
Elena menatap Divya untuk beberapa menit kedepan tanpa mengucapkan sepatah kata pun begitu juga dengan Joana, hanya beberapa kali Elena dan Joana menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.
“ What’s wrong with you guys.... is something happen (kenapa kalian.... apa ada sesuatu)? ” tanya Divya heran.
“ come on....say something don't make me scare..... Did Arbab ask me to come back (ayolah.... katakan sesuatu jangan membuatku takut..... Apa Arbab menyuruhku kembali)? ” sekali lagi pertanyaan Divya tidak mendapat jawaban apa pun dari Elena mau pun Joana.
“ fine.... I'll tell you everything.... but before that I want you to know how we found you (baiklah.... akan aku katakan semua.... tapi sebelumnya kamu harus tahu bagaimana kami menemukanmu) " ucapan Elena membuat kedua mata Divya berbinar-binar bahagia karena itu berarti dia bisa mengetahui seberapa besar Fajrin perduli dengannya.
Elena menarik nafas panjang mencoba menceritakan semua bagaimana mereka menemukan Divya hingga membuat Fajrin harus membantu mereka meredam efek dari minuman yang sudah di berikan oleh Rohit. Elena dan Joana menceritakannya secara bergantian, wajah mereka berdua terkadang terlihat geram terkadang terlihat sangat marah saat menceritakan itu semua. Sedangkan Divya bukannya merasa sedih atau takut tapi kedua mata Divya semakin berbinar-binar saat Elena menceritakan bagaimana Fajrin mencoba menghindar melihat Divya yang berusaha melepas Bra. Seketika otak Divya mulai menciptakan halusinasi yang aneh membuatnya tersenyum bahagia, Elena dan Joana yang menceritakan itu semua hanya saling menatap dan heran dengan perubahan sikap Divya.
“ So it's must be him who covering me with blanket (pasti kak Fajrin yang menutupi aku dengan selimut) " ucap Divya senang tapi Elena semakin heran dengan sikap Divya yang terlihat jelas sangat menyukai Fajrin.
“ Divya.... are you really love him? Or just adore him? (Divya..... apa kamu benar-benar mencintainya? Atau kamu hanya sekadar kagum?) ” pertanyaan Elena berhasil membuat otak Divya kembali ke alam nyata.
" At first I was attracted because of his appearance which I think is very handsome and physically he is my type, but after I tried to get to know about him there was a feeling that gave me goosebumps and my chest felt tight even though at that time I only heard his voice. But day by day I can't forget his face that looks so embarrassed when he saw me (pada awalnya aku merasa tertarik karena penampilannya yang menurutku sangat tampan dan secara fisik dia tipeku, tapi setelah aku mencoba mengenalnya ada rasa yang membuatku merinding dan dadaku terasa sesak meskipun saat itu aku hanya mendengar suaranya. Tapi semakin hari aku tak bisa melupakan wajahnya yang terlihat sangat menahan malu saat aku melihatnya). ” Pengakuan Divya membuat Elena memeluknya.
“ What if you could be near him and it turns out that Fajrin doesn't have any feelings for you (kalau seandainya kamu bisa berada di dekatnya dan ternyata Fajrin tidak memiliki rasa apa pun terhadap dirimu bagaimana)? ” pertanyaan Elena membuat Divya menatapnya dalam-dalam mencoba mencari tahu apa maksud Elena.
“ we had a meeting with Arbab..... the news of this scandal is not only in the Indian media but has been everywhere, maybe it has reached Jakarta..... and maybe your dad knows about this news..... if this news brings good to your career then the management will take a stance that might make you very happy (kami tadi rapat dengan Arbab..... berita skandal ini tidak hanya di media India saja tapi sudah dimana-mana mungkin juga sudah sampai Jakarta..... dan bisa jadi juga papi kamu mengetahu berita ini..... kalau berita ini membawa kebaikan bagi karir kamu maka pihak management akan mengambil sikap yang mungkin akan membuatmu sangat senang)..... ” jelas Elena sambil memegang lengan Divya.
“ but if this news will only make your career fall..... then we will also do the first option so that your career doesn't fall (tapi bila berita ini hanya akan membuat karirmu jatuh..... maka opsi pertama tadi akan kami lakukan juga supaya karirmu tidak jatuh). ” Penjelasan Elena kali ini sukses membuat Divya semakin bingung dan tidak bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini.
“ in these few days, Arbab will always see how this news rolls whether it will bring good to your career or vice versa. During that time he will find out who is Fajrin and he will have a little negotiation with Fajrin regarding it all (dalam beberapa hari ini, Arbab akan selalu melihat bagaimana berita ini bergulir apakah akan membawa kebaikan pada karirmu atau sebaliknya. Selama itu dia akan mencari tahu siapa Fajrin dan dia akan melakukan sedikit negosiasi dengan Fajrin terkait itu semua)." wajah Elena terlihat sangat serius membuat Divya semakin heran.
Divya mulai berhalusinasi kembali membayangkan bila apa yang di lakukan Arbab sangat membuatnya senang tapi bila yang di lakukan Arbab sebaliknya, dia akan tetap berusaha membuat Fajrin melihatnya bagaimana pun caranya. Seperti saat ini Divya mencoba mengirim pesan pada Fajrin, Divya bingung bagaimana memulainya membuatnya berpikir keras hingga dia teringat pesan Dipta untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu.
Divya mengetik sesuatu pada ponselnya, membacanya terlebih dahulu sebelum di kirimkan tapi kemudian menghapusnya karena sepertinya kurang tepat dan kurang mendapat perhatian Fajrin. Mata Divya terlihat serius sekali membuat Elena dan Joana melihatnya dengan heran. Untuk beberapa menit kedepan Divya terlihat serius, tapi beberapa detik kemudian terlihat Divya menggenggam erat ponselnya dan mendekap di dadanya. Wajah Divya terlihat jelas sangat cemas dan kuatir tapi beberapa menit kemudian wajahnya berubah sangat bahagia hingga dia mencium berkali-kali layar ponselnya.
“ What is wrong with her? Is she getting out of her mind? Is the effect of the drink still there? (kenapa dia? Apa dia mulai tidak waras? Apa efek minuman itu masih ada?) ” tanya Joana membuat Elena mengangkat bahunya sekali sebagai isyarat ketidaktahuannya.
“ I don't know...... we'll find out (entahlah...... kita cari tahu saja)" ucap Elena yang sudah melangkah mendekati Divya begitu juga Joana.
Divya masih saja menciumi layar ponselnya tak menghiraukan Joana dan Elena yang memandangnya dengan heran. Otaknya membawanya berhalusinasi semakin menjauh dari kenyataan, entah Divya sadari atau tidak bahwa apa yang ada di dalam halusinasinya bisa saja menjadi kenyataan yang tidak semanis di dalam halusinasinya atau bisa saja menjadi kenyataan yang berbeda jauh dengan halusinasinya.