
Tuan Matteo mencari Claudya ke sana ke mari. Mengerahkan semua anak buahnya dan beberapa orang bayarannya. Dia juga menghubungi Keluarga Sebastian tentang hilangnya Claudya. Tuan Matteo duduk di meja kerjanya dengan putus asa.
"Ke mana Luki membawa Claudya?" ucap Tuan Matteo kebingungan. Dia memikirkan Claudya. Luki pasti membawa pujaan hatinya pergi entah ke mana. Tak ada petunjuk apapun. Handphone miliknya yang dibawa Luki tidak aktif begitupun dengan handphone milik Claudya.
Tuan Matteo berdiri. Memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Memijat pelipisnya. Karena beban di kepalanya memenuhi pikirannya. Dia sangat mengkhawatirkan Claudya.
"Luki pasti nekad, kemarin saja dia hampir membunuhku, mungkin saja itu ditujukan untuk Claudya," ucap Tuan Matteo.
Dia menurunkan tangannya. Berjalan beberapa langkah. Berdiri di depan dinding yang ada foto dirinya. Dia mengeluarkan handphone di sakunya. Handphone baru yang baru saja dibelinya. Menelpon anak buahnya.
"Hallo Bos."
"Gimana hasil pencarian kalian?" tanya Tuan Matteo.
"Masih nihil Bos."
"Aku sudah membayar kalian mahal. Temukan mereka secepatnya!" pekik Tuan Matteo marah.
"Iya Bos."
Tuan Matteo mematikan pembicaraan itu. Sampai membanting handphone-nya.
Praaak ...
Handphone itu terjatuh di lantai. Untung handphone mahal saat terbanting tetap dalam keadaan utuh. Tidak kocar-kacir.
"Luki!" teriak Tuan Matteo. Dia mengacak rambutnya dengan tangan kanannya. Kemudian memukul dinding di depannya. Melampiaskan amarahnya sampai kedua tangannya terluka. Untung saja suara handphone itu menghentikan apa yang dilakukannya.
Tuan Matteo mengambil handphone miliknya. Dia melihat layar handphone-nya. Sebuah panggilan dari Alex. Tuan Matteo langsung mengangkat telponnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Alex.
"Wa'alaikumsallam," sahut Tuan Matteo.
"Bagaimana, apa Tuan Matteo sudah mendapatkan kabar di mana keberadaan Claudya?" tanya Alex.
"Belum, aku sudah mengerahkan anak buah dan orang bayaranku, tapi belum satupun memberi kabar," jawab Tuan Matteo.
"Bagaimana kalau kita cari bersama? Aku mau mencari di sekitaran kota Jakarta, mungkin saja Claudya di sekap di sebuah tempat," ujar Alex.
Tuan Matteo berpikir sejenak dengan ajakan Alex.
"Oke," sahut Tuan Matteo.
"Bagaimana kalau kita bertemu di depan Cafe Rocian?" tanya Alex.
"Oke," sahut Tuan Matteo.
Alex mematikan panggilan telponnya. Dia memasukkan handphone ke saku kemejanya. Bangun dari sofa. Berjalan menuju cermin lemari di kamarnya. Dia menyisir rambutnya. Mengenakan jaket berwarna hitam. Tiba-tiba Sophia masuk ke dalam kamar. Membawa susu hangat di tangannya. Menghampiri Alex.
"Mas mau nyari Claudya lagi?" tanya Sophia.
Alex menoleh ke arah Sophia di sampingnya. Mengambil susu di tangan Sophia. Mencium pipi kemerahannya.
"Iya sayang, dari tadi pagi Claudya pergi belum kembali dan tak ada kabar," sahut Alex.
"Ya Allah, sudah jam segini Claudya belum kembali dan tak ada kabar, aku jadi khawatir Mas," ujar Sophia
Alex mengelus pipi Sophia. Tersenyum tipis padanya.
"Doakan saja ya sayang, biar aku yang mencarinya," ucap Alex.
"Iya Mas pasti," sahut Sophia.
Alex tersenyum.
"Minum susunya dulu Mas!" titah Sophia.
"Iya dong sayang, susu ini penyemangatku tiap malam," sahut Alex. Lalu meminum susu di tangannya sampai habis. Susu buatan Sophia memang susu yang spesial untuk Alex, karena dibuat dengan cinta dan didoakan dengan sepenuh hati.
"Makasih sayang, I Love You," ucap Alex.
"I Love You Too Mas," sahut Sophia.
Alex meletakkan gelas di atas laci. Menghampiri Sophia kembali. Membungkuk, mencium perut Sophia.
"Mas geli, udah tumbuh kumis ya," ucap Sophia.
"Iya, habis biar kaya bapak-bapak, kan mau punya anak sayang," sahut Alex.
Sophia mengelus kepala Alex. Tersenyum manis padanya.
"Tetep ganteng kok," ucap Sophia.
"Iya dong, seksi punya kumis tipis, kau sukakan?" tanya Alex.
Sophia mengangguk.
"Dede, Papa mau mencari Tante Claudya dulu, tar ketemu Papa lagi ya," ucap Alex pada janin di rahim Sophia.
"Semoga Tante Claudya cepet ketemu ya, Dede yang anteng di perut Mama," ucap Alex seolah anaknya mendengarkan ucapannya.
"Mas hati-hati di jalan, jangan ngebut, tetap fokus," ucap Sophia.
"Iya sayang," sahut Alex. Dia berdiri. Menatap pemilik mata emerald di depannya.
"Aku berangkat dulu ya sayang," pamit Alex.
