
“ ayang.... ayang yakin laki-laki itu akan menjaga Gendhis? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin menarik nafas panjang.
“ In Syaa ALLAH.... kita doakan mereka semoga pernikahan mereka sampai akhir. “ ucap Fajrin sambil membuka pintu rumahnya.
Hari yang sangat melelahkan bagi Fajrin dan yang lainnya rencana bulan madu yang berubah seratus delapan puluh derajat berganti menjadi acara akad nikah Gendhis juga sekaligus pemakaman Henri, acara pemakaman yang di hadiri oleh para staff dan relasi bisnis Henri. Dua dari empat putri Henri tidak bisa hadir saat pemakaman dan baru datang 4 jam setelah pemakaman mereka hadir menimbulkan keributan baru, membuat Fajrin juga Helen dan Azkar menjadi penengah keempat putri Henri.
Rasa lelah membuat Fajrin dan Divya hanya membersihkan diri tanpa aktifitas apa pun selain membersihkan diri. Selesai makan malam dengan menu yang mereka pesan melalui pesan antar, Fajrin terlihat sangat serius menatap layar ponselnya membuat Divya ingin tahu.
“ Siapa yang? “ tanya Divya sambil membuka lengan kiri Fajrin untuk duduk di pangkuan Fajrin.
Fajrin menunjukkan layar dan menyerahkan ponselnya.
“ mereka tidak ada saat Om Hendri pergi dan sekarang mereka tidak mau membagi harta waris itu dengan Gendhis..... “ ucap Divya kesal.
Fajrin tersenyum melihat bibir Divya yang maju beberapa milimeter karena cemberu.
“ tidak semua orang mau berbagi harta waris meski pun itu saudara seayah atau seibu.... dan tidak semua orang mau belajar dan melaksanakan apa yang sudah tertulis di Al Quran tentang hukum harta waris “ ucap Fajrin sambil membelai rambut Divya yang berwarna sedikit kecoklatan.
Divya melingkarkan lengan kanannya pada leher Fajrin dan menatap dalam dalam kedua mata pria yang sudah menjadi suaminya.
“ apa ayang sudah membagi harta waris kedua orang tua ayang? “ tanya Divya ingin tahu.
Sekali lagi Fajrin tersenyum dan mengambil alih ponselnya dengan tangan kanan, menggeser layar ponsel dan menunjukkan besaran uang yang dia peroleh dari hasil menjual rumah kedua orang tuanya juga pembagian prosentase saham Rosenkrantz yang dia miliki.
“ ini nilai semua harta benda almarhum ibu yang sudah ayang jual.... dan ini bagian adik..... untuk saham Rosenkrantz.... In Syaa ALLAH setelah Afkar kembali ke Oslo.... mereka akan memberikan adik 3 koma 3 persen dari 10 persen saham ayang..... “ jelas Fajrin membuat Divya semakin ingin tahu bagaimana bagian anak perempuan lebih sedikit dari anak laki-laki.
“ kenapa bagian adik lebih sedikit dari ayang? Seharusnya ayang cukup membagi menjadi dua sama besar “ ucapan Divya membuat Fajrin gemas.
Fajrin paham Divya belum mengerti tentang pembagian harta waris.
“ kenapa bagian ayang lebih besar dari bagian adik.....? karena bagian ayang harus ayang bagi dengan istri ayang dan itu wajib.... sedangkan adik tidak ada kewajiban untuk membaginya dengan Afkar. “ penjelasan Fajrin membuat Divya mengangguk-anggukan kepalanya.
Melihat raut wajah Divya yang menurut Fajrin sangat menggemaskan membuat Fajrin ingin sekali mencium kedua bibir Divya, tapi saat jarak kedua bibir mereka tinggal beberapa milimeter. Divya dengan tiba-tiba menyentuh bibir Fajrin dengan jari telunjuk tangan kirinya.
“ kalau Gendhis bagaimana? “ apa yang dilakukan Divya membuat Fajrin semakin gemas.
Fajrin tersenyum membuka sedikit bibirnya dan menghisap jari telunjuk Divya, membuat Divya meringis pura-pura kesakitan.
“ om Henri hanya punya 4 orang putri dan 1 orang saudara perempuan.... seharusnya saudara perempuan om Hendri mendapatkan harta waris karena om Henri tidak memiliki anak laki-laki... tapi melihat anak tertua om Henri seperti itu....kecil kemungkinan mereka mau membagikan sesuai syariat...... “ ucap Fajrin sedih.
