My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 108 FAST TRACK



Meski pun tidak bisa bertemu atau pun mendengar suara Fajrin, Divya tetap berusaha menarik perhatian Fajrin selalu mengirimnya pesan singkat sebuah tulisan atau suara murojaah bahkan foto dirinya. Divya pelan-pelan berusaha melepaskan diri dari make up meski pun tidak sepenuhnya lepas dari make up, melelang semua mini dress juga beberapa long dress yang menurutnya sudah lama juga jarang sekali dia pakai. mengikuti saran dari Neneknya agar melelang juga beberapa tas, sepatu juga dompet secara online dan hasilnya bisa Divya sumbangkan. Pada awalnya Divya berat melakukan semua itu tapi dengan nasehat dari Davis yang melihat sendiri keseharian Fajrin dan juga nasehat Neneknya akhirnya Divya mau melelang barang-barang tersebut.


Setiap kali Davis pulang dari gedung Surendra, Davis akan menceritakan apa saja yang dia lihat pada diri Fajrin. Dan hal ini sudah membuat Divya merasa terobati rasa rindunya. Meski pun semua pesan Divya tidak pernah Fajrin balas satu pun tapi Divya selalu mendapat notifikasi bahwa pesan terkirim dan pesan terbaca, hal ini sudah membuat Divya senang. Tidak dapat Divya pungkiri bahwa sosok Fajrin sudah memiliki kesan sangat dalam di hatinya, bahkan beberapa kali Davis mencoba mengenalkan anak dari rekan-rekan bisnisnya tapi tak satu pun membuat Divya tertarik. Yang pada Akhirnya membuat Davis menyerahkan dan tidak lagi berusaha mengenalkan anak dari rekan-rekan bisnisnya.


“ dress ini bagus...... tapi ini bagian ini.... dan ini terekspose. “ ucap Divya sambil menghela nafas panjang.


“ parfum.... kenapa wanita tidak boleh memakai parfum? “ gumam Divya dalam hati sambil memegang 2 buah botol parfum Clive Christian Imperial Majesty.


Parfum seharga 3 milyar rupiah yang dia beli saat sedang menjalani kontrak di Inggris. Memandangi botol-botol parfum yang seharga ratusan juta dengan tatapan nanar dan berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Beberapa produk make up yang biasa Divya pakai pun tak luput dari pemeriksaan Davis, beberapa koleksi lipstik pun harus Divya singkirkan dari meja riasnya.


“ kalau kamu memakai semua benda ini khusus untuk orang yang kamu cintai, papi rasa masih boleh..... tapi kalau di lihat banyak orang itu yang tidak boleh. “ seketika wajah Divya tanpa bahagia dan tidak jadi memasukkan beberapa produk make ke dalam kotak.


Divya tetap berusaha melaksanakan sholat lima waktu meski pun terkadang Nenek Ina yang harus mengingatkan karena tak jarang Divya lupa waktu, apa lagi saat sibuk mengirim pesan singkat atau pesan suara atau pun pesan foto pada Fajrin.


“ Divya..... sepertinya lusa Fajrin akan berangkat ke Lombok untuk beberapa minggu ke depan, dia akan semakin sibuk dengan pekerjaannya. Dan papi sudah terlalu lama meninggalkan Montreal, papi harus kembali ke Montreal apa kamu ikut papi saja? Mungkin nanti saat Fajrin sudah kembali ke Jakarta kita bisa kembali ke Jakarta “ jelas Davis dan seketika membuat Divya sedih.


“ tidak pi.... Divya disini saja sama nenek, kasian nenek di sini sendiri. “ ucap Divya sambil memeluk erat Davis.


Davis kembali ke Montreal bersama Justin, Austin dan 2 orang pengawal saja sedangkan yang lain tetap tinggal di jakarta menjaga Divya.


Sementara 1 minggu sebelum Fajrin berangkat ke Lombok, Nara berkali-kali memaksa Fajrin untuk melakukan sholat malam karena Nara melihat setiap pulang kerja atau pun saat dj rumah Fajrin selalu memandangi ponselnya. Nara merasa ada yang tidak beres dengan Fajrin jadi Nara memaksa Fajrin untuk sholat malam. Bahkan Roby dan Syafril sering menghubunginya memberikan banyak pesan juga nasehat, tak jarang juga Dipta menceritakan tentang apa saja yang sudah Divya lakukan untuk pelan-pelan berubah.


