
"Gimana? aku tampan maksimalkan?" ujar Pak Harry sambil mengernyitkan alisnya.
"Masih tampan aku," balas Alex. Dia mengeluarkan dompetnya juga. Mengambil foto saat masih kuliah. Kemudian menunjukkannya pada Pak Harry.
"Lihat aku lebih tampan dan keren," kata Alex.
Melihat foto itu Pak Harry mengambilnya. Menyatukan kedua foto miliknya dan Alex.
"Pak tua kau sedang apa? Tak terima aku lebih tampan darimu?" ujar Alex.
Pak Harry terdiam. Memperhatikan kedua foto itu. Foto dirinya dan foto Alex saat kuliah. Mungkin usia keduanya hampir sama di foto itu.
"Mirip, seperti foto kopianku," batin Pak Harry. Melihat kedua foto itu dengan seksama. Dia baru ngeh Alex mirip dengannya. Apalagi melihat kedua foto itu.
Kedua netra Alex juga melihat kedua foto itu. Sama seperti Pak Harry. Dia heran kenapa fotonya bagai foto kopian fotonya Pak Harry.
"Kau meniru fotoku?" tuduh Alex.
"Bocah, aku lebih dulu lahir darimu, kaulah yang meniru gayaku," sanggah Pak Harry tak terima kepopulerannya disaingi Alex. Secara dia duda maco paling ganteng meski jomblo.
"Kau lihat itu gaya rambutku saat muda," kata Alex.
"Rambutku memang seperti ini dari dulu, justru kau mengekor dariku," sahut Pak Harry.
"Kenapa kau memakai kemeja berwarna biru, itu warna kesukaanku," gumam Alex melihat dirinya dan Pak Harry mengenakan kemeja berwarna biru muda di foto itu.
"Kaulah yang selalu meniruku, dari dulu aku suka warna biru," sahut Pak Harry.
Ternyata keduanya memiliki warna kesukaan yang sama. Mereka berdua kembali berdebat sampai Kakek David masuk ke dalam toilet.
"Alex!" panggil Kakek David.
Kedua lelaki itu terkejut mendengar suara Kakek David. Mereka menoleh bersamaan ke arahnya.
"Kek," kata Alex.
"Ayo pulang!" ajak Kakek David.
"Iya Kek," jawab Alex. Dia menghampiri Kakek David. Ikut bersamanya ke luar dari toilet itu. Sedangkan Pak Harry masih diam di tempat. Matanya beralih ke foto yang ada di tangannya. Foto dirinya dan foto Alex.
"Kenapa Alex begitu mirip denganku?" ujar Pak Harry.
"Apa ini kebetulan?" tambahnya.
Dari pada kebingungan sendirian tar dikira orang gila gara-gara mau lebaran belum beli baju diskonan dan kue nastar kiloan. Lebih baik memasukkan kedua foto itu ke dalam saku jas miliknya. Berjalan ke luar dari restoran itu.
Pak Harry masuk ke dalam mobilnya. Duduk di kursi belakang sambil termenung. Melihat ke arah kaca. Melihat pemandangan saat mobil melaju di jalan raya. Beriringan dengan mobil lainnya. Menuju ke tempat tujuan masing-masing.
"Alex anak Ferdi dan Marisa. Tapi kenapa mukanya mirip denganku? Dia juga suka warna yang ku suka," batin Pak Harry. Dia penasaran. Selama mengenal Alex sebagai pebisnis, dia tak pernah memperhatikan wajahnya. Baru tadi Pak Harry memperhatikannya dari dekat.
"Apa karena aku dan Ferdi kakak beradik, jadi Alex mirip denganku? Tapi seharusnya mirip dengan Ferdi," kata Pak Harry.
Sesuatu mengusik pikirannya. Kejadian yang sudah lama berlalu. Malam di mana Ibu Marisa menjebaknya. Pak Harry ingat betul, mereka pernah tidur bersama.
"Apa?" Pak Harry ragu berspekulasi. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Marisa, hanya dia yang tahu jawabannya," kata Pak Harry. Dia yakin jawaban dari rasa penasarannya ada pada Ibu Marisa.
***
Malam itu sepulang dari tarawih dari masjid, Alex membuat susu ibu hamil untuk istri tercintanya. Dia membawa susu hangat itu ke luar dari dapur. Naik ke lantai atas. Alex masuk ke kamarnya, menghampiri Sophia yang duduk di ranjang bersandar di headboard.
"Sayang minum susu dulu," ujar Alex.
Sophia tersenyum. Melihat suaminya yang begitu perhatian dan protektif padanya.
"Iya Mas," sahut Sophia.
Alex duduk di samping Sophia. Memberikan susu itu padanya.
"Minum sayang! Biar Dede tambah sehat dan kuat," ujar Alex.
Sophia mengangguk. Mulai meminum susu yang ada di tangannya. Meneguknya perlahan sampai habis.
"Alhamdulillah, enak Mas," kata Sophia.
"Iya dong, aku yang bikin pasti enak, ada doa disetiap adukannya," sahut Alex.
Alex mengangguk sambil mengelus perut Sophia.
Tangannya perlahan beralih dari satu bagian ke bagian lainnya.
