My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 166 CINCIN (1)



Kesibukan Selo dan Freya belum juga usai, mereka harus merencanakan apa saja yang akan mereka bawa untuk hantarannya Fajrin. Sedangkan Erhan kembali ke Oslo, menyelesaikan sesuatu yang sudah tertunda bertahun-tahun lamanya.


“ Fajrin.... apa hanya ini yang Divya minta? “ pertanyaan Freya saat membuka satu persatu kantung kertas belanja milik Divya yang sudah Fajrin letakkan di ruang keluarga.


“ iya tante.... itu yang Divya pilih..... apa ada yang masih kurang? “ ucap Fajrin sambil membuka beberapa katung kertas di depannya.


Freya dan Selo menatapnya heran membuat Azkar mendekatinya.


“ perlengkapan make up, perhiasan, juga cincin untuk simbol ikatan pertunangan kalian mana? “ ucap Azkar sambil merangkul bahu Fajrin.


“ Fajrin juga pakai cincin ya.... kalau Fajrin tidak pakai cincin dan Divya saja yang pakai..... boleh tidak? “ Selo dan Freya saling memandang satu sama lain.


“ boleh.... tapi apa Divya mau? “ tanya Selo ragu.


“ dari pada kamu bingung.... hari ini kamu ajak Divya memilih cincin sendiri dan katakan kalau kamu tidak mau pakai cincin..... jangan lupa alasan kamu tidak mau pakai cincin kenapa? Pakai mobilku “ ucap Azkar membuat Fajrin mencerna maksud Azkar.


“ sudah sana.... jemput Divya.... ajak Divya beli cincin..... kalau perlu yang harganya 1 milyar.... bulan depan juga sudah ada ganti dari kakek “ ucap Azkar yang mendorong pelan punggung Fajrin untuk segera keluar rumah menjemput Divya.


“ anak itu.... masih juga belum paham apa yang harus dia siapkan.... apa jangan-jangan dulu waktu menikahkan Nara.... Afkar tidak memberikan Nara cincin? “ tanya Selo pada Azkar.


“ pakai cincin juga dia “ jawab Azkar sekenanya.


“ tapi Amma tidak melihat Afkar pakai cincin itu.... kamu juga tidak pakai cincin “ ucap Freya bingung.


Azkar tersenyum mulai mengerti bahwa Freya belum memahami kenapa dirinya dan Afkar tidak memakai cincin nikah.


“ Amma.... kami tidak pakai cincin karena cincin kami para istri yang pakai “ ucap Azkar sambil menunjuk Helen yang berjalan kearahnya dengan membawa semangkuk besar potongan buah tin.


Freya dan Selo melihat Helen dengan memicingkan kedua matanya memperhatikan jari jemari Helen yang ternyata hanya ada 1 cincin emas di jari manis tangan kanan Helen.


“ jangan berani bohong sama Amma..... itu Helen hanya pakai 1 cincin di tangan kanannya “ suara tegas Freya membuat Azkar mendekati Helen dan mengambil alih mangkuk buah tin.


Selo dan Freya menatap Azkar curiga.


“ sayang.... tunjukkan cincin nikahku pada Amma dan Abba.... mereka tidak percaya kalau cincin nikah milikku sayang yang pakai “ rayu Azkar.


Helen tersenyum dan mengeluarkan seutas rantai emas yang melingkar di lehernya dan memperlihatkan cincin nikah milik Azkar pada kedua mertuanya. Azkar bernafas lega karena Helen mau melakukannya tanpa harus susah payah merayu Helen dengan berbagai jurus.


“ ooooo “ suara Freya dan Selo hampir bersamaan.


Sementara Fajrin yang menunggu Divya bersiap sedang berbincang-bincang dengan Davis. Davis mulai mengajarkan Fajrin bagaimana membaca pergerakan harga saham perusahaan juga perkembangan pasar modal. Fajrin melihat pergerahan harga saham perusahan Davis tidak terjadi penurunan harga sama sekali sejak Nara mempermainkan harga saham perusahaan Davis, tapi harga saham perusahaan Davis juga tidak begitu mengalami kenaikan harga yang cukup bagus.


“ jangan-jangan adik menahan harga saham ini di sekitaran nilai ini saja “ gumam Fajrin dalam hati.


