My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 186 26 KILO (1)



Selama 15 menit lebih Fajrin mau pun Divya menunggu ucapan Azkar, Divya sendiri tidak paham apa itu barang pelangkah. Akhirnya Azkar mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Selo, karena masalah Fajrin sama dengan Selo yang menikah terlebih dahulu dari pada kakak perempuannya. Sekali dua kali tiga kali nada dering menbuat Azkar terlihat jelas sangat bingung.


“ Assalamu'allaikum Abba “ salam Azkar dengan cepat saat terhubung dengan ponsel Selo.


“..... “ raut wajah lega Azkar terlihat jelas tidak seperti tadi.


“ Abba...... nama 2 barang paling atas ternyata barang pelangkah..... dan sepertinya kali ini Fajrin butuh penjelasan Abba.... apa fungsi barang pelangkah..... bukankah dulu Abba pernah bercerita kalau hendak menikah dengan Amma.... Abba membeli barang pelangkah untuk Bu dhe. “ ucapan Azkar semakin membuat Fajrin bingung.


Azkar menekan tombol loudspeaker agar Fajrin dan Divya mendengar sendiri penjelasan Selo. Terdengar suara tarikan nafas panjang Selo sebelum memulai menjelaskan apa itu barang pelangkah, dengan pelan Selo mulai menjelaskan apa fungsi barang pelangkah. Selo menjelaskan dari sisi tradisi dengan kalimat yang mudah Fajrin pahami, meski pun pada awalnya Divya seperti berusaha menyela ucapan Selo tapi karena tatapan gemas Fajrin akhirnya Divya tidak berani lagi menyela penjelasan Selo.


“ kalau pun seandainya kita tidak bisa mendapatkan barang pelangkah setidak-tidaknya kita mendapat restu atau izin dari yang kita langkahi. “ ucapan terakhir Selo membuat Fajrin seketika lemas dan menyandarkan punggungnya dengan kasar di sandaran sofa.


“ apa kalian sudah paham? “ Fajrin dan Divya menganggukan kepala padahal Selo tidak bisa melihat jawaban mereka.


Sekali lagi Azkar menepuk dahinya pelan.


“ Abba terima kasih penjelasannya.... sepertinya mereka sudah paham..... Assalamu'allaikum “ salam Azkar dan mematikan sambungan telepon setelah mendengar salam Selo.


Terlihat jelas wajah sedih Divya.


“ ayang.... kita nikah lari saja ya.... “ suara pelan dan putus asa Divya membuat Azkar tersedak ludahnya sendiri.


“ sudah berapa kali..... Divya bilang begitu “ suara pelan Fajrin membuat Azkar menatap tajam Fajrin.


“ Divya...... 2 barang ini sudah selesai..... Afkar sudah mendapatkannya.... sekarang sedang dalam proses pembuatan..... yang belum jelas itu 8 atau 9 barang-barang wanita..... semua barang-barang di daftar ini jumlah produksinya tidak lebih dari 10 unit. Sekarang yang jadi pertanyaanku.... apa mereka tidak memberi tahu kamu atau om Davis terkait daftar ini? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Azkar.


Sekali lagi Azkar menepuk dahinya.


“ aduuuh..... ini yang menikah siapa yang minta semua ini siapa “ ucap Azkar lemas.


“ semua itu bukan Divya juga bukan papi yang menentukan.... nomor 1 dan 2 bang Ditya yang minta.... yang lain bisa jadi adik papi atau saudara sepupu Divya... “ ucap Divya cemberut.


Fajrin masih terdiam memikirkan apa maksud di balik semua daftar barang itu.


“ apa keluarga besar Divya ingin menguji seberapa serius juga seberapa besar kemampuan keuanganku? Apa karena aku hanya seorang pegawai biasa bukan dari kalangan konglomerat seperti mereka... jadi mereka mengujiku dengan semua ini.... “ gumam Fajrin dalam hati.


Divya yang melihat Fajrin terdiam dari tadi mulai terlihat cemas dan kuatir bila Fajrin mundur membatalkan pernikahan mereka.


“ ayang..... ayang.... “ suara Divya mencoba menyadarkan Fajrin.


Fajrin masih sibuk dengan pemikirannya mencoba menerka apa maksud dan tujuan keluarga Lohia memberikan daftar barang-barang ini. Divya mulai jengkel karena Fajrin masih terdiam menundukkan kepala.


“ ayang.... kalau ayang masih diam.... Divya cium “ ucap Divya mulai sedikit memajukan wajahnya agar bisa melihat wajah Fajrin yang tertunduk.


