Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tak Ada Salahfaham lagi



"Aku hanya menolong Tiara, mencarikannya rumah untuk tempat tinggal," kata Pak Ferdi.


"Mencarikan tempat tinggal?" Pak Harry terkejut.


"Iya, saat itu aku menemukan Tiara pingsan di tepi jalan. Aku membawanya ke rumah sakit," jawab Pak Ferdi.


Pak Harry terdiam mendengarkan Pak Ferdi bicara.


"Ternyata Tiara hamil, aku sempat tanya di mana suaminya, tapi Tiara tidak bilang apapun. Dia hanya minta tolong aku untuk mencarikannya tempat tinggal," ujar Pak Ferdi.


"Hamil?" Pak Harry terkejut mendengar Tiara hamil.


"Iya, selama dia hamil aku bolak balik datang memberi bantuan. Karena saat itu aku suka padanya. Tapi saat melahirkan, Tiara meninggal," jawab Pak Ferdi.


Pak Harry langsung terlihat murung saat mendengar kalau Tiara meninggal.


"Tiara meninggal karena pendarahan hebat saat melahirkan putrinya," ujar Pak Ferdi.


"Lalu putrinya Tiara ada di mana?" tanya Pak Harry. Dia ingin tahu di mana keberadaan putrinya Tiara.


"Ada seorang yang mengambil putrinya Tiara, aku tidak tahu siapa orangnya," jawab Pak Ferdi. Dia benar-benar tidak tahu siapa yang mengambil anak yang dilahirkan Tiara.


Pak Harry langsung terdiam. Terlihat sedih. Menunduk ke bawah.


"Apa anak yang dilahirkan Tiara itu anakmu?" tanya Pak Ferdi.


"Iya, aku dan Tiara menikah secara siri karena ibunya Tiara tidak menyetujui pernikahan kami. Hanya ayahnya yang memberi restu," jawab Pak Harry. Menceritakan hubungannya dengan Tiara di masa lalu.


"Jadi anak itu anakmu?" tanya Pak Ferdi.


"Iya, anakku," jawab Pak Harry.


Pak Ferdi membuang nafas gusarnya. Dia tak menyangka ternyata hubungannya dengan Pak Harry begitu rumit. Dari masalah Ibu Marisa, Alex dan Tiara.


"Ferdi maafkan aku sudah salahfaham padamu," ujar Pak Harry.


"Iya, santai saja kak. Lagi pula kita saudara," jawab Pak Ferdi.


"Adikku," kata Pak Harry.


"Kakakku," sahut Pak Ferdi.


Mereka berdua tertawa ringan. Masalah di antara keduanya sudah mencair tak ada lagi kesalahfahaman lagi.


"Terimakasih selama ini kau sudah menjadi ayah untuk Alex dan suami untuk Marisa," kata Pak Harry.


"Iya, aku justru berterimakasih karena mereka jadi keluargaku sekarang," sahut Pak Ferdi.


Pak Harry mengangguk.


"Mulai sekarang kita keluargakan?" tanya Pak Ferdi.


"Iya kita satu keluarga," jawab Pak Harry. Mereka berdua kini saudara dari satu ayah yang sama. Dan dari anak yang sama.


"Mari menjadi saksi tumbuh kembang anak dan cucu kita nanti," kata Pak Ferdi.


"Iya siap," jawab Pak Harry.


Mereka tersenyum bahagia. Kini menjadi bapak untuk Alex dan kakek untuk cucunya nanti. Menjadi saksi tumbuh dan berkembang keluarganya nanti.


Rumah Keluarga Sebastian ramai dan penuh kehangatan keluarga dan tamu yang datang. Mereka bersilaturahmi dan mencicipi hidangan yang disajikan. Alex, Gavin, Pak Harry, Pak Ferdi, Kakek David, Tuan Matteo dan Luki bagi-bagi amplop. Dodo, Tara dan Nesa mendapat banyak uang dari amplop yang diberikan mereka semua.


"Alhamdulillah, Dodo bisa beli alat fitness buat ngurusin badan," kata Dodo.


"Nesa mau beli rumahnya barbie," kata Nesa.


"Tara mau beli Mama baru," jawab Tara.


"Emang Mama baru mesti beli?" tanya Dodo.


"Habis Papaku duda, aku harus membeli Mama baru," sahut Tara.


"Beli Bundaku aja, ku jual seratus ribu mau?" tanya Nesa.


"Aku jual Bi Siti kira-kira mau gak?" tanya Dodo.


"Bi Siti kurang cantik," jawab Tara.


