My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 182 KECEMASAN FREYA



Evan kembali ke Canada dengan membawa seribu pertanyaan tentang sosok Nara, sosok yang selama ini menjadi target Maple Bacon tapi Nara sendiri tidak pernah mendapatkan email dari Maple Bacon.


Fajrin mulai sibuk dengan perubahan design project Rosewood pulau Miyakojima, Divya yang sedikit kecewa karena Nara tidak bisa datang ke acara pertunangannya menyimpan abaya Nara yang sudah selesai di lemari kamar Nara.


“ mungkin saat adik sudah sehat..... abaya ini akan bisa adik pakai “ gumam Divya dalam hati.


Meski pun sedih karena Nara tidak datang tapi Divya sadar bahwa musibah yang Nara alami lebih berat dari pada sekadar datang ke acara pertunangannya. Tangan kanan Divya memainkan kalung pemberian Nara sambil menatap abaya yang dia gantung di lemari kamar Nara.


Divya kembali turun kebawah dan mulai kembali sibuk dengan beberapa desain abaya, tunik mau pun bawahan karena Divya sudah memutuskan akan membuat beberapa model abaya juga tunik yang akan dia ikutkan di acara Moslem Fashion Festival.


Hari berlalu dengan cepat tapi baik Fajrin mau pun Freya belum menerima daftar barang apa saja yang di inginkan keluarga besar Lohia dan Prakash untuk Fajrin bawa di saat acara akad nikah Nanti. Freya terlihat jelas tidak tenang karena sampai hari ini belum ada kejelasan dari Davis, Davis sendiri yang sudah menyerahkan urusan ini pada adik perempuannya juga masih menunggu apa saja yang harus Fajrin bawa di akad nikah Divya nanti.


Sudah 4 bulan tidak ada kabar dari adiknya Davis, Freya mulai geram karena 2 bulan lagi Fajrin menikah. Freya merasa 2 bulan waktu yang terlalu singkat untuk mempersiapkan apa saja yang mereka mau untuk Divya, belum lagi kalau apa yang mereka minta tidak ada di Jakarta.


“ Azkar.... kamu telpon Davis..... Fajrin harus menbawa apa saja untuk akad nikah nanti “ ucap Freya yang terlihat jelas tidak tenang.


Azkar yang terlihat sangat tenang karena sedang menimang anak ketiganya yang masih berumur 2 bulan, membuat Freya gemas dan mengambil alih bayi itu dari tangan Azkar.


“ Fajrin saja santai..... kenapa Amma yang bingung? “ ucap Azkar sambil menjauhkan bayinya dari jangkauan Freya.


Selo yang sedari tadi sebenarnya juga terlihat bingung dan tidak tenang sama seperti Freya mulai angkat suara.


“ kami kuatir kalau apa yang harus Fajrin bawa ternyata tidak bisa Fajrin dapatkan di Jakarta dan untuk mendapatkannya harus keluar negeri..... beruntung kalau hanya di Singapore atau Hongkong atau korea untuk mendapatkannya.... tapi bagaimana kalau harus ke eropa....? “ ucapan Selo membuat Azkar berpikir sesaat.


Azkar tiba-tiba ingat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya.


“ Kom hit nå (kemari sekarang) “ suara tegas Azkar membuat orang yang menerima telpon segera berlari menuju kediaman utama dan mengabaikan makan siangnya.


Beberapa menit kemudian orang itu sudah berada di depan Azkar, Selo dan Freya dengan keringat bercucuran di dahi dan pelipisnya.


Selo dan Freya menatap orang itu dengan heran.


“ kenapa mereka bisa berada di sini? “ kalimat spontan yang pertama kali Freya ucapkan saat melihat orang itu masuk.


“ kakek mengirim 4 orang kemari untuk mengawasi Fajrin..... tapi karena yang dikirim tampangnya sangat asing...... Azkar tukar dengan 4 pengawal yang sekarang tinggal di dekat rumah Fajrin.... dan 4 orang yang kakek kirim...... Azkar pakai buat kondisi darurat “ ucap Azkar sambil menimang bayinya.


