
“Mr. Fajrin..... what is the Richter scale that you gave for the simulation of the endurance test of the building that you designed (pak Fajrin..... berapa skala Ritcher yang anda berikan untuk simulasi uji coba ketahanan gedung yang anda desain)?” pertanyaan Sonia seketika membuat Fajrin menegakkan pahanya yang bersandar pada sisi meja.
“seven point two, ma'am (tujuh koma dua, bu)”ucap Fajrin penuh keyakinan.
“why you choose that number (kenapa anda memilih angka tersebut)?” tanya Sonia dengan suara tegas dan keras membuat tubuh Iwan semakin menegang.
“I made this design as a reference for my next project (desain ini saya buat sebagai acuan untuk project berikutnya).”jelas Fajrin singkat.
“Mr. Iwan.... are you sure that Mr. Fajrin imitated your design? Whether you realize it or not that you are currently digging your own grave. without the knowledge of everyone here, one of my man has investigated you and provided me with some of information that your currently design that I see now is not a hundred percent idea of your design. Are you going to deny it? (Pak Iwan.... apa anda masih yakin bahwa pak Fajrin meniru desain anda? Entah anda menyadari atau tidak bahwa saat ini anda justru menggali liang kubur anda sendiri. Tanpa sepengetahuan semua orang yang disini salah seorang kepercayaan saya sudah menyelidiki anda dan memberikan saya sebuah informasi bahwa saat ini desain anda yang saya lihata sekarang bukan seratus persen ide atau pun desain anda. Apa anda akan menyangkalnya?)” ucapan tegas Sonia membuat Iwan tidak bisa menjawab begitu juga dengan kedua rekan Iwan yang tertunduk malu.
“I think it's enough for us listen to all these presentations, and I’ll not change the decision that Rosewood Group will continue to work with Surendra Corp for the construction of the World Hotel and resort in Jaipur as well as in Nikeso Hokkaido (saya rasa sudah cukup bagi kami mendengarkan semua presentasi ini, dan saya tetap tidak akan mengubah keputusan bahwa Rosewood Group tetap akan bekerja sama dengan Surendra Corp untuk pembangunan World Hotel dan resort di Jaipur juga di Nikeso Hokkaido)” ucap Sonia dengan tegas dan memberi tanda pada salah seorang asistennya untuk memberikan map kontrak kerja sama pada Azkar.
Azkar segera menanda tanganinya dan menyerahkan kembali pada asisten Sonia, dan asisten itu menyerahkan pada Sonia.
“With this contract, I, Sonia Arora, CEO of Rosewood, reject all offers of cooperation from any other company than Surendra Corp. And for you, Mr. Iwan, we value the authenticity of an idea more than a beautiful and good design because a design will only look beautiful and good if the idea is not the result of sabotage. (dengan adanya kontrak ini, saya Sonia Arora CEO Rosewood menolak semua tawaran kerja sama dari perusahaan mana pun selain Surendra Corp. Dan untuk anda pak Iwan, kami lebih menghargai sebuah keaslian sebuah ide dari pada karya desain yang indah dan bagus karena sebuah karya desain hanya akan terlihat indah dan bagus bila ide itu bukan hasil sabotase).” Ucap Sonia yang hendak melangkahkan kaki sambil menyerahkan map kontrak pada asistennya.
Para petinggi Rosewood keluar dari ballroom, seketika kedua kaki Fajrin lemas dan membuatnya terjatuh ke lantai. Irvan dan Gultom yang berdiri tidak jauh dari Fajrin segera berlari mengangkat dan meletakkan tubuh Fajrin di beberapa kursi. Tanpa menunggu perintah Azkar, Roby segera menghubungi ambulance. Sementara Azkar menyusul para petinggi Rosewood untuk mengucapkan rasa terima kasih karena sudah memberi tambahan waktu satu minggu untuk Fajrin membuat desain baru. Dipta yang merekam Fajrin segera mematikan ponselnya dan mendekati Fajrin.
“bisa histeris Divya melihat semua ini" gumam Dipta pelan.
