Casanova Dipinang Sholeha

Casanova Dipinang Sholeha
Tawaran Mengejutkan



"Ada apa? Sepertinya pengusaha dari Jakarta ada di sini? Memang tak sengaja bertemu atau?" tanya Tuan Matteo.


"Begini Tuan Matteo, saya Alex Sebastian, bisakah kita bicara empat mata?" tanya Alex.


"Maaf hari ini saya sibuk, ada acara penting yang harus saya hadiri, jika itu menyangkut bisnis, saya tidak tertarik," jawab Tuan Matteo.


"Tuan Matteo saya ingin ...," ucap Alex terhenti saat Tuan Matteo mengangkat tangannya.


"Maaf, saya harus pergi," ujar Tuan Matteo sambil menurunkan tangannya.


Bodyguard Tuan Matteo meminta Alex dan Kenan untuk minggir kemudian Tuan Matteo pergi bersama bodyguard-nya meninggalkan keduanya.


"Bos gagal, Tuan Matteo sepertinya tidak tertarik bekerjasama dengan perusahaan kita," keluh Kenan.


Alex menepuk bahu Kenan. Dia tahu mereka sudah berusaha sejauh ini. Bahkan hampir celaka semalam demi menyusul ke Bandung.


"Kembalilah beristirahat lagi Kenan!" perintah Alex.


"Lalu bagaimana dengan Tuan Matteo?" tanya Kenan.


"Mungkin bukan rejeki kita," jawab Alex.


Kenan terdiam. Dia menunduk. Lemas rasanya sudah usaha sejauh itu hasilnya nihil.


"Aku akan menyusul Sophia, kita bicarakan masalah ini setelah kembali ke Jakarta," ucap Alex.


"Baik Bos," sahut Kenan


Alex berjalan ke depan meninggalkan Kenan.


"Semangat!" teriak Alex sambil mengangkat tangannya berjalan menjauh.


"Semangat Bos!" balas Kenan. Dia kembali bersemangat. Bosnya saja masih bisa bersemangat dengan semua masalah yang terjadi apalagi dia yang hanya seorang sekretaris.


***


Sophia sedang berkeliling bersama Sekretaris Wang melihat hutan yang luas dipadu padankan dengan aneka wahana selfi. Tak hanya itu berbagai hewan seperti rusa, kambing, angsa, kelinci ada di tempat itu. Bangunan-bangunan ikonik dari berbagai negera ada di antara pohon-pohon yang berjejer. Tak hanya Sophia namun para pecinta alam lainnya hadir di acara itu. Di tempat itu juga ada perkebunan buah dan pertanian. Beberapa tenda camping ada di tempat itu. Ditujukan untuk pengunjung yang ingin camping dengan alam terbuka.


"Baru di hari ketiga tapi pengunjung sudah banyak, sepertinya tempat ini memang cocok untuk tempat pelestarian alam sekaligus tempat wisata," ucap Sophia.


"Iya Nona Sophia, tempat ini memang sangat recommended, selain melestarikan alam jadi tempat wisata yang cocok untuk semua kalangan."


"Di Jakarta susah mendapatkan tempat hijau seperti ini, itu sebabnya kami membawa beberapa tanaman yang jarang ada di tanam di sini," ujar Sekretaris Wang.


"Nona Sophia memang selalu memberi dukungan untuk tempat seperti ini, kami sangat berterima kasih."


"Saya yang justru senang bisa diundang datang ke tempat ini dan ikut berkontribusi di dalamnya," sahut Sophia.


Sophia bersama Sekretaris Wang dan beberapa orang yang mengurus tempat itu terus berjalan sambil melihat-lihat semua hal yang ada di situ.


Di belakang Sophia, rombongan Tuan Matteo sedang berkeliling juga. Ditemani pemgurus yang lainnya.


"Ada tanaman duet, sudah lama sejak merantau ke Jakarta tak pernah menikmati buah duet itu," ucap Tuan Matteo.


"Nona Sophia Thalia yang memberikan bibitnya saat tempat ini baru dirintis, dia ingin tanaman ini ada juga ditempat ini."


"Tak hanya itu dia juga memberi bibit arbey dan ceplukan yang dibawa dari perkebunannya untuk ditanam disini. Sekarang jadi banyak dan bisa dijadikan tanaman obat."


