My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 81 GUGUP



Elena berjalan kembali duduk di kursi bersama Fajrin dan Divya, sedangkan Patrick yang malas menjadi nyamuk memutuskan kembali ke unitnya. Dengan sedikit ragu Elena mengganggu ke bahagian Divya yang melihat Fajrin menghabiskan makan siangnya.


“ Divya, ada berita yang sedikit mengganggu rekan-rekan management “ ucap Elena sedikit ragu.


“ berita apa? “ tanya Divya yang masih memperhatikan Fajrin.


Elena menarik nafas panjang dan menunjukkan berita yang Arbab maksud pada Divya, Divya melihatnya sesaat dan tersenyum. Dari pertama kali Divya meniti karir sebagai model, Divya tidak pernah mau melakukan konferensi press apa pun berita itu bila berkaitan dengan berita murahan termasuk berita hari ini.


“ apa kalian mau melakukan konferensi press berdua? “ pertanyaan Elena membuat Divya menegakkan punggungnya di sandaran kursi dan melihat Fajrin yang membersihkan sisa makanan di sudut bibirnya.


“ kalau kak Fajrin mau mendampingiku, Aku akan senang melakukan konferensi press “ ucapan Divya membuat Fajrin gugup.


“ apa bapak bersedia mendampingi Divya melakukan konferensi press terkait berita ini? “ tanya Elena sambil menyodorkan ponselnya ke dekat Fajrin.


Fajrin melihat sesaat dengan santai membuat Elena juga Divya heran.


“ apa anda sudah membaca berita ini? “ tanya Elena heran.


“ sudah, baru saja tadi “ jawab Fajrin santai.


“ kalau begitu kak Fajrin mau mendampingi Divya melakukan konferensi press? “ Fajrin menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Divya.


“ kenapa? “ tanya Elena heran.


“ kalian tahu sendiri berita itu tidak benar dan berita itu salah satu bentuk fitnah “ ucap Fajrin dengan santai.


“ apa anda tidak mau meluruskan berita ini? “ tanya Elena ingin tahu.


“ saya tidak akan mendampingi Divya melakukan konferensi press, kalian lakukan sendiri saja.... Divya publik figure tapi saya bukan publik figure jadi terserah kalian saja. “ ucap Fajrin yang sudah berdiri dan mengambil mangkuk kosong bekas makan Divya juga dirinya.


“ kak Fajrin mau apa? “ tanya Divya heran.


“ membersihkan ini, sebentar lagi kakak kembali ke Jaipur.... mereka sudah dalam perjalanan kemari “ jawab Fajrin santai.


“ lantas Divya harus bagaimana dengan berita ini? “ tanya Divya dengan suara manja.


“ lakukan saja apa yang mau kamu lakukan, pekerjaan kakak lebih penting dari pada mengurusi berita bohong seperti itu. “ ucap Fajrin sambil mencuci mangkuk.


Divya memandang Fajrin dengan tatapan kagum juga heran.


“ Divya kira hanya Divya saja yang selalu mengabaikan berita-berita seperti ini.... ternyata kak Fajrin juga. “ ucap Divya sambil meraih ponsel Elena.


“ jadi bagaimana? Apa kamu mau melakukan konferensi press sendiri tanpa pak Fajrin? “ tanya Elena sudah tidak sabar.


“ baiklah.... kali ini aku mau melakukan konferensi press tapi dengan syarat saat Divya melakukan konferensi press.... kak Fajrin harus online dengan Divya di telepon. “ ucap Divya sambil memandang Fajrin yang sudah menyandarkan pahanya di dekat microwave yang tak jauh dari lemari pendingin.


Fajrin menarik nafas panjang memberanikan diri melihat dalam-dalam kedua mata Divya untuk pertama kalinya, meskipun terasa pedih melihat kedua mata Divya tapi Fajrin mencoba untuk tidak berkedip sekali pun. Hingga lebih dari enam detik Fajrin bertahan melihat kedua mata Divya dan menundukkan pandangannya kembali.


Divya dan Elena heran melihat sikap Fajrin yang hanya menatap Divya tanpa berkedip karena baru kali ini mereka berdua melihat Fajrin seperti itu.


