Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Oppa Saranghaeyo



Luki terus mengendarai mobilnya yang melaju cepat di jalanan yang turun. Jantungnya berdebar berpacu dengan roda ban yang berputar cepat. Kecemasan datang melanda. Bayang-bayang kematian datang padanya.


"Ya Allah beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku yang begitu banyak. Aku malu kembali padamu dalam keadaan seperti ini," batin Luki melantunkan doa. Tak ada tempat untuk meminta selain pada Allah SWT.


Luki mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Tak bisa dipungkiri, sebagai manusia biasa dia panik. Namun tetap berusaha tenang.


Mobil terus melaju. Kali ini melewati jalan yang datar tapi sayangnya beberapa kendaraan ada di jalan yang dilewatinya. Luki berusaha menghindari tabrakan. Dia memutar stang mobilnya ke kanan dan ke kiri. Matanya terus terjaga lebih tajam dari biasanya. Bolak balik membunyikan klakson agar pengendara di depannya minggir. Salah seorang pengendara menurunkan kaca.


"Woi, berisik!" Pengendara itu memarahi Luki.


Tak ambil pusing dengan teguran orang. Bagi Luki keselamatan orang lain lebih penting. Dia tidak ingin ada korban karena mobilnya yang hilang kendali.


"Berpikir Luki," batin Luki.


"Aku harus mencari tempat untuk mengakhiri semua ini tapi aman untuk semua orang," ucap Luki.


Terlintas dipikirannya untuk mengarahkan mobil ke sungai.


"Sungai, apa ada sungai?" batin Luki.


Segera Luki mengambil handphone miliknya. Menghidupkan google maps untuk mencari sungai terdekat dari jalan yang dilaluinya.


"Tak jauh, untung jalurnya juga lenggang," ucap Luki. Dia mengarahkan kemudinya menuju sungai Kalimalang yang kebetulan tak jauh. Tangannya tetap menekan klakson dan menyalakan lampu hazard agar pengemudi lain minggir dengan kode yang diberikannya.


"Bagus, minggir semua," ucap Luki yang senang melihat pengemudi lainnya pada minggir membiarkan mobilnya melaju dengan leluasa seperti ambulan yang melintas.


"Kiri jalan sungai, aku harus banting stir ke kiri," ujar Luki.


Tak lama Luki banting stir ke kiri. Mobil pun tercebur ke dalam sungai.


Byuuuur ....


Luki masih di dalam mobil. Dia melepas sabuk pengaman. Tangannya berusaha membuka pintu tapi ternyata pintunya macet.


"Sial pintunya jadi macet," ucap Luki. Dia berusaha membukanya dengan kencang namun tetap sulit. Air mulai memenuhi ruangan mobil. Setengah tubuh Luki tergenang air. Dia berusaha memukul kaca mobil dengan tangannya.


Di luar banyak orang menyaksikan mobil yang jatuh ke dalam sungai. Mereka berkerumun di tepi sungai. Membicarakan mobil yang hampir tenggelam itu.


"Ada apa Pak?" tanya Humaira yang baru datang melihat kerumunan di tepi sungai.


"Itu ada mobil tercebur ke sungai."


Humaira penasaran. Dia maju ke depan melewati kerumunan. Kedua netranya melihat mobil yang hampir tenggelam.


"Arfan," ucap Humaira melihat Luki yang berusaha ke luar dengan memukulkan tangannya ke kaca.


Humaira berbalik. Dia berlari menuju ke tepi jalan. Mencari benda yang bisa digunakan untuk memukul kaca mobil.


"Kayu itu," ujar Humaira melihat kayu yang tergeletak di tepi jalan. Bergegas Humaira mengambilnya. Meletakkan box kue miliknya sembarang. Berlari membawa kayu itu. Menceburkan dirinya ke sungai.


Byuuur ...


"Cewek bercadar itu nekat."


"Bahaya Neng."


Orang-orang membicarakannya. Arus sungai cukup deras. Orang-orang bukan tak mau menolong tapi mereka juga takut terbawa arus. Selain itu sebagian orang tidak bisa berenang.


Mobil mulai tenggelam. Luki kesulitan mengambil nafas. Dia sudah tak mampu bertahan. Hanya kata ikhlas yang terucap dilubuk hatinya. Perlahan semua gelap. Luki tak sadarkan diri.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan Ananda Luki Andara bin Hajun Andara dengan anak saya yang bernama Humaira Az Azahra dengan mas kawin berupa Al qur'an dan separangkat alat sholat dibayar tunai."


Tiba-tiba semua mimpi manis itu menghilang. Luki terbangun. Matanya melihat ke depan. Sesosok wanita dengan mata kebiruan. Melihat dengan cemas ke arahnya. Begitupun dengan orang-orang lainnya yang mengerumuninya.


"Humaira," ucap Luki pada Humaira yang ada di depannya.


"Arfan kau sudah sadar," ujar Humaira.


Luki mengangguk.


"Mas masih mau dikasih nafas buatan? Bibir saya kaku nih dari tadi ngasih nafas buatan," ucap lelaki gemuk berambut kribo yang ada di dekat Humaira.


"Apa? Bukan Humaira yang memberiku nafas buatan?" ucap Luki terkejut.


"Maunya, modus, saya tau yang dari tadi kasih nafas buatan mana belum gosok gigi lagi."


Luki langsung terbatuk. Dia pikir bibir merah delima Humaira yang memberi nafas buatan. Pantas bau gimana gitu berasa jengkol dan iler yang nyampur jadi satu.


"Masih butuh nafas buatan lagi Mas, saya masih mampu bisa nih, mau?"


