
Dokter Leon duduk di kursi bersama Erisa. Dia memberikan es krim yang dibawanya pada gadis cantik yang duduk di sampingnya. Ini pertama kali untuk Dokter Leon berani terang-terangan mendekati seorang gadis.
"Biar ku bantu?" Dokter Leon melihat Erisa kesulitan membuka bungkus es krimnya.
"Gak usah, tanganku bisa membuka bungkus tanpa merobek bungkusnya," jawab Erisa.
"Kalau soal itu aku tidak meragukannya. Tanganmu juga sudah mengambil dompetku tanpa ku sadari," sahut Dokter Leon.
Erisa tersenyum. Tak disangka Dokter Leon masih ingat itu. Dia memang pandai mengambil dompet tanpa disadari si pemiliknya.
"Kau suka es krim?" tanya Dokter Leon. Dia ingin lebih dekat dengan gadis cantik yang baru saja mengusik hatinya.
"Suka, cuma jarang membelinya," jawab Erisa.
"Kenapa?" tanya Dokter Leon.
"Karena aku tak punya uang," jawab Erisa jujur. Dia memang tak punya cukup uang untuk membeli sesuatu yang dia suka. Bisa membeli makan itu sudah cukup.
"Bukannya kau pencopet sejahtera?" ujar Dokter Leon.
"Semua uangku untuk membayar pengobatan kakekku," jawab Erisa. Raut wajahnya berubah sendu. Dia teringat kakeknya.
"Jadi selama ini mencopet untuk pengobatan kakekmu?" tanya Dokter Leon dengan suara pelan.
Erisa mengangguk.
"Hasil kerjaku tak cukup untuk membiayai biaya rumah sakit kakek. Mau tak mau aku melakukan pekerjaan itu," jawab Erisa. Dia sudah bekerja serabutan tapi hasil kerjanya tak cukup untuk memenuhi biaya rumah sakit kakeknya.
Dokter Leon terdiam. Mungkin gadis cantik itu sebenarnya baik tapi dia terjepit oleh keadaan. Mau tak mau mencopet.
"Sebelumnya aku ingin jual diri, tapi pekerjaan itu terlalu beresiko, aku takut. Jadi aku memilih pekerjaan kotor yang sekarang. Aku tahu itu sama saja berdosa. Tapi aku tidak sanggup membayarnya," ujar Erisa. Sebelum jadi pencopet untuk sampingan, dia pernah hampir menjual dirinya tapi tidak jadi.
"Erisa jangan mencopet lagi, apalagi menjual diri. Lebih baik jadi istriku. Aku akan memenuhi kebutuhanmu," ujar Dokter Leon.
Erisa terperanjat mendengar pernyataan Dokter Leon.
"Leon jangan bercanda?" Erisa tersenyum. Dia pikir Dokter Leon hanya kasihan padanya.
"Aku tidak bercanda, aku sudah jatuh hati padamu, kau sudah mencopet hatiku saat mencopet dompetku," jawab Dokter Leon.
Erisa tertawa kecil. Ada orang dicopet malah jatuh hati pada pencopetnya.
Melihat gadis cantik itu tertawa, Dokter Leon mendekati wajahnya.
"Apa dia mau menciumku? Aduh jantungku mau meledak rasanya," batin Erisa tak karuan. Dia sudah berpikir jauh ke depan.
Wajah Dokter Leon semakin mendekat, Erisa juga sudah siap dicium tapi ternyata Dokter Leon hanya menggigit es krim yang ada di tangan Erisa.
"Rasanya manis dan segar es krim milikmu." Dokter Leon mengunyah es krim di mulutnya.
Erisa membuka mata. Dia sudah salah paham. Dikira Dokter Leon akan menciumnya ternyata menggigit es krim di tangannya. Erisa tersenyum meringis.
"Malu banget, udah berpikir kejauhan. Ternyata gigit es krim toh," batin Erisa. Udah berpikir dapat ciuman ternyata es krim yang dapat ciuman pertama Dokter Leon.
"Kok es krimnya dicuekin? Tapi aku jangan dicuekin ya?" ujar Dokter Leon. Bergombal ria padahal sepanjang jadi Dokter kaku banget.
"Dasar Dokter gombal," jawab Erisa. Kemudian memakan es krim miliknya.
Dokter Leon tersenyum. Dia senang menggombali gadis cantik yang duduk di sampingnya.
"Jalan-jalan di taman seperti seru sore-sore gini, kau mau tidak?" tanya Dokter Leon.
"Iya, kencan pertama, berarti kita jadian ya?" tanya Dokter Leon. Dia merasa sudah jadi kekasih gadis cantik itu.