Fajrin tidak ingin membuat Davis panik atau pun kesusahan dengan telepon para pemegang saham atau pun para komisaris.


“ mau kemana kalian hari ini? “ tanya Davis yang ingin tahu.


“ maaf pi.... Fajrin lupa beli cincin buat Divya.... jadi hari ini.... Fajrin mau Divya memilih sendiri cincin yang mau dia pakai di acara lamaran nanti “ ucap Fajrin malu-malu.


Jujur Fajrin tidak tahu menahu tentang cincin ini, karena saat menikahkan Nara pun Fajrin hanya menerima 1 cincin emas dari Afkar yang harus dia pakaikan pada Nara. Dan Fajrin berencana membeli cincin untuk Divya bila kedua keluarga sudah menentukan tanggal pernikahannya.


“ ooo... begitu.... ya sudah... hati-hati “ ucap Davis santai.


“ papi... Divya keluar dulu “


“ Assalamu'allaikum “


Salam Divya dan Fajrin hampir bersamaan, saat di dalam mobil Fajrin masih belum menyalakan mesin mobil tapi mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


“ ayang ayo jalan. “ pinta Divya yang tidak tahu apa yang sedang Fajrin lakukan.


“ sebentar....... dari nama brand ini mana yang Divya inginkan “ ucap Fajrin dengan tangan kiri menyodorkan ponsel yang menampilkan pesan singkat dari Afkar, sementara tangan kanan dan kaki kanannya menyalakan mesin mobil.


Divya melihat apa yang Fajrin tunjukkan, seketika kedua mata Divya menatap Fajrin tidak percaya.


“ ayang..... ayang serius mau beli cincin pertunangan kita seperti saran pria ding..... maksud Divya.... suaminya Nara “ ucapan Divya yang semula haru dengan perlakuan Fajrin tiba-tiba menjadi terhenti saat hendak menyebut nama Afkar.


“ lebih tepatnya cincin untuk Divya.... bukan kita “ jelas Fajrin tapi justru membuat Divya bingung.


“ ayang tidak pakai? Kenapa? Malu kalau sudah ada yang punya? “ pertanyaan Divya yang ingin tahu membuat Fajrin menarik nafas panjang.


Fajrin ingat bahwa Divya belum memahami hal ini.


“ ayang tidak pakai cincin... karena laki-laki dilarang memakai segala bentuk perhiasan dari emas apa pun bentuknya. Jadi ayang akan belikan Divya cincin apa pun yang Divya pilih.


“ kenapa tidak boleh? “ tanya Divya semakin ingin tahu.


“ seorang pria di larang menggunakan perhiasan dari emas karena itu seperti memegang bara api neraka... Divya mau tangan ayang memegang bara api? “ seketika Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.


“ terserah ayang mau beli brand yang mana.....Divya ikut ayang saja “ ucap Divya pelan dan membuat Fajrin tersenyum.


Divya paham betul nama-nama brand perhiasan yang Afkar kirim adalah brand perhiasan terbaik dan mahal, meski pun Divya tahu jumlah nominal yang masuk ke rekening Fajrin tapi Divya masih kuatir bila semua itu hanya kebohongan atau pun penipuan saja. Dan meski pun beberapa hari lalu Fajrin sudah membelikan beberapa brand mahal pakaian muslim tas juga sepatu, masih saja membuat Divya mengkuatirkan kondisi keuangan Fajrin. Divya tidak mau setelah menikah kondisi keuangan Fajrin justru menipis dan membuat Fajrin lebur kerja setiap hari.


“ sudah jangan terlalu serius berpikirnya.... kalau tidak bisa memilih.... biar ayang saja yang memilih.... kita pergi kesini.... tadi ayang sempat melihat sebentar websitenya.... sepertinya ada cincin yang bagus buat Divya. “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Divya yang tertutup rapi oleh hijab dengan sematan bros kecil di bahu kiri.


Fajrin mengarahkan mobil menuju sebuah mall terbesar di Jakarta selatan, karena sebelumnya Fajrin telah menghubungi manager showroom maka dengan mudah Fajrin langsung mengarahkan mobil ke area parkir di lantai 4 mall tersebut.