Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Melawan



Malam itu Sophia tak bisa tidur. Entah kenapa perasaannya tak tenang. Ada rasa cemas yang begitu mendalam. Sophia bangun dari ranjang. Menatap sekeliling. Kamar villa yang disewanya cukup luas dan nyaman. Hanya saja rasa gelisahnya terus memenuhi hatinya. Matanya beralih pada jam dinding yang setia memberikan petunjuk waktu. Sophia tersenyum. Senyuman bulan sabit yang terbit di bibirnya terlihat manis. Senyuman yang selalu dirindukan sang casanova. Namun kali ini Sophia tersenyum untuk Allah SWT yang mungkin rindu dengan Sophia yang biasanya bangun untuk sholat tahajud.


Sophia mengucir rambut panjangnya. Melipat pakaian tidurnya yang panjang. Berjalan masuk ke dalam toilet. Membasuh tubuhnya dengan air wudhu yang gemercik di sepertiga malam itu. Air yang terasa dingin tapi sejuk saat membasuh tubuh.


"Alhamdulillah," lirihnya usai wudhu.


Sophia bersyukur masih diberi kesempatan untuk menunaikan sholat malam. Yang mungkin dikala sakit atau sibuk sesekali tak bisa ditunaikannya.


Rasa rindunya pada Allah mengalahkan rasa kantuk yang coba menutup matanya agar dia bermalas-malasan dibalik selimut tebal dan ranjang king size itu. Untung saja Sophia sudah terbiasa bangun di sepertiga malam. Tanpa alarm sekalipun tubuhnya akan terbangun dengan sendirinya. Seolah sudah ada alarm paten yang ada di dalam hatinya.


Sophia melangkahkan kakinya mengambil mukena dan sajadah yang setia menemaninya. Mukena dan sajadah favoritnya karena merupakan mas kawin yang diberikan Alex padanya.


Sajadah itu digelar di lantai samping ranjang. Sophia mengenakan mukena berwarna putih bersih dengan list brokat putih dibawahnya.


Sophia mulai sholat tahajud. Membaca setiap ayat suci dan doanya dalam setiap lantunannya. Memasrahkan seluruh hidupnya pada Allah SWT sang pemilik kehidupan.


Sophia duduk menengadahkan kedua tangannya. Berdoa untuk suami tercinta agar selalu dalam lindunganNya. Sophia merasa Alex dalam bahaya. Instingnya sebagai seorang istri tak bisa dibohongi. Dia gelisah, dalam pikirannya hanya dipenuhi Alex.


Sophia memegang dadanya. Menyebut nama suaminya. Berharap jauh di sana suaminya akan baik-baik saja.


"Mas aku rindu," gumamnya.


Sophia melipat mukena berwarna putih itu dengan sajadahnya. Dia berdiri meletakkannya di atas laci. Sophia mengambil handphone miliknya. Memeriksa panggilan atau pesan yang masuk. Beberapa pesan dari staf di perusahaannya. Hanya saja tak ada pesan dari suaminya.


Sophia coba menelpon Alex, beberapa kali ditelpon tapi tak diangkat. Tiba-tiba tidak aktif. Sophia bertambah gelisah. Hanya doa yang terus dia ucapkan dibibir merah delima itu.


Di sisi lain Alex sedang melawan anggota gengster. Dia mengambil peti barang untuk berlindung dari senjata tajam dan digunakan untuk menyerang.


Braaak ... braaak ... braaak ...


Satu dua tiga peti barang berhasil dipukulkannya ke arah anggota gengster. Mereka saling melawan dengan pukulan dan tendangan. Alex berusaha menghindar saat satu anggota gengster itu hendak menusukkan golok padanya. Dia mundur hingga tersudut di depan lemari. Golok itu terus diarahkan padanya. Alex membungkuk, ke samping, sampai benar-benar sulit menghindar ketika golok itu dilempar ke mukanya.


Creeb ...


Golok itu menancap di samping kepalanya mengenai pintu lemari tempatnya menyandarkan tubuhnya. Alex mengambil golok itu. Maju ke depan melawan anggota itu. Kini mereka saling menggunakan senjata tajam.


