
"Ke luar!" titah Alex. Dia tak ingin bernegoisasi atau berdebat dengan lelaki penjilat seperti ayahnya. Dia bukannya membantu menyelesaikan masalah. Justru memancing ikan di air yang keruh. Ingin mendapatkan keuntungan di saat orang lain kesulitan.
"Kenapa harus ke luar? Aku ini anak David Sebastian. Ayahmu Alex," sanggah Pak Ferdi sambil tersenyum licik.
"Di sini akulah pemimpin perusahaan. Siapapun boleh ke luar masuk atas izinku, jadi ke luar!" titah Alex mulai kesal.
Lelaki paruh baya itu tak bergeming. Dia justru berjalan menghampiri Alex. Berdiri di belakangnya. Membisikkan sesuatu padanya.
"Kalau perusahaan bangkrut, kau taruh di mana keluarga kita?" bisik Pak Ferdi.
Deg
Alex terdiam. Seketika teringat kakek, ibu, dan kedua adiknya. Mereka sudah terbiasa hidup mewah, mampukah hidup seadanya?
"Gimana?" bisik Pak Ferdi.
"Aku tidak bodoh, katakan idemu, kalau masuk akal dan bagus, aku mundur," ucap Alex pelan.
"Oke," jawab Pak Ferdi. Kemudian dia berjalan memutari meja rapat. Di belakang semua orang yang duduk. Menyampaikan idenya.
"Segala sesuatu yang ingin kita raih, harus ada yang dikorbankan. Itulah dunia bisnis. Jangan beri belas kasih, jika kau ingin berkuasa," ujar Pak Ferdi.
Semua orang terdiam mendengarkan Pak Ferdi bicara.
"Maka dari itu, korbankan Pak Bagus dan anak buahnya. Anggap saja Pak Bagus dan anak buahnya mencari untung sebesar-besarnya, hingga mengganti dan mengurangi bahan bangunan, lalu laporkan ke polisi, dengan bukti palsu yang sudah kita rencanakan, dan buat pemberitaan besar-besaran tentang tertangkapnya Pak Bagus dan anak buahnya agar nama baik perusahaan kita kembali," ujar Pak Ferdi.
Semua petinggi perusahaan membicarakan ide instan dari Pak Ferdi. Ide itu memang tampak jitu. Namun harus mengorbankan orang lain.
"Aku tidak setuju!" tegas Alex.
Pak Ferdi terkejut. Dia melihat ke arah Alex.
"Kenapa? Sok suci?" tanya Pak Ferdi.
Alex berdiri, berjalan menghampiri Pak Ferdi. Berdiri tepat di depannya.
"Aku tidak ingin mengorbankan orang yang tidak bersalah, untuk ambisimu semata," ujar Alex menunjuk ke arah Pak Ferdi.
Pak Ferdi mengambil telunjuk Alex yang masih mengudara lalu menurunkannya.
"Ambisiku atau ambisimu yang tak ingin turun dari kursimu sekarang?" ujar Pak Ferdi.
Beberapa petinggi perusahaan mulai ricuh berkomentar.
"Saya setuju usul Pak Ferdi, kita butuh solusi cepat."
"Benar, pikirkan satu orang dikorbankan untuk menyelamatkan ribuan orang."
"Bos kita tak punya pilihan yang lebih bagus."
Alex terdiam. Posisinya terjepit. Semua petinggi perusahaan bahkan mendukung Pak Ferdi. Sekarang posisi lelaki paruh baya itu sedang di atas awan. Dia merasa keberuntungan berpihak padanya. Alex pasti akan mundur dari posisinya yang sekarang. Namun tiba-tiba pintu ruangan meeting itu diketuk.
"Bos saya buka pintu dulu," ucap Kenan.
Alex mengangguk.
Segera Kenan berdiri. Berjalan menuju pintu. Membukanya. Ternyata Sophia datang bersama seseorang yang sudah dinantikan. Kenan terlihat senang melihat Sophia dan seseorang bersamanya. Dia menyuruh Sophia masuk duluan.
"Mari Nyonya Bos!" ajak Kenan meminta Sophia masuk.
Segera Sophia masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum," sapa Sophia.
Semua orang tercengang melihat Sophia Thalia yang merupakan istri dari Alex Sebastian. Pemimpin perusahaannya.
"Wa'alaikumsallam," sahut semua orang kecuali Pak Ferdi yang enggan membalas salam Sophia.
"Lihat! Inikah pemimpin? Tak bisa menyelesaikan masalah, sampai istrinya turun tangan. Memalukan!" ujar Pak Ferdi mengolok-olok Alex yang berdiri di dekatnya.
Alex terdiam. Tak peduli dengan ucapan Pak Ferdi. Matanya fokus ke arah Sophia istrinya yang berdiri di seberang meja. Di belakangnya ada Kenan yang siap menjaganya.
"Maaf kedatangan saya ke sini bukan untuk menganggu atau ikut campur dalam masalah intern perusahaan ini, tapi saya membawa seseorang saksi, yang mungkin akan menjelaskan semuanya," ucap Sophia.
"Ha ha ha." Pak Ferdi tertawa. Dia meremehkan Sophia yang dipikirknya hanya anak kemarin sore.
