Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Malam Tiga



Malam itu Kenan dan Nada membawa anak mereka ke rumah Kenan. Di sana jauh lebih sepi tapi sayangnya para bocil pada ngikut. Demi anak mereka mau tak mau malam pertamaan berjamaah ditemani anak-anak mereka. Kenan dan Nada masih menemani anak-anak mereka main barbie dan rumah-rumahan di dalam kamar. Mereka duduk lesehan di karpet.


"Papi, Bunda, nanti malam tidur berempat ya," ujar Tara.


"Iya Papi, Bunda, aku juga mau bobo bareng kalian," tambah Nesa.


Nada menoleh ke arah Kenan dulu. Mengerutkan dahinya. Dia bingung harus menuruti permintaan anak-anak mereka atau tidak.


"Anak-anak, mulai malam ini kalian harus tidur berdua di kamar yang terpisah, biar Papi dan Bunda bikin adik bayi dulu," kata Kenan.


Nada langsung menutup mulutnya yang mau tertawa. Dia malu dengan ucapan Kenan.


"Kalau gitu kita ikut bikin adik bayinya Pi," jawab Tara.


"Kita aja bisa bikin anak barbie Pi," tambah Nesa.


"Astaga mau bikin adik bayi masa berjamaah gini," batin Kenan.


"Gak bisa anak-anak, adik bayinya malu kalau kalian ikut juga," sahut Kenan.


"Kalau gitu Pi kita kenalan dulu," jawab Tara.


"Aku kasih coklat pasti mau Pi," tambah Tara.


Nada tak bisa lagi menahan tawa. Kenan tak bisa membujuk anak-anaknya.


"Sayang gimana?" tanya Kenan pada ibu negaranya yang lagi senyum-senyum.


"Ya udah Pi, gak papa," jawab Nada.


"Gimana adonannya mau ngembang jadi donat coba kalau nih dua bocil nimbrung juga," batin Kenan. Sedih rasanya mau mengakhiri masa kesepian tiap malam tidur sendirian ditemani guling yang gak pernah ganti sprei.


"Kalau gitu kita bawa apa Pi buat bikin adik bayinya?" tanya Tara.


"Tepung kentacy sama saos bisa Pi?" tanya Nesa.


"Bisa-bisa, tinggal tambah ayam jadi deh ayam kentacy," jawab Kenan.


Nada kembali tertawa dengan kepolosan anak-anaknya.


"Pi, adik bayi mesti dioven dulu gak Pi? Kalau bikin kue aja mesti dioven," ujar Tara.


"Tapi kata bu guru adik bayi masih di pucuk daun pisang," sahut Nesa.


"Berarti Papi ambil dulu dari atas daun pisang Pi keburu ujan," ucap Tara.


Kenan tertawa terbahak-bahak. Berasa gila sendiri dengan obrolan kedua bocil itu. Niatan malam pertamaan malah berujung komedian.


Tak lama bel berbunyi. Membuat Kenan harus segera membuka pintu. Mungkin saja itu pesanan obat kuatnya. Malam ini dia ingin meminum obat kuat biar tahan sampai pagi. Maklum duda kesepian dan janda kurang belaian. Perlu dipanasin maksimal kaya kompor gas.


Kenan membuka pintu. Bukannya tukang paket. Justru Dodo yang menggendong ranselnya berdiri di depan pintu.


"Sorry Om Camer, Dodo mau ikut camping," ujar Dodo.


"Astaga nambah penghalang yang lebih besar," batin Kenan. Kenapa nih bocah gendut tak diundang, tak dipanggil kok muncul tiba-tiba.


"Sorry, kita gak pesan spring bed baru, mungkin tetangga sebelah," kata Kenan.


"Mana spring bed-nya Om, yang ada badan Dodo yang kurusan," sahut Dodo.


Kenan tepok jidat. Segendut itu kurusan. Gimana di saat fase gendutnya.


"Kau tidak diterima di sini, pulang sana!" kata Kenan.


"Tapi Om, kali ini aja ikut kamping," ujar Dodo.


"Ya udah, kau seksi kebersihankan?"


"Iya Om," jawab Dodo.


Mau tak mau Kenan mempersilahkan Dodo masuk ke dalam.


"Ayo bersih-bersih dulu, tadi bukannya kau seksi kebersihankan?" ujar Kenan.


"Mesti sekarang Om, Dodo butuh makan satu bakul kalau mau bersih-bersih," kata Dodo.


"Gak ada pilihan, lakukan yang ku suruh kalau mau ikut gabung!" titah Kenan.


"Siap Om camer," jawab Dodo.


Mau tak mau Dodo bersih-bersih. Tapi baru nyapu beberapa langkah udah tepar.


"Berat juga ujian Dodo, berilah hamba kekuatan Ya Allah," kata Dodo.


"Om badan Dodo berat, melangkah beberapa langkah aja udah capek," ujar Dodo.