Azkar yang juga mulai kesal dengan diamnya Fajrin segera melempar sebuah majalah bisnis tepat di kepala Fajrin.


“ aduuuh.... sakit bang “ ucap Fajrin sambil memegang kepalanya yang terkena majalah.


Fajrin menarik nafas panjang mengambil majalah dan meletakkan di meja.


“ Divya mau mahar apa yang menurut Divya tidak membuat ayang merasa berat untuk memenuhinya dan tidak merendahkan ayang di mata keluarga besar Divya? “ ucapan Fajrin membuat Azkar tertegun menatap Fajrin.


Kali ini Divya yang diam seribu bahasa, karena Divya paham betul bagaimana keluarga besarnya dalam menyikapi pernikahannya ini.


Untuk beberapa detik kedepan mereka terdiam semua, dan tiba-tiba ponsel Azkar berdering. Azkar segera menekan notifikasi pesan masuk dan terlihat pesan dari Afkar.


“ barang nomor 3 sampai 9 sudah masuk dalam pesanan orang lain dan sisanya ini baru akan di serah terimakan awal tahun depan.... “ suara pelan Azkar membuat Fajrin menarik nafas panjang.


Divya terlihat kecewa juga mulai panik bila tidak jadi menikah dengan Fajrin.


“ Ayang.... kita menikah sekarang saja...... pakai mahar uang yang ada di dompet ayang saja.... ya...... “ ucap Divya berusaha meyakinkan Fajrin.


Azkar kesal karena Fajrin tidak bergeming dengan ucapan Divya yang lebih terkesan mulai putus asa.


“ kamu kalau tidak bersuara..... aku lempar 3 majalah ini “ ancaman Azkar berhasil membuat Fajrin menegakkan punggungnya dan menatap Azkar heran.


“ bang... pernah dengar produits artistiques métaux précieux? “ pertanyaan Fajrin membuat Azkar membulatkan kedua matanya.


“ jangan bilang kamu mau mengganti barang-barang itu dengan produk mereka..... “ ucap Azkar meyakinkan Fajrin.


Fajrin tersenyum menanggapai ucapan Azkar.


“ gila.... berapa kilo yang mau kamu beli? “ pertanyaan Azkar membuat Fajrin menatap kedua kaki Divya yang masih belum tertutup kaos kaki.


“ Divya..... usia Divya sekarang berapa? “ tanya Fajrin pelan membuat Azkar menggelengkan kepala tidak percaya dengan ide gila Fajrin.


Otak Azkar mulai berpikir bahwa Fajrin akan mengganti semua barang yang tidak bisa Afkar dapatkan sebelum tanggal pernikahan Fajrin dengan barang buatan produits artistiques métaux précieux yang hanya bisa di dapatkan di Eropa dan Amerika saja.


“ dua.... puluh enam “ jawab Divya pelan.


Fajrin tersenyum lebar mendengar jawaban Divya.


“ 26 kilo bang.... bisa tidak.... pakai uang yang dari kakek Erhan... “ ucap Fajrin santai.


“ tentu saja bisa....... yang jadi permasalahan adalah bagaimana memasukkan 26 kilo barang itu ke mari..... tapi tunggu kalau untuk hadiah dan tidak di perjualbelkan pasti lebih mudah..... “ ucap Azkar sambil menekan nomor Afkar.


Divya yang tidak mengerti apa yang Fajrin dan Azkar bicara hanya bisa menatap Fajrin dengan tatapan penuh pertanyaan.


“ Assalamu'allaikum bang “ suara Afkar terdengar berbisik.


“ Wa'alaikumsalam “ jawab Azkar dan Fajrin bersamaan dengan nada berbisik juga.


“kenapa sih.... kalian berbisik begini? “ suara keras Divya membuat Fajrin memberi isyarat tangan agar jangan keras-keras berbicara dengan Afkar.


Divya cemberut melihat isyarat tangan Fajrin.


“ ada apa bang? “ suara berbisik Afkar membuat Fajrin menahan senyum.


“ produits artistiques métaux précieux 26 kilo sebagai ganti dari barang-barang yang tidak bisa kamu dapatkan “ ucap Azkar dengan cepat.


“ ok.... itu sajakah? “ suara berbisik Afkar membuat Fajrin tergelitik untuk menanyakan bagaimana keadaan Nara.


“ bagaimana adik? “ suara keras Fajrin membuat Azkar menggelengkan kepala.


“ baru selesai makan pagi habis 4 porsi soto betawi.... nanti siang minta makanan minang.... sekarang masih cari-cari makanan kecil di lemari.... “ suara berbisik Afkar membuat Fajrin tersenyum tipis.