"Dedenya bobo ya sayang?" tanya Alex.
"Iya Mas, mungkin kekenyangan. Tadi saat buka aku makan banyak," jawab Sophia.
"Pantes udah jam segini udah bobo, biasanya ada gerakannya meskipun pelan," ujar Alex yang selalu memperhatikan perkembangan kehamilan Sophia.
"Mas, tadi pagi jadi antar kakek bertemu Pak Harry?" tanya Sophia.
"Jadi sayang, malah aku dan Pak tua itu berdebat cukup lama," jawab Alex masih kesal gara-gara beradu jadi babang tampan masa kini.
Sophia tersenyum kecil. Dia sudah tahu suaminya takkan bisa akur dengan Pak Harry.
"Memangnya berdebat apa Mas?" tanya Sophia.
"Berdebat soal siapa yang paling tampan," jawab Alex.
Sophia tertawa kecil. Sampai mengelus perutnya sendiri.
"Sayang memangnya lucu?" tanya Alex.
"Apa Mas tidak bisa mengalah atau paling tidak berdamai dengan Pak Harry? beliaukan Om mu Mas," jawab Sophia.
"Tidak, dia itu menjengkelkan. Aku tak sudi memiliki Om sepertinya," sahut Alex cemberut. Jangankan mengalah atau berdamai, dia malas bertemu ataupun memanggilnya Om.
Sophia mencium Alex. Memberi hadiah agar dia tak cemberut lagi.
"Sayang kurang," keluh Alex.
"Kalau gitu ayo!" ajak Sophia.
"Yes, gak sia-sia bikin susu dapet juga," sahut Alex.
Beberapa hari ini Alex mengurangi jadwal tugas negaranya demi menjaga kesehatan Sophia. Dia kasihan melihat istrinya yang sekarang perutnya semakin membesar. Alex ingin Sophia lebih banyak istirahat biar dia dan bayinya sehat.
Alex langsung menyalakan kemudi, membiarkan mobilnya melaju dalam guncangan yang tidak dapat dikendalikan, bergerak leluasa sesuai keinginannya. Hingga pengemudi menikmati setiap naik turunnya jalan. Dan berlikunya belokan. Menelusuri setiap jalan yang melewati gunung yang naik dan lembah yang turun. Menikmati semua pemandangan dari setiap bagian dan arah. Semua inderanya dimanjakan dalam aroma dan rasa. Mengecap manisnya madu alami yang dihasilkan alam yang asri. Suara menggema bagai angin menerjang pepohonan. Sambut menyambut layaknya burung berkicau bergantian.
Akhirnya mereka berdua beristirahat dalam hamparan selimut tebal yang membungkus tubuh keduanya. Berbaring mengistirahatkan tubuhnya setelah perjalanan yang begitu panjang.
"Sayang aku dan Pak Harry ternyata memiliki kemiripan," ujar Alex.
"Kemiripan gimana Mas?" tanya Sophia.
"Entahlah, yang jelas wajahku mirip dengan wajah Pak Harry saat muda dulu," jawab Alex.
"Mirip?" Sophia terkejut.
"Iya, seperti foto kopinya," jawab Alex.
"Kok bisa ya Mas? Padahal Mas bukan anak ayah Ferdi, berarti bukan ponakan Pak Harry, tapi ...," ujar Sophia. Ada sesuatu yang janggal dalam pikirannya.
"Tapi apa sayang?" tanya Alex.
"Tapi kenapa Mas bisa mendonorkan darah untuk operasi ayah," jawab Sophia.
Alex terdiam. Benar kata Sophia, hasil test DNA menunjukkan dirinya bukan anak Pak Ferdi tapi bisa mendonorkan darah padanya. Padahal darah Rh-null itu langka.
"Kau benar, aku bukan anak ayah. Berarti bukan keturunan dari Keluarga Sebastian. Tapi kenapa aku mirip dengan Pak Harry, kakaknya ayah," ujar Alex.
"Mas apa kau sudah tanya pada ibu siapa ayah kandungmu?" tanya Sophia.
Alex langsung terdiam. Pasti ibunya tahu siapa ayah kandungnya. Mungkin dia akan tahu jawabannya. Kenapa dia mirip Pak Harry dan memiliki darah yang sama dengan kakek dan ayahnya.
"Ya sudah, besok Mas tanya ibu," ucap Sophia.
"Iya sayang," sahut Alex. Dia mencium kening Sophia. Memeluk Sophia dalam dekapannya dan mulai memejamkan matanya.
***
Pak Harry berdiri di balkon lantai atas. Menikmati malam yang panjang sendirian. Sudah lama menjomblo membuatnya terbiasa berteman dengan angin malam. Mendengarkan suara jangkrik dan keheningan. Pak Harry memegang handphone di tangannya. Seperti ingin menelpon seseorang tapi ragu.
"Kalau ku telpon Marisa apa dia akan mengangkat telpon dariku?" ujar Pak Harry. Selama ini dia sudah jual mahal. Sok cool dan gak peduli dengan Ibu Marisa. Akan aneh jika tiba-tiba sok kenal dan sok akrab padanya. Padahal dia sudah menghina dan mencacinya habis-habisan.