"Gak, gak usah, saya bisa pingsan lagi," sahut Luki.


"Kalau Neng cantik yang kasih nafas buatan mau?"


"Mau boleh," jawab Luki tersenyum.


"Huh ... modus." Seru orang-orang yang berkerumun.


Luki tersenyum malu. Masih teringat ijab qobul yang tadi muncul dalam mimpinya.


"Arfan kau baik-baik saja?" tanya Humaira.


Mata Luki tertuju pada gadis rambut pirang. Dia baru ingat sang gadis bercadar itu kehilangan hijab dan cadarnya saat menolong Luki di sungai tadi. Hanya cipusnya yang masih menutup rambutnya. Untung saja gamisnya menutup hingga lehernya. Segera Luki melepas satu per satu kancing kemejanya.


"Astaga Mas jangan mesum di sini, banyak anak di bawah umur, saya penasaran sih."


"Wow dadanya bidang, tipeku banget."


"Keren."


Luki tak menggubris ucapan orang. Dia melepas kemejanya. Mendekati gadis cantik dengan mata kebiruan. Mengenakan kemejanya untuk menutup rambut Humairah.


"Bidadari cantik hanya boleh dilihat olehku," ucap Luki.


"Romantis."


"Berasa nonton drakor."


"Coba aku yang digituin, meleleh."


Humaira langsung menurunkan pandangannya.


"Ayo pergi," ajak Luki.


Humaira mengangguk. Bangun dari duduknya. Berjalan mengikuti Luki ke luar dari kerumunan itu. Dia berjalan sejajar dengan Luki yang hanya mengenakan celana panjang.


"Humaira makasih ya kau sudah menyelamatkanku," ucap Luki.


"Iya, terimakasih juga untuk kemejamu," sahut Humaira.


"Oke, simpan ya, nanti kita akan tinggal bersama, jadi kau tak perlu mengembalikan," jawab Luki pede. Dia yakin Humaira akan menjadi istrinya.


Humaira malu. Dia membuang muka. Sedangkan Luki hanya tersenyum.


"Itu box kueku, aku ambil dulu," ucap Humaira.


"Di sini saja, biar aku yang ambil," pinta Luki.


Humaira mengangguk. Membiarkan Luki yang mengambil box kue milik Humaira. Saat Luki mendekati box kue para wanita yang berada tak jauh dari box kue tercengang melihat ketampanan Luki yang bak artis Korea.


"Oppa ...."


"Saranghaeyo."


Luki tak menggubris. Tampak dingin. Dia mantan lelaki belok mana bisa digoda. Sulit hatinya terbuka untuk wanita. Dalam hidupnya hanya Claudya dan Humaira yang mampir di hatinya.


"Oppa cool banget."


"I Love You Oppa."


Luki hanya diam. Mengambil box kue itu. Kembali menghampiri Humaira yang menunggunya.


"Oppa," ucap Humaira.


"Kau memanggilku apa?" tanya Luki.


"Oppa, kata para gadis itu," jawab Humaira.


"Ya sudah, panggil aku Oppa, selamanya," ujar Luki.


Humaira hanya menunduk. Dan mengangguk.


"Kita mau ke mana?" tanya Luki.


"Mobil Oppa gimana?" tanya Humaira.


"Biarin, tar beli lagi," jawab Luki.


"Oh, kalau gitu kita bagikan saja kuenya," sahut Humaira.


"Kok dibagikan?" tanya Luki.


"Aku ingin membagikan kue ini untuk sedekah," sahut Humaira.


"Ya udah, ayo," ajak Luki.


"Bajumu Oppa?" tanya Humaira.


"Bukannya keren kalau kaya gini," sahut Luki.


Humaira malu. Menunduk. Tak bisa dipungkiri Luki memang lelaki tampan yang begitu mempesona. Wajah Korea-nya itu tampak seperti artis drakor. Bibirnya merah. Kulitnya putih bersih. Tatapan matanya selalu dingin. Membuat yang melihatnya meleleh.


Luki dan Humaira membagikan kue itu pada setiap pengguna jalan. Khususnya tukang ojeg, pemulung, anak jalanan, tukang sapu, pedagang kaki lima dan orang lainnya.


"Humaira ternyata menyenangkan berbagi, ada perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan kata-kata," ujar Luki.


"Iya Oppa, itulah indahnya berbagi," sahut Humaira.


Luki tersenyum. Di balik musibah yang menimpanya. Ada benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Gadis bercadar itu sudah mengalihkan dunianya.


***


Sore itu Gavin bertemu Vera untuk menyelesaikan berkas-berkas yang harus diisi dan dilengkapi olehnya. Mereka bertemu di warkop yang tak jauh dari rumah Vera. Gavin duduk bersama Vera menikmati kopi hangat setelah selesai menyelesaikan urusannya.


"Vera rumahmu dekat sini?" tanya Gavin.


"Iya, kau ingin main? aku kenalkan pada kakakku yang cantik banget, kebetulan jomblo sepertimu," ujar Vera.


"Kakakmu perempuan?" tanya Gavin.


"Iya, cantik banget deh, dijamin kau suka," jawab Vera.


"Kau jual kakakmu padaku, mentang-mentan agen perjodohan," sindir Gavin.


"Bukan jual, tapi biar kakakku gak dibulli tetangga terus," jawab Vera.


"Di bulli kenapa?" tanya Gavin.


Vera membuang nafas gusarnya. Berat harus menceritakan kisah kakaknya.


"Kasihan kakakku, gagal nikah berkali-kali. Orang selalu menuduhnya pembawa sial," jawab Vera.


"Pembawa sial kenapa?" tanya Gavin penasaran.