My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 134 GERAK BIBIR



“ baiklah Azkar, terima kasih sudah menceritakan semua pada om.... aku akan menemui Fajrin kalau dia sudah kembali ke Jakarta. Tolong kabari om kalau dia sudah kembali “ ucap Davis sambil berdiri dari sofa.


“ baik om.... akan saya kabari bila Fajrin sudah kembali “ ucap Azkar dan membantu Davis dengan membuka pintu ruang kerjanya.


Davis melangkah keluar dari ruang kerja melewati meja Roby, Roby yang sibuk dengan keperluan perlengkapan pesta pernikahan Afkar dan Nara tidak memperhatikan kepergian Davis.


Sampai di rumah, Davis mendapati Divya yang sedang bermain dengan Najendra di ruang tengah.


“ kamu juga sudah pantas kalau memilik anak “ ucapan Davis yang tiba-tiba membuat Divya terkejut.


“ lihat itu opa sudah datang “ ucap Divya sambil mengangkat Najendra.


Davis duduk di sofa dan mengambil Najendra untuk duduk di pangkuannya.


“ sebaiknya secepatnya kamu menentukan pilihan.... sebelum semua terlambat dan kamu menyesalinya. “ ucap Davis sambil mencium pipi gembul Najendra.


Divya menatap Davis heran penuh tanya.


“ apa maksud papi? Ini baru 2 bulan.... papi bilang 4 bulan.... kenapa jadi cepat begini? “ Davis tidak menjawab pertanyaan Divya.


Divya kesal dan masuk ke kamar.


“ kalau kesal begini jadi ingin dengar suara ayang “ gumam Divya sambil melihat ponselnya yang tergeletak di ranjang.


Divya naik ke ranjang dan menekan nomor kontak Fajrin, tapi berkali-kali Divya menghubungi nomor Fajrin hanya mendapatkan jawaban ‘nomor yang anda hubungi di luar jangkauan‘ atau ‘nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif’. Divya mulai kesal, mencoba mengirim pesan singkat tidak hanya sekali tapi berkali-kali dan sama sekali tidak mendapatkan notifikasi ‘pesan terkirim’. Divya mencoba menghubungi Dipta, tapi Dipta tidak tahu bagaimana kesibukan Fajrin. Divya mencoba mengirim pesan singkat pada Roby, tapi hanya mendapatkan notifikasi pesan terkirim dan tidak mendapatkan notifikasi pesan terbaca. Divya mencoba peruntungannya dengan mengirim pesan pada Azkar tapi sekali lagi Divya mendapatkan hasil yang sama seperti saat menghubungi Roby.


“ kemana mereka semua.... apa sesibuk itu mereka? “ gumam Divya sambil duduk di sofa dengan kasar.


Saat Divya sibuk dengan ponselnya, tiba-tiba Davis masuk.


“ sampai beberapa hari kedepan kamu tidak akan bisa menghubungi Fajrin, pagi ini dia berangkat ke Bergen. “ ucap Davis yang sudah duduk di sebelah Divya.


“ papi tahu dari mana? “ tanya Divya heran.


“ papi baru saja pulang dari kantor Azkar, Azkar bilang kalau Fajrin berangkat ke Bergen dengan Dean karena kakek mereka akan membuat pesta pernikahan untuk Afkar dan istrinya “ ucap Davis sambil melonggarkan dasinya.


“ kenapa ayang tidak bilang kalau mau pergi ke Bergen..... berapa hari mereka di Bergen? “ tanya Divya sambil meletakkan ponselnya di meja.


“ papi kurang tahu.... tapi yang pasti sampai beberapa hari kedepan mereka akan sibuk dengan semua urusan persiapan pesta itu... jadi percuma kamu mengirim pesan bahkan menelpon Fajrin atau pun Azkar “ ucap Davis yang sudah menggulung dasi di tangan kanannya.


Divya sedih juga kecewa karena Fajrin tidak memberitahunya.


“ oya.... papi lupa.... tadi malam Fajrin diam di atas motor tepat di depan pagar sampai tengah malam “ ucapan Davis membuat Divya tersentak juga terkejut.


