Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Keluarga



Siang itu Sophia membuat kue kering bersama Ibu Marisa, Claudya, Bi Inem dan Bi Siti. Dodo juga ikut membantu. Suasana lebaran sudah terasa kental di hari kedua sebelum lebaran. Beberapa kue kering sudah selesai dipanggang. Ada kue putri salju, kue nastar, kue kastengel, kue kacang, kue semprit, kue lidah kucing, chocolate chip, butter cookies, kue bawang dan kue kering lainnya. Dodo ikut memasukkan kue-kue itu ke dalam toples.


"Do dari tadi kuenya kok gak penuh-penuh, kau makan ya?" tanya Claudya.


"Enggak Tante, cuma Dodo masukin kantong sebagian buat buka puasa tar," jawab Dodo.


"Kau masukin ke kantong mana?" tanya Claudya.


"Di kantong yang ada di belakang celana Tante," jawab Dodo.


Claudya tertawa mendengar ucapan Dodo begitupun yang lainnya.


"Dodo kantongmu kau dudukkin, ya remuk semua kuenya," ujar Bi Inem.


"Udah remuk bau kentut lagi," tambah Claudya.


"Ya ampun dari tadi Dodo kentut, berarti kuenya bau dong," ujar Dodo.


"Hayo tar buka habisin bubur kue bau kentutnya," kata Ibu Marisa.


"Syukurin makanya siapa suruh ngumpetin kue, ujung-ujungnya bau kentut," ucap Bi Siti.


Sophia hanya tertawa kecil dengan tingkah Dodo. Kue di bokongnya remuk kaya tepung ditambah aroma kentut sebagai vanili alami.


"Ya udah sini Tante bantuin masukin kuenya," ujar Sophia menghampiri Dodo. Duduk di sampingnya lesehan di tikar yang di gelar di lantai.


"Tante perut Dodo gede kaya Tante, apa Dodo hamil juga?" tanya Dodo.


Sophia tersenyum. Kata-kata Dodo terdengar lucu.


"Kamu hamil tuh Do, anak kecebong," jawab Claudya.


"Itu buntelan kentut isinya," sanggah Ibu Marisa.


"Istana cacing kremi itu," tambah Bi Siti.


Sophia tertawa kecil mendengar candaan yang menyerang Dodo.


"Berarti Dodo akan melahirkan juga ya?" ujar Dodo.


"Nah loh ngelahirin kecebong mesti ke kali dulu," ujar Claudya.


"Masa? Isi perut Dodo bukannya tumpukan gajih ya?" sanggah Dodo.


"Gajih buat bikin baso tuh Do, atau buat tambahan soto," ujar Bi Siti.


"Dodo diet deh, lebaran ini makan sayur doang biar sehat," kata Dodo.


"Yakin, ada rendang dan opor loh," kata Bi Inem.


"Ya udah dietnya tahun depan aja," sahut Dodo.


"Yaelah gendut, diet aja diundur terus, berat badanmu maju terus tuh," jawab Claudya.


Dodo tersenyum sambil memasukkan kue kering ke toples dibantu Sophia. Mereka memasukkan kue kering ke toples sambil mengambil loyang yang sudah berisi kue kering yang sudah matang.


"Asyik bikin nastar," ujar Alex yang masuk ke dalam dapur.


"Iya Mas, kita bikin nastar kesukaanmu," jawab Sophia.


"Ikut bantuin boleh?" tanya Alex.


"Boleh, masukin kuenya ke toples Mas," jawab Sophia.


"Paling Kak Alex mau deket-deket Kak Sophia," ledek Claudya.


"Iya dong, mau jagain istri yang lagi hamil," sahut Alex.


"Bikin ngiri aja," jawab Claudya.


"Makanya nyari suami kaya aku dong, romantis," sanggah Alex.


"Ogah, kalau bukan Kak Sophia gak sanggup punya suami kaya kakak," sahut Claudya yang tahu persis seperti apa Alex di masa lalu. Sophialah yang membantunya berubah seperti sekarang.


"Iya, Sophia sabar banget jadi istrimu Lex, kalau bukan Sophia siapa yang bisa meluluhkan hatimu yang liar itu," tambah Ibu Marisa.


"Mas kok natanya ke balik?" tanya Sophia.