Alex dikeroyok enam orang bersenjata tajam. Dia coba membungkuk saat senjata tajam itu bersamaan diarahkan padanya. Dia menendang berputar, kaki-kaki yang berdiri mengerumuninya dalam satu gerakan cepat terjatuh.


Bruuug ...


Mereka berenam terjatuh bersamaan. Bergegas Alex memukul dan menendang mereka satu per satu dengan cepat. Hingga mereka babak belur. Tiba-tiba satu orang mendekap lehernya dari belakang. Alex sulit bernafas. Leher dan tangannya kini dicengkram lelaki itu. Alex berusaha melawan. Dia menggunakan kakinya menendang ke belakang mengenai sesuatu yang berharga milik lelaki itu.


Bug ...


"Aw ...," keluhnya kesakitan.


"Rasain siapa suruh menyerang kok curang," lirih Alex senang melihat lawannya kesakitan


Di dalam gudang bukan hanya Alex yang sedang bertarung namun Kenan juga. Dia masih mempersiapkan dirinya. Untuk bertarung melawan mereka semua. Kenan melakukan pemanasan yang dari tadi belum kelar juga.


"Sudah belum? Mau ku cincang sekarang?"


"Tunggu aku harus bersiap jika memang harus gugur paling tidak dalam kondisi bugar, jangan penyakitan," sahut Kenan.


"Memangnya dalam pertarungan yang tewas harus bugar ya?"


"Baru denger, biasa nonton film action gak gini-gini amat."


"Tapi udahlah biarkan saja, toh setelah ini kita bikin rempeyek dia."


Kenan pemanasan dan bersenam sambil menyetel lagu untuk bersenam. Lagu goyang poco-poco dipilihnya untuk menyemangati jiwanya yang ketakutan melihat senjata tajam yang bersiap menggorok apa saja yang ada.


"Bang lebih baik bersenam dulu, setidaknya stamina prima saat bertarung," usul Kenan.


"Harus ya kita bersenam sebelum bertarung?"


"Lagi musim nih di tik tok."


"Dia mah ecek-ecek, gak ada salahnya bersantai sejenak, setelah itu habisi dia."


Mereka sepakat untuk ikut bersenam dengan Kenan. Bergoyang poco-poco. Lumayan menambah semangat dan tambah bugar meskipun sedang berada di medan perang yang sengit.


"Paling tidak aku tak perlu repot-repot melawan, sebelum lagunya habis pikirkan cara melawan mereka," batin Kenan. Dia mau tak mau memandu para anggota gengster bersenam.


"Ya, naikkan tangan, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan," ucap Kenan.


"Dah lama gak senam, enak juga."


"Ini namanya pertarungan sehat sebelum kematian datang."


"Kalau aja yang pada perang di medan perang senam dulu kaya gini, matipun dalam kebugaran."


Mereka terus bersenam dengan Kenan. Sedangkan mata Kenan melirik ke sana dan ke sini. Mencari cara untuk melawan mereka setelah lagu bersenam usai.


"Ada tongkat kayu tuh, ingat Film Kera Sakti favoritku, atau Si Buta Dari Gua Hantu, aku harus seperti mereka jadi pahlawan kesiangan," batin Kenan.


Kenan membimbing mereka untuk menaruh senjatanya. Meluweskan gerakannya. Di saat seperti itu Kenan langsung berlari ke arah tongkat. Dia mengambil tongkat itu. Kembali berlari bak sunghokong menerjang mangsanya.


"Jurus tongkat sakti sunghokong, cacaca," teriak Kenan.


Anggota gengster bukannya bersiap melawan malah heran dengan tingkah Kenan.


"Dia kerasukan setan kali ya."


"Apa gudang ini ada penunggunya?"


"Mungkin itu gerakan senam terbaru, kera sakti melompati gunung berapi."


"Saatnya ku tunjukan kemampuanku, cacaca ...," ucap Kenan terus berlari namun malah melewati mereka bukannya melawan mereka.


"Kabur ah selagi bisa," ucap Kenan. Dia berlari mencari Alex. Menjauh dari mereka yang masih termenung melihat keanehan Kenan.


"Dodol, kita ditipu."


"Tangkap dia."


Kenan terus berlari. Melihat Alex sedang melawan para anggota gengster yang mulai babak belur. Tangannya menarik tangan Alex. Menariknya ke luar dari gudang.


