Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Hutan Mulai Gelap



"Matilah kau Claudya!" ucap Luki.


"Tidak, Luki!" teriak Claudya.


Luki berbalik berjalan satu dua langkah. Dia akan membiarkan Claudya jadi santapan serigala itu.


Claudya ketakutan. Serigala itu semakin mendekat. Dan melompat ke arah Claudya dengan mulut ganasnya yang siap merobek sesuatu.


"Lukiiii!" teriak Claudya sambil menutup matanya saat dua serigala itu melompat ke arahnya.


Bluuug ....


Suara sesuatu terjatuh. Claudya membuka matanya. Ternyata dua serigala itu terjatuh dan Luki ada di depannya memegang batang kayu yang cukup besar.


"Luki," ucap Claudya.


Luki menoleh ke belakang. Melihat Claudya.


"Aku melakukan ini bukan untuk menolongmu, tapi kau harus mati di tanganku," sahut Luki.


Claudya hanya terdiam.


Luki melihat ke depan. Melangkah ke depan menyerang serigala yang lapar itu dengan tongkat kayu di tangannya. Dia memukulkan kayu itu setiap serigala itu hendak melompat menggigitnya.


Bluuug ...


Satu serigala terjatuh. Luki maju ke depan hendak memukul serigala yang terjatuh itu tapi satu serigala lain melompat dari belakang. Luki langsung berbalik menendang serigala itu.


Bluuug ...


Luki menghampiri serigala yang baru terjatuh itu. Memukulnya dengan kayu berkali-kali. Tapi satu serigala lainnya tiba-tiba datang, menggigit tangan Luki sebelah kiri.


"Aw ...," keluh Luki yang tangannya masih digigit serigala.


Luki mengibaskan tangannya tapi serigala tetap mengigit tangannya. Kayu di tangan kanannya langsung digunakan untuk memukul serigala itu.


Dug ... dug ... dug ...


Serigala itu kesakitan. Melepas tangan Luki, hanya saja satu serigala lainnya bangun menyerang Luki, untung saja Luki bersiap, dia langsung menendangnya.


Bluuug ...


Serigala itu terjatuh. Kedua serigala itu terlihat sudah menyerah. Luki menjatuhkan kayu ke tanah. Dia memegang tangannya yang terluka. Tiba-tiba satu serigala melompat ke arahnya. Luki terkejut. Melihat serigala itu melompat ke arahnya.


Bluuug ...


Claudya memegang kayu memukul serigala itu hingga terjatuh dan tak berdaya.


"Kena kau!" ucap Claudya. Dia begitu senang bisa memukul serigala yang hampir menerkam Luki tadi.


Luki melihat ke arah gadis berhijab itu. Begitupun Claudya. Mata mereka saling bertautan.


"Kau tak apa-apa?" tanya Claudya. Dia menjatuhkan kayu di tangannya.


Luki melepas tangannya dari tangan yang terluka. Menghampiri Claudya. Memegang tangannya.


"Kau mau apa?" tanya Claudya.


"Ikut aku!" titah Luki.


"Luki lepas, kenapa kau seperti ini padaku?" keluh Claudya.


Luki tak menggubris. Menarik tangan Claudya. Kembali berjalan ke dalam hutan. Mereka berdua menelusuri jalan hingga matahari mulai terbenam. Tak ada lagi cahaya terang yang bisa menerangi jalan. Claudya ketakutan. Hutan seperti tempat yang gelap dan menakutkan.


"Luki aku takut," ucap Claudya.


"Takut? Baguslah. Kau akan mati ketakutan," ucap Luki.


Suara-suara serigala dan binatang malam lainnya mulai terdengar.


Hauuuuu .... hauuuuu ....


Claudya langsung terkejut. Mendekat ke tubuh Luki.


"Hei, kau!" pekik Luki risih saat tubuh Claudya mepet padanya.


"Aku takut," ucap Claudya pelan.


"Minggir!" pekik Luki. Dia hendak mendorong dada Claudya menjauh dari tubuhnya. Tak sengaja tangannya memegang sesuatu yang empuk itu.


"Eh, kau memegang dadaku!" Claudya marah.


Luki langsung menarik tangannya dari dada Claudya.


"Aku tak memegang dadamu, hanya tak sengaja menyentuhnya," sahut Luki.


"Dadaku memang besar, jangan-jangan otakmu mesum!" ujar Claudya.


"Aku gak doyan dadamu!" pekik Luka.


"Oya, laki-laki biasanya suka dada besar, menantang, dan kenyal," ujar Claudya.


"Otakmu mesum," ucap Luki.


"Apa? Kau yang mesum!" kekeh Claudya.


Luki kembali memegang tangan kanan Claudya. Menariknya kembali berjalan bersamanya. Di sepanjang jalan Claudya mengeluh.


"Aku lelah, kakiku sakit," keluh Claudya.


Luki berhenti. Melihat ke sekeliling. Semuanya mulai gelap. Luki menarik tangan Claudya menuju pohon besar yang akarnya membentuk cekungan sudut siku-siku.


"Duduklah!" titah Luki.


"Kau mau apa? Kau tidak akan memperkosakukan? Tadi kau pegang dadaku, jangan-jangan ...," ujar Claudya.


"Aku akan membunuhmu," kata Luki.


"Jahat!" pekik Claudya. Kemudian dia duduk. Meringkuk. Memangku tangannya karena udara yang mulai dingin menusuk tulang.


Luki duduk tak jauh darinya. Dia menyalakan api dengan ranting-ranting yang ada di sekitar pohon. Api unggun itu cukup menerangi dan menghangatkan tubuh.


"Kau sedang apa di situ?" tanya Luki.