"Biar nastarnya gak capek sayang kalau ngelihat ke atas terus," jawab Alex beralasan.


"Tapi kasihan bokongnya kecepit Om, tar kalau mau BAB susah," sahut Dodo.


Sophia dan yang lainnya tertawa renyah. Tak disangka kebersamaan penuh canda itu membuat mereka bahagia.


"Assalamu'alaikum," sapa Tuan Matteo yang berdiri di depan pintu dapur.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Adik ipar kemarilah! Kita masukin nastar ke toples!" ajak Alex.


"Jangan mau sayang, bantuin aku oles mentega aja," sanggah Claudya yang sedang mengoleh kue kering yang akan dipanggang dengan mentega.


"Bantuin yang mana duluan nih?" tanya Tuan Matteo.


"Ya udah adik ipar ku relakan kau bersamanya," jawab Alex.


"Siap kakak ipar!" jawab Tuan Matteo. Dia gabung bersama Claudya mengoles kue dengan mentega.


"Sayang itu putri salju kenapa dioles mentega semua," kata Claudya.


"Kirain kue bulan jadi cahayanya harus terang," sahut Tuan Matteo.


"Betul adik ipar bulan ya terang, kasih lagi menteganya biar bersinar di malam hari," ujar Alex.


"Dasar Kak Alex provokator," sahut Claudya.


Tak lama Gavin dan Maria juga datang. Mereka masuk ke dapur ikut membantu membuat kue kering juga. Maria membantu Ibu Marisa membuat kue bawang. Sedangkan Gavin yang mencetaknya.


"Vin itu kue bawang bukan donat," ujar Ibu Marisa.


"Kirain adonan donat Bu," sahut Gavin.


"Ya ampun Kak, lo ngerti kue kering gak sih? Kue bawang lo cetak donat," sahut Claudya.


"Masih mending donat lucu, nih gue cetak kaya buntelan kentut," sahut Gavin.


"Itu kelakuan anak lo noh," jawab Claudya.


"Tenang Dodo, ayahmu membuat kue bawang buntelan kentut terinspirasi dari kentut yang sering kau keluarkan," kata Gavin.


"Iiih ayah dan anak sama aja," keluh Claudya.


Mereka semua asyik membuat kue kering. Memanfaatkan waktu untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan.


Setelah membuat kue kering, Alex menemui ibunya. Mereka bicara berdua di balkon kamar Ibu Marisa.


"Alex maafin ibu ya Nak, semua yang terjadi berawal dari niat ibu yang tidak baik, ibu serakah, egois dan mengorbankan kebahagianmu demi tujuan ibu," ujar Ibu Marisa. Tampak penyesalan yang begitu besar tercermin di wajahnya. Dia sangat menyesal atas apa yang telah terjadi.


"Awalnya aku merasa dibohongi, dimanfaatkan dan dijadikan alat untuk dirimu meraih semua yang kau inginkan Bu, tapi aku sadar tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan dosa. Baik aku ataupun ibu," sahut Alex.


"Ibu bisa mengerti jika kau marah padaku, ibu mengerti posisimu, dan jika kau ingin menghukumku aku juga akan menerimanya dengan lapang dada," kata Ibu Marisa.


"Bu aku ingin yang lalu biarlah berlalu, aku tidak bisa menyalahkan ibu sepenuhnya. Mungkin semua ini takdir yang sudah tertulis, aku ingin kita memulai dari awal, menjadi sebuah keluarga," ucap Alex.


Mata Ibu Marisa berkaca-kaca menatap mata Alex. Dia tak menyangka Alex mau menjalin hubungan dengannya lagi.


"Kita keluarga?" tanya Ibu Marisa.


"Iya kita keluarga Bu. Aku, ibu, ayah, Sophia, kakek, Claudya, Gavin dan yang lainnya," sahut Alex.


Ibu Marisa menangis. Selama ini uang di atas segalanya. Ternyata keluarga adalah harta yang paling berharga. Tempatnya mendapatkan kebahagiaan yang tulus dan sejati.


"Aku sayang ibu," kata Alex.


"Anakku," jawab Ibu Marisa.


Mereka berdua akhirnya berpelukan. Melepas semua keegoisan. Melebur jadi satu cinta dan kasih sayang. Meluapkan semua kerinduan dan menatap masa depan bersama yang jauh lebih indah dari sebelumnya.