Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Silahkan Duluan



Tiga hari ini Gavin mencari kerja namun belum kunjung mendapatkan kerja. Dia memutuskan jalan kaki naik kendaraan umum bersama Dodo karena merasa mobilnya membuat dirinya dianggap orang kaya kurang serius ingin mencari pekerjaan. Sepanjang jalan Dodo mengikutinya. Bagai anjing setia yang terus menemaninya meskipun Gavin sudah berapa kali kentut namun Dodo tetap bersemangat makan ditambah aroma comberan dari gas yang ke luar dari bokong Gavin yang sedang stress.


"Om sepertinya harus jualan cireng atau jepit-jepitan, dari kemarin gak lolos terus," ucap Dodo.


"Gak tahu Do, apa mungkin karena Om gak sepinter kakak Om," jawab Gavin.


"Kenapa Om gak sekolah dulu biar pinter," ucap Dodo.


"Om sudah sekolah tapi absen doang, lulus karena bayar," ujar Gavin.


"Pantes Om gak keterima kerja, itu namanya ijazah bodong Om," gumam Dodo.


Gavin membuang nafas gusarnya. Memang benar apa yang dikatakan Dodo. Gara-gara menyia-nyiakan ilmu di bangku sekolah sekarang ijazah itu seakan hanya bayangan tanpa bakat dan pengetahuan.


"Om orang susah payah untuk sekolah, Dodo aja belum di sekolahin Bunda karena gak punya uang, harusnya Om bersyukur, tidak menyia-nyiakan apa yang Om punya," ujar Dodo.


"Iya Ndut, nanti kalau Om Gavin dah dapet kerja, Insya Allah Om anter masuk sekolah," sahut Gavin.


"Amin," sahut Dodo.


Kedua orang itu terus berjalan. Menuju perusahaan yang sedang ada lowongan kerja. Gavin dan Dodo masuk ke lobi perusahaan. Naik lift ke lantai dua tempat interview diadakan. Dodo duduk sambil makan camilan dan minum jus menunggu Gavin ikut mengantri masuk ke ruang interview. Kebetulan antrian cukup panjang. Gavin berdiri di antara orang-orang yang juga melamar kerja. Tiba-tiba orang di belakangnya menepuk bahu Gavin.


"Mas ... mas."


Gavin menengok ke belakang. Menatap cewek seksi aduhai di depannya. Mana kemejanya gak dikancingin full lagi. Belahan luber bikin mata Gavin tercemar limbah dosa. Ludah udah bolak balik ditelen tapi pemandangan itu nyata adanya.


"Pengen?"


"Apanya Mbak? Jangan bikin beda tujuan nih," sahut Gavin.


"Pengen duluan boleh gak? baik deh muaaah ...," ucap cewek seksi di belakangnya sambil mengedipkan mata genitnya. Menggigit ibu jarinya. Menggoda maksimal.


Tahu-tahu Dodo menghampiri Gavin. Dan berbisik padanya.


"Om godaan setan memang nikmat, lupakan tar kelewat," bisik Dodo.


Gavin masih bengong. Godaan di depan matanya itu seger tenan. Mulus dan montok.


"Om, siapa tahu implan, nyesel tar," bisik Dodo.


"Astagfirullah, silahkan Neng duluan," ucap Gavin mempersilahkan wanita seksi itu maju ke depannya.


"Makasih cinta, muaaah ...," ucap wanita seksi itu sambil kiss bye pada Gavin berjalan maju ke depan.


Gavin jadi di belakang cewek seksi itu. Ternyata cewek seksi itu melakukan hal yang sama pada cowok-cowok yang mengantri di depannya. Sedangkan Gavin masih mengantri panjang.


"Om kena tipu rayuan buah kelapa, menyesatkan dan membahayakan," bisik Dodo.


"Ladies first Ndut," jawab Gavin.


"Coba semua yang ngantri montok semua, Om Gavin di antrian paling belakang pasti," ujar Dodo.


Gavin tersenyum. Benar juga susah dihindari kalau cewek seksi meminta duluan. Tak lama cowok di belakangnya menepuk bahu Gavin.


"Mas."


Gavin menengok ke belakang. Menatap lelaki berkumis tipis dan berkulit hitam. Wajahnya terlihat sedang menahan sesuatu.


"Iya, ada apa Mas?" tanya Gavin.


"Mas boleh duluan saya udah kebelet ke toilet nih."


Dodo langsung berbisik di dekat Gavin.


"Om trik lama, pasti dia mau duluan kaya cewek seksi tadi," bisik Dodo.


Gavin terdiam. Dia sudah tobat. Rasanya berdosa jika membiarkan orang dalam kesulitan.


"Saya ini orang baik jadi akan mempersilahkan mas nya duluan," ucap Gavin.


"Makasih Mas, semoga kebaikan Mas dibalas Allah SWT."


Gavin mengangguk. Kemudian pindah ke belakang cowok itu. Namun ternyata cowok itu juga melakukan hal yang sama pada orang di depannya.


"Tuhkan Om kena tipu lagi, gak usah terlalu baik di medan perang Om, kita sulit membedakan mana kawan atau lawan," ucap Dodo.


"Gak papa, biarin aja," ucap Gavin. Berpikir positif.


Gavin masih mengantri dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk bahunya lagi.


