Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Akhir Dari Cinta



Sore yang begitu cerah. Gavin sedang berjalan di tepi jalan sembari melepas penatnya. Mungkin saja sang waktu akan mempertemukannya dengan gadis bercadar itu. Gavin berjalan di tepi jembatan menikmati udara yang berhembus segar dan terasa menyejukkan. Dia berhenti saat melihat pelangi di atas langit. Dari atas jembatan itu semua pemandangan sungai berpadu pelangi di atasnya begitu indah. Gavin terdiam. Melihat ke depan.


"Andai aku bisa melihatnya bersama Humaira," ucap Gavin. Berharap bisa melihat pelangi itu bersama pujaan hatinya.


"Assalamu'alaikum," sapa Humaira.


Gavin melirik ke samping. Ternyata Humaira sedang membawa kue jualannya di dalam sebuah box berwarna bening.


"Wa'alaikumsallam," sahut Gavin.


"Kau baru pulang kerja?" tanya Humaira sambil menunduk.


"Iya, aku baru pulang Humaira," jawab Gavin.


Humaira berdiri di samping Gavin. Menatap langit biru yang cerah. Burung-burung berterbangan kembali ke sarangnya sebelum hari mulai gelap.


"Tadi kau jualan kue?" tanya Gavin.


"Iya, aku jualan saat pagi dan sore hari," jawab Humaira.


"Keliling ke mana aja?" tanya Gavin.


"Gak selalu sama, tergantung kaki melangkah," jawab Humaira.


Gavin menarik nafasnya. Menghembuskan perlahan. Dadanya terasa sesak. Meskipun pujaan hatinya ada di sampingnya, hati justru tersayat. Tak mampu mengobatinya sendiri.


"Kakekku akan menikahi nenekmu," ujar Gavin.


"Iya," sahut Humaira. Mereka berdua sudah tahu kisah cinta kakek dan neneknya yang begitu rumit dan berliku. Cinta mereka begitu romantis dan sejati.


"Aku dengar ayahmu anak kakekku," ujar Gavin.


"Iya, aku tahu," sahut Humaira.


"Berarti kita sepupu," ujar Gavin. Berat mengatakan kata sepupu tapi itu kenyataannya. Cinta mempertemukan mereka bukan untuk jadi pasangan tapi jadi saudara.


Humaira terdiam. Berusaha tegar dengan takdir yang terbentang, memisahkan cinta menjadi dua bagian yang tak bisa menyatu. Saling terpaut tapi tak bisa bersama. Hanya dua garis yang sejajar yang terus beriringan tanpa bermuara di satu titik yang sama.


"Hidup ini terkadang lucu, kita dipertemukan, cinta mulai tumbuh, tapi ternyata kita saudara," ujar Gavin.


"Terkadang cinta tak harus memiliki, mengikhlaskan itu satu-satunya cara untuk melangkah ke depan," sahut Humaira. Dia berusaha berpikir bijak meskipun gejolak di hatinya terus melonjak. Meminta pelepasan untuk meluapkan isi di dalamnya yang sudah penuh dengan rasa getir yang begitu menyayat hati.


Gavin mengangguk. Benar kata Humaira, kata yang bisa menjadi pelipur lara selain kata ikhlas yang menjadi kunci segalanya.


"Humaira, kemarin aku bermimpi bisa bersamamu sampai ke pelaminan," ujar Gavin.


Humaira hanya tersenyum menatap ke depan. Senyuman itu bukan senyuman suka cita melainkan senyuman haru.


"Tapi sekarang aku harus mengubur dalam-dalam mimpi itu," ucap Gavin.


"Gavin, kau percaya jodoh?" tanya Humaira.


Gavin mengangguk.


"Kalau memang kita ditakdirkan berjodoh, apapun yang terjadi pasti kita akan bersama pada akhirnya," jawab Humaira.


