Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Lelaki Misterius



Tuan Matteo-Claudya masuk ke ruangan bayi. Tadinya Luki-Humaira juga ingin masuk tapi sesuai prosedur tidak diperbolehkan terlalu banyak orang masuk ke dalam ruangan bayi. Mau tak mau harus bergiliran. Tuan Matteo-Claudya berjalan menghampiri bayinya Sophia. Di ranjang bayi sudah ada nama bayinya.


"Sayang ini bayi Kak Sophia, namanya Arfan Fahreza Sebastian," kata Claudya menunjukkan nama bayi Sophia.


"Iya sayang," sahut Tuan Matteo menghampiri Claudya. Berdiri di sampingnya. Melihat bayi laki-laki yang berbaring dengan nyamannya.


"Masya Allah tampannya kaya Kak Alex," celetuk Claudya melihat Arfan yang tampan dan mirip Alex dari segi ketampanannya.


"Iya ya, masa mirip tetangga gak mungkin juga, apalagi mirip Dodo, jangan sampe," sahut Tuan Matteo.


"Sayang, ada-ada aja sih," kata Claudya menepuk pelan lengan suaminya sambil tertawa kecil karena candaaannya.


"Aku adzanin dulu sayang ya?" ujar Tuan Matteo.


Claudya mengangguk. Membiarkan suaminya mau mengadzani Arfan.


Tuan Matteo meraih tubuh Arfan, dia sedikit gugup karena ini pertama kali mau menggendong bayi.


"Sayang bisa gak? Pelan-pelan," kata Claudya panik melihat Tuan Matteo yang kesulitan menggendong Arfan. Untungnya Claudya cepat tanggap. Segera membantu Tuan Matteo menggendong Arfan.


"Sayang jadi pengen punya sendiri," ucap Tuan Matteo menggendong Arfan.


"Amin, semoga Allah mengijabahnya sayang," sahut Claudya sambil mencolek-colek Arfan yang masih asyik tidur.


"Pelan-pelan sayang, pipinya masih lembut tar merah," kata Tuan Matteo memperingatkan istrinya agar dengan kelembutan menyentuh Arfan.


"Iya sayang," sahut Claudya. Dia mencium Arfan. Gemas dengannya.


"Wangi bayi," ujar Claudya. Terpesona dengan harum tubuh Arfan.


"Iya, aku yang menggendongnya juga mencium harum bayi dari tadi," sahut Tuan Matteo. Dia juga mencium harum yang sama dengan harum yang tercium indera penciuman Claudya.


"Ayo sayang adzanin!" pinta Claudya. Dia ingin segera suaminya mengadzani Arfan.


Tuan Matteo mengangguk. Memposisikan wajahnya di dekat telinga Arfan.


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 2×


Asyhadu allaa illaaha illallaah 2×


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah 2×


Hayya 'alashshalaah 2×


Hayya 'alafalaah 2×


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 2×


Laa ilaaha illallaah 2×."


Tuan Matteo mengadzani Arfan. Suaranya merdu hingga Arfan nyaman dan tenang mendengarnya.


"Masya Allah sayang merdu sekali suaramu saat adzan, berbeda saat membaca puisi," ujar Claudya yang teringat momen saat Tuan Matteo membaca puisi di panggung.


"Mungkin kecemprenganku tobat saat mengumandankan adzan," sahut Tuan Matteo. Berpikir suara cemprengnya taubat nasuha saat adzan. Beda saat baca puisi suara cemprengnya maksiat.


Claudya tertawa kecil ditutupi tangannya biar tidak berisik karena mereka berada di ruangan bayi.


Tuan Matteo memperhatikan Arfan. Mencium keningnya.


"Semoga kelak kau menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Menyayangi semua keluargamu dan menjadi orang yang baik," ujar Tuan Matteo.


"Amin," sahut Claudya.


Tuan Matteo membaringkan Arfan kembali di ranjang bayi.


"Seandainya Kak Alex ada di sini, dia pasti senang sekali melihat Arfan, mereka mirip," ujar Claudya. Matanya kembali berkaca-kaca. Perih rasanya mengingat kakaknya yang entah di mana. Apa masih hidup atau sudah meninggal.


Tuan Matteo merangkul Claudya. Mengelus lengannya.


"Semoga Kak Alex cepat kembali dan Sophia secepatnya sadar, agar mereka bisa merawat dan membesarkan Arfan," kata Tuan Matteo.


"Amin," sahut Claudya. Berharap agar doa-doa mereka semua diijabah Allah SWT.


"Ayo ke luar, gak boleh lama-lama tuh," kata Tuan Matteo.


Claudya mengangguk.


Mereka berdua meninggalkan ruangan bayi. Bukan hanya Tuan Matteo-Claudya yang ingin Alex kembali dan Sophia segera sadar tapi seluruh Keluarga Sebastian, Keluarga Harold, dan Keluarga Wijaksana.