“ fra i dag og utover må du være på vakt.... hvis Davis-familien på noe tidspunkt vil ha noe som Fajrin skal ha med til bryllupsseremonien... må du fly for å få det... ikke gå tilbake til Jakarta hvis du ikke får det. (mulai hari ini kalian harus siaga.... bila sewaktu-waktu keluarga Davis menginginkan sesuatu untuk Fajrin bawa di acara akad nikahnya.... kalian harus segera terbang untuk mendapatkannnya.... kalau perlu jangan kembali ke Jakarta kalau belum mendapatkannya) “ ucapan tegas Azkar membuat 4 pengawal Erhan menjadi terlihat tegang.


Azkar yang masih menimang bayinya terlihat santai sekali tapi Selo dan Freya semakin tidak mengerti.


“ hvis Fajrin trenger noe og varen kun er tilgjengelig i Europa? Hvem er kontakten din der? (kalau Fajrin butuh apa-apa dan barang itu hanya ada di eropa? Siapa kontak kalian disana?) “ tanya Azkar dengan tegas.


Salah seorang dari mereka menyebut salah satu pengawal Erhan yang menjadi kotak mereka di Oslo.


Seketika Selo dan Freya terkejut tidak percaya bahwa Erhan sudah berpikir sampai sejauh ini untuk Fajrin.


“ ja allerede..... hvis du forstår hva du vil gjøre hvis du får informasjon som Davis-familien ønsker fra Fajrin.... men fortsatt er ikke Amma rolig..... Azkar i dag må du få informasjon uansett hva Davis ønsker fra Fajrin..... Amma vil ikke ha det hvis tiden er for kort til å forberede uansett hva de ønsker (ya sudah..... kalau kalian sudah paham apa yang akan kalian lakukan bila mendapatkan informasi apa saja yang keluarga Davis inginkan dari Fajrin.... tapi tetap saja Amma tidak tenang..... Azkar hari ini kamu harus mendapatkan informasi apa saja yang Davis inginkan dari Fajrin..... Amma tidak mau kalau terlalu pendek waktunya untuk menyiapkan apa saja permintaan mereka) “ ucapan tegas Freya membuat tubuh 4 pengawal semakin merinding begitu juga Azkar.


Melihat Freya dan Azkar yang sama-sama tegas membuat Selo menggelengkan kepalanya.


“ Amma sama anak sama saja.... apa lagi yang satunya.... dinginnya sama..... “ gumam Selo dalam hati.


Azkar kembali sibuk dengan bayinya, Selo kembali sibuk dengan bisnisnya karena ada beberapa relasi bisnis yang masih merasa lebih nyaman bila berunding dengan Selo dari pada dengan Azkar. Sementara Freya mencatat apa saja yang kemungkinan besar akan keluarga Davis minta dari Fajrin mengingat Divya menikah melangkahi satu orang kakak dan nenek Divya yang masih nyaman dengan adat Jawa.


“ kira-kira apa lagi ya.... “ gumam Freya sambil memikirkan apa yang sekiranya kakak Divya inginkan.


Meski pun Azkar sudah menghubungi Davis, tapi Davis pun belum mendapatkan daftar barang apa saja yang Ditya minta atau pun yang harus Fajrin bawa saat akah nikah nanti.


Karena terlalu lelah otak Freya mau pun Selo, saat jam istirahat mereka pun yang biasanya akan melakukan pembicaraan kecil sebelum tidur. Kali ini mereka langsung tidur. Selo terbangun karena ingin ke kamar mandi, tiba-tiba di kejutkan oleh suara getaran ponsel Freya. Selo membiarkan dan tetap masuk ke kamar mandi, tapi saat keluar dari kamar mandi timbul rasa ingin tahu Selo untuk melihat ponsel Freya.


Dengan hati-hati Selo membuka pesan masuk, seketika kedua mata Selo membulat sempurna dan segera membangun Freya.


“ Amma..... bangun.....” ucap Selo membangunkan Freya.


Freya pelan-pelan membuka kedua matanya menatap Selo dengan heran.


“ lihat ini.... pesan dari keluarga Lohia “ ucap Selo sambil menunjukkan pesan tersebut.


Freya berusaha membacanya pelan-pelan, seketika kedua matanya membulat sempurna tidak percaya dengan nama-nama barang yang mereka minta dari Fajrin.