
“this....one of the author of this book name Fajrin (ini..... salah satu penyusun buku ini bernama Fajrin)" ucap Elena sambil menunjukkan nama yang dia maksud.
“Fajrin Dhiya Muhammad....” Divya membaca dengan heran nama yang Elena tunjuk.
Divya menatap Elena mencari tahu apakah mungkin itu nama panjang pria yang dia idam-idamkan.
“call your big brother ask him..... make sure it (coba kamu hubungi Dipta.....untuk memastikannya)" ucap Elena sambil meraih ponsel Divya dan menekan nama Dipta.
Beberapa kali Divya mencoba menghubungi Dipta tapi beberapa kali juga Dipta menolak panggilannya, membuat Divya kesal dan jengkel.
“he's reject it again?..... may be your big brother is busy (ditolak lagi?..... mungkin abang kamu lagi sibuk)" ucap Elena menenangkan Divya yang mula kesal dan bad mood.
“send him some message..... ask it that his full name is Fajrin Dhiya Muhammad (kirim pesan saja.... tanyakan apakah ini nama lengkap Fajrin Dhiya Muhammad)" Divya segera mengikuti saran Elena dan menulis nama lengkap Fajrin yang tertera di buku pemberian Roby.
Menunggu pesan balasan Dipta membuat Divya semakin kesal dan jengkel karena terasa lama padahal baru dua menit yang lalu Divya mengirim pesan, beberapa detik kemudian ponsel Divya berbunyi menunjukkan ada pesan masuk. Divya segera membuka pesan itu seketika kedua matanya membulat tidak percaya dengan isi pesan balasan dari Dipta.
“aaaaaaaaa.......” Divya teriak sekeras-kerasnya membuat Elena yang hendak mengambil air mineral untuk Divya terkejut dan menjatuhkan gelas kristal.
“what happen (ada apa)?” tanya Elena smabil berlari kecil mendekati Divya.
“read it (baca ini)" ucap Divya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Elena.
“do you want me to hire someone to investigate it (apa kamu ingin aku menyewa seseorang untuk menyelidikinya)?” tanya Elena dengan serius.
“no.... it's better I ask his best friend (tidak.... aku akan tanya pada sahabatnya saja).” Ucap Divya dengan gembira dan melangkah masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Sepanjang perjalanan dari apartemen hingga sampai lokasi pengambilan gambar, Divya terlihat sangat gembira sesekali mendekap buku pemberian Roby di dadanya dan sesekali membelai nama Fajrin yang tertulis di sampul belakang buku itu. Para tim stylist Divya heran karena baru kali ini mood Divya sangat bagus sejak berada di New Delhi.
“this morning crying hysterically but now looks happy (pagi tadi menangis sampai histeris tapo sekarang terlihat gembira)”
"hysterical? why? (histeris? kenapa?)"
"I don't know….. Divya is crying while looking at her phone (entahlah..... Divya menangis sambil memandangi ponselnya)"
"Is her two brothers sick or have an accident (apa kedua abangnya ada yang sakit atau kena musibah)?”
"no way..... it must be someone else who made her mood change in a time (tidak mungkin..... pasti orang lain yang sudah membuat suasana hatinya berubah-ubah dalam sekejap)"
"when she was in the car she always holding the book..... does it have anything to do with the book she is holding at (tadi dia di mobil selalu memegang buku itu..... apa ada hubungannya dengan buku yang dia pegang)?”
“may be (bisa jadi).....”
Beberapa ucapan percakapan antara para tim stylist Divya dan para tim yang bertugas mengambil gambar Divya hari ini.
Pengambilan gambar hari ini berlangsung cepat dan tanpa ada pengulangan karena Divya melakukan tanpa harus berdebat dengan tim pengambil gambar, biasanya Divya akan melakukan sedikit perdebatan kecil apa pun yang membuatnya merasa tidak nyaman. Apalagi bila berhubungan dengan rambut dan wajahnya, dia tidak menyukai bila gambar yang sudah di ambil ternyata membuatnya terlihat cubby atau terlihat kusut pada rambutnya. Divya bisa beberapa kali meminta fotografer untuk mengambil gambarnya berkali-kali hingga menurut Divya sudah tepat, tapi hari ini Divya sama sekali tidak melakukan perdebatan kecil itu membuat para tim fotografer sedikit heran dan bertanya-tanya.