"Mas."


Gavin menengok ke belakang. Menatap seorang ibu yang terlihat resah dan gelisah.


"Ada apa Bu?" tanya Gavin.


"Mas boleh duluan, anak saya di rumah sendirian."


"Om jangan ketipu lagi, pasti anaknya lagi main PS di rumah atau dititipin ke tukang odong-odong biar naik seharian," bisik Dodo.


Gavin memikirkan ucapan Dodo namun kasihan dengan nasib ibu itu. Tak tega jika itu benar adanya.


"Kasihan sekali anak ibu, baik silahkan duluan"ucap Ghatan.


Gavin pindah ke belakang ibu-ibu itu, ternyata ibu itu melakukan hal yang sama pada orang di depannya dan seterusnya.


"Nanti Om akan tolak mentah-mentah, gakkan tertipu," ujar Gavin.


Gavin masih mengantri dengan penuh semangat. Dari belakang seseorang kembali menepuknya.


"Mas."


Gavin menoleh ke belakang. Menatap lelaki yang masih memegang handphone di telinganya. Terlihat cemas dan bersedih.


"Ada apa Mas?" tanya Gavin.


"Mas maaf boleh duluan, istri saya sedang sakit, saya harus segera pulang."


"Om istri tetangganya bisa jadi, jangan termakan ucapan ngenesnya," bisik Dodo.


Gavin memikirkan ucapan bapak itu dan ucapan Dodo. Namun jiwa kemanusiaannya tinggi meski tadi kena tipu berkali-kali. Belum kapok juga.


"Harus cepat dibawa ke dokter tuh pak, baik silahkan bapak duluan," ucap Gavin mempersilahkan.


"Makasih Mas."


Gavin pindah ke belakang bapak itu, ternyata bapak itu melakukan hal yang sama pada orang-orang di depannya.


"Tuhkan Om, Dodo bilang apa? Persaingan kerja ketat, apapun akan dilakukan demi mendapatkan kerja," ujar Dodo.


"Tenang kali ini Om gakkan tertipu lagi," sanggah Gavin.


Gavin masih sabar menanti gilirannya interview. Dia mulai bosan, akhinya menggunakan headset untuk mendengarkan musik kesukaannya. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuknya.


"Mas ... mas ...," ucap Cowok dibelakangnya.


Gavin langsung berpikir orang itu pasti minta tukeran tempat, untuk depannya. Gavin langsung menoleh ke belakang. Menatap lelaki muda itu.


"Apalagi mas? masnya minta duluan karena pacarnya belum dijemput, bapaknya di rumah sakit, adiknya nelpon, atau ibunya minta diantar ke pasar?" tanya Gavin.


Dodo hanya mengacungi jempol dari tempat duduknya. Dia senang Gavin tegas pada orang di belakangnya.


"Bukan mas, itu nama mas Gavin Sebastian bukan?" tanya cowok di belakangnya.


"Iya, kok tahu?" tanya Gavin.


"Barusan dipanggil," ucap cowok di belakangnya.


"Oh dipanggil, makasih ya mas, maaf sudah salah faham," ucap Gavin.


Lelaki muda itu hanya mengangguk.


Akhirnya Gavin masuk ke dalam. Interview selama setengah jam. Kemudian ke luar dari ruangan itu. Dia membawa sebuah tas hitam menghampiri Dodo.


"Om tas apaan? Mau minggat?" tanya Dodo.


"Bukan, Om diterima kerja Do," jawab Gavin.


"Alhamdulillah, jadi Sekretaris Om atau Direktur?" tanya Dodo antusias.


"Jadi sales jamu dan obat tradisional," jawab Gavin.


"Sabar Om, berarti mesti keliling," ucap Dodo.


"Iya, mana banyak lagi, harus habis," ujar Gavin.


Dodo berdiri. Menyemangati Gavin agar tetap semangat apapun pekerjaannya. Meskipun jadi sales jamu dan obat tradisional.


***


Pak Harry sedang makan di sebuah private room di restoran langganannya. Dia makan sendirian tanpa ada siapapun teman yang menemaninya. Tiba-tiba suara handphone-nya berdering. Sebuah pesan dari Sekretaris Indra masuk ke handphone-nya. Pak Harry membuka pesan itu.


"[Bos, ada kabar dari Bandung]" pesan Indra.


Pak Herry mengetik ....


"[Kabar apa?]" pesan Pak Harry.


Send


Centang biru


Indra mengetik ...


"[Tuan Matteo sudah setuju bekerja sama dengan Alex]" pesan Indra.


Pak Harry mengetik ...


"[Temui Tuan Matteo kalau sudah di Jakarta. Berikan dia hadiah yang cantik dan mulus, pastikan masih perawan]" pesan Pak Harry.


Send


Centang biru


"[Oke Bos]" pesan Indra.


Pak Harry mengepal tangannya. Dia kalah satu step dari Alex. Tak menyangka Alex bisa membuat Tuan Matteo tertarik bekerjasama dengannya.


Pak Harry menyelesaikan makannya. Kemudian ke luar dari private room itu. Berjalan di lorong restoran. Tak sengaja berpapasan dengan Ibu Marisa. Keduanya saling bertatapan. Meskipun tatapan Pak Harry dingin. Sedangkan Ibu Marisa tampak terkejut.