Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Menjebakku



"Mas Harry," sapa Ibu Marisa. Matanya berkaca-kaca. Senyuman kecil terbit di bibir tipisnya. Menatap lelaki yang begitu dicintainya.


Sudah lama tak pernah bertemu. Hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Namun kali ini Ibu Marisa bisa melihatnya langsung.


Pak Harry hanya diam. Berjalan meninggalkan Ibu Marisa. Namun wanita paruh baya itu memegang lengannya. Berusaha menghentikan langkahnya. Pak Harry menoleh ke arahnya. Mata mereka saling memandang dan bertautan.


"Mas Harry," panggil Ibu Marisa kembali. Penuh harap. Berharap lelaki di depannya membalas.


"Lepaskan tanganku Marisa!" titah Pak Harry.


"Tidak, bicaralah sesuatu padaku, ku mohon," pinta Ibu Marisa.


Pak Harry mengambil tangan Ibu Marisa melepaskan dari tangannya.


"Mas Harry," ucap Ibu Marisa.


Pak Harry acuh. Dia kembali berjalan ke depan meninggalkan Ibu Marisa. Berjalan di lorong yang berada di luar restoran. Dari belakang Ibu Marisa menyusulnya. Dia memblokir jalan yang akan dilalui Pak Harry.


"Mas Harry kenapa? Sekian lama kau masih seperti ini?" tanya Ibu Marisa.


Pak Harry menghela nafas panjangnya. Membuangnya gusar. Menatap wanita di depannya.


"Sudah jelas aku tak pernah mencintaimu Marisa," ujar Pak Harry.


"Kenapa? Kau masih mencintainya? Jelas-jelas aku yang mencintaimu Mas," sahut Ibu Marisa.


"Kau dan dia berbeda Marisa, kau hanya mencintai uang sedangkan dia tak pernah memandang siapapun demi uang," ujar Pak Harry.


Ibu Marisa terdiam. Matanya berubah sendu.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Ibu Marisa.


"Hubungan? Kaulah yang membuat hubungan itu ada, kau membuat aku kehilangannya," balas Pak Harry.


"Mas Harry, aku mencintaimu, aku sampai rela hidup bersama Ferdi agar aku setara denganmu," ujar Ibu Marisa.


"Mau kau setara atau tidak, aku hanya mencintainya, lupakan imajinasimu itu," balas Pak Harry.


Ibu Marisa menggeleng. Dia maju ke depan memeluk paksa Pak Harry.


"Lepas Marisa! jangan mempermalukan dirimu sendiri," ketus Pak Harry berusaha melepas tangan Ibu Marisa.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Mas," ucap Ibu Marisa.


Pak Harry berusaha melepas kedua tangan Ibu Marisa. Mendorongnya hingga dia terjatuh ke lantai.


Bruuug ...


Ibu Marisa terjatuh. Terduduk di lantai memegang kakinya.


"Marisa, aku tekankan, aku tidak mencintaimu, jangan pernah muncul di depanku!" tegas Pak Harry sambil menunjuk ke arah Ibu Mariss yang terduduk di lantai.


Pak Harry kembali berjalan melewati Ibu Marisa. Meninggalkannya begitu saja. Tinggal Ibu Marisa yang menangis.


"Mas Harry, kenapa? Aku sudah melakukan apapun untuk bersamamu, kenapa? Kenapa kau masih saja mencintainya?" ucap Ibu Marisa.


Di dalam mobil Pak Harry terdiam. Dia ingat betul Ibu Marisa. Siapa dia dan apa hubungan di antara mereka selama ini.


"Kau menjebakku Marisa, membuat hubunganku hancur, dia pergi meninggalkanku," batin Pak Harry.


Teringat kisah masa lalunya bersama seseorang yang dicintainya dulu. Ingatan itu masih terasa menyakitkan untuk Pak Harry.


Dua orang sedang berbaring di ranjang. Satu selimut berdua. Keduanya tak mengenakan sehelai benang. Di lantai berserakan benang-benang yang mereka kenakan sebelumnya.


Tiba-tiba seorang wanita cantik masuk ke dalam kamar itu. Dia terkejut melihat Pak Harry dan Ibu Marisa sedang berpelukan tanpa sehelai benang, hanya sebuah selimut yang membungkus keduanya hingga dada.


"Mas Harry!" Wanita cantik itu berkaca-kaca melihat keduanya.


Suara kencang itu membuat Ibu Marisa terbangun. Melihat ke arah wanita cantik itu dengan senyuman liciknya.


"Adik manis kau melihatnya? Maaf, aku dan Harry telah menghabiskan malam panas bersama," ucap Ibu Marisa dengan pedenya.


Wanita cantik itu menggeleng. Dia tak menyangka orang yang dicintainya menghabiskan malam dengan sepupunya sendiri.


"Lihat, Harry masih betah memelukku," ucap Ibu Marisa.


Air mata wanita cantik itu jatuh di pipinya. Hatinya hancur. Semua rencana yang selama ini dibangun tak bersisa menjadi debu tertiup angin. Tak kembali hilang entah ke mana.


Tak lama Pak Harry terbangun. Dia terkejut memeluk Ibu Marisa tanpa sehelai benang. Dalam satu selimut dan ranjang yang sama. Yang membuatnya semakin terkejut lagi, wanita yang paling dicintainya ada di depan pintu melihat ke arahnya dengan mata yang sudah sembab.


