
Tepat pukul dua belas tengah malam Divya sudah berdiri di depan pintu gerbang kediaman Azkar, Divya berusaha meyakinkan penjaga gerbang bahwa dia mengenal Helen juga Azkar.
“ bapak kalau tidak percaya, tanya saja sama bang Azkar “ ucap Divya dengan memohon.
“ maaf nona, saya tidak berani membangunkan beliau.... ini sudah tengah malam dan tentunya beliau sedang beristirahat “ ucap penjaga keamanan tersebut.
Divya terduduk lemas di depan pos kemanan yang tepat berada di samping gerbang kediaman Azkar. Sebenarnya satpam tersebut tidak tahan dengan bau badan Divya yang sangat menyengat sekali, tapi satpam tersebut juga tida tega mengusir pergi Divya. Divya mencari nomor kontak Azkar, karena sudah terlalu lelah dan kedua mata Divya yang sudah pedih akhirnya Divya tertidur di depan pos satpam dengan menyandarkan kepalanya pada dinding pos tersebut.
Menjelang adzan Shubuh, satpam tersebut membangunkan Divya karena posisi kakinya menghalangi roda pintu pagar. Divya terbangun dan segera berlari masuk ke halaman luas kediaman Azkar, karena lari Divya yang cepat juga karena satpam tersebut tidak bisa meninggalkan pos sebelum waktunya pergantian dengan satpam yang lain. Akhirnya satpam tersebut hanya bisa melihat Divya yang berlari kencang.
Divya mengetuk pintu rumah kediaman Azkar dengan keras membuat Helen dan Azkar yang baru selesai berwudhu hendak sholat di sebuah gazebo samping rumah tersentak.
“ yang.... siapa pagi-pagi begini mengetuk pintu? “ tanya Helen yang sudah memeluk lengan Azkar.
“ tidak tahu.... aku lihat dulu ya.... “ saat Azkar hendak melangkah mendekati pintu Helen menahan tangannya.
“ jangan.... bagaimana kalau orang jahat “ ucap Helen takut.
Belum sempat Azkar berbicara, terdengar suara Divya memanggil namanya. Azkar dan Helen saling memandang seperti berbicara dengan kedua mata mereka dan melangkah mendekati pintu.
“ Divya.... “ ucap Azkar pelan.
“ kenapa dia kesini.... bukankah dia masih di India? “ ucap Helen heran.
“ sayang buka dulu ya..... biar kita tidak saling menduga-duga “ ucap Azkar sambil melepas pelukan tangan Helen.
Azkar membuka pintu rumah dan mendapati Divya yang terlihat sangat kotor dan bau, Azkar sampai menahan nafas dan mengibaskan tangan kanannya mencoba menghilangkan bau busuk dari Divya.
“ ada apa pagi-pagi kesini? “ tanya Azkar sambil menutup hidung dengan tangan kirinya.
“ ustadzah Helen ada tidak? “ Helen yang sudah melangkah mendekati Azkar terlihat sangat terkejut dengan penampilan Divya.
“ Astagfirullah Divya.... apa yang terjadi? “ ucap Helen dengan ekspresi yang sama dengan Azkar.
“ bisakah kalian mem.... “ belum selesai Divya berbicara, Helen sudah menarik tangannya dan mengajaknya masuk.
Helen menarik Divya untuk masuk membersihkan diri kamar mandi.
“ bersihkan dirimu dulu, aku ambilkan handuk dan pakaian bersih “ ucap Helen yang sudah mendorong pelan Divya untuk masuk ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi yang di dekat kamar salah seorang pelayan.
Sementara Azkar sibuk menyemprotkan pengharum ruangan untuk menghilangkan sisa bau busuk dari tubuh Divya.
“ yang.... aku ambil pakaian bersih dulu untuk Divya terus kita ajak dia sholat Shubuh berjamaah. “ ucap Helen yang sudah naik tangga ke lantai dua.
Azkar tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menuruti permintaan Azkar, dan Azkar duduk di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian Helen turun dengan sebuah handuk, abaya, mukena dan tentu satu pasang pakaian dalam wanita. Helen mengetuk pintu kamar mandi menyerahkan handuk, abaya dan pakaian dalam pada Divya. Setelah menunggu sepuluh menit Divya keluar dan terlihat lebih segar serta sudah tidak berbau busuk lagi.