"Iya Mas," sahut Sophia. Meraih tangan Alex, menciumnya. Dibalas Alex dengan mencium bibir merah delima itu. Kemudian Alex ke luar dari kamarnya. Berjalan ke lantai bawah. Ke luar dari rumah. Masuk ke mobil Lamborghini berwarna hitam miliknya. Dia mengendarai mobilnya ke luar dari rumah Keluarga Wijaksana.
***
"Gendut kau sedang apa? Berdoa kok lama banget, berapa lembar doamu?" tanya Gavin.
"Om berdoalah yang banyak biar cepat di ACC," sahut Dodo.
"Memang kenapa?" tanya Gavin.
"Ya kaya kita mengirim banyak surat lamaran kerja, pasti ada satu yang keterima, begitupun dengan doa Dodo, semoga dari sekian ratus yang Dodo ucapkan, ada satu yang dikabulkan," sahut Dodo.
Gavin mengangguk. Mulai paham maksud Dodo.
"Doamu ratusan? Doa apa aja?" tanya Gavin.
"Semoga Tante Claudya cepat ditemukan sampai lima ratus lima puluh lima kali," jawab Dodo.
"Gak pegel tuh mulut?" tanya Gavin.
"Pegel Om, makanya Dodo sedia makanan dan minuman saat jam istirahat," jawab Dodo.
"Berdoa ada jam istirahatnya juga?" ujar Gavin.
"Adalah Om, Dodokan berdoa selama tiga jam ini," sahut Dodo.
"Ada orang berdoa sampai tiga jam," sahut Gavin.
"Adalah, Om mau pesen doa juga, biar Dodo bergadang besokkan libur sekolah," ujar Dodo.
Gavin menggeleng. Ada aja kelakuan anak angkatnya. Tapi Dodo memang anak sholeh rajin sholat dan mengaji. Itu sebabnya Gavin bangga padanya.
***
Di hutan Claudya berbaring. Hawa dingin dan suara serigala mengaung membuatnya terbangun. Melihat ke sekeliling. Gelap gulita. Apalagi api unggunnya sudah mati. Suara-suara aneh terdengar silih berganti membuatnya takut. Claudya meraba-raba, mencari keberadaan Luki.
"Di mana Luki? Gelap sekali," ucap Claudya. Dia merangkak mencari keberadaan Luki. Sampai tangannya menyentuh sesuatu.
"Astaga aku pegang apa?" Claudya terkejut.
"Besar sekali, astagfirullah," ucap Claudya buru-buru melepas tangannya.
"Hei kau! Mesumkan?" ujar Luki terbangun.
"Aku tak sengaja memegangnya, gelap sekali, aku tak bisa melihat apapun," sahut Claudya.
"Tapi kenapa mesti itu yang kau pegang?" tanya Luki kesal.
"Aku bilang gak sengaja," sahut Claudya.
Luki terdiam. Kesal pada Claudya. Namun Claudya berusaha mendekatinya.
"Luki aku takut, gelap sekali," ucap Claudya.
"Jangan dekat-dekat!" titah Luki.
"Iya, lagian aku juga gak mau tuh dekat orang jahat sepertimu," sahut Claudya.
"Tidurlah! aku ngantuk," ucap Luki.
"Luki aku tidak bisa tidur, kau dengar suara-suara itu, aku takut," ucap Claudya.
"Itu paling suara jangkrik atau anjing liar," sahut Luki.
"Gimana kalau suara hantu?" tanya Claudya.
Tiba-tiba ada tangan merayap di pundak Claudya.
"Han-han-hantu ..., Luki!" teriak Claudya. Ketakutan.
Luki tertawa puas mendengar Claudya berteriak ketakutan.
"Luki kau mengerjaiku?" tanya Claudya.
"Kau takut hantu? Biasanya di hutan seperti ini banyak hantu," ucap Luki.
"Luki!" pekik Claudya. Dia semakin mendekati Luki.
"Penakut," ucap Luki.
"Biarin," sahut Claudya. Dia tak peduli dibilang penakut. Dia memang benar-benar takut. Bagaimana tidak, hutan gelap, banyak suara-suara aneh dan angin yang hilir mudik.
"Ini hutan, gelap lagi, gimana kalau ada hewan buas?" keluh Claudya.
"Tinggal jadikan kau santapan hewan buas itu," sahut Luki.
"Jahat!" ucap Claudya. Dia kesal Luki selalu ingin dia celaka. Tak bisa baik sedikit padanya.
"Aku ngantuk, tidurlah di sana!" titah Luki.
"Aku tidur di dekatmu ya? aku takut," pinta Claudya.
"Terserah," sahut Luki. Kembali berbaring. Dia membelakangi Claudya. Sedangkan Claudya mulai berbaring kembali. Tidur di samping Luki. Dia takut jauh darinya. Bisa saja hewan buas atau apapun datang menghampirinya.
Suara burung bersiul. Matahari mulai terbit. Hangat sinarnya menghangatkan udara di dalam hutan. Memberi cahaya yang menerangi semua bagian. Titik-titik embun menetes dari dedaunan. Sejuknya alam terbuka membuat udara yang dihirup terasa segar. Luki perlahan membuka matanya. Merasa dadanya berat. Tubuhnya terasa ada yang menempel. Luki membuka matanya lebar-lebar. Terkejut mendapati Claudya memeluknya. Tangannya ada di dada Luki.
"Astaga, kenapa dia memelukku?" ucap Luki. Dia memperhatikan Claudya yang masih memejamkan matanya. Terlihat nyaman memeluknya.
"Sial, kenapa rasanya enak?" gumam Luki merasakan sensasi hangat saat Claudya memeluknya. Terasa nyaman dan empuk.
"