Tuan Matteo memetik arbey dan duet atau sering disebuah jamblang. Dia langsung memakan kedua buah itu yang baru dipetiknya.


"Manis, mengingatkan masa kecil saya karena buah duet ini," gumam Tuan Matteo.


"Saya juga berpikir seperti itu."


"Sophia Thalia? Bukannya dia pengusaha dari Jakarta?" tanya Tuan Matteo.


"Iya betul, Sophia Thalia memang pengusaha dari Jakarta, itu orangnya." Pengurus itu menunjuk ke arah Sophia yang berjalan di depan mereka.


Tuan Matteo penasaran, dia melihat ke depan. Sesosok wanita cantik berhijab. Terlihat ramah dan sopan. Senyumannya seperti bulan sabit yang memancarkan cahaya. Tatapan matanya adem, menyejukkan hati.


"Tuan Matteo, mari kita menghampiri Nona Sophia."


"Iya, mari," jawab Tuan Matteo.


Rombongan Tuan Matteo menghampiri rombongan Sophia yang tak jauh dari tempat mereka berada.


"Nona Sophia Thalia."


Sophia langsung menengok ke arah orang yang memanggilnya.


"Pak Iqbal," sahut Sophia.


Pak Iqbal datang bersama Tuan Matteo dan bodyguard-nya. Mereka berdiri di dekat Sophia dan Sekretaris Wang.


"Nona Sophia ini Tuan Matteo Renaldi."


"Saya Matteo Renaldi, senang bisa bertemu anda," ucap Tuan Matteo memperkenalkan dirinya.


"Saya Sophia Thalia, senang juga bertemu dengan anda," sahut Sophia.


Usai berkenalan Tuan Matteo dan Sophia berbincang mengenai berbagai tanaman dan alam sekitar. Kebetulan hobi mereka sama, sama-sama menyukai alam. Mereka berjalan bersama sambil mengobrol. Begitupun dengan rombongan lainnya.


"Iya betul, tanah itu sengaja saya beli untuk memperluas perkebunan, selain memang untuk melestarikan alam, hasilnya bisa untuk bahan produksi yang diekspror dan digunakan untuk pabrik sendiri," jawab Sophia.


"Hebat, menjual dan mengelola sendiri, pemikiran yang cerdas," puji Tuan Matteo.


Sophia hanya tersenyum.


Selama ini Tuan Matteo pernah mendengar nama Sophia Thalia dari majalah bisnis, seminar dan acara yang melibatkan pengusaha. Namun kali ini dia bertemu dan berbicara langsung dengan sosok Sophia yang baik dan santun. Dia tak menyangka baru mengenal Sophia, kenapa tak sejak lama. Tentunya sangat menarik bisa membicarakan hal-hal menyangkut alam.


"Sophia beberapa tanaman di sini kau bawa langsung dari perkebunanmu?" tanya Tuan Matteo.


"Iya betul Tuan, saya ingin tempat ini punya banyak tanaman yang bermanfaat. Khususnya tanaman yang mungkin jarang dijumpai," jawab Sophia.


"Apa diperkebunan kau masih memiliki bibit pohon duet?" tanya Tuan Matteo.


"Ada, banyak, di tepi perkebunan saya sengaja menanam pohon duit, bahkan membudidayakan bibitnya agar tetap lestari," jawab Sophia.


"Bolehkah saya minta, dulu buah itu sangat saya gemari saat masih kecil, jadi teringat eyang saya," ucap Tuan Matteo.


"Boleh Tuan, nanti setelah sampai di Jakarta saya minta anak buah saya untuk kirim ke rumah anda," sahut Sophia.


"Terimakasih Sophia," ucap Tuan Matteo.


"Sama-sama," jawab Sophia.


Mereka berdua kembali berjalan bersama rombongan melihat-lihat alam terbuka itu. Sekalian mencoba beberapa wahana selfi yang tersedia. Tak lama Alex datang menyusul Sophia. Dia masuk ke dalam. Berjalan dari beberapa pos ke pos lainnya. Hingga menemukan Sophia bersama rombongan.


"Sayang," sapa Alex melambaikan tangan ke arah Sophia.