"Humaira, aku sudah ikhlas melepasmu dari hatiku," ujar Gavin.


Humaira mengangguk.


"Ada satu hal yang ku minta," ujar Gavin.


"Apa?" tanya Humaira.


"Apa kau mencintaiku? Aku ingin tahu," jawab Gavin.


Humaira terdiam. Menunduk. Jauh direlung hatinya nama Gavin terukir di sana. Namun bukan berarti Humaira akan melakukan apapun demi cinta. Karena cinta yang sejati hanya cinta pada Allah SWT.


"Gavin aku pulang dulu, assalamu'alaikum," ucap Humaira.


"Wa'alaikumsallam," sahut Gavin.


Humaira berjalan meninggalkan Gavin. Baru beberapa langkah Gavin berbicara padanya.


"Humaira jangan buat aku pergi dengan penasaran," ujar Gavin.


Humaira berhenti. Menengok ke samping.


"Aku juga mencintaimu, selamat tinggal Gavin," sahut Humaira. Dia kembali berjalan ke depan. Meninggalkan Gavin tak menengok lagi ke belakang. Mulai hari ini Humaira akan melupakan cintanya.


Mata Gavin berkaca-kaca. Menatap ke depan. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


"Humaira!" teriak Gavin. Tangannya masih memegang tas kerjanya. Rasa lelah yang tadi tak terasa lagi, karena rasa sakit di hatinya jauh lebih besar.


Gavin berjalan ke depan. Kakinya mendekati pembatas jembatan. Menatap luasnya hamparan sungai. Tapi tak mampu menutupi luka di hatinya.


Tiba-tiba ada seorang gadis berlari ke arah Gavin. Memeluknya dari belakang. Gavin terkejut. Tas di tangannya jatuh ke sungai.


Byuuur ...


"Hei kau!" teriak Gavin sambil berusaha melepas tangan gadis di belakangnya.


"Mas kalau mau bunuh diri asuransikan dulu biar tak rugi," ucap gadis itu.


"Apa? Asuransikan? Kau gila?" ujar Gavin.


"Gila? Saya waras kok, Masnya mau bunuh dirikan?" tanya gadis itu.


"I-iya," sahut gadis itu. Dia melepas pelukannya.


Gavin berbalik. Menatapnya tajam. Dia kesal sekali pada gadis di depannya. Gadis seksi mengenakan kemeja yang kancingnya tak terutup full dan rok pendek yang memajang paha mulusnya. Rambutnya panjang berwarna merah. Terlihat genit dan menggoda.


"Kau! lain kali jangan asal tuduh, siapa yang mau bunuh diri juga?" ujar Gavin marah.


"Maaf aku pikir mau bunuh diri, sayangkan mati tanpa meninggalkan asuransi," sahut gadis itu.


"Memang apa urusannya dengan asuransi?" tanya Gavin.


"Kenalkan, aku Vera Bianka sales asuransi Sejahtera, anda bisa meninggal dengan senyuman yang lebar karena meninggalkan asuransi kematian yang bisa diwariskan," terang Vera.


"Oh, jadi kau tadi mencegahku mati cuma untuk promosi asuransimu?" tanya Gavin.


"Tidak juga, tapi lebih baik Masnya mati karena tertabrak mobil, terlindas kereta api, tenggelam di kapal, atau kecelakaan mengenaskan lainnya," jawab Vera.


"Kau tahu orang patah hati emosinya sangat tinggi?" tanya Gavin.


"Oh, kalau gitu saya tawarkan agen perjodohan Si Cepat Kilat, satu pertemuan langsung gaspol tanpa ada polisi tidur yang menganggu, dijamin puas," ujar Vera.


"Hei kau itu sales asuransi atau agen perjodohan?" tanya Gavin.


"Semua juga bisa, mau beli CD atau BH juga ada, mau ukuran apa?" tanya Vera.