Pak Harry langsung melepas tangannya dari tubuh Ibu Marisa. Terduduk. Menjauh dari tubuh Ibu Marisa.


"Sayang aku tidak tahu kenapa aku bisa di sini," ujar Pak Harry.


Wanita cantik itu tidak mengatakan apapun hanya air mata yang terus menetes di pipinya.


"Marisa kau pasti menjebakkukan?" ujar Pak Harry.


"Tidak, tidak mungkin, jangan percaya ucapannya sayang, aku tidak mungkin mengkhianati cinta kita," ujar Pak Harry menatap wanita cantik di depannya.


"Mas Harry, lupakan aku, hubungan kita cukup sampai di sini," ucap wanita cantik itu sambil melepas cincin di tangannya. Melemparnya ke arah depan. Air matanya membanjir di pipinya. Dia meninggalkan tempat itu dengan kekecewaannya.


"Sayang ... sayang ...," teriak Pak Harry.


Sejak saat itu dia kehilangan orang yang paling dicintainya. Terakhir bertemu dengannya wanita itu sudah bersama Pak Ferdi. Mereka menjalin hubungan. Namun entah mengapa wanita yang dicintainya meninggal begitu saja. Pak Harry tidak tahu kenapa orang yang dicintainya meninggal. Dia berpikir Pak Ferdi sudah melakukan sesuatu padanya.


Tangan Pak Harry mengepal saat mengingat masa lalu di antara mereka. Dia, Ibu Marisa, Pak Ferdi dan orang yang dicintainya yang telah pergi selamanya.


"Ferdi kau dan semua keturunanmu akan menderita sepertiku," batin Pak Harry.


Mobil itu melaju. Pak Harry hanya duduk terdiam. Menatap kaca mobil di sampingnya. Hujan mulai turun. Langit begitu mendung. Halilintar muncul di langit hitam. Seakan mengerti isi hati Pak Harry sama buruknya dengan cuaca hari itu.


***


Alex dan Sophia kembali ke Jakarta. Mereka tersenyum. Bulan madu singkat itu begitu dinikmati keduanya. Mereka masuk ke rumah Keluarga Sebastian dengan wajah yang tampak ceria. Kakek David, Claudya, dan Pak Ferdi menyambut keduanya yang baru datang.


"Assalamu'alaikum," sapa Alex dan Sophia.


"Wa'alaikumsallam," sahut semuanya.


"Wah pengantin baru habis bulan madu nih," sindir Claudya.


"Makanya nikah, biar bisa kaya gini," sahut Alex sambil merangkul pemilik mata emerald itu.


"Mas," ucap Sophia malu.


"Ayo duduk dulu!" ajak Pak Ferdi.


Alex dan Sophia mengangguk. Kemudian duduk bersama mereka.


"Bagaimana di Bandung? pasti menyenangkan," ujar Kakek David.


"Alhamdulillah Kek, menyenangkan, apalagi bersama orang yang dicintai," jawab Alex.


"Bikin ngiri aja sih Kak," gumam Claudya.


"Makanya jangan pacaran, nikah, sah mau ke mana berduaan juga," ujar Alex.


Sophia hanya tersenyum tipis. Dan mengangguk setuju dengan pendapat suaminya.


"Pengennya, doain ya dapat jodoh segera," sahut Claudya.


"Amin," sahut semuanya.


Tak lama seorang pelayang masuk ke ruang tamu. Memberikan sebuah undangan pada Kakek David. Kemudian pelayan itu kembali ke belakang.


"Undangan apa Kek?" tanya Alex.


"Undangan pesta dansa," jawab Kakek David.


"Seru Kek, datang yuk Kek sama Claudya, dari dulu kakek selalu absen," ujar Claudya.


Kakek David terdiam. Ada sesuatu yang dipikirkannya.


"Pa, padahal itukan pesta dansa para konglomerat, sekali-kali hadir Pa buat hiburan," lirih Pak Ferdi.


"Pesta dansa? Sepertinya seru Kek," ujar Alex.


"Kau saja dan Sophia yang pergi, kakek terlalu tua untuk ke acara seperti itu," ujar Kakek David. Kemudian dia berdiri meninggalkan ruang tamu.


"Kakek kenapa ya? Tak pernah hadir di acara para konglomerat?" tanya Claudya penasaran.


"Mungkin Kakek kurang suka acara semacam itu," ujar Pak Ferdi.


Sophia terdiam. Melihat undangan pesta dansa itu. Ada sesuatu yang membuat Kakek David begitu menghindari acara itu. Sophia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan kakek dari semua orang.


"Sayang kita ke atas," ajak Alex.


Sophia mengangguk.


"Mau berduaan lagi?" tanya Claudya.


"Makanya nikah," sindir Alex.


"Tengil deh Kak Alex," ucap Claudya kesal.


Pak Ferdi hanya tersenyum melihat kedua anaknya bersenda gurau.


"Ayah, aku dan Sophia naik dulu," ucap Alex.


Pak Ferdi mengangguk.


Alex dan Sophia pun meninggalkan ruang tamu. Naik ke lantai atas menuju kamar mereka.