"Kau tak melihat aku makan buah, aku haus dan lapar, ada buah jatuh ya ku makan," sahut Claudya.


Luki mendekat.


"Kau asal memakan buah, tidak semua buah bisa dimakan, tahu beracun gak?" pekik Luki.


"Masa sih beracun, rasanya enak, meski agak getir," sahut Claudya. Dia memperlihatkan buah itu pada Luki.


"Sebentar lagi kau akan mati, baguslah aku tak perlu membunuhmu," ujar Luki.


"Aku mati! Buah ini beracun?" Claudya terkejut. Dia berusaha memuntahkan yang tadi digigitnya.


Hoooeek ... hoooeeek ...


"Untung saja belum masuk perut, aku masih hidup," ujar Claudya. Melihat ke sekeliling. Luki tak ada.


"Luki! Luki! Luki!" teriak Claudya. Dia berdiri. Mencari Luki. Berjalan melewati pepohonan.


"Luki aku takut, Luki aku takut, Luki!" teriak Claudya.


Claudya terus berjalan sambil memanggil Luki.


"Luki kau jahat, kau sengaja meninggalkankukan, biar aku jadi santapan hewan buas," keluh Claudya sambil menangis.


"Kau ngapain di situ?" tanya Luki di belakang Claudya.


Mendengar suara Luki, Claudya berbalik. Menatap Luki yang membawa beberapa buah di tangannya.


"Luki! Ku pikir kau meninggalkanku, aku takut," sahut Claudya. Dia menghampiri Luki. Tersenyum. Karena merasa tak sendirian lagi di hutan yang gelap dan menakutkan.


"Aku akan membunuhmu besok, mana mungkin aku meninggalkanmu," ucap Luki.


"Jahat!" pekik Claudya.


Luki berbalik meninggalkan Claudya. Menuju api unggun tadi.


"Luki tunggu! Itu buah untukku?" tanya Claudya mengekor di belakang Luki.


Luki tak menjawab. Dia terus berjalan. Sampai di api unggun. Duduk di depan perapian itu. Begitupun dengan Claudya.


"Aku mau satu boleh?" tanya Claudya.


"Tidak, matilah kau kelaparan!" jawab Luki.


"Hih, jahat!" jawab Claudya. Memangku tangannya sambil cemberut.


"Makanlah buah yang busuknya!" titah Luki.


Claudya tak bergeming. Tetap cemberut.


Luki melempar satu buah durian ke arah Claudya.


"Makan! Biar besok kau segar saat aku bunuh!" titah Luki.


"Hih, jahat!" keluh Claudya. Tapi perutnya keroncongan. Mulutnya juga kering. Mau tak mau menurunkan gengsi dan amarahnya. Mengambil buah durian itu. Dan mengigitnya.


Luki tertawa. Melihat Claudya menggigit kulit durian.


"Aduh sakit bibirku, gigiku juga, susah digigitnya, mana gak ada pisau," keluh Claudya.


"Kasihan," sahut Luki.


Claudya cemberut lagi. Bibirnya mengerucut. Membuang muka dari Luki. Meletakkan duriannya di tanah. Sedangkan Luki membelah durian itu dengan batu runcing yang tadi dicarinya.


"Wangi, gede-gede lagi isinya," ledek Luki saat melihat durian terbelah itu.


Claudya membelakangi Luki. Marah.


Luki memakan buah durian itu dengan lahap. Sengaja berkoar-koar agar Claudya semakin kesal.


"Enak, manis, pulen lagi," ucap Luki.


"Hih," keluh Claudya sambil memegang perutnya.


"Sepertinya gak habis. Aku kenyang, tidur ah," ucap Luki. Dia berpindah ke ujung akar pohon. Berbaring di sana sambil meringkuk.


Claudya melihat durian yang sudah dibelah semuanya termasuk miliknya.


"Asyik," ucap Claudya. Dia bergegas mengambil durian itu. Memakannya dengan lahap.


"Enak, manis, pulen, lebih enak dari durian yang sering ku makan," ucap Claudya sambil melirik lelaki yang berbaring itu. Dia bisa leluasa memakan durian itu. Toh Luki tidur ini.


"Kenyang, alhamdulillah," ucap Claudya.


"Kau sudah kenyang?" tanya Luki berdiri di belakangnya.


Claudya berbalik. Melihat Luki ada di belakangnya.


"Iya kenyang," sahut Claudya.


Luki duduk di sampingnya. Tangannya terlihat ada luka gigitan serigala tadi. Darahnya juga masih mengalir.


"Luki tanganmu," ucap Claudya.


"Bukan urusanmu," sahut Luki.


Claudya mengambil tangan Luki.


"Lepas!" titah Luki.


"Kalau tak diobati infeksi," ujar Claudya.


"Gak usah sok perhatian," sahut Luki.


"Diam di sini!" ucap Claudya. Dia berdiri berjalan meninggalkan Luki.


"Kau mau ke mana? Awas kabur! Aku akan membunuhmu langsung!" ancam Luki.


Tak lama Claudya kembali membawa dedaunan. Dia kembali duduk di samping Luki. Meremas daun itu. Menempelkannya di luka Luki. Kemudian dia merobek bagian bajunya. Untuk mengikat tangan Luki yang ada lukanya.


"Nah, moga saja luka kering besok," ucap Claudya.


"Kau menaruh racun, biar aku mati," ujar Luki.


"Udah ditolong, menyebalkan," ucap Claudya. Dia berdiri. Berjalan ke sudut akar pohon. Berbaring di sana. Membelakangi Luki.


Luki hanya terdiam. Melihat lukanya yang tadi diobati Claudya.