***


Satu tahun berlalu. Sophia masih berbaring di ruang ICU. Pagi itu Aiko dan Dokter Leon masuk ke ruang ICU menjenguk Sophia yang masih berbaring koma. Aiko duduk di kursi yang berasa di samping ranjang. Sedangkan Dokter Leon berdiri di sampingnya.


"Sophia segeralah sadar! Arfan sudah satu tahun. Akhir pekan ini ulang tahunnya mau dirayakan," ucap Aiko. Melihat Sophia yang masih berbaring koma.


"Sophia aku tahu kau bisa mendengar kami, Arfan sangat membutuhkan kehadiranmu," tambah Dokter Leon.


Aiko mengambil tangan Sophia. Memegang tangan itu.


"Dokter apa Sophia akan sadar? Sudah satu tahun kenapa dia belum sadar juga?" tanya Aiko. Dia mengkhawatirkan kondisi Sophia.


"Aku tidak tahu, kondisi Sophia masih sama seperti sebelumnya. Dia masih bertahan karena alat bantu hidup ini," sahut Dokter Leon.


"Seandainya Bos Alex kembali mungkin Sophia akan sadar, dia pasti menunggunya," kata Aiko. Matanya mulai berurai air mata. Dia sahabat Sophia tapi bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan Sophia.


"Sophia aku mau jadi muallaf, aku ingin kau yang menyaksikan aku bersahadat," ujar Aiko. Air matanya menetes di pipinya. Terjun bebas membasahi kedua pipi kemerahannya.


Dokter Leon terdiam. Dia juga merasakan hal yang sama dengan Aiko. Ingin Sophia segera sadar.


"Sophia, anakmu sudah bisa berjalan dan mengoceh. Dia bisa memanggilmu Mama," ujar Aiko. Dia terus menangis sambil berbicara.


Mata Dokter Leon berkaca-kaca. Dia tak tega ketika mendengar perkembangan Arfan.


"Aku rindu bekerja denganmu lagi," ucap Aiko.


"Perkebunan mau panen Sophia, kau paling suka saat musim panenkan?" ungkap Aiko.


Dokter Leon memegang bahu Aiko. Dia tahu Aiko begitu merindukan Sophia. Sedangkan Aiko hanya menangis. Tak kuasa menahan kesedihannya.


***


Arfan sedang berjalan dengan lucunya mengelilingi ruang keluarga ditemani Claudya yang sedang bersantai sore bersama Kakek David, Nenek Carroline, Pak Ferdi dan Ibu Marisa. Gavin dan Maria sudah tak tinggal di rumah Keluarga Sebastian. Mereka sudah punya rumah sendiri. Kini Perusahaan milik Keluarga Sebastian dipimpin Gavin untuk sementara waktu.


"Arfan sini ke Oma!" panggil Ibu Marisa sambil membuka kedua tangannya.


"Omua ... Omua ...." Arfan berjalan perlahan sambil tersenyum riang ke arah Ibu Marisa.


"Sini Ma Oma buyut aja!" pinta Nenek Carroline yang juga membuka kedua tangannya.


"Omua uyyut ... Omua uyyut ..." Suara Arfan berjalan ke arah Nenek Carroline. Dia galau mau ke Ibu Marisa atau ke Nenek Carroline.


"Nah lo Arfan bingung Nek," ucap Kakek David.


"Iya, galau, mending ke Opa, Arfan," kata Pak Ferdi sambil mengeluarkan permen lolipop dari kantung kemejanya. Kebetulan Arfan suka permen lolipop buat mukul televisi. Atau buat nabuh gendang yang sengaja dibeli Tuan Matteo untuk ponakannya. Paling panter buat mancing Dodo.


Arfan berjalan ke arah Pak Ferdi. Meski masih kecil pemikiran politiknya sudah jalan. Siapa yang bermodal dialah yang akan dihampirinya.


"Oupa ... Oupa ..." Arfan berjalan perlahan ke arah Pak Ferdi. Kemudian Pak Ferdi mengangkat tubuhnya. Memangkunya di pahanya. Arfan sibuk dengan permen lolipop berwarna-warni itu.


"Ayah jangan dikasih permen, tar gigis loh," keluh Claudya. Dialah yang protektif pada Arfan. Seperti pada anaknya sendiri. Dari Sophia koma, Claudyalah yang mengurus dan merawat Arfan dari masih bayi merah sampai bisa jalan. Claudya sudah seperti ibunya sendiri.


"Iya gak kok, pegang doang ini," sahut Pak Ferdi.


"Ayahmu gitu, sampai stok satu toples tuh di kamar, katanya buat Arfan," ujar Ibu Marisa. Dia tak habis pikir suaminya stok permen lolipop sampai satu toples.


"Apa? Awas ya Yah jangan dikasih Arfan! Aku gak terima," kata Claudya kesal pada ayahnya.


"Cuma buat mainan kalau ke kamar Ayah," sahut Pak Ferdi.