"Gocap aja, dicicil boleh, pinter masak tar Papimu gendut kaya aku," ujar Dodo. Dia menawarkan Bi Siti dengan segala kemampuannya agar Tara tertarik membelinya.


"Gak mau, kalau gendut kaya Dodo tar ngabisin duit buat makannya," jawab Tara.


"Udah beli Bundaku aja, ku kasih diskon dua puluh ribu," kata Nesa.


"Ya udah deal, aku beli," jawab Tara.


Ketiga anak kecil itu ngobrol sana sini dari masalah duit sampai rencana memiliki adik selusin biar bisa bikin rumah sendiri gak perlu nyari tukang bangunannya.


Di bawah Alex dan yang lainnya mengobrol di teras sambil minum kopi. Untung tak ada satupun yang merokok. Mereka sudah pensiun demi istri dan pasangannya.


"Besok kakek dan nenek menikah, Gavin dan Luki kapan?" tanya Alex.


"Paling habis kakek dan nenek ya Luk?" ujar Gavin.


"Iya, pengen cepet biar gak kelamaan," jawab Luki.


"Baguslah kalau gitu, dari pada jadi zina lebih baik disegerakan," sahut Alex.


"Iyalah, enak kalau udah nikah, malem ada yang dikekepin, gak kesepian lagi," kata Tuan Matteo.


"Stop adik ipar jangan mengotori otak polos mereka," jawab Alex.


"Luki polos, Gavin gak tahu deh," ledek Kenan.


"Iya, udah Suhu dari kita semua," ujar Tuan Matteo.


"Yang Suhu Bang Alex, diakan mantan Casanova," sanggah Gavin.


"Hormat pada Suhu!" titah Tuan Matteo.


Mereka berempat melakukan penghormatan pada Alex.


"Hormat suhu," ujar keempatnya.


Alex tertawa terpingkal-pingkal melihat Tuan Matteo dan yang lainnya.


"Memang Casanova itu ngapain aja kerjaannya?" tanya Luki.


"Ku pikir ikut hormat mudeng Casanova itu apa?" kata Kenan.


"Dia polos, sebelumnya terong dan timun jadi gini," ujar Tuan Matteo.


"Sabar Luki, mau ku jelaskan?" tanya Gavin yang merangkul Luki.


"Vin, aku normal jangan main rangkul aja," sahut Luki.


"Ya ampun gue mau ngasih tahu Casanova itu apa," kata Gavin.


"Jangan cemari otak polos Luki," ucap Tuan Matteo.


"Emangnya casanova itu mantan cowok paling populer dan ganteng?" tanya Luki.


Alex dan yang lainnya hanya mengacungkan jempol. Luki mengangguk paham. Biarkan saja Luki hanya tahu itu jangan mencemari otaknya yang baru lurus.


***


Malam itu Sophia sudah tertidur pulas di ranjang. Seharian menerima tamu membuatnya kelelahan. Alex sempat memijatnya sebentar sebelum Sophia tertidur. Alex tahu istrinya pasti kelelahan sampai wajahnya pucat tadi. Untungnya Alex segera menyuruhnya beristirahat. Sophia pasti lelah dan kondisinya yang sedang mengandung membuatnya mudah lelah.


Alex mencium kening Sophia. Menyelimuti istri tercintanya dengan selimut tebal yang ada di ranjang. Kemudian Alex bermain game di handpone miliknya. Sayangnya, baru setengah jam handphone miliknya lobet. Alex berpikir untuk meminjam handphone milik Sophia. Dia mengambil handphone milik Sophia di dekat bantal tempatnya berbaring.


"Pakai sandi," ujar Alex. Dia tidak tahu sandi handphone milik Sophia. Alex terpaksa menebaknya dengan tanggal pernikahan mereka ternyata benar, sandi itu terbuka.


"Benerkan, tinggal download game-nya beres," kata Alex sambil melihat layar handphone milik Sophia. Dia membuka google play store. Alex ingin mendownload game yang diinginkannya tapi justru dia penasaran ingin tahu apa saja yang ada di dalam handphone Sophia. Alex memeriksa apa saja yang ada di dalam handphone Shopia dari aplikasi, nomor kontak, panggilan sampai pesan yang masuk. Tak sengaja Alex melihat pesan dari Dokter Leon. Alex membaca semua pesan darinya. Dia terkejut saat membaca semua pesan itu. Alex terkejut membaca semua pesan itu. Dia terpaku seolah tubuhnya membeku tak bisa digerakkan lagi.