My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 235 SEDIKIT LEBIH LAMA



Divya mendengarkan apa yang Azkar katakan seketika kedua mata Divya menjadi berkaca-kaca seperti Fajrin, tapi kedua pipi Fajrin sudah basah dengan air matanya.


“ iii..... ya bang...... kami bersiap.... kita bertemu di bandara saja “ suara Divya terbata-bata tidak sanggup berkata-kata.


Di saat Divya menutup panggilan Azkar, seketika Fajrin berteriak sangat frustasi membuat air mata Divya jatuh membasahi pipi.


“ ayang..... sabar..... ayang.... masih ada Divya.... “ suara terbata-bata Divya mencoba menghentikan teriakan frustasi Fajrin.


Liam dan Elena yang sedang berada di lantai satu segera berlari menuju kamar Divya, Liam menerobos masuk ke kamar mereka. Beruntung Divya masih mengenakan mukena, melihat Divya yang kesulitan memapah Fajrin untuk duduk di ranjang membuat Liam meraih tubuh Fajrin dan mengikuti arah tangan Divya.


Divya menyeka air matanya.


“ kami ke Olso malam ini..... “ ucap Divya terbata-bata sambil memeluk kepala Fajrin agar Fajrin tidak berteriak frustasi.


Elena dan Liam segera membantu dengan memasukkan beberapa potong pakaian Divya juga Fajrin ke dalam koper dan menyiapkan kedua passport mereka.


“ ayang..... jangan seperti ini.... Divya takut..... ayang... kita ke Oslo malam ini..... “ ucap Divya terbata-bata dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.


Elena dan Liam membawa koper mereka ke lantai satu dan menyiapkan mobil untuk mereka, mobil yang mereka beli sepulang dari Kualalumpur.


Divya melepas mukenanya dan meletakkan di ranjang, membantu mengganti pakaian Fajrin. Dua kali sudah Divya melihat Fajrin meneteskan air mata demi adik satu-satunya tapi baru kali ini Divya melihat wajah putus asa juga frustasi Fajrin yang membuatnya takut bila Fajrin akan lupa diri.


Selesai berganti pakaian dengan perlahan Divya memapah Fajrin turun ke lantai satu, Liam segera mengambil alih tubuh Fajrin dan membantunya masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, mulut Fajrin tidak berhenti mengucap kata Istigfar. Sesekali Fajrin mengucapkan kata-kata yang membuat Divya harus membelai punggung Fajrin dan membuat Elena juga Liam hanya bisa menarik nafas panjang. Elena dan Liam memang tidak tahu apa yang terjadi pada Fajrin tapi melihat keadaan Fajrin saat ini sudah cukup membuat mereka berdua yakin bahwa satu-satunya adik Fajrin sedang tidak baik-baik saja.


“ Ya ALLAH..... kenapa Engkau mengujiku seperti ini...... tidak bolehkah aku merasakan kebahagian sedikit lebih lama..... Fahrid..... ayah..... ibu..... sekarang adik...... “ suara pelan Fajrin cukup membuat Elena dan Liam merasa sulit menelan air ludah.


Kedua tenggorokan mereka terasa sakit dan kedua dada mereka terasa sesak.


“ ayang..... Divya yakin...... mereka akan melakukan yang terbaik buat adik..... “ ucap Divya berusaha keras menenangkan Fajrin, meski pun kedua air mata Divya juga sudah mengalir deras membasahi kedua pipinya.


Sampai di bandara, Divya menunjukkan pada Liam dimana dirinya dan Fajrin masuk. Liam segera mengarahkan mobil menuju area VIP dimana keluarga Azkar berada, Divya melihat Azkar dan Helen yang menggedong bayi mereka. Melihat mobil Fajrin membuat Azkar segera mendekati mobil itu. Divya keluar membuat Azkar segera berlari mendekati Divya dan seketika dada Azkar menjadi sakit melihat keadaan Fajrin. Azkar membantu Fajrin keluar, dua orang pengawal Azkar membantu membawa koper Divya dan Fajrin.