Semua orang tertawa kecil dengan perdebatan ayah dan anak itu. Tak lama Bi Siti mengantarkan paketan satu dus permen lolipop milik Pak Ferdi.


"Tuh apa Yah? Satu dus lolipop," kata Claudya makin kesal melihat satu dus permen lolipop.


"Kena amuk Claudyakan! Biarin omelin aja Ayahmu Claudya, Ibu mendukungmu," kata Ibu Marisa juga geram dengan ulah Pak Ferdi.


"Ferdi-Ferdi, Papa tak mau ikut campur," ujar Kakek David.


"Papa juga pesankan patungan denganku, katanya buat isengan kalau lagi boring," sahut Pak Ferdi membuka kartu As untuk menyerang ayahnya.


Nenek Carroline langsung menatap tajam Kakek David.


"Nek bisa dibicarakan baik-baik. Ini hanya salah paham," kata Kakek David. Ngeri kena omel Nenek Carroline.


"Kakek, gula darahmu pantas saja tinggi akhir-akhir ini. Ternyata permen lolipop penyebabnya?" Nenek Carroline bertanduk. Habis sudah nasib Kakek David.


"Gak ikut-ikutan, ayo Arfan kita ke atas," ujar Pak Ferdi cuci tangan. Gak mau kena omel juga. Lebih baik antispasi. Dia berdiri. Berjalan beberapa langkah. Eh Ibu Marisa memblok langkahnya.


"Sayang, ini tak sekeruh itu permasalahannya. Hanya soal lolipop," kata Pak Ferdi sambil menggendong Arfan.


"Pantas gula darahmu juga tinggi, pasti kau juga sama kaya Papakan!" Ibu Marisa geram. Menatap tajam suaminya. Siap dilibas habis.


"Cuma isengan. Kan sekarang gak ngerokok sayang," kata Pak Ferdi cari alasan pembenaran yang tepat. Tahu sendiri wanita makhluk paling benar. Meskipun dia salah.


"Hajar Bu! Claudya dukung!" ujar Claudya mendukung Ibunya untuk ngomelin ayahnya.


"Astaga aku terpojok," ucap Pak Ferdi.


Sudah deh kena omel Ibu Marisa sepanjang rel kereta api. Sampai bosan dengerin omelannya. Bangun tidur, tidur lagi omelannya masih berlanjut beronde-ronde.


***


Seseorang mengenakan jaket tebal berwarna hitam masuk ke Perusahaan Blue Sky Group. Perusahaan milik Keluarga Wijaksana. Kepalanya ditutup cipus jaket hitam itu. Mukanya tertutup masker dan mengenakan kaca mata hitam. Dia berjalan menuju lift namun sekuriti menahannya.


"Maaf anda siapa? Tolong menujukkan ID card karyawannya!" ucap sekuriti.


"Aku tak perlu ID card. Aku suami Bosmu."


"Penampilan anda mencurigakan, mana mungkin aku percaya. Demi keamanan perusahaan ikut saya ke kantor!" kata sekuriti.


"Aku Alex Sebastian."


Sekuriti itu terdiam sesaat. Terkejut nama itu disebut.


"Maaf jika anda Bos Alex suami Bos Sophia, tolong buka masker Anda biar saya mengenalinya," ujar sekuriti.


Lelaki itu membuka maskernya. Menunjukkan wajah aslinya pada sekuriti. Sejenak sekuriti terdiam. Mematung.


Lelaki itu segera menutup wajahnya kembali. Bergegas masuk lift.


"Tunggu! Anda dilarang masuk!" sekuriti berusaha mengejar tapi lelaki itu keburu masuk lift. Naik ke lantai atas.


Lelaki itu ke luar dari lift. Berjalan menuju ruangan kerja Sophia. Beberapa karyawan terbelalak melihatnya. Mereka ketakutan melihat sesosok orang misterius masuk ke kantornya.


Lelaki itu membuka pintu ruangan CEO. Masuk ke dalamnya. Di dalam hanya ada Sekretaris Wang dan Aiko.


"Siapa kau berani masuk tanpa izin?" Sekretaris Wang marah. Dia heran ada orang asing masuk ruangan Sophia. Kebetulan hari itu Nada cuti karena sedang hamil tua.


"Di mana Sophia?"


"Siapa kau menanyakan Sophia?" tanya Aiko balik pada lelaki misterius itu.


"Aku Alex Sebastian suami Sophia Thalia."


Dua orang itu terkejut. Tercengang mendengar lelaki misteris itu mengaku Alex Sebastian


"Tunjukkan pada kami kalau kau Alex Sebastian!" titah Sekretaris Wang. Dia ingin lelaki misterius itu menunjukkan kalau dia memang Alex Sebastian.


.


.


Bersambung ...


Ternyata awal episodenya baru akan ada di bab selanjutnya ya.


Terimakasih untuk yang sudah setia membaca Casanova Dipinang Sholeha


Bantu like, komen dan vote agar author semangat up-nya.