Gavin terkejut. Sepengetahuannya Keluarga Harold hanya memiliki satu anak yaitu Harry Harold ayah Humaira.
"Jangan-jangan aku dan Humaira? Masih sedarah," batin Gavin. Ekspresi di wajahnya berubah sendu. Harapan bersama Humaira semakin menghilang. Jika benar Humaira adalah cucu kandung kakeknya.
"Iya," jawab Kakek David.
"Kek, anak Nenek Carroline itu kalau gak salah Harry Harold," ujar Gavin. Dia ingin memberitahu kakeknya tentang silsilah keluarga Harold.
"Harry Harold? Kok kau lebih hafal dari kakek?" tanya Kakek David heran. Cucunya Gavin mengenal Harry Harold anak Nenek Carroline.
"Aku sekedar tahu dari majalah bisnis Kek," jawab Gavin.
"Oh, kakek jarang baca, semenjak perusahaan di pimpin kakakmu," sahut Kakek David.
"Kakek beneran cinta sama Nenek Carroline?" tanya Gavin.
Kakek David menarik nafas panjang. Menghembuskan nafasnya perlahan. Setiap mengingat Nenek Carroline hatinya langsung terpaut.
"Dulu kakek terpaksa bercerai dengan Carroline. Karena perceraian itu kakek frustasi berat. Mabuk, judi dan main perempuan. Sampai bertemu nenekmu. Kakek menikah kembali tapi cinta kakek tetap untuk Carroline, justru karena itu kakek jadi melukai hati nenekmu," ujar Kakek David.
"Berarti sekarang kakek harus bahagia bersama Nenek Carroline, Gavin akan mendukung kakek," kata Gavin.
"Terimakasih cucuku," jawab Kakek David.
Gavid mengangguk. Tersenyum. Meskipun jauh dilubuk hatinya dia menangis. Kisah cintanya akan betakhir menjadi sebuah hubungan persaudaraan.
***
Malam itu Nenek Carroline masuk ke kamar Humaira. Dia galau habis karena putranya Pak Harry masih belum memberi restu. Padahal dia sudah jatuh cinta berat tak bisa terpisah lagi seperti dulu. Jarak dan waktu sudah memisah begitu lama, haruskah kembali dipisahkan? Nenek Carroline sudah menjanda sangat lama. Hanya Kakek David yang selalu ditunggunya.
"Humaira," panggil Nenek Carroline. Menghampiri Humaira yang duduk di ranjang sambil membaca buku ensiklopedi kesukaannya.
"Nenek," sahut Humaira. Rambutnya panjang. Berwarna kepirangan, bola matanya biru dan kulitnya putih. Sekilas mirip orang bule meski masih ada wajah Indo-nya karena ibunya orang pribumi. Sedangkan ayahnya Pak Harry keturunan Inggris.
Nenek Carroline duduk di samping Humaira.
"Humaira nenek mau curhat," ucap Nenek Carroline.
"Tunggu ya Nek, Humaira taruh bukunya dulu," sahut Humaira sambil menutup bukunya. Meletakkannya di atas laci yang berada di samping ranjang. Mendekati neneknya. Memijat tangannya.
"Mau curhat apa Nek?" tanya Humaira.
"Kamu ingat cowok yang selalu nenek ceritain?" tanya Nenek Carroline.
"Cowok yang bikin nenek sakit hati tapi bikin nenek jatuh hati, iyakan?" tanya Humaira.
"Iya, sebel deh. Papamu gak setuju Nenek rujuk kembali," jawab Nenek Carroline.
"Nenek mau rujuk lagi?" tanya Humaira memastikan. Dia tahu neneknya bucin habis sama lelaki yang selalu diceritakan padanya. Meskipun lelaki itu udah menorehkan luka di hatinya.
"Iya, bisa mati penasaran kalau nenek gak nikah sama dia," sahut Nenek Carroline sambil menangis. Dia tidak bisa kalau harus berpisah lagi.
Humaira terdiam. Dia kasihan pada neneknya. Sampai begitu sedih saat ayahnya melarangnya rujuk.
Humaira memeluk Nenek Carroline. Menenangkan hatinya yang sedang bersedih.
"Aku akan bicara dengan Papa Nek," ucap Humaira.
"Beneran?" tanya Nenek Carroline.
"Bener Nek, sekarang nenek tidur ya," jawab Humaira.
Nenek Carroline mengangguk.
Humaira menemani neneknya sampai tertidur di kamarnya. Kemudian dia ke luar dari kamarnya. Berjalan menuju kamar Pak Harry. Humaira mengetuk pintu kamar itu.
Tok!tok!tok
Tak lama Pak Harry membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Pak Harry.
"Humaira ingin bicara dengan Papa," jawab Humaira.
"Masuk!" titah Pak Harry.