Fajrin hanya menanggapi itu semua dengan senyum tipis, meski pun Fajrin merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya sejak memutus kontak dengan Divya tapi Fajrin juga tidak bisa begitu saja menghubungi Divya. Bukan karena gengsi atau pun kecewa tapi lebih tepatnya takut untuk terluka lebih dalam mengingat latar belakang ekonomi keluarga Divya yang jauh di atas latar belakang keluarganya.


“ kak.... dari tadi lihat ponsel terus.... tidak kirim pesan tidak telepon tapi kedua mata kakak lihat layar ponsel terus. “ gerutu Nara yang mulai kesal dengan sikap Fajrin yang sedikit-sedikit melihat ponsel.


Nara masih penasaran apa isi ponsel Fajrin dan terbersit keinginan untuk meretas ponsel kakaknya. Nara terkejut sekali mendapati banyaknya pesan singkat, pesan suara bahkan pesan gambar yang hanya Fajrin baca tidak satu pun Fajrin balas.


“ cantik.... tapi akan lebih cantik lagi kalau mbak ini memakai hijab “ gumam Nara saat berhasil meretas ponsel Fajrin dan melihat foto Divya saat mengenakan pakaian yang menutup hingga lengan dan mata kaki.


Selama Fajrin di Lombok pun, Divya tetap mengirim pesan hingga membuat Fajrin merasa terganggu dengan suara notifikasi pesan tersebut dan memasang mode diam pada ponselnya. Sesaat istirahat siang Fajrin menyempatkan untuk membaca pesan dari Divya meski pun tidak semua, dan terkadang Fajrin mengulas senyum tipis saat membaca pesan Divya yang menurutnya menarik atau lucu.


Selama tiga bulan lebih Fajrin berada di Lombok dan selama itu pula Fajrin menyempatkan untuk sholat malam sesuai saran Nara dan setiap kali selesai sholat malam Fajrin selalu memimpikan hal yang sama, setiap kali memimpikan hal yang sama hanya satu kata yang terucap di mulutnya.


“ astagfirullahaladzim...... mimpi ini lagi, setiap selesai sholat malam dan kembali tidur selalu saja mimpi ini.... apa ini tanda sesuatu “ gumam Fajrin yang terbangun dengan suara Adzan Shubuh.


Fajrin segera bangun dan mandi untuk sholat Shubuh bersama yang lain di masjid terdekat, selepas shubuh Fajrin menyempatkan diri untuk murojaah dan terkadang kembali ke penginapan dengan jalan kaki karena Gultom dan Ryan sudah meninggalkannya. Fajri sangat menikmati udara pagi di Lombok yang masih terasa segar dan sejuk.


Sampai di penginapan Fajrin mencoba mengirim pesan pada Divya, beberapa kali Fajrin mengetik pesan yang dia tulis dan beberapa kali di hapus karena menurutnya kurang tepat atau kurang sopan. Fajrin menarik nafas panjang meletakkan ponselnya di ranjang dan berpikir kembali kalimat apa yang harus dia kirim agar tidak menyinggung perasaan atau pun membuat Divya sedih. Akhirnya Fajrin mengetik sebuah kalimat yang menurutnya akan menyentuh bagi Divya.


“ Bismillahirrahmannirrahiim..... semoga dia membacanya “ gumam Fajrin sebelum menekan tombol kirim pesan.


Fajrin meletakkan ponselnya dan berganti dengan pakaian project karena hari ini keluarga besar Surendra dari Jogja yang akan mengatur managemen resort dan arena mengunjungi lokasi dan akan mempersiapkan acara pembukaan resort dan arena. Saat Fajri mengantar keluarga besar Surendra berkeliling resort dan arena, ponsel Fajrin bergetar.


“ Gultom, tolong kamu gantikan saya sebentar ada telepon masuk “ ucap Fajrin dan berjalan sedikit menjauh dari keluarga besar Afkar.


Fajrin mengeluarkan ponselnya dan melihat ada sebuah notifikasi pesan singkat, Fajrin segera membuka pesan itu dan membacanya. Selama lebih dari 30 detik Fajrin membaca isi pesan tersebut dengan tidak percaya dan membuat Fajrin berpikir keras.


“ Ayang? “ gumam Fajrin heran untuk beberapa detik saja tapi kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.