
"Kenan air liurmu dari tadi menetes," ujar Alex melihat air liur Kenan menetes di kemejanya yang ada di bagian dada.
"Begini Bos kalau dengerin makanan enak," jawab Kenan mendengarkan kepompong sangrai. Dia mengira sejenis makanan dari luar negeri.
"Enak dari mana Om, itukan ulet," jawab Nesa.
"Ulet?" Kenan langsung menelan ludahnya. Mengelus perutnya agar tak muntah lagi puasa. Bayangin kepompong sangrai adalah ulet.
"Kok aku malah kentut terus dengernya, apa karena denger si gendut makan kepompong sangrai," ujar Gavin.
"Untung cuma kepompong sangrai, bukan belatung sangrai," sahut Luki.
"Adik ipar kenapa kau diam?" tanya Alex melihat ekspresi Tuan Matteo bak batu batungkup yang terdiam mematung.
"Berapa harga motor bututnya? 2 Milyar cukup?" tanya Tuan Matteo.
Bluuug ...
Kenan pingsan mendengar motor butut ditawar 2 Milyar. Dia aja kerja setahun belum tentu dapat 2 Milyar, dunia ini terbalik.
"Kenan!" teriak Alex melihat Kenan yang pingsan.
"Dia cacingan atau kena serangan jantung?" tanya Gavin.
"Aku rasa kena sawan gara-gara kelamaan di laut," jawab Luki.
Alex membantu Kenan bangun dan duduk.
"Kenan aku tahu kau tak punya motor butut, sabar," ujar Alex.
"Bos lebih baik aku jadi pengusaha motor biar cepet kaya," jawab Kenan.
Yang lainnya tertawa dengan ucapan Kenan. Tak disangka pengusaha motor butut lebih menjanjikan.
"Gimana apa kurang 2 Milyar?" tanya Tuan Matteo.
"Kurang Bos," jawab Udin.
Dudung langsung menepuk lengan Udin. Seketika Udin menoleh ke arah Dudung. Mengernyitkan alisnya.
"Kenapa Dung?" tanya Udin.
"Itu udah banyak Din, nanti repot bawanya ke kampung," jawab Dudung.
"Kurang Dung," jawab Udin.
"Kurang banyak?" tanya Tuan Matteo.
Udin mengalihkan pandangannya pada Tuan Matteo.
"Kurang ngerti ngitungnya Bos kalau kebanyakan," jawab Udin.
Tuan Matteo menggeleng. Terkejut ada orang yang mau dikasih duit banyak malah nolak. Dengan alasan yang sangat sederhana.
"Ada ya dikasih duit banyak nolak, benar-benar keracunan sianida," ujar Gavin.
"Kebanyakan makan kepompong efeknya begitu," tambah Luki.
"Seandainya itu aku," ujar Kenan.
"Sabar Kenan, tunggu mobilmu butut, nanti ku tawar juga," sahut Alex.
"Dua milyar juga Bos?" tanya Kenan.
"Bisa, asal mobil bututmu dari emas," jawab Alex.
Kenan tepok jidat. Nasib dua penculik kere itu naik daun dadakan gara-gara motor butut.
"Aku beli kepompong seember buat Dodo, sepuluh juta cukup?" tanya Alex.
"Cukup Bos, nanti kami cariin dua ember," jawab Udin dan Dudung.
"Astaga sampai kepompong pun sepuluh juta." Kenan semakin terkejut.
"Karena kalian tidak bisa menghitung uang banyak, aku memberi kalian modal usaha sebesar lima juta," ujar Gavin.
"Alhamdulillah," jawab Udin dan Dudung. Mereka senang mendapat rejeki nomplok.
"Gak bisa ngitung duit dapet lima juta?" Kenan syok. Yang bisa ngitung duit aja susah dapet duit.
"Ku tambah lima juta, buat si Mbok ya," tambah Luki.
"Alhamdulillah, terimakasih Bos-Bos semuanya," sahut Udin dan Dudung.
Alex dan yang lainnya mengangguk.
"Karena kalian tidak mau 2 Milyar, bagaimana kalau dua puluh juta?" tanya Tuan Matteo yang sedang memangku kedua tangannya di depan kedua orang yang duduk berlutut di tengah-tengah kerumunan yang mendakwa mereka.
"Setuju Bos, yang penting tas kami muat," jawab Udin.
"Iya Bos," tambah Dudung.
Akhirnya Tuan Matteo dan yang lainnya sepakat memberi bantuan untuk Udin dan Dudung. Mereka bahkan mengantar keduanya sampai di terminal.
"Makasih atas kebaikan Bos-Bos semuanya, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua," ujar Udin dan Dudung.
"Iya, amin," jawab Alex dan yang lainnya.
Dodo dan Nesa terlihat menangis melepas kepergian kedua penculik tapi mesra itu.
"Iya Do, tar dipaketin dari Brebes rempeyek kepompong dua ember," jawab Udin.
"Astaga, rempeyek kepompong itu sepuluh juta," ujar Kenan geleng-geleng kepala.
Gavin menghampiri Dodo, merangkulnya.