"Mas," sahut Sophia.


Alex menghampiri Sophia. Bergegas pemilik mata emerald itu mencium tangannya. Alexpun membalas dengan mencium kepala Sophia. Setelah itu Sophia memperkenalkan Alex pada yang lainnya. Termasuk Tuan Matteo, pencinta alam, dan pengurus tempat itu.


"Tuan Matteo senang bisa bertemu anda lagi di sini," ucap Alex.


"Saya juga senang bisa bertemu anda Bos Alex, ternyata istri anda Nona Sophia Thalia," ucap Tuan Matteo.


"Iya bidadari cantik ini memang istriku," ucap Alex sambil merangkul Sophia. Menunjukkan kepemilikannya pada yang lainnya. Sophia hanya tersenyum.


"Anda beruntung sudah memilikinya, jika belum saya akan menjadi yang pertama untuk segera memilikinya," ujar Tuan Matteo.


"Tidak ada celah untuk Sophia ke hati yang lain dari dulu, karena bidadariku ini sudah jatuh hati padaku sejak lama," sahut Alex sambil melihat wajah Sophia. Mata emerald itu berbinar penuh cinta untuk suaminya.


"Saya menjadi terlambat, tapi tak masalah mari kita lanjutkan lagi perjalanannya," ucap Tuan Matteo.


Semua orang kembali berjalan. Melihat-lihat hutan yang indah ditambah berbagai wahana selfi dan tanaman buah yang bisa dinikmati ditempat menjadi tempat yang menyenangkan.


Setelah acara itu selesai baik penyambutan, acara keliling dan penutupan, semua orang bebas menikmati sisa acara sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Sophia dan Alex memilih camping. Mereka berdua duduk di dalam tenda. Alex terus memandangi wajah Sophia yang cantik alami tanpa polesan.


"Sayang enak kalau malam ini tidur di sini sambil camping," ucap Alex.


"Iya Mas, banyak orang yang camping juga," sahut Sophia.


"Tar malam ya, biar anget," bisik Alex di telinga Sophia.


Deg


Jantung Sophia berdebar. Seluruh tubuhnya meremang. Suaminya memang hot. Tak bisa dipungkiri Alex memang tak bisa jauh dari itu yang dipikirkannya jika dekat Sophia.


Sophia langsung memeluk Alex. Menyandarkan kepalanya di dada sang casanova itu.


"Iya Mas, bukankah kita memang mau bulan madu?" ujar Sophia.


Alex mengangguk. Memeluk Sophia. Senangnya bisa berduaan dengannya. Hingga malam menjelang. Suara-suara jangkrik berbunyi. Alex masih bermalas-malasan di dalam tenda sambil memeluk Sophia yang sedang tidur.


"Cantiknya bidadariku meski tertidur," ucap Alex.


Setelah makan malam tadi Sophia sudah tidur. Alex menyelimutinya. Dia mencium kening Sophia kemudian berjalan ke luar tenda. Alex melihat tenda di seberangnya. Tepat di seberang api unggun. Ada Tuan Matteo yang duduk sendirian. Alex menghampiri Tuan Matteo dan duduk di sampingnya.


"Malam ini cuacanya cerah, cocok untuk bercamping," ucap Alex.


"Iya itulah sebabnya saya memilih bercamping," sahut Tuan Matteo.


Alex memangku kedua tangannya karena hawa dingin yang menusuk.


"Bos Alex apa kau masih ingin aku bekerja dengan perusahaanmu?" tanya Tuan Matteo.


Alex terdiam. Padahal tadi Tuan Matteo sendiri yang tidak ingin membahas bisnis dengannya, tapi sekarang dia sendiri yang ingin membahas bisnis bersamanya.


"Iya, saya memang ingin menawarkan kerjasama dengan anda, soal penanaman saham di perusahaan saya," ucap Alex.


"Bagaimana jika saya memberi anda syarat," ucap Tuan Matteo.


"Apa syaratnya?" tanya Alex.


"Berikan istrimu, aku akan memberikan setengah hartaku, jadi tidak hanya saham yang kau dapatkan tapi harta kekayaanku juga," ujar Tuan Matteo.


Alex terkejut dengan ucapan Tuan Matteo. Dia sampai terdiam sesaat.


"