"Tak bisa diharapkan jadi calon mantu," sahut Kenan.


"Dodo makan dulu Om, nanti bertenaga lagi," kata Dodo.


"Itu aja kau gak sanggup bawa badan, ini mau makan lagi, makin berat," sahut Kenan.


"Ya udah Dodo nyapu lagi Om," ujar Dodo.


Kenan mandorin Dodo nyapu barulah setelah itu Dodo langsung berbaur dengan Tara dan Nesa. Mereka senang sekali bisa bersama. Mereka main bersama tak lupa Dodo bawa banyak makanan untuk dibagi dengan Nesa dan Tara. Sedangkan Kenan dan Nada duduk mendampingi mereka.


"Udah ya mainnya ayo tidur," kata Kenan.


"Iya, besok kita jogging pagi tar kesiangan," tambah Nada.


"Om Dodo tidur di sini juga?" tanya Dodo.


"Tidur di luar aja," ujar Kenan.


"Tapi Dodo takut ada tikus Om," keluh Dodo.


"Baiklah terserah kau saja," jawab Kenan.


Akhirnya Dodo tidur berlima di ranjang mana sempit lagi. Kenan di dekat Dodo, sedangkan Nada di sisi sebelahnya bersama Nesa dan Tara.


Bluuug ...


Kaki Dodo menindih perut Kenan.


"Astaga, kaki si gendut niban gue," ujar Kenan.


"Kenapa Pi?" tanya Nada. Dia belum tidur. Masih mikirin malam pertamaan.


"Gak kenapa-kenapa, ketiban paus tersesat," jawab Kenan.


"Papi bukan kanibalkan? Ngapain megang kaki Dodo?" tanya Nada.


"Ya ampun kaki budukan gini mana mungkin ku makan sayang," jawab Kenan. Dia mengembalikan kaki Dodo ke alamnya.


"Pi, mau itu gak?" tanya Nada malu-malu mau.


"Siap Komandan," jawab Kenan bersemangat. Siapa yang gak mau ditawarin nanem pohon jagung di kebun kita.


"Ayo Pi, di kamar lain," ajak Nada.


"Aku padamu sayang," jawab Kenan.


Mau tak mau mereka memutuskan pindah kamar dari pada membuat gempa tsunami di kamar bersama bocil. Gak mungkin bikin adik berjamaah terus dibajak lagi.


Kenan dan Nada masuk ke kamar lain. Mereka memadu cinta di ruangan itu. Mengukir sebuah sejarah, menancapkan sebuah prasasti. Angin-angin sumilir berhembus sepoi-sepoi. Menjadi saksi dua penyatuan cinta itu. Suara-suara bagaikan alunan musik yang merdu dan bersambut. Bergetar seluruh barang dan ranjang. Semua jurus dijelajahi, semua daratan di datangi. Mereka berkeliling dari ujung dunia ke ujung dunia. Memuaskan hasrat yang membara. Menghilangkan keraguan dan mengakhiri masa kesepian.


Akhirnya duda dan janda itu bisa tidur dengan tenang setelah bendera putih dikibarkan. Tanda menyerah udah capek jaga lilin tuyulnya malah asyik tik-tokkan biar dapet endores dari para pedagang. Zaman sekarang udah gak gaul tuyulan lebih baik tik-tokkan atau youtube-an biar dapat uang gak mesti dikejar orang.


***


Pagi itu seluruh anggota Keluarga Sebastian berkumpul di ruang makan. Menikmati sarapan pagi. Mereka begitu bahagia karena bisa berkumpul bersama dan menikmati sarapan bersama seluruh anggota keluarga, formasi lengkap.


"Alex aku dengar kau mulai membangun perumahan di luar kota?" tanya Kakek David.


"Iya Kek, di kota Bandung," jawab Alex.


"Wah bagus Kak, makin maju aja," sahut Gavin.


"Kelak kau harus memimpin perusahaan juga Vin, aku keteteran," kata Alex.


"Iya perusahaan cabang, kau pimpin saja. Biar kau bisa hidup berdua dan mandiri dengan Maria," ujar Kakek David. Dia tahu Gavin tidak ingin tinggal di rumah Keluarga Sebastian. Dia akan pindah minggu depan.


"Gimana ya Kek, dah nyaman di kantor yang sekarang," sanggah Gavin.


"Pikirkan baik-baik tawaran kakekmu, memajukan perusahaan sendiri itu lebih baik," kata Pak Ferdi.


"Iya Yah, tar Gavin pikirin," jawab Gavin.


Mereka kembali makan. Tiba-tiba handphone Alex berdering.


"Lex angkat dulu! mana tahu penting," ujar Kakek David.


"Lagi sarapan Kek, nanti ku telpon balik," jawab Alex. Tapi tangannya sambil melihat ke arah layar handphone. Dia terlihat serius menatap layar handphone-nya, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.