“ kakak sudah pernah bilang, sekarang lakukan saja apa yang menurut kamu baik dan membuat kamu nyaman. Kalau menurut kamu sendiri apa kamu merasa nyaman dengan berita itu? Apa kamu bisa menerima berita bohong itu? “ tanya Fajrin yang sudah berjalan ke sofa untuk mengambil tas punggungnya.


Divya berjalan mendekati Fajrin.


“ kakak kembali sekarang? “ tanya Divya heran.


“ lima menit lagi mereka sampai di lobi “ ucap Fajrin santai.


“ tadi bukannya kak Fajrin bilang selepas Ashar? Kenapa jadi cepat begini? “ protes Divya.


Fajrin memakai sarung tangan dan juga jaket kulitnya, menghadap Divya yang diam tertunduk tepat di depan Fajrin. Dengan menarik nafas panjang, Fajrin memegang kedua lengang atas Divya untuk membuatnya duduk di sofa. Dengan bertumpu pada lututnya Fajrin masih memegang kedua lengan atas Divya.


“ dengarkan apa yang akan kakak katakan “ Divya menganggukan kepala menatap Fajrin yang tertunduk memejamkan mata.


“ saat ini lakukan saja apa yang membuat kamu nyaman dan terbaik buat karir model kamu, kakak tidak akan ikut campur dengan karir model kamu..... kakak akan berusaha melakukan semua yang tertulis di kontrak kita... kalau pun seandainya nanti kakak masih ada kesempatan mengenal Divya lebih jauh lagi, kakak tidak akan menghindari kamu. “ ucapan Fajrin membuat Divya terdiam bukan karena sedih tapi bingung dengan ucapan Fajrin yang terakhir.


Tanpa mereka sadari Elena merekam mereka berdua dengan ponselnya dari sejak Fajrin mengenakan sarung tangan. Fajrin berdiri melangkah mendekati pintu, belum sempat Fajrin melangkah keluar unit tepat saat pintu terbuka Divya berlari kecil mengejar Fajrin dan menahannya dengan memeluk tubuh Fajrin dari belakang. Membuat Fajrin merasakan ada sesuatu yang aneh menekan punggung dan perutnya, Fajrin berusaha melepas tangan Divya dengan tangan kanannya karena tangan kirinya menenteng tas punggung. Tapi usaha Fajrin melepas pelukan Divya sia-sia karena Divya semakin erat memeluknya serasa Divya tidak mau jauh dari dirinya. Fajrin menengadahkan kepalanya ke atas dan menepuk tangan Divya dengan tangan kanannya.


“ kakak harus kembali ke Jaipur sekarang, kakak tidak bisa menemani kamu terus, lakukan saja apa yang kamu mau “ ucap Fajrin pelan dengan menundukkan kepala dan terdengar jelas bagi Divya.


“ bisakah kak Fajrin bersabar menunggu Divya berubah? “ ucap Divya yang sudah menempelkan pipi kanannya di punggung Fajrin.


“ berusahalah menjadi lebih baik dari sekarang “ ucap Fajrin dan pelan-pelan Divya melepas pelukkannya.


Saat Fajrin memutar tubuhnya untuk melihat Divya sekali lagi, seketika Divya memeluk leher Fajrin dan mencium pipi kiri Fajrin, membuat Fajrin terkejut dengan tindakan berani Divya. Tubuh Fajrin membeku mendapatkan ciuman di pipi dari Divya, sebelum Fajrin sadar Divya sudah membisikan sesuatu di telinga kiri Fajrin dan semakin membuat tubuh Fajrin membeku.


Divya melepas pelukkannya dan tersenyum menatap Fajrin yang masih membeku. Fajrin tidak percaya apa yang barusan Divya lakukan, Fajrin memutar badan kembali dan dengan langkah gugup Fajrin menjauh dari unit Divya


“ Assalamu'allaikum kak “ teriakan Divya menyadarkan kegugupan Fajrin yang melangkah menjauh dari unit Divya hingga lupa mengucap salam.


Karena teriakan Divya, Fajrin memutar tubuhnya yang sudah berada tepat di depan pintu lift yang berjarak kurang lebih sepuluh meter dari pintu unit Divya. Dengan sedikit rasa gugup Fajrin mencoba tersenyum membalas salam Divya.


“ Wa'alaikumsalam “ salam Fajrin dengan suara sedikit gagap membuat Divya tersenyum manis padanya.