My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
EXTRA PART 2 LONG TRIP



Quadruplets Fajrin dan Divya tak terasa sudah berusia tiga tahun, Divya ingin mengajak mereka berlibur ke Canada mengenal negara kelahiran Davis.


“ sayang.... visa kembar sudah siap.... bang Azkar juga sudah memberi izin kita untuk memakai Sundth Air....... Elena dan Liam bagaimana? “ tanya Fajrin sambil memasukkan pakaian Flo ke dalam koper.


“ Liam ikut.... tapi Elena tidak..... kalau Elena ikut..... Liam junior juga ikut..... Elena belum berani membawa Liam Junior bepergian..... “ ucap Divya sambil menyerahkan pakaian Eyza ke Fajrin.


“ ooooo...... jadi Liam saja..... “ ucap Fajrin sambil melihat pintu kamar mereka.


Fajrin tersenyum melihat keempat anak kembar mereka yang sudah berdiri di ambang pintu memandangi Fajrin dan Divya.


“ papa...... mama.... “ suara keras kembar membuat Fajrin dan Divya berlutut dan merentangkan kedua tangan menyambut dan memeluk kembar.


“ kita mau jalan-jalan.....? “ tanya Eyza dengan suara yang masih cadel


“ jalan jalan kemana? “ tanya Levi yang juga masih cadel


“ apa kita akan mengunjungi kakek? “ tanya Resta yang juga masih cadel


“ aku kangen kakek..... “ ucap Flo yang sudah jelas menyebut kata aku dan kakek.


“ kita akan jalan-jalan ke Montreal mengunjungi kakek kalian..... “ ucap Fajrin sambil mencubit lembut ujung hidung Levi.


Seketika keempat anak kembar mereka berteriak kegirangan.


“ hore...... hore.... kita ke tempat kakek..... “ suara keras kembar saling bersautan membuat kamar tidur Fajrin dan Divya berisik.


Divya tersenyum dan memeluk pinggang Fajrin, sesaat Fajrin dan Divya saling memandang seperti berbicara dengan kedua mata mereka.


“ terima kasih sudah menyempurnakan kebahagian ayang.... “ bisik Fajrin sambil mencium puncak kepala Divya.


Tanpa Fajrin dan Divya sadari, Flo dan Eyza melihat Fajrin mencium Divya.


“ papa.... Flo juga mau di cium seperti mama “ ucap Flo yang masih cadel menyebut kata juga, cium dan seperti.


“ Eyza juga “ ucap Eyza yang belum betul menyebutkan namanya.


Fajrin dan Divya mencium kedua pipi tembem keempat balita kembar bergantian.


“ besok lusa.... kita pergi mengunjungi kakek naik pesawat milik paman Azkar..... “ ucapan Fajrin semakin membuat kamar mereka riuh dengan teriakan bahagia keempat anak kembar mereka.


Hari yang ditunggu-tunggu keempat anak kembar Fajrin dan Divya pun tiba, mereka dari sejak selesai syuruq sudah tidak sabar ingin pergi ke bandara. Ini pertama kalinya mereka naik pesawat dan ini pertama kalinya mereka melakukan perjalanan juga penerbangan panjang.


Elena yang tidak bisa ikut memeluk erat Liam seperti tidak mau berpisah meski pun mereka tidak lebih dari satu bulan. Fajrin dan Divya berencana berlibur di Montreal selama kurang lebih tiga minggu, Divya ingin menunjukkan kota dimana Davis tinggal.


“ wa...... bagus sekali pesawat paman Azkar...... “ ucap Levi yang masih cadel menyebutkan kata sekali, pesawat dan Azkar.


“ paman Azkar baik ya..... kita boleh pakai pesawatnya “ ucap Resta yang juga masih cadel menyebut nama Azkar.


Dengan riang dan gembira Resta, Levi, Eyza dan Flo menaiki anak tangga masuk ke dalam private jet. Mereka gembira sekali memilih kursi untuk duduk, seorang pramugara membantu mereka mengenakan sabuk pengaman.


“ terima kasih “ ucap Flo dengan cadel setelah pramugara tersebut selesai membantunya mengenakan sabuk pengaman.


