
Siang itu usai sholat dhuhur di mushola Alex kembali ke ruangannya. Wajahnya berseri-seri. Sesekali Alex melihat cincin di jari manis miliknya. Tersenyum. Merasa sudah ada sang pemilik hati. Tak sendirian lagi. Meskipun dulu sang pemangsa tapi sekarang sudah dijinakkan majikannya.
"Bos senyum-senyum, apa karena harga minyak di pasaran turun kembali?" tanya Kenan yang tiba-tiba nongol dan mengekor di belakang Bosnya.
"Apa pengaruhnya harga minyak denganku?" tanya Alex.
"Sebagai bapak rumah tangga itu ngaruh Bos, apalagi kalau harga cabe naik, kolor suami bisa diobral," jawab Kenan.
"Aku tak semiskin itu," sanggah Alex menyombongkan diri.
"Itu karena Bos biasa hidup enak, coba liat ke bawah, kalau harga cabe, bawang, minyak, dan telor naik, suami banyak yang stress Bos," ujar Kenan.
"Pantas kau sering gila Kenan," sahut Alex.
"Iya juga sih, tapi saya lebih stress kalau ditanya istri bagusan baju yang mana Mas?" ucap Kenan.
"Apa sulitnya? Tinggal beli semua," ujar Alex dengan solusi sultan. Tak perlu tawar menawar alot. Borong semua ma abang-abangnya.
"Itu Bos, tidak terjadi pada saya. Nanti pilih baju A, dibilang Mas yang ini kurang ini, saya sarankan yang B, tapi yang ini terlalu begini, satu jam gak cukup tuh cuma milih A atau B, eh ..., ada yang C, makin pusing saya Bos," keluh Kenan.
"Makanya jadi orang kaya, kau hanya tinggal gesek, beres," ujar Alex.
"Pengen Bos, tapi mentok terus takdirku, udah coba bangun lebih pagi dari ayam, tetep aja tuh rejeki dipatok ayam," ujar Kenan.
"Berarti miskinmu sudah kekal, terimalah nasibmu," sahut Alex.
Mereka terus berbincang sepanjang lorong lantai 25. Hingga masuk ke ruang kerjanya. Di dalam Alex mulai mengerjakan pekerjaannya. Perusahaannya, bergerak di bidang properti. Namun memiliki perhotelan dan pariwisata. Alex sudah biasa mengurus pekerjaannya hingga memantau ke lapangan. Bahkan mencari lokasi.
Siang itu tiba-tiba Pak Ferdi masuk ke ruangannya. Wajahnya terlihat dingin. Menatap Alex dengan tajam. Seolah penuh amarah yang membara. Alex hanya diam menatap tajam padanya.
"Kau mau apa lagi ke sini?" tanya Alex ketus.
"Kau gila? Mengeluarkan uang perusahaan bermilyar-milyar untuk Sophia?" tanya Pak Ferdi.
"Memangnya kenapa?" tanya Alex.
"Kemarin aku meminta uang, kau tak memberiku uang seperak pun, tapi untuk Sophia, kau bahkan mengeluarkannya lebih banyak," jawab Pak Ferdi.
"Dia istriku, wajarkan aku menafkahinya," sanggah Alex.
"Menafkahi? Lama-lama dia parasit untukmu," ujar Pak Ferdi.
"Parasit? Kau lah yang parasit ayah," ujar Alex.
Braak ...
Meja Alex dipukul Pak Ferdi. Dia kesal pada anak sulungnya itu.
"Anak bodoh, tak berguna, menyesal aku membesarkanmu," ujar Pak Ferdi.
"Membesarkanku? Kakeklah yang membesarkanku," jawab Alex.
Pak Ferdi kesal. Dia menarik kerah baju Alex, mengepal tangannya. Hendak memukul Alex tapi tertahan.
"Aku seharusnya membiarkanmu mati dijalanan dari pada menjadikanmu sultan," ujar Pak Ferdi.
Alex hanya tersenyum sinis tak peduli dengan ucapan Pak Ferdi.
"Pukul, kau berani!" perintah Alex.
Pak Ferdi melepas tangannya dari kerah baju Alex. Menurunkan kepalan tangannya. Kemudian ke luar dari ruangan Alex.
Braaak ...
Pintu ruangan Alex dibanting sekuat tenaga.
Alex hanya terdiam. Sudah biasa menghadapi ayahnya yang terus merengek meminta uang untuk judi, mabuk dan main perempuan.
"Astagfirullah," ucap Alex. Dia kembali mengerjakan pekerjaannya. Menatap layar laptop di depannya. Sambil mengingat wajah Sophia untuk mengusir rasa kesalnya.
***
Di sebuah rumah judi Pak Ferdi sedang asyik berjudi dengan teman-temannya. Dia terlihat murung. Tak bersemangat. Teman-temannya mentertawakan mukanya yang kusut. Tak biasanya, bahkan dia tak minum alkohol seperti biasanya.
"Ferdi, kenapa?"
"Iya kusut banget."
"Alex mulai kurang ajar," jawab Pak Ferdi.
"Kurang ajar gimana?"
Pak Ferdi menceritakan apa yang terjadi padanya. Dia tak terima Alex tak memberinya uang sedangkan pada Sophia dia rela menggelontorkan uang dengan jumlah yang banyak.
"Lelaki kalau bucin ya gitu."
"Apa maunya cewek diturut."
"Memangnya kau masih minta duit kaya anak SD?"
"Apa maksudmu?" tanya Pak Ferdi.
"Seharusnya kaulah yang memimpin perusahaan, dengan begitu kau bisa memakai uang sesukamu."
"Judi sampai pagi kita."
