
Divya menuruni anak tangga dengan langkah sangat yakin dan bahagia karena sebentar lagi akan bertemu pujaan hatinya.
“ anak papi cantik sekali. “ puji Davis membuat Divya memeluknya hangat.
“ Divya pergi dulu pi..... Assalamualaikum “ Salam Divya.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Nenek Ina yang dari tadi mengikuti Divya dan sudah berdiri di belakangnya.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Davis dan melirik pada Jason memberi isyarat agar mengirim orang untuk mengikuti Divya.
“ tidak perlu di awasi.... cucuku sudah dewasa dia sudah tahu mana yang baik dan tidak..... kalau pun kali ini dia bertemu pria yang membuatnya bahagia sebaiknya jangan di ganggu dulu.... nanti pasti Divya akan mengenalkan pria itu pada kita. “ ucapan Nenek Ina membuat Davis terdiam.
Dengan mengendarai Mercedes Benz C300 warna hitam milik Davis, Divya sangat tidak sabar untuk bertemu Fajrin. Sepanjang perjalanan Divya tersenyum bahagia dan saat berhenti di lampu merah Divya akan bercermin dengan kaca spion dalam. Setelah berkendara kurang lebih satu jam karena jalanan sedikit tersendat, sampailah Divya di lobi gedung Surendra Corp. Divya turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada seorang petugas valet parking yang biasanya memarkirkan mobil Helen.
Tentu saja petugas itu bingung siapa wanita ini yang seenaknya menyerahkan kunci mobil padanya.
Divya dengan anggun melangkah menuju resepsionis dan menarik perhatian mata semua kaum adam dan hawa yang berada di lobi atau pu yang melewati lobi.
“ siang mba..... bisa bertemu dengan pak Fajrin? " tanya Divya sopan.
“ maaf dengan mba siapa? Apa sebelumnya sudah membuat janji? “ tanya Resepsionis tersebut.
“ dengan Divya, dan saya belum membuat janji “ ucap Divya sambil menyelipkan anak rambut di telinga kirinya.
“ maaf mba.... kalau belum membuat janji kami tidak bisa mengizinkan mba Divya bertemu beliau “ Divya cemberut mendengar penolakan resepsionis tersebut.
Dengan kesal Divya melangkah menuju ruang tunggu tamu dan duduk di sebuah sofa.
“ di India bertemu hanya sekali dalam sebulan.... sekarang sudah di Jakarta semakin sulit bertemu..... menyebalkan “ gerutu Divya dan mengeluarkan ponselnya.
Divya mencoba menghubungi Fajrin tapi berkali-kali Divya menghubungi nomor Fajrin berkali-kali pula kotak suara yang menjawab. Karena kesal Divya memutuskan mengirim pesan singkat dan menunggu meskipun kehadirannya sangat menarik perhatian mata kaum adam dan hawa.
Setelah menunggu selama 15 menit dan tak ada pesan balasan dari Fajrin, Divya semakin kesal dan mencoba menghubungi Fajrin kembali. saat Divya menunggu nada dering, Divya melihat Roby keluar dari lift. Divya segera beranjak dari sofa ruang tunggu tamu dan berlari kecil mendekari Roby.
“ bang.... bang Roby... “ suara Divya bukan hanya menarik perhatian Roby tapi juga semua orang yang di lobi.
Roby melihat Divya melangkah mendekatinya dengan senyum mengejek.
“ ada apa kesini? Cari aku apa cari Fajrin? “ goda Roby.
“ cari kak Fajrin.... “ jawab Divya cemberut.
“ kangen? “ goda Roby dan sukses membuat pipi Divya bersemu merah meski pun tertutup foundation.
“ ada tidak? “ tanya Divya tidak sabar.
“ ada... barusan tadi turun sama aku. “ Divya melihat ke belakang Roby tapi tidak mendapati sosok Fajrin sama sekali.
“ mana.... tidak ada? “ tanya Divya heran.
“ turunnya bareng tapi liftnya berbeda.... Fajrin lagi makan siang sama big bos “ ucap Roby sedikit menggoda Divya.
“ haaa.... makan siang sama bang Azkar. “ Divya segera menekan nomor Azkar dan menekan tanda loudspeaker.
“ Assalamualaikum bang Azkar lagi dimana “ Salam Divya tidak sabar.
“wa'alaikumsalam.... lagi makan siang, kenapa? kamu mau ikut? “ tanya Afkar sambil melihat Fajrin yang membersihkan meja makan dengan tissu.
“ mau.... makan siang dimana? “ ucap Divya antusias.