"Astaga makhluk apa ini? muncul dari mana? kenapa mendarat di sini?" Gavin bingung. Tepok jidat.


"Gimana Mas? mau asuransi gak? Biar saya urus sekalian pemakaman Mas, kalau ada wasiat yang ingin dikatakan silahkan, saya bisa pesankan ke tukar ukir biar wasiatnya lebih paten dan indah," ujar Vera.


Gavin geleng-geleng melihat Vera si sales asuransi, agen perjodohan, merangkap pula jualan CD dan BH. Plus kenal juga tukang ukir wasiat biar bisa diabadikan.


"Mas gimana? Tertarik yang mana? Asuransi, agen perjodohan atau mau beli BH dan CD?" tanya Vera.


"Pergilah!" titah Gavin.


"Tapi?"


"Pergilah!" bentak Gavin.


"I-iya, tapi itu tasnya jatuh ke sungai," jawab Vera.


"Astaghfirullah tasku jatuh lagi, mana ada uang cas 50 juta," ujar Gavin.


"50 juta?" Vera terkejut. Dia langsung naik ke pagar pembatas jembatan. Melompat ke bawah.


Byuuur ...


Vera terjatuh ke dalam sungai.


"Cewek bodoh, ngapain?" tanya Gavin dari atas.


"50 juta duit Mas, sayang bisa buat daftar asuransi, tar Masnya mati belum punya asuransi loh," jawab Vera.


Akhirnya mau tak mau Gavin ikut menceburkan dirinya ke sungai.


Byuuur ...


"Jangan buka mulut, sungainya kotor, tuh ada bangkai tikus," ujar Vera.


Hoooeek ... hoooeek ... hoooeek ...


Gavin muntah, tadi meneguk air sungai beberapa kali.


"Kau minum berapa teguk? Jangan mati dulu, belum punya asuransi," ujar Vera.


"Aku mati aja deh sekarang, stress aku ketemu kamu Vera," sahut Gavin.


Vera tertawa. Kemudian berenang mencari tas milik Gavin. Dia berenang ke sana sini. Sampai menemukan tas Gavin.


"Mas nih tasnya," ujar Vera.


Gavin hanya mengangguk. Kemudian mereka berenang menepi. Duduk di tepi sungai.


"Nih tasmu," ucap Vera. Memberikan tas milik Gavin.


"Makasih, aku mau daftar asuransi deh," sahut Gavin.


"Akhirnya dapet juga klien," ucap Vera senang.


Gavin hanya tersenyum. Terpaksa mendaftar asuransi dari pada terus diceramahi Vera tentang kematian. Dari yang ditabrak mobil, dilindas kereta api atau tenggelam di kapal.


***


Malam itu Pak Harry baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Dia ke luar dari ruangannya. Masuk ke dalam lift. Berjalan ke luar dari perusahaan. Naik ke dalam mobilnya. Segera supir menyetir mobil meninggalkan tempat itu. Melaju di jalan raya yang sudah sepi karena sang waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam. Semua orang sudah bermanja dengan bantal dan guling. Memasuki alam mimpi. Sedangkan Pak Harry baru saja pulang bekerja.


Tiba-tiba saat mobil melewati jalanan yang sepi, ada seseorang berdiri di tengah jalan memegang palu besar. Dia mengenakan pakaian hitam dan penutup kepala berupa kain hitam. Hanya matanya yang terlihat. Orang itu menatap ke depan.


"Tuan, ada orang yang menghalangi jalan kita," ucap supir.


Pak Harry yang tadi asyik melihat handphone-nya, beralih menatap ke depan. Dia melihat bahaya sedang mengintainya.


"Tabrak Pak!" titah Pak Harry.


"Tapi Tuan?" tanya supir ragu.


"Tabrak!" titah Pak Harry dengan suara lebih keras. Dia tidak tahu tujuan orang itu. Lebih baik menyelamatkan diri. Orang itu pasti punya niat tidak baik.