“ karena anak laki-laki adalah hijab bagi harta kedua orang tuanya.... meski pun hanya memiliki satu anak laki-laki saja..... bila kedua orang tuanya meninggal maka keluarga baik dari pihak ayah atau pun ibu tidak ada hak dalam harta waris tersebut. “ Divya menganggukan-anggukan kepala mendengar penjelasan Fajrin.
Sebenarnya Fajrin ingin membantu mereka membagi harta waris sesuai syariat tapi karena kedua kakak kandung Gendhis tidak menginginkan ada orang luar ikut campur dalam urusan pembagian harta waris, maka Fajrin tidak bisa ikut campur lebih dalam meski pun Fajrin tidak tega melihat Gendhis yang harus mengalah. Begitu juga dengan Divya yang sedih melihat Gendhis yang tidak mendapatkan haknya secara adil, ingin rasanya Divya membawa Gendhis ke rumah mereka tapi Fajrin memberikan isyarat mata bahwa Divya tidak boleh membawa Gendhis pulang bersama mereka.
“ kasihan Gendhis.... semoga saja pria itu bisa membahagiakan Gendhis. “ ucap Divya sambil memeluk leher Fajrin.
“Aamiin.... “ ucap Fajrin sambil mengangkat Divya dan membawa masuk ke dalam kamar.
Divya melingkarkan kedua tangannya di leher Fajrin dan mengikis jarak di antara kedua bibir mereka, kegiatan pelebaran dinding rahim kembali terjadi. Pendingin ruangan dengan suhu 22 derajat celcius tidak mampu mendinginkan tubuh mereka dari panasnya suhu tubuh mereka.
Kegiatan pelebaran dinding rahim membuat mereka berdua kelelahan, peluh membasahi seluruh tubuh mereka dan seperti biasa sebelum Divya terlelap tidur karena lelah dengan kegiatan pelebaran dinding rahim. Fajrin mengangkat membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan area sensitif mereka, perlakukan kecil ini semakin membuat Divya merasa bahwa Fajrin menjadikan dirinya seorang ratu.
“ ayang..... ada satu hal yang selama ini Divya ingin tahu tapi Divya bingung mau mulai dari mana “ ucap Divya sambil memperhatikan Fajrin yang sudah selesai membersihkan area sensitifnya.
“ sayang ingin tahu tentang apa? “ tanya Fajrin sambil meraih sebuah handuk kecil untuk mengeringkan area sensitif Divya.
Karena Divya terlihat bingung untuk memulai dari mana.
“ apa ayang dulu juga meminta barang pelangkah pada Afkar? “ tanya Divya sedikit ragu.
Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Divya.
“ tidak..... akad nikah adik tidak seperti kita..... waktu itu Afkar dengan terburu-buru datang ke kantor bersama Barra dan Dean sudah dua orang pengacara..... akad nikah adik ayang lakukan di ruang kerja bang Azkar “ Divya menatap Fajrin tidak percaya.
“ ayang serius.... akad nikah mereka di kantor bang Azkar? “ tanya Divya tidak percaya.
“ serius...... bahkan waktu itu adik posisinya masih di kampus..... adik hanya melihat akad nikahnya lewat ponsel... dan setelah akad..... Afkar langsung terbang ke Oslo “ ucap Fajrin sambil memperlihatkan video rekaman proses akad nikah Afkar dan Nara.
Divya melihat rekaman tersebut dengan tidak percaya karena tidak ada pakaian indah, tidak ada dekorasi indah, tidak ada para tamu undangan sebanyak akadnya, tidak ada barang pelangkah, dan Divya kembali terkejut saat Afkar menyerahkan sebuah cincin yang tidak pernah dia lihat di jari Afkar mau pun Nara.
“ jadi mahar adik hanya sebuah kartu debit itu.... ayang yakin isinya sebesar yang Afkar sebut? “ tanya Divya yang masih tidak percaya.
“ isinya lebih dari yang Afkar sebut “ ucap Fajrin dengan tersenyum dan mengambil ponselnya dari tangan Divya.
Divya masih sulit percaya dengan cerita Fajrin tapi karena Fajrin sudah menariknya masuk ke dalam pelukkan, mau tidak mau Divya berhenti bertanya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Fajrin.