"Menantuku, tak perlu repot-repot, sebaiknya kau dandan cantik di rumah menunggu Alex pulang," sindir Pak Ferdi.
"Kenan tolong bawa dia masuk ke dalam!" pinta Sophia.
"Baik Nyonya Bos," sahut Kenan. Kemudian berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu. Menyuruh orang itu masuk ke dalam. Perlahan orang itu masuk. Baru beberapa langkah semua orang tercengang melihatnya khususnya Pak Ferdi.
"Yuda," ucap Alex. Dia tak menyangka orang yang dibawa Sophia adalah Yuda. Mungkin ini yang Sophia katakan semalam. Akan memberinya kejutan.
Alex langsung duduk kembali dan menyuruh Yuda duduk. Sedangkan Sophia memutuskan ke luar. Karena dia merasa urusan intern perusahaan Alex bukan kewenangannya untuk mengetahui dan ikut campur.
Yuda duduk di samping bersama karyawan lainnya.
Alex memalingkan wajahnya ke arah ayahnya yang masih berdiri mematung. Seolah tak mampu bergerak. Kesombongannya yang tadi sirna berganti kebisuaan dalam keheningan.
"Kenapa kau masih berdiri? Duduklah!" titah Alex.
Pak Ferdi masih terdiam. Melihat ke arah Yuda. Sedangkan Yuda menunduk saat Pak Ferdi menatapnya.
"Kenapa diam? Di mana kesombonganmu tadi? Kau takut semua akan terbongkar?" tanya Alex sambil tersenyum. Kini posisinya berbalik. Alex berada di atas awan sedangkan Pak Ferdi menapak di atas bebatuan yang runcing.
"Takut? Aku tak mungkin takut," sahut Pak Ferdi. Kemudian dia duduk di seberang Yuda. Masih menatap ke arahnya.
"Yuda katakan semuanya! Atau kau ingin aku melaporkanmu ke polisi?" ancam Alex.
"Kau apa-apaan Alex?" Pak Ferdi emosi. Dia terlihat tersudutkan.
"Kenapa kau marah? Aku tanya Yuda bukan kau," ucap Alex.
Pak Ferdi kembali diam. Namun emosinya masih meluap. Dia melotot ke arah Yuda.
"Cepat katakan Yuda! Jangan menguji kesabaranku," ujar Alex.
Yuda akhirnya menaikkan kepalanya. Menatap Pak Ferdi di seberangnya. Setelah itu dia mulai bicara.
"Saya hanya diperintah untuk menyabotase proyek pembangunan, itu saja," ucap Yuda singkat dengan ekspresi datar.
"Kau Yuda! Jangan mengarang cerita," sahut Pak Ferdi menunjuk ke arah Yuda dengan kesal.
"Diamlah ayah! Kau tak ingin tahu siapa yang menyuruh Yuda?" ujar Alex.
Pak Ferdi kembali diam. Meskipun nafasnya mulai berat. Ngos-ngosan seperti orang yang sedang naik darah.
"Siapa yang menyuruhmu Yuda? Katakan!" titah Alex.
Yuda menatap Pak Ferdi yang melotot ke arahnya. Tangan Pak Ferdi mengepal di atas meja seolah memberi kode pada Yuda untuk tutup mulut.
"Yuda kau memilih masuk penjara rupanya, baiklah aku telpon polisi," ucap Alex mengambil handphone di sakunya. Hendak menghubungi polisi namun Yuda langsung buka mulut.
"Pak Ferdi. Pak Ferdi yang menyuruhku," ungkap Yuda.
Semua orang terkejut termasuk Alex. Mendengar pernyataan Yuda. Di mata mereka Pak Ferdi ayah Bosnya. Tega sekali melakukan hal tak terhormat itu hanya demi uang.
"Dia bohong!" teriak Pak Ferdi menunjuk ke arah Yuda.
Alex hanya menatap keduanya dengan dingin.
"Aku tidak bohong, aku punya buktinya," ujar Yuda.
"Pembohong dibayar berapa kau memfitnahku?," ucap Pak Ferdi.
"Tidak, aku tidak berbohong, Pak Ferdi yang menyuruhku," elak Yuda membela dirinya.
"Dasar pembohong, kau mau menjebakku ya?" ujar Pak Ferdi.
Alex hanya bertepuk tangan. Dia tersenyum melihat dua orang yang berdebat untuk dinyatakan benar.
"Sudah jelas kau lah pelakunya ayah, kau masih mau mengelak?" tanya Alex.
"Iya, bisa saja Yuda sengaja mengatakan itu untuk menjadikan aku kambing hitamnya," ujar Pak Ferdi.
"Baiklah, Kenan bawa masuk kedua saksi lainnya!" titah Alex.
"Siap Bos!" sahut Kenan. Kemudian berdiri. Menjemput dua orang yang sudah siap di luar ruangan meeting. Dia membuka pintu, memasukkan dua orang itu. Kenan membawa mereka menghampiri Alex.
Kedua orang itu melihat Pak Ferdi. Mereka terlihat malu dan tak tahu harus bagaimana lagi.
Sedangkan Pak Ferdi terkejut melihat kedua orang itu ada di depannya.