
Sophia tersenyum dan mengangguk.
Alex langsung membopongnya. Membawa ke ranjang. Pagi itu kembali mengulang sejarah cinta semalam. Kembali mengukir cerita indah dalam buku cinta. Lembaran demi lembaran diisi dengan keindahan cinta tiada duanya. Merdunya nyanyian dan syair cinta mulai kembali menggema. Tak bisa dipungkiri Alex memiliki stamina yang sangat prima saat di atas pendakian cinta. Itu sebabnya dia dijuluki sang casanova. Namun Alex sangat lembut pada Sophia berbeda dengan memperlakukan wanita lain. Biasanya dia hanya menyalurkan nafsu. Sedangkan pada Sophia, bukan hanya nafsu tapi cinta yang membara dan rasa memilikinya dominan.
Setelah satu jam. Alex berhenti karena dia tidak ingin Sophia kelelahan. Mukanya terlihat pucat. Alex memeluk Sophia dalam balutan selimut tebal bersamanya.
"Sayang kau harus istirahat, aku yang akan masak," ujar Alex.
"Mas bisa masak?" tanya Sophia.
"Bisa, cuma tak seenak kamu sayang," jawab Alex.
"Mas, aku ingin minta izin," ucap Sophia.
"Izin apa?" tanya Alex.
"Aku mau bertemu ahli waris tanah yang diwakafkan untuk masjid," jawab Sophia.
"Aku pernah baca berita soal itu di medsos," ujar Alex. Kemarin saat dia membuka media sosialnya, berita itu menjadi headline news. Itu sebabnya Alex juga tahu.
"Iya, memang trending, bagaimana Mas?" tanya Sophia.
"Kapan?" tanya Alex.
"Pagi ini Mas," jawab Sophia.
"Pagi ini aku ada rapat sama klien penting, sepertinya tak bisa menemanimu sayang, apa tidak apa-apa?" tanya Alex.
Sophia memeluk Alex erat. Menyandarkan kepalanya di dada Alex.
"Tidak apa-apa Mas," jawab Sophia.
"Sekretaris Wang biar mengantarmu," ujar Alex.
"Ada Aiko, Sekretaris Wang menggantikanku briefing pagi ini, aku cuti," kata Sophia.
"Syukurlah kalau ada Aiko, telpon aku kalau ada apa-apa sayang," ujar Alex.
Sophia mengangguk. Dia senang sekarang ada Alex yang menemani hidupnya. Meski tak mudah membawanya ke tahap ini. Namun waktu menjawab semuanya.
Pagi itu Sophia sarapan bersama Keluarga Sebastian. Semua anggota duduk di kursi sarapan bersama. Ibu Marisa dan Claudya terlihat jeles melihat Sophia.
"Enak banget ya jadi istri, masa suaminya yang masak," ujar Ibu Marisa.
"Iya Ma, aku aja kalau ke rumah pacarku masak Ma, walaupun bukan istri," tambah Claudya.
"Papa seumur-umur gak pernah tuh masak, memalukan sekali merendahkan martabat suami," ucap Pak Ferdi.
"Aku sih gak mau kalau suruh masak, gila aja ada istri gitu," tambah Gavin.
"Sophia jauh lebih baik dari kalian yang gak kerja tapi minta uang terus, parasit," ucap Alex kesal.
"Alex!" bentak Pak Ferdi menggebrak meja.
Ruangan itu seketika memanas. Alex tak suka istrinya selalu jadi bahan bulan-bulanan keluarganya. Jelas-jelas mereka parasit. Yang hanya bisa minta uang dan uang. Hidupnya hanya foya-foya. Apalagi Pak Ferdi yang hanya judi, mabuk dan main wanita di luar sana. Begitupun dengan Ibu Marisa yang setiap hari shopping bersama teman-teman sosialitanya. Claudya dan Gavin juga tak jauh berbeda dengan kedua orangtua mereka.
"Ini tempat makan bukan arena gulat, duduk tenang atau ke luar!" tegas Kakek David.
"Aku ke luar! Anak tak tahu diuntung," ucap Pak Ferdi. Kemudian berjalan ke luar.
"Aku juga," ucap Gavin dan Claudya. Mereka berdua ikut ke luar dari ruang makan.
"Sarapan di luar lebih enak dari pada di sini," ujar Ibu Marisa yang juga ikut ke luar.
Tinggal Kakek David, Alex dan Sophia di dalam ruang makan itu. Wajah ketiganya tegang. Rumah yang harusnya membuat nyaman. Justru hanya sarana palsu seakan keluarga padahal hanya formalitas.
"Ayo lanjutkan makannya," ajak Kakek David.
"Iya Kek, mau tambah lauknya, biar Sophia ambilin?" tanya Sophia.
"Boleh," jawab Kakek David.
"Aku juga sayang," tambah Alex.
"Iya Mas," sahut Sophia. Dia mengambilkan lauk pauk untuk kakek dan suaminya. Tak hanya itu Alex menyuapinya. Membuat Sophia sedikit malu dilihat Kakek David namun justru kakek senang melihat perkembangan hubungan mereka. Kedatangan Sophia di rumah itu membawa perubahan yang baik untuk Alex.
Setelah makan Sophia mengantar Alex sampai teras. Membawakan tas miliknya. Alex mencium kening Sophia. Membaca basmalah pada saat menciumnya. Mendoakan kesehatan dan keselamatan Sophia di dalam hatinya.
"Hati-hati di jalan Mas," ucap Sophia.
"Iya sayang, telpon ya kalau ada apa-apa nanti," kata Alex.
Sophia mengangguk. Mencium tangan Alex. Kemudian melambaikan tangan saat sang casanova mengendarai mobilnya meninggalkan rumah besar itu.