“ mungkin tadi malam dia ingin menemui kamu dan mungkin juga dia masih tidak percaya diri bertemu dengan Ditya, kalau kenapa Fajrin tidak menghubungi kamu tadi malam bisa jadi ponselnya sudah mati kehabisan daya. “ ucap Davis dengan berbagai kemungkinan yang dia perhatikan dari Fajrin semalam.


“ papi... bisa tahu kalau ayang berada di luar rumah sampai tengah malam dari mana? “ pertanyaan Divya membuat Davis mengerut kulit antara kedua alisnya.


“ CCTV “ jawab Davis singkat.


Divya berlari kecil mendekati Davis dan memegang erat lengan Davis.


“ biasakah Divya melihat rekaman CCTV yang papi maksud? “ tanya Divya sambil mengedipkan mata.


Davis tersenyum melihat kedua mata Divya yang terkesan genit.


“ kelak jangan mainkan mata kamu selain pada suami kamu “ ucap Davis dan melangkah menuruni anak tangga.


Divya mengikuti langkah kaki Davis masuk ke sebuah ruangan yang di gunakan khusus untuk mengawasi keadaan rumah dan sekitarnya melalui CCTV. Divya tidak pernah tahu ruangan ini karena memang letak ruangan ini berada di deretan bangunan yang menjadi tempat istirahat para pengawal juga para pelayan di rumah ini.


“ Austin, show it of the CCTV footage when Fajrin was in front of the fence (Austin, salah satu rekaman CCTV saat Fajrin berada di depan pagar) “ ucap Davis pada Austin yang sedang menyimpan beberapa rekaman CCTV.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Divya dapat melihat jelas apa saja yang Fajrin lakukan selama duduk di atas motornya.


“ ayang..... kenapa tidak masuk.... kenapa hanya diam saja situ.... “ gumam Divya sedih melihat Fajrin yang duduk diam di atas motor, sesekali terlihat menggosok telapak tangan di kedua lengannya.


“ pi.... kasihan ayang.... “ ucap Divya pelan dan terdengar sedih.


Davis menarik nafas panjang.


“ Austin, show it the footage from last night (Austin, tunjukkan rekaman yang tadi malam) “ Austin segera menampilak rekaman CCTV tadi malam.


Kedua mata Divya terlihat berkaca-kaca melihat rekaman CCTV saat mulai melihat Fajrin berhenti dan memarkir motornya tepat di depan pintu pagar setinggi 2 meter lebih, Divya memperhatikan rekaman tersebut dengan tenggorokan terasa tercekat membuatnya susah menelan ludah. Austin sengaja memperbesar tampilan rekaman CCTV sehingga terlihat jelas sosok Fajrin. Saat Fajrin terlihat menggosokkan kedua telapak tangan di kedua lengannya seperti berusaha menghangatkan diri dari angin malam, setiap itu pula tenggorokan Divya terasa tercekat. Kedua mata Divya tampak serius membaca gerak bibir Fajrin.


“ Divya sayang..... sejak malam kejadian di cafe dan sampai detik ini, ayang tidak berani bertemu denganmu. Maaf, ayang tidak mampu egois ada keluarga yang harus ayang jaga .... kamu jangan lupa sholat jangan diet terlalu ketat.... besok pagi ayang harus ke Bergen menemui Nara. untuk Terakhir kali, maafkan ayang hanya sanggup sampai disini menjalin hubungan denganmu.... semoga kamu bertemu dengan pria yang sederajat dengan keluargamu. “ gumam Divya dalam hati membaca gerak bibir Fajrin.


Tak terasa kedua matanya meneteskan air mata.


Divya menggelengkan kepala berusaha menyangkal apa yang sudah dia baca dari gerak bibir Fajrin.


“ tidak..... tidak..... Divya hanya mau sama ayang.... tidak dengan yang lain.... “ suara pelan Divya yang masih menggelengkan kepala dengan air mata yang membasahi pipi.


Davis sedih melihat Divya kembali menangis, dengan isyarat tangan Davis menyuruh Austin mematikan rekaman CCTV tersebut. Davis menuntun Divya untk duduk di sofa ruang tengah.


“ kamu menjadi sedih seperti ini dengan hanya melihatnya berdiam diri di depan pagar, bagaimana bila kamu melihatnya duduk berdua dengan wanita lain? “ ucapan Davis membuat Divya sadar dari tangisnya.


Divya menatap lekat-lekat kedua mata Davis.