“ sudah jangan pikirkan itu..... kamu sudah wudhu.... kalau sudah kita sholat shubuh berjamaah “ ucap Helen sambil memberikan handuk yang Divya pakai pada seorang pelayan yang tiba-tiba mendekatinya.
Akhirnya Divya sholat shubuh berjamaah dengan Helen dan Azkar sebagai Imamnya. Selesai sholat Divya meneteskan air matanya sedih melihat senyum Helen yang sedang mencium punggung tangan kanan Azkar.
“ kalian membuat aku iri “ ucap Divya cemberut.
Helen tersenyum mendengar ucapan Divya.
“ mau seperti ini? “ goda Azkar dan Divya mengganggukan kepalanya.
“ berubah dulu biar cepat halal..... biar bisa begini-begini “ goda Azkar sambil mencium pipi dahi dan bibir Helen.
Divya semakin cemberut melihat sikap Azkar yang sengaja menggodanya.
“ yang.... sudah.... nanti Divya semakin cemberut “ ucap Helen sambil membelai punggung Azkar.
Divya semakin cemberut melihat kemesraan mereka berdua, Helen mengajak Divya untuk masuk ke dalam rumah dan mengajaknya duduk di ruang santai lantai dua karena kedua anaknya sudah bangun. Selagi Helen memandikan anak yang pertama sementara Azkar menggendong bayi mereka yang terlihat menggemaskan membuat Divya semakin iri. Selesai dengan anak yang pertama, Helen melanjutkan menyuapinya dengan makan pagi yang sudah di buatkan oleh seorang koki dan Azkar memandikan bayi mereka.
“ memangnya bang Azkar bisa memandikan bayi? “ tanya Divya meragukan kemampuan Azkar.
“ hal yang mudah memandikan bayi.... justru yang paling sulit itu memandikan Amma-nya anak-anak “ goda Azkar sekali lagi.
“ yang..... “ suara Helen sedikit keras karena Azkar kembali menggoda Divya dan Divya semakin cemberut.
Azkar seketika diam dan konsentrasi penuh memandikan bayinya di ruangan yang tak jauh dari Divya duduk.
“ sekarang Divya tahu kelemahan bang Azkar “ ucap Divya sambil melirik Helen yang sudah selesai menyuapi anak pertama.
Selesai menyuapi anak yang pertama Helen, seorang pelayan yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Helen segera mengambil alih anak pertama Helen. Divya yang masih duduk melihat Azkar memandikan bayi mereka, Divya tidak percaya apa yang dia lihat saat ini. Pria yang selalu bertampang dingin tapi sangat berbeda bila sudah berada di hadapan keluarganya.
“ apa yang membuat kamu kemari pagi-pagi dengan tubuh penuh bau busuk? “ pertanyaan Helen membuat Divya tertunduk sedih.
Divya menarik nafas panjang mulai menceritakan bagaimana dia bisa pagi-pagi sudah berada di depan pintu rumah mereka, bagaimana perlakuan Davis juga alasan dia kemari. Azkar yang sangat mengenal Divya dari kecil adalah gadis manja, takut dengan binatang kecil dan selalu mendapatkan apa yang dia mau, tidak percaya kalau Divya berani merayap di lorong ventilasi udara juga berani masuk ke tempat sampah hanya demi mendapatkan informasi tentang Fajrin.
“ berarti sekarang tidak takut sama kecoa? “ tanya Azkar sambil menyerahkan bayi mereka pada Helen.
“ yang...... sudah jangan jahil..... “ ucap Helen membuat Azkar tidak jadi mengeluarkan ide jahilnya.
“ apa yang ingin kamu tahu tentang Fajrin? “ tanya Azkar yang sudah duduk di sebelah Helen.
“ semua “ jawab Divya singkat.
“ yakin..... mau tahu semua tentang Fajrin? setelah tahu semua tentang Fajrin apa yang akan kamu lakukan? “ tanya Helen meragukan ucapan Divya.
Divya terdiam menundukkan kepala membuat Helen melihat ke arah Azkar