Elena memberi tanda pada setiap fotografer agar tidak memasang wajah heran dan penuh tanya, Elena kuatir bila mood Divya akan kembali jelek sehingga menimbulkan perdebatan antara Divya dan mereka. Para fotografer mengikuti saran Elena dan mengambil gambar sebanyak yang mereka butuhkan disetiap pakaian Saree yang Divya kenakan dan di setiap pose yang Divya tunjukkan. Pengambilan gambar di hentikan saat istirahat makan siang tepat pukul dua belas lebih tiga puluh menit.
“hai bang.....” salam Dipta.
“Assalamualaikum dik......mulai sekarang biasakan seperti itu salam kamu" ucap Dipta dengan tegas.
“iya bang.... Assalamualaikum” ucap Divya mengulang salamnya.
“wa'alaikumsalam..... ada apa tadi menghubungi abang?” tanya Dipta yang sepertinya mencari tahu latar belakang Divya.
“abang...... kak Fajrin sekarang bagaimana" ucap Divya yang sudah meletakkan piring makan nya di sembarang tempat.
“hari ini dia sudah masuk kerja.... kenapa?” tanya Dipta heran.
“masuk kerja..... bukankah wajah dan tangannya masih terluka?” tanya Divya heran dan sedikit panik tidak dapat membayangkan Fajrin bekerja dengan tangan yang terluka.
“hahahahaha...... sepertinya tanggal kapan aku merekam Fajrin presentasi tidak adik lihat? Pasti tidak memperhatikan itu.... kebiasaan tidak melihat segala sesuatu dengan detail" ucapan Dipta sengaja sedikit menyinggung perasaan Divya agar Divya lebih mengoreksi diri.
“iya.... Divya tidak melihat dengan detail” Divya merajuk.
“itu.... video abang rekam satu minggu yang lalu.... sengaja abang baru kirim tadi malam.....adik tahu dari mana nama lengkap Fajrin?” tanya Dipta yang curiga.
“dari buku pemberian bang Roby” ucap Divya dengan yakin.
“abang tebak pasti bukan adik yang menemukan nama lengkap Fajrin" tebakan Dipta membuat Divya meringis membenarkan tebakan Dipta.
“dik..... kalau adik tidak berubah dan masih tetap seperti ini bagaimana abang bisa membantu...... abang sudah pernah bilang baca buku itu jangan sampai melewatkan satu kata pun..... apa yang abang ucapkan kurang jelas?” ucapan Dipta membuat Divya tertunduk karena masih saja tidak melaksanakan nasehat Dipta.
“iya..... mulai hari Divya akan baca semua dan tidak akan melewatkan satu kata pun.... tapi bisa tidak abang bagi nomor kak Fajrin?” ucap Divya sambil berkedip-kedip merayu Dipta.
“mata genit adik tidak berhasil buat Abang...... tidak baca saja buku itu sampai selesai..... kalau sudah selesai nanti abang bagi nomor Fajrin" ucapan tegas Dipta membuat Divya putus asa dan menjatuhkan punggungnya dengan kasar di sandaran kursi.
“kalau mata genit black pearl bagaimana?” goda Divya membuat Dipta terlihat gugup.
“hahahahahaha....... abang sudah pernah membayangkannya.....?” tawa Divya membuat para tim stylist yang duduk tak jauh melihatnya heran.
“dik..... tertawanya jangan begitu.... yang bagus..... tidak sopan....” ucap Dipta jengkel.
“sudah abang tutup teleponnya.... Assalamualaikum” salam Dipta tapi tidak menghentikan tawa Divya.
Divya mematikan ponsel tanpa membalas salam Dipta, dan masih saja tertawa membayangkan wajah gugup Dipta. Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. Divya membuka pesan itu dan membacanya, untuk beberapa saat wajahnya menjadi tegang membuat Divya tidak selera lagi untuk menghabiskan makanan dan memilih menghabiskan air mineralnya. Dengan wajah bingung dan tegang Divya seperti berpikir keras, hingga tiba-tiba sebuah pesan masuk dan membacanya dengan tatapan penuh tanya.
“serius.....” ucap Divya tidak percaya dan seketika ekspresi Divya menjadi sangat bahagia.
“bang Dipta memang the best abang buat Divya" gumam Divya sambil melompat dari kursi dan menggenggam erat ponsel di dada.