Mereka berdua berlari terbirit-birit. Di kejar kembali para anggota gengster.


"Kenan lagi asyik juga adu jotos," lirih Alex.


"Bos, mereka terlalu banyak, Kenan tak sanggup melawan semuanya."


"Memang berapa yang berhasil kau kalahkan?"


"Belum ada Bos, ku ajak bersenam doang."


"Pantas saja kau tak terlihat kotor, masih rapi," gumam Alex.


"Kejar mereka!"


Alex dan Kenan terus berlari. Mereka berlari menuju ke tempat di mana mereka meninggalkan mobil. Ternyata di sana sudah ramai orang. Pengguna jalan yang berkumpul. Mereka mengira sudah terjadi kecelakaan.


"Kenan ramai."


"Alhamdulillah Bos, paling tidak tuh gengster takkan berani."


"Aku punya ide," ucap Alex.


"Ide apa Bos?" tanya Kenan.


Mereka sengaja menunggu para gengster di tempat yang tak jauh dari kerumunan orang yang sedang melihat tiga mobil itu tanpa ada orang di dalamnya.


Tak lama anggota gengster datang. Alex dan Kenan menantang mereka untuk saling bertarung lagi.


"Mereka nantangin."


"Udah hajar Bro."


"Hajar!"


Alex dan Kenan bertarung. Terjadi baku hantam. Mereka memukul dan menendang. Kenan berjaya menggunakan tongkat saktinya untuk memukul berkali-kali.


"Gemes juga nih, kaya mukulin kasur yang lagi dijemur," ucap Kenan.


Mereka sengaja memancing keramaian. Suara adu jotos itu terdengar sampai ke jalan di mana mobil mereka dan mobil para gengster itu berada.


"Suara apa?"


"Iya, kenceng banget, kaya orang berkelahi."


"Jangan-jangan begal."


Pengguna jalan dan beberapa warga yang datang karena melihat keramaian di jalan, mereka semua berjalan menuju tempat Alex dan Kenan yang sedang baku hantam.


"Kenan bersiap!" ucap Alex.


Kenan mengangguk.


Mereka memposisikan diri di tengah. Berdiri saling membelakangi.


"Tolooooong ....," teriak Alex dan Kenan.


"Eh kirain mereka mau melawan."


"Cemen."


Mereka malah meledek Alex dan Kenan yang dikira penakut. Tak tahunya semua orang datang ke tempat itu. Melihat Alex dan Kenan dikeroyok anggota gengster bersenjata.


"Begal."


"Begal."


Jumlah warga cukup banyak. Membuat para gengster tak bisa berkutik. Ditambah Alex menendang mereka hingga terjatuh. Senjata mereka pun terjatuh ke tanah. Segera warga menangkap mereka. Membawa mereka pergi dari tempat itu untuk diamankan.


"Dek kalian tidak apa-apa?"


"Alhamdulillah tidak apa-apa Pak," jawab Alex dan Kenan.


"Di sini memang sering ada begal kalau malam."


"Iya Pak," sahut Alex dan Kenan.


"Berhati-hatilah, jangan ke luar larut malam."


"Iya Pak," sahut Alex dan Kenan.


Akhirnya Alex dan Kenan berhasil selamat. Mereka kembali melanjutakan perjalanan mereka dengan aman.


"Capek bener Bos," keluh Kenan.


"Besok kau istirahat aja di villa," usul Alex.


"Alhamdulillah, makasih Bos," sahut Kenan. Kemudian tertidur di kursi. Dia benar-benar lelah. Sedangkan Alex menyetir mobilnya menuju alamat yang ingin dituju.


Di villa tempat Sophia berada terlihat sepi karena waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Sophia masih belum bisa tidur. Sepanjang malam berdoa untuk suaminya. Tiba-tiba pintu villa ada yang mengetuk. Sophia berjalan ke arah pintu depan. Membuka pintu. Tahu-tahu matanya langsung ditutup dengan tangan seseorang secara spontan dan tubuhnya masuk ke dalam cengkeramannya.


"Lepas! Siapa kau?" pekik Sophia.


Orang itu hanya diam. Membuat Sophia sedikit takut. Apalagi dari tadi perasaannya tidak enak.