Humaira mengangguk. Masuk ke dalam kamar. Duduk di sofa bersama ayahnya. Humaira berpikir harus membicarakan masalah Nenek Carroline agar masalah antara ayahnya dan neneknya clear.
"Kau ingin membela nenekmu?" tanya Pak Harry.
"Apa salahnya mengizinkan Nenek menikah lagi dengan orang yang dicintainya?" tanya Humaira.
"Kau tidak tahu siapa yang akan dinikahi nenekmu," ujar Pak Harry.
"Aku tahu, Nenek sering menceritakannya padaku," sahut Humaira.
"Kau yakin tahu?" tanya Pak Harry tersenyum licik. Humaira akan kaget saat tahu siapa lelaki yang dimaksud neneknya selama ini.
Humaira mengangguk.
"David Sebastian, kakeknya Gavin Sebastian, lelaki yang akhir-akhir ini mendekatimu," jawab Pak Harry.
Humaira terdiam. Tak menyangka mantan suami neneknya adalah kakeknya Gavin.
"Dan harus kau tahu, Papa anak dari David Sebastian. Yang berarti kau dan Gavin masih saudara sepupu," ujar Pak Harry.
Deg
Humaira terkejut bukan main. Ternyata dia dan Gavin masih saudara. Padahal baru saja dia merasa nyaman bersama lelaki yang akhir-akhir ini mengusik hidupnya.
"Sepertinya Papa tidak perlu memisahkan kalian, karena hubungan kekerabatan kita yang sudah memisahkan kalian," kata Pak Harry.
Humaira terdiam. Tak ada impian lagi yang akan digapai bersama Gavin. Pelaminan yang kemarin dijanjikan Gavin padanya hanya akan menjadi pelaminan untuk kakek dan neneknya.
"Aku akan menyetujui pernikahan nenekmu asal," ucap Pak Harry.
"Asal apa Pa?" tanya Humaira.
"Menikahlah dengan orang pilihan Papa," jawab Pak Harry memberi pilihan pada Humaira..
Humaira terdiam. Memikirkan tawaran dari ayahnya. Menyetujui berarti patuh, mengikuti semua peraturan ayahnya. Tak ada lagi kebebasan untuknya.
"Papa memberimu waktu dua hari untuk berpikir. Secepatnya berikan jawabanmu jika tidak, nenekmu takkan pernah menikah dengan orang yang dicintainya," ujar Pak Harry.
Humaira terdiam. Dia sulit untuk memberi keputusan saat ini.
"Tidurlah! Sudah malam," ucap Pak Harry.
Humaira mengangguk. Kemudian ke luar dari kamar ayahnya. Langkah kakinya mulai lemah. Humaira bersandar di dinding sejenak. Mengambil nafas dengan perlahan.
"Apa yang harus ku pilih? Haruskah aku bertemu Gavin?" batin Humaira.
Dilema memenuhi pikirannya. Apapun keputusan yang diambilnya, dia dan Gavin tetap saja sepupu tak mungkin bersama.
***
Malam itu Deva duduk di samping Jack di private room yang ada di klub malam milik Jack. Deva begitu bahagia karena bisa duduk di samping Jack dan mendapatkan semua fasilitas darinya.
"Sayang makasih ya, kau memang yang terbaik," ujar Deva.
"Di dunia ini tidak ada yang gratis Deva," jawab Jack.
"Maksudnya apa sayang?" tanya Deva.
Tiba-tiba masuk seorang lelaki tua Dia berperawakan gemuk, botak dan mengenakan setelan jas hitam. Merupakan klien kelas kakap dari bisnis rumah bordil yang disewa secara online.
"Siapa dia sayang," tanya Deva. Melihat lelaki tua itu.
"Dia klienmu, puaskan dia!" titah Jack.
"Apa? Sayang aku ini pacarmu, kita akan menikah," ujar Deva.
"Menikah? Jangan mimpi, kau hanya sampah, masih untung aku mendaur ulangmu," sahut Jack berbisik di telinga Deva.
"Jack!" teriak Deva lalu menampar Jack.
Plaaak ...
Jack marah. Dia mencekik Deva dengan tangannya.
"Kalau kau berani menolak perintahku! Aku akan menghabisimu sekarang juga," ujar Jack.
Deva geleng-geleng. Padahal dia berpikir hidupnya akan bahagia setelah meninggalkan Hanan dan memilih hidup bersama Jack. Nampaknya dia salah perkiraan. Dia justru masuk ke dalam kandang singa.
Jack melepas tangannya dari leher Deva. Menarik tangannya. Memberikan Deva pada lelaki gemuk dan botak itu.
"Tidak Jack, jangan lakukan ini padaku," keluh Deva.
"Take her!" titah Jack pada kliennya.
Lelaki tua itu langsung merangkul Deva. Membawanya ke luar. Jack hanya tersenyum licik. Dia sudah bosan dengan Deva, waktunya menjadikannya uang.