Pak Ferdi terdiam. Memikirkan ucapan teman-temannya. Benar juga, jika dia yang memimpin perusahaan dia bisa menggunakan uang sesuka hatinya.
Tiba-tiba Pak Ferdi berdiri meninggalkan meja judi.
"Mau kemana Ferdi?"
"Masih siang, uangmu masih banyakkan?"
"Ada urusan penting," jawab Pak Ferdi.
Teman-temannya hanya mengacungkan jempol.
Pak Ferdi ke luar dari rumah judi. Dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah besar Keluarga Sebastian.
Sampai di rumah, Pak Ferdi berjalan ke belakang rumah. Mencari ayahnya yang sedang bersantai sambil melihat tanaman di kebun kecil yang ditanamnya sendiri. Pak Ferdi menghampirinya.
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Ferdi berlagak sopan santun. Padahal biasanya juga tidak sama sekali.
"Wa'alaikumsallam," sahut Kakek David.
Pak Ferdi meraih tangan Kekek David dan menciumnya. Kemudian duduk di kursi. Di samping Kakek David.
"Tumben kau punya tata krama Ferdi?" tanya Kakek David.
"Papa bisa aja, Ferdikan memang selalu menghormati Papa," jawab Pak Ferdi.
Kakek David menganguk. Dia tahu seperti apa Pak Ferdi jika ada maunya. Hal semacam ini sudah jadi tradisinya.
"Kau mau apa? tak perlu basa basi," ujar Kakek David.
"Papa tahu aja," sahut Pak Ferdi.
"Kau tak mungkin manis seperti ini jika tak ada maunya," ucap Kakek David jujur.
"Begini Pa, Alex itukan memakai uang perusahaan seenaknya, sampai bermilyar-milyar, itu merugikan perusahaan," ungkap Pak Ferdi.
"Untuk apa dia memakai uang bermilyar-milyar?" tanya Kakek David.
"Untuk Sophia lah Pa," jawab Pak Ferdi.
"Kalau untuk istrinya ya wajar, suamikan memang harusnya begitu," jawab Kakek David.
"Tapi Pa, Alex terlalu memanjakan Sophia, gimana nasib perusahaan Papa, kalau Alex tak bisa mengatur uang perusahaan," ujar Pak Ferdi. Dia sengaja memprovikasi Kakek David agar termakan ucapannya.
"Jadi maumu apa?" tanya Kakek David begitu santai.
"Berikan aku kesempatan memimpin perusahaan Pa," ucap Pak Ferdi.
Kakek David terdiam sesaat. Dia memikirkan ucapan Pak Ferdi.
"Kau masih judi, mabuk dan main perempuan, mana mungkin bisa memimpin perusahaan," ujar Pak Ferdi terus terang.
"Pa, aku ini anak Papa, seharusnya perusahaan akulah yang memimpin bukan anak gak jelas itu," ketus Ferdi marah besar.
"Anak gak jelas? Maksudmu apa?" tanya Kakek David.
Pak Ferdi langsung terdiam. Emosinya langsung mereda. Dia berdiri. Meninggalkan Kakek David.
"Ferdi!" panggil Kakek David. Namun Pak Ferdi terus berjalan meninggalkannya.
Pak Ferdi naik ke lantai atas. Masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamar dengan keras.
Braaak ...
Pak Ferdi berjalan ke ranjang. Lalu menjatuhkan dirinya.
"Baru datang udah cari ribut," ucap Ibu Marisa yang sedang berdandan di depan meja rias. Bersiap untuk kumpul dengan ibu-ibu sosialita.
Pak Ferdi langsung duduk mendengar istrinya bicara ketus padanya.
"Kau disiplinkan anakmu itu," ujar Pak Ferdi.
"Maksudmu apa?" tanya Ibu Marisa.
"Alex Sebastian, anakmu," jawab Pak Ferdi.
"Memangnya kenapa dengan Alex?" tanya Ibu Marisa.
Pak Ferdi beranjak dari ranjang. Menghampiri Ibu Marisa. Dia berdiri di belakangnya. Memegang bahu Ibu Marisa. Bicara di telinganya.
"Dia sudah tidak bisa diatur," ucap Pak Ferdi.
Ibu Marisa melepas tangan Pak Ferdi dari bahunya. Berbalik melihat ke arahnya.
"Apa sih maksudmu aku gak ngerti?" tanya Ibu Marisa.
"Marisa, aku menikahimu saat itu hanya karena kita ini saling membutuhkan. Aku membutuhkan istri untuk memenuhi permintaan ayah, dan kau mendapatkan ayah untuk bayi yang kau kandung," ujar Pak Ferdi.
"Kenapa kau membahas itu, bukankah kita sudah janji untuk tidak membicarakan itu?" tanya Ibu Marisa.
"Alex sudah keterlaluan, aku minta uang tapi seperti mengemis di kantor ayahku sendiri," ucap Pak Ferdi.
"Itu karena kau menghabiskan uangmu untuk hal tak berguna," sahut Ibu Marisa.
Pak Ferdi marah. Menunjukkan jari telunjuknya ke depan muka Ibu Marisa.
"Kau sendiri apa? Setiap hari bisanya shopping, berfoya-foya," sanggah Pak Ferdi.
Ibu Marisa terdiam. Apa yang dikatakan Pak Ferdi memang benar.
"Kalau kau tak bisa mengatur anakmu, aku yang akan mengaturnya dengan caraku sendiri, ingat itu!" ancam Pak Ferdi.
Ibu Marisa terdiam. Ancaman itu cukup membuatnya takut. Selama ini Pak Ferdi tak pernah semarah itu padanya. Meskipun mereka hidup masing-masing bagai benalu. Namun Pak Ferdi tak pernah mengusiknya.