"Badanmu aja masih bengkak, beneran mau makan lagi?" tanya Gavin.
"Basa-basi Om, kaya orang gede," jawab Dodo.
"Kau memang gede Ndut, gak nyadar?" ujar Gavin.
Dodo tertawa. Sambil melambai melepas kepergian Udin dan Dudung.
"Om basonya jangan diisi kepompong!" teriak Nesa saat melihat mereka pergi.
Udin dan Dudung hanya mengacungkan jempol sambil naik ke dalam bus.
Alex dan yang lainnya melepas mereka dengan tersenyuman puas. Karena sudah meringankan beban Udin dan Dudung.
"Ayo pulang," ajak Alex.
"Oke," jawab semuanya.
Akhirnya Alex dan yang lainnya kembali ke rumah Keluarga Sebastian. Mereka berbuka puasa bersama di ruang keluarga. Suasananya terasa hangat. Bisa makan lesehan bersama-sama.
"Ayo tambah kolaknya masih banyak," ujar Kakek David.
"Iya Kek jangan nambah, gula darahmu tinggi, gagal nikah nanti," kata Nenek Carroline.
"Iya Nek, ini juga makan isiannya doang," jawab Kakek David.
"Alhamdulillah semua sudah berpasangan," ujar Alex.
"Bos aku masih duda," sahut Kenan.
"Sama janda cantik aja tuh nganggur," sindir Gavin pada Nada.
"Iya pengen, mau gak ya?" tanya Kenan.
Nada hanya tersenyum malu-malu.
"Gimana Nada? Mau gak?" tanya Ibu Marisa mak comblang dadakan.
"Udah Nada terima aja," tambah Nenek Carroline memprovokasi.
Bibi Fatimah tersenyum, mendengar dua mak comblang dadakan itu.
"Terima-terima," ujar yang lainnya.
Nada mengangguk.
"Alhamdulillah," jawab semuanya.
"Yes, bentar lagi nikah," ujar Kenan.
"Ngantri, nunggu Kakek, Gavin, Luki dan sunatan Dodo," kata Alex.
"Astaga antrian panjang bener," sahut Kenan. Mengelus dada, jadwal acara full. Dia harus menunggu giliran kalau mau dapet tunjangan dan amplop yang tebal. Nikah barengan dikhawatirkan isi amplop hanya setengah. Maklum setengahnya untuk yang lainnya.
"Sabar Om, ambil nomor antrian, atau sogok panitia penyelenggara biar cepet," saran Dodo.
"Siapa panitianya?" tanya Kenan.
"Bos Harry," jawab Gavin.
"Ampun, gak berani kalau itu," jawab Kenan.
Semua orang tertawa. Mereka menikmati kebersamaan itu. Setelah berbuka mereka sholat magrib bersama. Laki-laki dibarisan laki-laki dan perempuan di barisan perempuan. Begitu khusyuk sholat berjamaah bersama. Kemudian duduk mendengarkan Ustad Muhammad yang sengaja diundang untuk ceramah di rumah Keluarga Sebastian. Mereka termenung mendengarkan ceramah itu.
"Di mata Allah semua manusia sama, hanya amalan yang membedakannya. Bukan harta, tahta, ataupun fisiknya. Semua orang akan mati tak ada yang abadi, hanya amalan yang akan tetap menemani, jadi perbanyaklah beramal saleh sebelum ajal menjemput tanpa permisi," ujar Ustad Muhammad.
Mereka semua mengangguk. Apa yang disampaikan Ustad Muhammad memang benar. Tak ada yang abadi, hanya amalan yang akan tetap menemani kita sampai di akhirat nanti. Seperti kau menanam benih jagung maka akan memanen jagungnya.
***
Pagi itu Alex menemani Kakek David menemui Pak Harry disebuah restoran. Alex sengaja menemani Kakek David, dia ingin memastikan kakeknya aman. Tahu sendiri Pak Harry seperti apa. Dia bukan orang yang baik. Bisa saja mencelakai kakeknya. Alex berjalan memasuki restoran bersama Kakek David.
"Kek gak papa berduaan dengan manusia killer itu?" tanya Alex.
"Kau tidak boleh bicara seperti itu, Harry itu Om mu," jawab Kakek David.
"Malas aku harus memanggilnya Om," sahut Alex.
Kakek David menepuk pundak Alex.
"Kau harus terbiasa, dia akan jadi anggota keluarga kita," kata Kakek David.
Alex membuang nafas gusarnya. Kenapa harus Pak Harry yang jadi anak kakeknya. Seandainya bisa memilih buang saja Pak Harry ke matahari, biar gosong di sana tak kembali ke bumi.
"Ya sudah sampai sini saja," ujar Kakek David.
"Berhati-hatilah Kek! siapa tahu dia belum divaksin," ujar Alex.
"Beres," sahut Kakek David. Tersenyum. Memasuki private room sedangkan Alex menunggu di luar.
"Assalamu'alaikum," ucap Kakek David pada Pak Harry yang sudah ada di dalam. Sedang duduk dengan arogannya.