“ kamu sekarang dimana? “ tanya Afkar ragu.
“ Divya di loby sama bang Roby “ jawab Divya dan sudah menahan kemeja Roby.
“ ini..... bang Azkar mau bicara “ ucap Divya dan menyerahkan ponselnya pada Roby
Roby menerima ponsel Divya.
“ Roby, kamu antar Divya makan siang kesini “
“ siap bos “ Roby tidak mampu menolak perintah Azkar dan menyerah kembali ponsel Divya
Roby melihat Divya dari ujung kepala hingga kaki.
“ kamu yakin mau ikut makan siang sama Fajrin? “ tanya Roby ragu.
“ iya.... kak Fajrin makan siang dimana sama bang Azkar? Kita naik mobil Divya saja ya.... “ ucap Divya yang langkahnya tertahan dan membuat Divya menghentikan langkahnya.
“ kenapa diam? “ tanya Divya heran.
“ lewat sini “ ucap Roby dan melangkah ke arah sebaliknya membuat Divya heran.
“ jangan banyak tanya ikuti saja aku “ ucap Roby kesal karena dengan mengantar Divya berarti rencana untuk melihat cewek incarannya gagal total.
Divya mengikuti langkah kaki Roby dengan sedikit berjalan cepat.
“ bang.... pelan-pelan jalannya “ permintaan Divya membuat Roby sadar kalau Divya memakai high heels.
Roby menghentikan langkah kakinya dan melihat Divya yang memakai high heels kesulitan mengikuti langkah kakinya.
“ lain kali kalau berniat ketemu Fajrin jangan pakai sepatu seperti ini.... pakai sepatu sneaker atau ballet flat saja.... “ nasehat Roby membuat Divya cemberut.
Setelah melewati lantai 1 gedung cyber keluar dari pintu belakang dan berjalan di gang yang hanya cukup di lewati 1 mobil saja juga bukan jalan beraspal halus tapi jalan paving, akhirnya mereka sampai di depan sebuah warung soto betawi.
“ ayo masuk.... katanya kangen Fajrin. “ ucap Roby saambil membuka kain yang menutupi warung tersebut.
Fajrin terkejut melihat kedatangan Divya dengan raut wajah yang tidak percaya bahwa Fajrin dan Azkar makan di warung kecil dan sempit ini.
“ Assalamualaikum “ salam Divya pelan.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Azkar, Fajrin dan Roby bersamaan.
“ ayo duduk “ ucap Azkar dan menyuruh Divya duduk di sebelah kiri Fajrin karena di sebelah kanan sudah ada pembeli wanita lainnya.
Roby menahan senyum melihat raut wajah Divya yang tidak percaya tempat makan siang mereka.
“ hai kak “ sapa Divya malu juga kikuk dengan suasana baru.
Divya terbiasa makan di restauran mewah dan baru kali ini melihat Azkar makan di warung kecil juga baru kali ini Divya makan di tempat seperti ini.
“ kalau tidak terbiasa makan di tempat seperti ini.... tunggu di lobi saja.... enak dingin tidak panas “ ucap Fajrin membuat Divya memajukan bibirnya.
Azkar melihat Divya merasa tidak nyaman di tempat seperti ini dan Fajrin yang merasa tidak enak karena Divya berpakaian seperti itu makan di warung.
“ kamu mau coba makan soto betawi? “ tanya Azkar berusaha mencairkan suasana di antara Divya dan Fajrin.
Divya menganggukan kepala dan Azkar meminta Roby untuk memesan setengah porsi untuk Divya
Saat pesanan Fajrin dan Azkar tersajikan, Azkar dan Fajrin segera makan karena mereka berdua sudah lapar sedangkan Divya dan Roby masih menunggu pesanannya. Setelah menunggu 5 menit akhirnya pesanan untuk Divya dan Roby tersajikan.
“ kalau tidak suka jangan di makan, nanti aku yang akan habiskan “ ucap Fajrin sambil meneguk teh hangat.
Divya mulai memegang sendok dan mengaduk sedikit soto dalam mangkuk merasa sedikit jijik, pelan-pelan Divya mencoba kuah soto itu sedikit demi sedikit yang akhirnya Divya mampu memasukkan sedikit nasi dan seiris kecil daging yang sudah bercampur menjadi 1 mangkuk. Saat hendak menyuap kembali Divya terganggu dengan rambutnya yang tergerai sehingga tangan kirinya sibuk merapikan rambut, tiba-tiba Fajrin mengeluarkan sapu tangan memilinnya dan mengikat rambut Divya tepat di tengkuk.