Zulian dan Yudha mendekati Iwan, seketika Zulian melayangkan pukulan pada wajah Iwan hingga tersungkur.
“siapa yang mengajarimu berbuat curang? Siapa?” bentakan Zulian membuat Iwan bangkit dengan menahan amarah.
“puas papa memukulku? Apa papa sadar bahwa apa yang papa lakukan pada Iwan sudah membuat Iwan sakit hati? Tidak sekali pun papa memuji hasil kerjaku bahkan untuk melihat saja papa tidak pernah melakukannya..... papa lebih memilih untuk melihat hasil kerja laki-laki pengecut itu dari pada hasil kerja anak sendiri.” Ucap Iwan penuh amarah.
“siapa laki-laki pengecut yang kamu maksud?” tanya Zulian heran.
“dia..... dia tidak pantas dia menjadi laki-laki" ucap Iwan sambil menunjuk Fajrin yang sudah terduduk dengan bantuan Irvan.
“papa terus saja membanggakan dia, apalagi sejak bang Yudha menikah.... papa masih saja membanggakan dia di hadapan keluarga kakak ipar.” Ucap Iwan masih dengan kemarahan.
“apa papa tidak tahu bang Yudha sudah tersiksa karena ulah laki-laki pengecut itu.... dan aku sebagai adik bang Yudha tidak terima melihat abang di perlakukan seperti itu oleh dia, aku akan melakukan apa pun untuk menghancurkan dia sampai bang Yudha dan kakak ipar tidak terpisahkan." ucapan Iwan yang semakin mendendam pada Fajrin semakin membuat Zulian bingung.
Fajrin yang sedari tadi sedikit banyak mendengar ucapan Iwan, berdiri berjalan pelan dengan bantuan Irvan mendekati Zulian dan kedua anaknya.
“maaf kalau semua yang saya lakukan sudah membuat kalian terluka” ucap Fajrin pelan.
Seketika Zulian sadar bahwa apa yang Iwan lakukan ada kaitannya dengan masa lalu Fajrin, meskipun Zulian tidak tahu detailnya seperti apa dan meskipun Yudha sudah menjelaskan berkali-kali pada Iwan tetap saja Iwan tidak terima melihat Yudha yang berkali-kali mendapat perlakuan acuh tak acuh dari Istrinya yang masih memendam rasa pada Fajrin.
“buktikan ucapanmu kalau kamu sudah tidak memiliki rasa pada kakak ipar hingga kakak ipar melihat bang Yudha" Bentakan Iwan seketika membuat seseorang yang sudah berada di ambang pintu berteriak.
“cukup..... hentikan semua ini" teriak Sofia sambil berjalan mendekati Iwan.
Saat sudah mendekat, Sofia segera melayangkan tamparan pada pipi Yudha membuat Iwan juga Zulian terkejut. Fajrin segera meraih tangan Irvan dan pergi meninggalkan mereka.
“kak..... maafkan suami dan adik iparku" ucap Sofia pelan.
Fajrin menghentikan langkahnya sesaat dan kembali berjalan ke arah paramedis yang sudah menunggunya.
“papa lihat sendiri..... mereka masih menyimpan rasa saling suka..... kalau Iwan menghabisi laki-laki pengecut itu.... tidak akan ada lagi rasa saling suka di antara mereka.” Ucapan keras Iwan membuat Roby mendekat untuk menyelesaikan semua kekacauan ini.
“Fajrin bukan laki-laki pengecut seperti ucapanmu.... tapi dia menahan diri dari nafsu dunia, tidak sepertimu yang sudah di kuasai syaitan. Melampiaskan amarah bukan pada sumber masalah.” Ucapan Roby seketika membuat Zulian dan Iwan menegang, sedangkan Yudha tertunduk mendengar ucapan Roby.
“ini peringatan pertama dan terakhir dariku..... sekali lagi aku melihat Fajrin terluka karena alasan yang tidak masuk akal, aku sendiri yang menyelesaikan semua" ucap Azkar pada Iwan dengan tegas sambil menunjuk salah seorang penghadang yang di bawa Dipta masuk.