***
Pukul 7 pagi Alex sampai di perusahaan. Kenan sudah menunggu di lobi sejak pagi. Saat melihat mobil Alex berhenti di depan lobi, Kenan langsung menghampiri mobil itu. Kenan memasang wajah penuh senyuman. Biasanya Bosnya berangkat pagi begini emosinya tak stabil, siapa saja akan terkena semburan lahar panas. Dari pada harus mengungsi lebih baik sedia payung sebelum hujan.
Pintu mobil terbuka. Kenan tadinya ingin tersenyum dan memberi penghormatan maksimal justru terkejut melihat Bosnya.
Wajah Alex berseri-seri senyuman lebar dipancarkan dari wajahnya. Aura positif memenuhinya. Di tambah lagi Alex menyapa Kenan dengan ramah.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam Bos," jawab Kenan.
"Astagfirullah, mimpi apa semalam, apa gara-gara Bos diomelin bini ya?" batin Kenan. Dia tercengang melihat Alex yang sangat berbeda.
"Kenan!" panggil Alex.
"Iya Bos," sahut Kenan. Kembali dari kehaluannya yang berpikir Bosnya kena cambuk sakti Sophia jadi berubah kaya power rangers.
"Ayo masuk, ada meeting kan?" ujar Alex.
"Siap Bos," sahut Kenan.
Alex masuk ke dalam kantor disusul Kenan yang berjalan di belakangnya. Sebagai sekretaris yang setia dan ogah dihempaskan meskipun Bosnya tipe penindas sejati.
Alex tersenyum, memberi salam dan membalas salam bawahannya. Yang dulu tak pernah dilakukannya.
"Pagi," sahut Alex.
Beberapa karyawan terkejut. Melihat Alex sangat berbeda. Sungguh menyilaukan. Mereka membicarakan Alex yang dilihat mereka sekarang.
"Itu Bos, wajahnya bersinar ya, biasa penuh dosa."
"Senyumannya itu, madu aja kalah manisnya."
"Apa semalam habis itu sama istrinya yang cantik itu?"
"Otak lo ngeres, ya pasti habis itu. Kan suami istri."
"Iya. Dari pada mesumin siapa aja, tahu sendiri si Bos."
Mereka semua mengangguk. Seolah tahu seperti apa tabiat Alex selama ini. Namun hari ini Alex yang mereka lihat sangat berbeda. Lebih baik dari sebelumnya.
Sampai di ruangannya Alex duduk dengan tersenyum. Membayangkan apa yang dari semalam dilakukan bersama Sophia. Kenan di depannya saja di anggap tak ada. Cuma remahan yang dipajang.
"Bos mau meeting, masih ngehalu?" tanya Kenan.
"Iya sayang enak," jawab Alex.
"Astagfirullah, Bos saya masih normal, bini saya hamil lagi," jawab Kenan.
"Lagi ya sayang," sahut Alex.
"Ampun, ngondek juga gue kalau deket Si Bos," ujar Kenan.
Segera Kenan mengambil air minum. Membaca ayat kursi lalu menuang air di gelas ke kepala Alex.
Byuuur ...
"Pantesan tadi pagi senyum-senyum sendiri, ternyata kerasukan setan mesum," batin Kenan.
"Ya Allah sadarkan Bos saya dari gangguan setan yang menyesatkan, normalkan kembali dia," ujar Kenan.
"Kenan!" pekik Alex kesal mukanya basah dan bajunya juga basah. Melotot ke arah Kenan yang masih bawa gelas.
"Alhamdulillah, Bos sudah sadar," sahut Kenan.
"Kau sudah bosan hidup Kenan?" tanya Alex marah.
"Ampun Bos masih mau idup, anak udah mau dua, siapa yang ngempanin tar," ujar Kenan. Udah cara satu ini paling manjur ketika ditindas Bosnya. Untung saja hari ini Alex lagi happy, Kenan cuma kena mata lasernya gak sampai dihempaskan.
***
Sophia ditemani Aiko pergi ke rumah ahli waris yang mewakafkan tanahnya untuk masjid. Pagi itu Sophia mengenakan gamis berwarna krem dengan hijab abu muda. Dia duduk bersampingan dengan Aiko di dalam mobil. Aiko menjelaskan seperti apa orang yang akan ditemui Sophia. Mereka juga membahas rencana yang akan diambil nantinya.
Setelah satu jam perjalanan. Sophia sampai di pinggiran kota Jakarta. Sebuah rumah sederhana dengan kebun di samping kanan dan kirinya. Rumah itu terlihat sepi. Penuh barang berserakan di teras. Pohon-pohon besar dan rindang di depan rumah menambah suasana menjadi menakutkan. Sophia turun dari mobil bersama Aiko. Berjalan beberapa langkah. Berhenti sesaat. Mereka berdiri menatap ke depan.
"Sophia seram juga rumahnya, jauh dari tetangga," ujar Aiko.
"Apa benar ini rumahnya Aiko?" tanya Sophia.
Aiko terdiam. Dia merinding melihat rumah sepi dengan beberapa pohon besar di depannya. Di tambah banyak barang berserakan di depan rumah. Dia jadi teringat film tentang psikopat.
"Aiko!" panggil Sophia.
"Ee ..., iya benar," jawab Aiko.
"Sedang apa kalian di sini?" tanya seseorang dari belakang.
Sophia dan Aiko berbalik ke belakang. Terkejut saat mendapati lelaki di belakangnya membawa golok. Aiko menelan ludahnya berkali-kali. Tangannya memegang tangan Sophia.
"Sophia," bisik Aiko pelan. Tangannya kini dingin dan bergetar. Bulu kuduknya naik. Sedangkan Sophia masih terdiam.