Kedua mata Fajrin terlihat kosong, Helen berkali-kali menyuruh Fajrin untuk istigfar, Divya tidak mampu lagi membendung air matanya. Bahkan untuk naik ke dalam pesawat pun Fajrin harus di bantu oleh Azkar dan satu orang pengawal. Mereka mendudukkan Fajrin dan memasangkan sabuk pengaman. Divya duduk di sebelah Fajrin memberikan sentuhan-sentuhan lembut dan hangat di pipi, tangan bahkan beberapa ciuman kecil di pelipis berharap agar pandangan mata Fajrin tidak kosong. Helen melihat Fajrin merasa seperti dunianya hancur untuk kesekian kalinya.


“ yang..... lihat Fajrin “ ucap Helen pada Azkar.


Azkar menarik nafas panjang mengambil duduk di depan Fajrin.


“ kalau kau seperti ini..... aku batalkan saja penerbangan ini.... aku kuatir di perjalanan nanti terjadi sesuatu padamu..... “ ucapan pelan Azkar membuat Fajrin yang semua tatapan matanya kosong seketika fokus menatap Azkar.


Suasana menjadi hening untuk beberapa detik.


“ jangan bang..... aku mohon..... aku akan lakukan saran kalian..... kita ke Oslo sekarang “ ucap Fajrin memohon dengan kedua mata yang sudah meneteskan air mata.


Kedua mata Divya menjadi berkaca-kaca, tangan kanannya menjadi sibuk menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Fajrin. Selama penerbangan panjang 15 jam lebih, bibir Fajrin selalu berdzikir berdoa memohon pada ALLAH untuk tidak memanggil Nara. Bahkan di saat seorang pramugara menyajikan hidangan makan malam saat pesawat private jet berada di atas samudera Hindia, jari jemari tangan kanannya tidak berhenti berdzikir seperti kedua bibirnya yang berdzikir. Melihat keadaan Fajrin membuat Divya memikirkan kedua kakaknya.


“ bahkan setelah kalian memiliki keluarga pun.... ayang masih memikirkan adik...... beda dengan kedua abangku..... mereka mencari kebahagian sendiri-sendiri. “ gumam Divya dalam hati sambil tangan kanannya meremas tangan kiri Fajrin.


Tepat pukul 5 pagi waktu Oslo private jet Sundth Air mendarat di bandar udara international Gardermoen, meski pun Azkar dan keluarga terlihat jelas masih mengantuk begitu juga dengan Divya tapi tidak dengan Fajrin. Kedua mata Fajrin tidak terlihat mengantuk sama sekali.


Saat Azkar melangkah keluar dari private jet, Lief sudah menunggu mereka tepat di bawah anak tangga. Dengan sigap para pengawal Afkar menyambut mereka dan segera membawa mereka menuju rumah sakit city legesenter.


Keluarga Azkar dan Fajrin berada di Oslo selama tiga sampai empat hari kedepan, Fajrin berangsur-angsur mulai bisa ihklas menerima apa yang terjadi pada Nara. Hingga beberapa jam sebelum jadwal kepulangan mereka ke Jakarta, Fajrin menyempatkan menggendong kedua keponakannya.


“ jadilah anak yang cerdas..... kuat seperti ibumu..... paman pulang ke Jakarta dulu..... lima atau enam bulan lagi paman akan mengunjungi kalian....... “ ucap Fajrin pelan membuat kedua mata Divya, Helen juga Freya berkaca-kaca.


Fajrin menyerahkan kedua keponakannya pada Afkar yang terlihat jelas sangat lelah dan berusaha keras menyembunyikan kesedihannya. Saat Afkar sudah menggendong kedua bayi mungil itu, Fajrin memeluk erat Afkar.


“ mampukah kamu ihklas dengan keadaan ini? Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan kalian “ ucap Fajrin pelan membuat Afkar memejamkan kedua matanya menahan air mata yang ingin keluar.


Azkar dan Fajrin beserta keluarga masing-masing melangkah meninggalkan Afkar yang masih memandang mereka dengan menggendong dua bayi kembarnya. Sungguh hati Fajrin tidak tega melihat semua ini tapi apa yang terjadi saat ini sudah menjadi kehendakNYA. Mereka hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi keluarga kecil Afkar.


Sepanjang penerbangan kembali ke Jakarta sesekali Fajrin menarik nafas panjang seperti berusaha mengihklaskan apa yang terjadi pada Nara. Sesekali Divya membelai punggung tegap Fajrin berharap Fajrin kuat dan ihklas menerima semua ini.