“ terima kasih “ ucap Levi dengan jelas pada pramugara yang membantunya mengenakan sabuk pengaman.


Begitu juga dengan Resta dan Eyza, mereka juga mengucapkan terima kasih setelah pramugara membantu mereka mengenakan sabuk pengaman.


“ uncle Liam.... kenapa sedih? “ tanya Flo dengan polosnya.


Divya dan Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan polos Flo, tapi tidak dengan Liam yang terlihat jelas sangat sedih juga berat meninggalkan Elena dan bayi kecil mereka.


Penerbangan panjang akan segera mereka mulai, kurang lebih selama dua puluh empat jam mereka akan melakukan perjalanan udara dengan dua kali transit. Transit pertama di bandar udara international Narita Tokyo, private jet akan melakukan pengisian Avtur dan juga untuk alokasi jalur penerbangan ke bandar udara international JFK New York. Sepanjang penerbangan menuju bandar udara International Narita Tokyi, keempat anak kembar Divya dan Fajrin tak henti-hentinya bertanya apa saja yang mereka lihat dan mereka sentuh. Dengan sabar dan gemas Fajrin juga Divya menjelaskan apa saja yang mereka tanyakan, tapi saat melanjutkan penerbangan ke bandar udara International JFK keempat anak kembar mereka tidur terlelap di kursi masing-masing. Kursi yang dapat mereka rubah posisi sandarannya, meski pun dalam keadaan tidur mereka tetap harus mengenakan sabuk pengaman.


Dari bandar udara International JFK New York mereka melanjutkan penerbangan menuju bandar udara International Pierre Elliott Trudeau Montreal.


Tepat tengah malam waktu Montreal, private jet Sundth Air mendarat di bandar udara international Pierre Elliott Trudeau Montreal. Liam yang mendapat tugas mengurus transportasi dari bandara menuju kediaman Davis mulai terlihat sibuk dengan ponselnya, sementara Divya dan Fajrin membangunkan keempat anak kembar mereka satu bersatu tapi dengan berat mereka tetap terlelap.


“ sudah biarkan kalau mereka tidak mau bangun.... biar ayang angkat mereka satu per satu “ ucap Fajrin yang tidka berhasil membangun Flo dan Eyza.


Dengan sabar dan pelan-pelan Fajrin memindahkan keempat anak kembar mereka ke sebuah mobil yang akan membawa mereka menuju kediaman Davis.


“ berat..... capek.... ? “ tanya Divya saat Fajrin selesai memindahkan Resta di kursi mobil.


“ sayang..... kapan terakhir kali sayang menimbang berat badan mereka..... ? “ tany Fajrin sambil mengantur nafas.


“ hmmmm terakhir kali mereka menimbang badan.... kalau tidak salah tiga atau empat hari sebelum berangkat kemari..... berat mereka hampir sama.... kalau tidak salah sekitar dua puluh tiga dua puluh empat.... “ ucap Divya sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Levi.


Karena saat ini sedang musim dingin di Montreal suhu mencapai satu derajat celcius.


“ ayang.... ayang ingat berapa banyak ayang sudah memasukkan pakaian hangat mereka? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin menepuk dahinya.


Fajrin hanya ingat memasukan dua helai pakaian hangat.


“ berapa? “ tanya Divya sekali lagi.


“ hmmmm.... sepertinya hanya dua.... besok kita beli pakaian hangat untuk mereka “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Divya.


Perjalanan dari bandar udara International Pierre Elliott Trudeau Montreal menuju kediaman Davis kurang lebih selama empat puluh lima menit, karena sejak dua tahun lalu Davis menempati rumah yang berada tak jauh dari Lac de la Citiere atau danau kecil di daerah La Prairie.


“ Liam.... who does papi live with?... is brother Ditya already living with papi? (Liam.... papi tinggal disini bersama siapa?.... apa bang Ditya sudah tinggal dengan papi? ) “ pertanyaan Divya membuat Liam terdiam.


Liam terdiam karena sejak berpindah tempat tinggal, Davis hanya tinggal bersama asisten dan beberapa pengawal saja sedangkan Ditya yang masih egois memilih tinggal di apartemen kecil di pinggir kota Montreal.