"Masih ditinjau ya, belum tentu aku mau," jawab Erisa.
"Oke aku akan terus mengejar dan membuktikan kalau aku jatuh hati padamu," sahut Dokter Leon. Tak malu lagi mengatakan cinta.
"Oke, lihat saja Dokter tampan bisa tidak menaklukkan hati pencopet cantik ini," jawab Erisa.
Mereka berdua pun tersenyum bersamaan. Kemudian memakan es krim miliknya. Mereka begitu menikmati es krim itu sambil melihat pemandangan di luar bus.
Tak lama bus berhenti di halte. Dokter Leon dan Erisa turun bersama. Mereka berjalan di tepi jalan menuju taman yang tak jauh dari jalan raya. Mereka berjalan sambil berbincang-bincang santai.
"Sejak bertemu aku belum tahu nama aslimu siapa?" ujar Dokter Leon.
Erisa tertawa kecil sambil menutup mulutnya.
"Kok malah tertawa?" tambah Dokter Leon. Dia bertanya nama gadis cantik itu malah tertawa.
"Namaku Erisa Harold," jawab Erisa memperkenalkan dirinya untuk yang pertama kali.
"Erisa Harold? Apa kau anaknya Harry Harold?" tanya Dokter Leon. Dia mengenal Keluarga Harold. Termasuk hubungannya dengan Keluarga Sebastian.
"Iya, aku anaknya Papa Harry. Aku memiliki tiga saudara. Alex Sebastian, Humaira Az Zahra dan Ezar Fauzan," jawab Erisa. Menjelaskan silsilah Keluarga Harold.
"Erisa adik iparnya Sophia, wanita yang pernah ada di hatiku begitu lama," batin Dokter Leon. Dia teringat cintanya untuk Sophia yang akhirnya kandas karena Sophia memilih menikahi Alex Sebastian.
"Hei, kenapa? Kok bengong?" tanya Erisa melihat Dokter Leon yang terdiam. Dia terlihat memikirkan sesuatu.
"Tidak apa-apa?" jawab Dokter Leon. Meski masa lalu terkadang masih sedikit sakit saat mengingat cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Pasti lagi mikirin Kak Sophia ya?" tanya Erisa.
"Kok tahu?" tanya Dokter Leon balik. Dia tidak pernah menceritakan perasaan pada Sophia kecuali pada ibunya.
"Ada foto Kak Sophia di dompetmu," jawab Erisa. Dia pernah melihat isi dompet Dokter Leon saat mencopet dompet itu. Ada foto Sophia di dalamnya.
"Iya kau benar. Aku pernah mencintai Sophia sangat lama. Cinta itu hanya ku simpan rapat-rapat sampai terlambat mengungkapkannya," sahut Dokter Leon. Dia belum sempat mengungkapkan perasaannya pada Sophia tapi dia sudah pergi.
"Cincin ini untuk Sophia juga?" tanya Erisa sambil menunjukkan cincin di jari manisnya. Kepo ingin tahu siapa pemilik cincin cantik itu.
Dokter Leon menatap cincin di tangan Erisa. Cincin untuk Sophia yang selalu disimpan olehnya.
"Iya, itu cincin untuk Sophia. Sudah lama aku membelinya, aku pikir suatu saat nanti akan menyematkan cincin itu di jari manis Sophia tapi ternyata kita tidak berjodoh," jawab Dokter Leon. Wajahnya tampak sendu saat menatap cincin di jari manis Erisa.
"Kalau begitu ini jadi milikku ya, sekarangkan hatimu untukku," sahut Erisa dengan percaya diri. Lagi pula dia sudah terlanjur menyukai cincin itu.
"Berarti kau mau jadi milikku?" tanya Dokter Leon.
"Mungkin, kita lihat saja nanti," jawab Erisa. Dia tidak ingin dengan mudah menerima Dokter Leon. Apalagi dia baru patah hati.
"Benar-benar tidak mau rugi," keluh Dokter Leon.
"Iya dong, kau harus benar-benar mencintaiku, lagi pula kita berbeda keyakinan. Apa mungkin bisa bersama?" sahut Erisa. Ada perbedaan keyakinan yang tidak mungkin bersatu jika tetap di jalan yang berbeda.
Dokter Leon langsung terdiam. Apa yang dikatakan Erisa benar. Mereka memiliki perbedaan yang sangat besar. Jalan yang tak mungkin disatukan.
"Aku tidak ingin mencintai sesuatu yang mustahil, aku takut patah hati nantinya," ujar Erisa. Lebih baik sakit diawal dari pada sakit di kemudian hari.